Mencintai Dalam Diam (MDD)

Mencintai Dalam Diam (MDD)
Bab V


__ADS_3

Flacback on


Jika angin mengadu pada malam, air pun tak surut dari pangkuan. Ketika petang mulai bertengger di pelabuhan sunyi, tak kuasa gelombang cakrawala hinggap di tengah-tengah sepi. Aira mengadu pada yang maha Esa, menangis kepada-Nya. Karena di waktu sepertiga malam malaikat turun mencari hamba yang sedang bermunajat kepada Rabbnya. Gadis itu memohon kesembuhan dari penyakitnya. Sudah lebih dari seminggu dirinya terbujur kaku tanpa topangan maupun sandaran. Entah apa nama penyakitnya, Aira hanya merasa lemas tak bertenaga.


Seharian ini, hanya sepotong roti sisa kemaren yang bisa Aira masukkan ke dalam mulutnya. Semua makanan terasa hambar, ia tak berselera sama sekali.


Afi mengetuk pintu kamar Aira dengan sangat pelan, takut sahabatnya tiba-tiba terbangun.


“Airaa..kamu sudah baikan?” Sambil memegang tangan Aira, perlahan membangunkannya. Ia begitu mencemaskan keadaan sahabatnya.


Aira mengangguk lemas.


Kali ini Afi ikut rebahan di samping Aira, “Aku rindu kamu Ai, kapan kamu sembuhnya? Sepi tauu, aku hampa tanpamu.” Tangannya di acungkan berperaga seperti tokoh drama. Ia memandang atap kamar bergantian dengan memandang sahabatnya.


“Aku punya cerita lho Ai, tadi kan ya, Ustad Nofil masuk kelas memberikan tugas dari Mr. Elkom, dia tuh sering melirik ke bangkumu lho!” Sambil cengingisan sendiri, ”Beneran lho Ai, aku gak bohong. Kalo menurutku sihhh… kayaknya dia rindu deh sama kamu.”


“Sudah lah Fi, jangan seperti itu, nanti kedengeran santri lain, timbul fitnah lagi di mana-mana.”


Meskipun terdengar lemah Aira mencoba menggubris cerita sahabatnya.


“Nahh gitu dong Ai, bersuara kek, kan seneng jadinya.”


“Saya sudah baikan kok Fi, Cuma semua makanan tak bisa di tampung perut, tak ada selera.” Jawab Aira terbata-bata.


“Cepat sembuh ya Ai, masih banyak cerita yang belum aku ceritakan.”


Aira mencoba bangkit dari tidurnya, rasa nyilu masih terasa jelas di seluruh anggota badannya, namun Aira tidak ingin semua orang khawatir, ia coba yakinkan dirinya serta orang lain tentang keadaannya yang sudah baikan.


“Lihat Fi, saya sudah kuat duduk kaan?” Tangannnya ia jadikan tumpuan penopang tubuh lemahnya.


“Sekarang kamu mulai berlagak didepanku yaa? Kalau masih sakit, tidur saja Ai…Jangan di paksa.”


“Nggak Fi, saya sudah lebih baikan kok, jangan berlebihan seperti itu laah” Tersenyum yang dipaksakan. Aira tau betul keadaan dirinya saat ini, ingin sekali ia katakan bahwa ia sakit. Tapi demi sahabatnya ia rela berbohong.

__ADS_1


Semua santri kini sedang jama’ah ashar di musholla, Aira meminta Afi untuk mengantarkannya ke PUSKESTREN (Puskesmas Pesantren).


Ia hanya ingin tau bagaimana tentang kondisinya sekarang.Sampai di tujuan, ternyata banyak santri lain yang ingin periksa.


Terpaksa mereka menunggu sampai antrean berakhir. Di sinilah tempat semua santri berobat, tidak di perbolehkan berobat ke puskesmas luar pesantren kecuali jika memang mendesak. Jadi, mau tidak mau mereka harus tetap menunggu.


Lama-kelamaan menunggu ternyata membuat mereka penat. Aira masih dengan fikiran kalutnya, sedangkan seseorang disampingnya sibuk berbicara tentang hal-hal yang tidak penting. Mulai dari cerita sandal upin ipin sampai kumis tebal Pak Hendro keamanan pesantren yang galaknya minta ampun menjadi bahan tertawaannya sendiri. Ia tak henti-hentinya mengoceh tentang ini dan itu. Dan Aira hanya tersenyum sesekali.


Suara panggilan yang tiba-tiba dari dalam ruangan menghentikan tawa gadis yang menemani sahabatnya berobat. “Aira Fatma, silahkan masuk!” Suara khas seorang dokter berserangam putih polos tanpa ada satu corak pun kebingungan mencari keberadaan sang nama.


Afi mengangkat tangannya, lalu menarik tangan Aira memasuki ruangan kecil berbau obat-obatan, bikin sesak.


Setelah di periksa, dokter kembali ber-ucap, “Saudari Aira harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut, saya mengkhawatirkan penyakit kista (pembengkakan pada jaringan tubuh yang di dalamnya berongga dan berisi cairan kental menyerupai bubur) menggerogoti rahim anda, tapi semoga saja itu hanya analisis saya.”


Mereka semua terdiam. Ruangan menjadi sepi, hawa panas tibatiba menyeruak ke dalam ruangan.


“Sudah berapa bulan anda mengeluarkan darah terusmenerus?”Akhirnya pertanyaan dokter memecahkan keheningan di antara mereka semua.


Di sampingnya, mata seorang gadis yang sangat menyayangi Aira mulai memerah, pandangannya kosong. Perbincangan antara sahabatnya dengan Dokter Puskestren tak lagi ia hiraukan.


Hanya Afi lah yang terlihat begitu cemas tentang keadaan Aira, bahkan Aira sendiri pun masih bisa-bisanya mengajak Afi bercanda.


“Itu hanya analisis dokter Fi, jangan terlalu difikirin, ada Allah yang akan selalu menolong kita.”


“Coba peduli lah sedikit pada kesehatanmu Ai, inii bukan hal mainmain, ini menyangkut masa depan dan hidup mu” Afi sedikit meninggikan suaranya, tidak sabar menghadapi sifat Aira yang selalu pasrah.


“Lalu apa yang bisa saya lakukan Fi? Menangis? Marah? Kesal?Mengamuk? Buat apa coba? toh itu hanya baru analisis dokter.” Kini mata Aira mulai berkaca-kaca.


Afi mendekati sahabatnya lalu memeluknya. Tak terasa air mata yang ia tahan sedari tadi mengalir begitu saja melihat kepasrahan dan ketabahan dari sahabatnya.


“Bukan seperti itu Airaa..seandainya kamu cerita dari dulu apa yang kamu rasakan, mungkin tak akan separah sekarang. Aku tak sanggup melihatmu seperti ini.”


Dalam diam Aira menangis, ia tahu bahwa sahabatnya begitu menyayanginya.

__ADS_1


**********


Sudah tiga hari terhitung dari kepulangan Aira dan Afi dari Puskestren, gadis pencinta ice cream itu pamit kepada Ibu Nyai untuk melakukan USG ke Rumah Sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap.


Namun sampai sekarang, kabarnya tak kunjung Afi dapatkan. Kini ia lebih khawatir pada keadaan sahabatnya ketimbang dirinya sendiri. Afi hanya bisa menunggu dan ber doa, tak bisa berbuat lebih.


Baginya, seorang Aira Fatma yang diam-diam menyukai sunset itu lebih dari sekedar seorang sahabat. Menurutnya, ia adalah saudara kembarnya yang terlahir dari rahim dua orang yang berbeda. Ketika Afi hendak melangkah ke kamar mandi, seorang santri baru yang tak lain adalah sepupu dari sahabatnya, memberikan sebuah lembar kertas putih yang tertera namanya di bagian depan.


Assalamu’alaikum wr.wb.


...Teruntukmu sahabat…...


...Ketika matahari tak sampai hati untuk menyampaikan keinginannya menerangi bumi tentu ia akan berselimut awan agar semesta tak memarahi....


...Laut pun begitu, ia menyapa daratan melalui ombak yang tak semua penghuni darat menyukainya....


...Sama halnya dengan diri ini…...


...Maafkanlah saya Afii… saya tak bermaksud menyembunyikan semuanya darimu, itu hanya di luar ketakutan saya. Selama ini, saya hanya pasrahkan kepada yang Kuasa. Ia tahu yang terbaik buat saya. Mungkin penyakit inilah teguran atas kelalaian yang selalu saya pelihara....


...Janganlah kamu terlalu kefikiran tentang saya. Biarlah kita jalani samasama, saya yang akan selalu bersabar menjalaninya, serta kamu di samping saya dengan seribu kekuatan tahan bantingmu....


...Bukankah begitu Afi sahabatku…?...


...Sekali lagi maafkanlah saya....


...Wassalamu’alaikum wr.wb....


...Your partner,...


...Aira Fatma...


Masih tergenggam surat yang Aira tulis buat sahabatnya. Kini Afi mulai terisak, membayangkan betapa sakitnya Aira menanggung sakit itu seorang diri. Sebagai sahabat, ia merasa tak berguna.

__ADS_1


__ADS_2