Mencintai Dalam Diam (MDD)

Mencintai Dalam Diam (MDD)
Bab III (Tiga)


__ADS_3

Setelah pertemuan itu, kini topic gossip terhangat di Pesantren Al-Miftah ialah tentang Aira Fatma. Lebih tepatnya lagi gadis yang suka sekali dengan hal-hal keindahan bergaya humoris. Aira tidak pernah habis fikir dengan pemikiran para santri. Hanya kejadian singkat tempo hari sudah dijadikan alasan untuk membuli dirinya.


Kok bisa ya Aira sama Ustad Nofil?


Airanya saja yang sok kegatelan..


Baru sekarang Ustad Nofil sangat dekat dengan yang namanya perempuan..


Begitulah yang sering Aira dengar belakangan ini. Dari cibiran yang membuat telinga gadis itu sesak sampai sumpah serapah yang tak henti-hentinya para santri lontarkan, membuat Aira menyadari satu hal yang sempat ia lupakan. “Begitu rendahnya pangkat seseorang kecuali ilmu lah yang mampu mengangkatnya sendiri”.


Salah satu alasan dari seribu alasan yang membuat Aira tidak pernah kerasan tinggal di pesantren ialah tentang betapa tidak enaknya berteman dengan orang yang bermuka dua. Menurut pandangan masyarakat, santri lah yang patut menjadi acuan dalam segala aspek di zaman sekarang. Namun kenyataan yang ia dapat malah sebaliknya, setiap perkataan yang keluar dari mulut teman-temannya menyakiti perasaanya secara mendalam.


“Cukup Fi, cukup!” Bantingan beberapa barang mengagetkan Afi yang cengar-cengir.


“Kalau kamu nggak berhenti, saya marah sekarang” Ancam Aira menggertakkan giginya, sedang tangannya ia letakkan di pinggang.


“Kamu cocok banget Ai sama Ustad Nofil.”


“Sekali lagi kamu bicara, saya hempak mulutmu.” Aira yang sudah mulai kesal, melayangkan tinjunya ke udara seakan-akan tertuju pada muka sahabatnya yang menyebalkan.


Afi memang sudah keterlaluan membuly Aira tanpa kenal waktu.


Ia tidak pernah memikirkan perasaan Aira yang tidak suka jika dijodohjodohkan, apalagi dengan orang yang tak ia suka secara langsung.


Afi menjongkokkan sedikit badannya sambil terus-menerus minta maaf pada Aira, “Maaf Ai, ya? Jangan marah Aira sayang! Please? Ya?Ya?.”


“Kalau maaf itu gampang, kenapa harus ada polisi?.” Aira melangkah menjauh, tidak menggubris penyesalan sahabatnya.


Sambil berteriak kencang Afi ber ujar, “Aira maafin aku, ntar dibeliin ice cream daah, dua ya? Tidak tidak, tiga dah Ai? Please Aira maniiiis.” Bujuknya memonyongkan bibirnya.


Mata Aira membulat kalau sudah berbicara tentang ice cream. Rasa marahnya hilang seketika, diganti dengan hujan senyum yang tak pernah putus. Dan Afi sangat pintar membujuk.


Sebelum benar-benar keluar dari ruangan, Aira menoleh sedikit dengan lirikan senyum, tak sedikit pun mengkhawatirkan Afi lagi, yang kelimpungan mencari cara untuk membuat Aira luluh seketika.


*************


Aira merasakan kakinya yang berdenyut-denyut. Sesuai janji yang Afi buat, sekarang mereka berada di teras kantin pesantren membeli


ice cream jagung kesukaan Aira.


Kakinya sedikit membiru, ia memijatmijatnya perlahan. Sebelum masuk kedalam kantin, Aira tidak merasa kalau kakinya terbentur besi yang menghadang di pinggir pintu masuk dari saking senangnya.


Meski dalam keadaan mengkhawatirkan, Aira masih sangat mampu menghabiskan ketiga ice creamnya. Namun saat ini dirinya sampai ke tahap peralihan menuju ice cream kedua.


“Fi… ice creamnya dah abis nii, kakinya juga masih sakit” Sengaja merengek agar partner belajarnya ini membelikan ice cream ke dua.


Karena tak tega melihat Aira yang meringis kesakitan, Afi berlalu meninggalkannya ke dalam kantin.


“Langsung habiskan sekarang!.” Ketus Afi memerintah, serta memonyongkan mulutnya.


“Yaelah Fi… itu kan janji kamu, nggak usah cemberut kenapa?.”


Sebenarnya Aira suka melihat Afi dengan ekspresi tersebut, seperti ikan lumba-lumba kelaparan.


“Jangan bawel, cepat habiskan!.” Ucap Afi lagi, “Ntar ice cream ketiga habiskan di kamar saja, kasian kakimu hampir bengkak tuh..” Sambil menunjuk dengan kepalanya.


Meski menyebalkan, Afi punya cara tersendiri untuk menyalurkan cintanya terhadap sahabatnya yang super bawel itu.


“Ya, ya, setelah ini langsung kembali ke pondok” Jawab Aira pasrah. Mulutnya belepotan dengan lelehan ice cream kesayangannya.

__ADS_1


Terkadang, orang yang selalu


membuat kita marah, adalah orang yang sangat menyayangi kita. Ia seperti itu, bukan karena benci, melainkan karena ia peduli terhadap kita. Seperti halnya bunga mawar.


Ia penuh dengan duri yang menyakitkan, namun baunya tidak pernah mengecewakan orang yang menciumnya. Begitulah Afi dimata Aira, dengan caranya sendiri, dia menyayangi Aira dengan tulus.


Jika ada yang bertanya, marahkah kalian saat tertusuk duri mawar itu?.


Ya, Aira pun begitu. Mustahil ketika ia bilang tidak terganggu dengan sifat Afi yang menyebalkan. Aira sangat marah juga jengkel.


Beberapa menit setelah mereka sampai dikamar, ternyata Afi sudah datang membawa tukang urut andalan pesantren. Sedangkan kenyataannya Aira sangat benci di urut.


“Yang mana Fi, cepat beritahukan di sebelah mana kakimu yang sakit?. Mbok Sum sangat jago lho!.” Tutur Afi seperti sedang memberi perintah.


Aira memang pernah dengar tentang kisah Mbok Sum yang menjadi pahlawan di kawasan ini. Semua santri baik putra maupun putri juga masyarakat sangat percaya padanya.


Aira sangat bergidik, alih-alih takut Mbok Sum memperparah kakinya.


“Tenang saja Ai, Mbok ini sudah banyak tahun bergelut dalam beginian.” Sepertinya Afi sudah menebak fikiran sahabatnya yang kacau.


Aira hanya tersenyum kaku ke arahnya.


“AWWWW, Sakit Mbok….. pelan-pelan kenapa!.” Jerit Aira sambil membentak si Mbok.


Afi memandang Aira garang, “Kalau sampai aku dengar suara kamu lagi, tunggu saja, akan ku sumpal mulutmu dengan bola basket” Ancamnya.


“Sakit tau Fi, coba kamu jadi saya.” Bela Aira meringis menahan sakitnya.


“Alahhh…. Begitu saja sudah sakit, gimana kalo kamu di urut pakai palu dengan Mbok Sum?.” Sepertinya Afi ingin menakut nakuti Aira,


“Iya kan Mbok? Kalau sudah parah harus di urut pakai palu kan?.”


“Sudah sudah nak Afi, jangan menakut nakuti temanmu, kasihan dia, tuh terlihat sangat ketakutan.” Papar Mbok Sum memperingatkan Afi.


”Keluar sana kamu Fi, saya lebih takut melihat wajahmu sekarang, ketimbang di urut sama Mbok Sum.”


Tangan Aira ber syuh-syuh menyuruh Afi pergi.


Akhirnya Afi pun berjalan gontai menuju pintu, sambil sesekali tersenyum ngeri melirik sahabatnya.


Jangan sampai deh dia terus-terusan menakut-nakuti saya. Kalau sampai terjadi lagi, saya siap menjadi partner perangnya. Geram Aira dalam hati.


**************


Keesokan harinya, Aira merasa kakinya lebih ringan dari kemaren, kini ia sudah bisa mengikuti pelajaran olahraga setiap hari Rabu. Kakinya sudah bisa di buat untuk berlari, bahkan buat manjat tiang pun ia mampu.


Terima kasih Mbok Sum…


Kali ini jam pelajaran olahraga kosong, Ustad Agus izin tidak bisa masuk. Entah apa alasannya, semua santri tak pernah menghiraukannya. Sedangkan gadis pecinta ice cream itu terlihat sangat lelah, hanya terlintas satu kata di otaknya, istirahat.


Di sana, di kelas paling utara, terlihat begitu lengang. Aira melangkah perlahan menuju kelas itu, agar terhindar dari kebisingan yang lain.


Aira meletakkan pantatnya pada salah satu kursi yang sedikit usang.


Kursinya terbuat dari kayu yang ketika di duduki menyisakan kekakuan pada setiap punggung orang yang mendudukinya. Di letakkannya kepala Aira di atas meja, mengatur nafas, sambil memejamkan matanya sedikit demi sedikit.


Alhamdulillah…..Syukurnya. Akhirnya badan Aira selamat dari kelelahan pagi ini.


Namun seketika, Dukk Dukk Dukk..terdengar suara sepatu melangkah mendekat ke tempat Aira.

__ADS_1


Terburu-buru ia mendongakkan kepala, takut ketahuan kalau dirinya sedang kabur dari kelas.


Aira naik ke atas bangku sambil benjinjit dan melongok dekat


jendela, ingin memastikan siapa yang datang. Pas di bawah jendela, seseorang melongo ke arahnya. Spontan Aira langsung berbalik ke belakang dan ia terjatuh.


Brukkk… AWWWW...


Aira menjerit sekuat tenaga, sontak orang di luar sana langsung membuka pintu kelas mencoba melihat kejadian di dalam. Namun wajahnya mendadak pucat, mondar mandir di samping gadis yang tertegun ke arahnya. Orang tersebut terlihat kaku.


Anehnya, dia berlari ke luar kelas meninggalkan Aira yang terkapar.


Aira mendengus sebal, bisa-bisanya dia mengabaikan orang yang sangat membutuhkan pertolongannya. Kaki Aira terkilir di tempat yang sama, sangat sulit di gerakkan, Aira tak kuat menahan sakitnya. Kini air mata Aira sedikit demi sedikit keluar tanpa permisi.


Ibuu… Ayahh.. Anakmu sakit, kalian di mana? Aira menyeracau sendiri sambil terisak kecil.


Tiba-tiba seseorang membuka pintu, “Aira kamu kok bisa seperti ini?.” Ternyata dia Bella dan dua santri lain yang tidak begitu Aira kenal,


Aira rasa mereka adik tingkatannya. Dan jauh di belakang mereka, terdapat laki-laki yang memancarkan tatapannya penuh khawatir.


“Ustad minta tolong ya Bella, tolong bawakan Aira ke kamarnya.” Laki-laki itu adalah ustad mereka. Ahmad Nofil Kaitsar Ghiyatsullah.


“Baik Ustad, akan kami bopong Aira ke kamarnya.” Jawab Bella diikuti anggukan kedua santri di sebelahnya.


Lalu Nofil berlalu begitu saja. Namun dia berjalan perlahan, sengaja mendengarkan gresak-gresuk dari muridnya.


“Aira Aira, kamu aneh. Kenapa bisa ada di kelas ini hah?.” Tanya Bella sambil perlahan menendang kaki Aira yang terkilir.


“AWWWW..” Jerit Aira, “Ssttttt.. jangan keras-keraslah Bell, nanti kedengeran.” Di letakkan jari telunjuk Aira di depan mulutnya.


“Awalnya, saya hanya ingin istirahat disini, ehhhh tiba-tiba tuh Ustad muncul, saya intip ia di jendela, dan akhirnyaaaa begini deh” Papar Aira menyesal.


Nofil pun melangkah semakin jauh sesekali menyunggingkan senyumnya.


**************


Suasana di kantor sedikit agak lengang, semua Ustad sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Kecuali Ustad muda yang terkenal di kalangan santri putri sibuk dengan pikirannya sendiri.


Bayangan wajah santri yang akhir-akhir ini sering di jumpainya, melintas ke dalam fikiran Nofil. Dari cara bicaranya, cara menatapnya, cara santri itu menahan rasa sakit, kini sangat tergambar jelas dalam benak Nofil.


Aira Fatma, satu nama santri yang terus mengusik ketenangan hidupnya. Satu santri yang membuat dia peduli akan hidup seorang hawa, bukan lagi hidup seorang murid.


Sejak saat itu, Nofil memandang santri tersebut sebagai seorang gadis yang harus di jaga perasaannya, di mengerti keinginannya, serta di beri rasa yang orang lain tak kan paham arti rasa itu.


***************


Pagi yang cerah, di tarik kembali ujung selimut yang membuat keadaan Aira lebih nyaman. Cahaya matahari kian meninggi, telah masuk ke celah celah jendela kamar. Biarlah matahari bercengkrama dengan santri yang lain, asalkan bukan dengan Aira. Biarlah matahari menjadi penerang pesantren, tapi jangan sampai menerangi Aira. Aira merasa malu, sungguh teramat malu.


Di belakang pintu kayu berwarna tosca itu, Aira berada. Kepalanya pening, bibirnya pucat, penglihatannya mulai kabur. Apa yang sedang terjadi dengan Aira? Tidak biasanya dia mengalami hal seperti ini.


Malam sebelumnya Aira begitu ceria bercanda bersama temantemannya. Ia masih mengikuti kegiatan sebagaimana mestinya.


Tidak ada gejala-gejala sakit yang membawanya ke tahap seperti sekarang.


Kakinya di rasa masih sakit, disebabkan dua kali kecelakaan dan terkilir di tempat yang sama. Jadi kemungkinan sembuh membutuh kan banyak waktu. Butuh jangka sedikit lebih panjang untuk belajar memapah kakinya berjalan seperti biasa. Makanya sampai saat ini ia belum bisa berlari-lari lagi di halaman pondok.


“Ai, kamu sakit, Kok pucat sekali?.” Tanya Anna ketika sedang tugas mengontrol hari ini.


Aira hanya mengangguk, tak kuat ia mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. Anna menyentuh kening Aira, tidak demam, tapi kepala Aira terasa begitu berat.

__ADS_1


“Istirahat saja Aira, nanti Mbak belikan obat di Apotik.” Ucap Anna, “Juga biar Mbak yang belikan suratmu ke Madrasah.” Tambahnya lagi.


Sedangkan gadis yang terlihat pucat itu hanya bisa mengangguk lagi dan lagi sampai Anna keluar dari kamarnya.


__ADS_2