Mencintai Dalam Diam (MDD)

Mencintai Dalam Diam (MDD)
Bab Dua (II)


__ADS_3

Didepan pintu kamar yang tak begitu luas, gadis dengan beberapa tumpukan buku disampingnya sedang melakuan rutinitas hariannya.


Ia menarik napas dan mengeluarkannya. Kegiatan itu berulang beberapa kali sampai dirinya merasa sedikit lebih tenang.


Disaat hitungan yang ke 16 kalinya (kalau tidak salah ngitung), nafasnya tidak beraturan sedangkan detak jantungnya tidak normal seperti biasanya. Sangat sulit Aira definisikan keadaannya saat ini, matanya kian tak mau berkedip, serta mulutnya terbungkam sebungkam-bungkamnya.


Suara indah yang sering Aira dengar tercetak jelas dalam telinganya kini menggema lagi seantero pesantren, meski sedikit bising dengan kegiatan santri yang lain, itu tak berpengaruh bagi Aira. Ayat demi ayat, surat demi surat yang dibacanya telah menghipnotis Aira menjadi patung miniqueen seperti milik Afi sahabatnya.


Subhanallah! Inikah ciptaanmu yang terdesain sedemikian rupa? Sungguh aku sangat menyukai suaranya. Aira hanya mampu mengagumi suara itu tanpa tau siapa pemiliknya.


Aira melangkah kedalam kamar mencari sahabatnya. “Fi? Kamu kenal siapa pemilik suara itu?.” Dia penasaran.


“Entahlah Ai… aku tak pernah menghafalnya.” Sedangkan sahabatnya itu sibuk sendiri dengan lipatan baju yang menumpuk.


Aira memelankan suaranya, “Saya suka Fi..” tersenyum malu-malu memamerkan deretan giginya yang putih.


“Sama? Orangnya?.”


“He’e.” Tanpa sadar, Aira menganggukkan kepala tidak menyadari pertanyaan sahabatnya.


Afi menjitak kepala Aira yang fikirannya melambung kemana mana.


“Gila kamu Ai, kalau kakek-kakek gimana?.”


“Yee..” Aira memonyongkan bibirnya sambil mendorong Afi ketumpukan baju yang baru selesai ia lipat.


“PENGUMUMAN! AIRA SUKA KAKEK-KAKEK.” Afi menjerit ketelinga Aira.


“AAAA….AAAA…AA..tak dengar.. tak dengar.” Kedua telinga Aira, ia sumpat memakai jari telunjuknya dan segera melenyap dari samping kuntilanak kesurupan itu.


Nafas Aira ngos-ngosan, ia lari setelah keluar dari kamarnya yang menurutnya terlalu sumpek. Ia sengaja berhenti didepan kantin pesantren, kali ini perutnya butuh asupan gizi agar tidak berat sebelah dengan energy yang ia keluarkan setiap harinya.


“Ummi… saya beli lontongnya, seperti biasa, tanpa timun dan cabe.” Langsung ia nyelonor mengambil kerupuk yang terikat disamping rak-rak piring.


Tak kaget lagi dengan kelakuan Aira, “Ya, ya, neng Aira, monggo ditunggu pesanannya ya neng..” Ujarnya menggunakan logat yang sok ngejawa.


“Es lemonnya libur neng?.” Imbuhnya, yang artinya mau pesan atau tidak?


“Ya pasti lah Ummi… Ummi kan top cer deh.” sambil mengacungkan jari jempol, Aira tersenyum cengingisan.


Ternyata dimeja pojok sudah terdapat seseorang yang memperhatikan Aira sejak kedatangannya kekantin sampai duduk didepan tempat memesan makanan.


“Aduuh aduuh yang lagi banyak duit, nggak ngajak-ngajak nih.” Cibir Bella yang ternyata sudah berada disampingnya.


“Eh Bell, ini ada kok nggak ba….”


“Ai, kamu dengar kalau di pesantren kita ada Ustad ganteng, alim, baik, pengertian, rajin, pandai, pokoknya SEJUTA (setia, jujur, takwa) lah.” Cerocos Bella memotong pembicaraan Aira.

__ADS_1


“Tarik nafas dulu Bell.” Titah Aira menggerakkan kedua tangannya keatas dan bawah berulang-ulang.


“Ya? Kamu dengar tidak?.” Meski diguncang badannya, Aira tetap


tak berkutik.


“Saya dengar, tapi dia belum pernah masuk ke kelas.” ucap Aira.


“Jadi?.”Tanya Bella penasaran.


“Jadi apa?.”


“Jadi kamu belum pernah ketemu langsung?.” Tambahnya dengan mata mendelik.


“Its mean yes Bella.” ucap Aira.


“Alaaah rugi kamu Aira, semua santri sudah pada klepek-klepek,


cuma kamu yang kurin (kurang informasi).” ucap Bella sambil mengacungkan jempolnya terbalik.


“Buat apa? Toh itu nggak penting Bell.” ucap Aira.


“Awas lee klepek-klepek baru tau rasa kamu.” ucap Bella.


“Saya kesini mau mencari ilmu lah Bell, bukan malah cari jodoh.” ucap Aira.


Jangan ditanya lagi, kalau Aira dan Bella bersama, kegaduhan pasti terjadi.Tidak memandang tempat dan waktu, yang penting happy.Itulah yang Aira suka dari diri seorang Bella. Easy going orangnya.


Tapi terkadang sifat dinginnya membuat yang lain enggan berteman meskipun hanya sekedar untuk menyapa.


Sore harinya kegiatan pesantren biasanya ajian kitab Pak Kyai, tapi khoddamnya memberi tahu kalau Beliau sedang meos ke Jawa untuk mengisi tausiyah disana. Jadi buat para santri hari ini merdeka, free.


Antrean mandi kalau sekarang panjang sekali, para santri menjadikan kesempatan ini untuk nyuci, keramas berjam-jam, dan kegiatan tak penting lainnya.


Kenapa? Karena kalau full kegiatan, paling mandinya cuma lima menit, alias mandi itik.


Soaa, pergunakan waktu sebaik mungkin. Bisa nyuci ya nyuci, bisa mandi ya mandi, kalau bisanya hura-hura ya silahkan hura-hura, itu hak para santri.


Beda dengan Aira, ia sibuk mondar-mandir didepan kamar mandi. Seperti seseorang yang kehilangan suaminya.


“Kenapa Ai?.” tanya Afi, Ketika ditanya, ia malah pergi sesuka hati.


“Maaf Fi, tugas.” ucap AfiSambil berlari, ia menoleh menjawab pertanyaan sahabatnya yang dibuatnya bingung.


Setelah sampai dikamar, ia mengobrak-abrik semua rak kitab, ia berkeliling ke setiap sudut kamar.


Namun hasilnya nihil, kitabnya hilang. Entah ia lupa atau gimana, yang pasti ia belum siap dengan amukan sang ustad.

__ADS_1


Sudah terbayang dibenak Aira, ustad akan murka. Dengan wajah seram membawa sebilah rotan. Kasihan kedua tangan Aira, menjadi sasaran empuk sang rotan dan bakal memar dimana-mana. "Huft…" ia mendengus sebal.


Dikelas, Aira tak berani mendongakkan kepala. Ia masih tak siap dengan apa yang akan terjadi. Terus-menerus ia menopang dagunya diatas meja, memerhatikan bros kecilnya yang tak bergerak sama sekali.


“Assalamu’alaikum.” Terdengar jelas suara ustad yang mengucap salam.


Aira semakin menenggelamkan kepalannya pada kedua tangannya.


Alih-alih untuk menghindar.


Lama-kelamaan suara anak-anak terdengar semakin ramai, suara Afi kini paling nyaring diantara yang lain memanggil nama Aira.


“Aira, Aira.”


“Aira Fatma…AIRA FATMA.”


Aira mendongak seketika, mencari sumber suara itu.


"Hmm… siapa laki-laki tampan itu? Tampannya." gumam dalam hati Aira. Kini pandangannya berhenti dititik depan papan tulis.


Insan itu begitu sempurna, membuat Aira berhenti mencari keberadaan Afi.


“Aira kamu di panggil ustad Nofil tuu.” ucap Afi Masih setengah sadar, Aira tetap melongo ditempat.


"Ada apa? Kenapa saya?." Batin Aira.


“Kamu Aira Fatma?.” Pertanyaan se simple itu mampu membekukan seluruh organ tubuh Aira.


Aira menjawab terbata-bata dari saking gugupnya.


“I..i..yaaa..ustad.”


“Ini kitab kamu kan? Tertinggal dikantor kata ustad Mahmud. Dan Beliau tidak bisa hadir soalnya istrinya melahirkan.”


Ia memberikan kitab Aira yang sejak tadi berada digenggamannya. Sambil melihat santri lain sebagai pemberitahuan.


”Dan saya ditugaskan mengganti Beliau saat ini.” Lanjutnya kemudian.


Aira sempatkan melirik ekspresi wajah semua penghuni kelas.


Mereka dalam keadaan good mood. Tergambar jelas dari raut muka mereka semua. Sekalipun ditimpakan berton-ton emas diatas kepala mereka, rasanya tak akan ada yang merasakan sakitnya.


Ustad yang menjadi idaman seluruh santri itu kini menjelaskan kitab dengan sangat pas. Antara isi dan umpamaanya ia padukan secara nyata. Diam-diam Aira menyukai cara ustad muda itu mengajar. Seluruh santri cepat paham tanpa banyak penjelasan.


Ternyata benar, ia bukan hanya tampan tetapi juga mempesona. Bisik hati seorang gadis yang tengah melamun didalam kelas.


...****************...

__ADS_1


...🌼🌼 Selamat Membaca 🌼🌼...


__ADS_2