Mencintai Sahabat

Mencintai Sahabat
1. Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Seorang gadis terlihat panik dan tak tenang sejak tiga puluh menit lalu, taksi yang ditumpanginya terjebak dalam kemacetan ditengah ibu kota.


Ia baru saja meninggalkan meeting dengan klien dari butik yang dikelolanya, dan saat ini ia tengah menuju rumah sakit untuk menemui Ayahnya yang masuk rumah sakit.


Padahal pagi tadi Ayahnya masih bisa mengantarkannya pergi bekerja, tapi satu jam yang lalu ada telepon masuk dari petugas rumah sakit yang memberikan kabar kalau Ayahnya mengalami kecelakaan.


Sekali lagi ia melihat pada jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, butuh berapa lama lagi untuk segera sampai tempat tujuan.


"Makasih ya nak Angga, kamu sudah menolong Om" ucap seorang pria paruh baya yang berbaring di ranjang pasien dengan telapak kaki kanannya dibalut perban.


"Sama-sama Om, sudah tugasku sebagai Dokter untuk menolong pasiennya. Kebetulan juga tadi aku baru sampai rumah sakit dan lihat saat Om Wisnu dibawa ke IGD" jelas seorang Dokter yang dipanggil Angga tadi oleh Wisnu.


Wisnu mengangguk pasrah, lalu merogoh saku celananya mencari sesuatu. Wajahnya berubah bingung ketika tak menemukan yang dicari.


"Om cari handphone?" tanya Angga memastikan.


Wisnu mengangguk lagi.


"Sepertinya handphone Om Wisnu ada sama petugas rumah sakit untuk menghubungi keluarga Om Wisnu. Nanti biar aku yang ambilkan. Sebentar lagi Om Wisnu akan dipindahkan ke kamar rawat inap ya"


"Bintang..." lirih Wisnu yang masih bisa didengar oleh Angga.


Bintang, sebuah nama yang mampu menggetarkan hati Angga Sejak sepuluh tahun lalu. Dan ternyata nama itu masih mampu memporak-porandakan hatinya hingga saat ini. Bagaimana kabar gadis itu sekarang?


"Kamu kenapa kok senyum-senyum gitu?" tanya Angga ketika letak layar ponselnya memperlihatkan wajah Bintang yang tengah tersenyum.


Bintangnya sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik, apalagi senyum Bintang yang selalu membuat Angga merindukannya seperti sekarang ini. Meski mereka sedang bervideo call-an dan bisa memandang wajah Bintang, namun tetap saja Angga rindu pada gadis itu.


"Aku kangen kamu, Bin"


"Aku juga kangen sama Kak Elang"


"Ketemu yuk!"

__ADS_1


"Kak Elang kan di Surabaya dan aku di Bandung, jauh banget loh Kak"


"Awal liburan nanti aku ke Bandung ya, biar kita ketemu, kita menghabiskan malam dengan memandangi bintang di Bosscha"


Bosscha adalah tempat favorit mereka sejak kecil. Bosscha yang berlokasi di kawasan Lembang, terletak tidak lebih hanya sekitar 15KM dibagian barat kota.


Bintang tampak berpikir dan mengingat-ingat sesuatu.


"Maaf Kak, awal liburan nanti aku dan Nada diajak liburan sama Tante Widya. Next time aja ya Kak, gak pa-pa kan?"


Angga mengangguk lemah, ada rasa kecewa saat mendengar jawaban penolakan Bintang. Tapi dia tidak mungkin memperlihatkan kekecewaannya kepada Bintang.


Tanpa sepengetahuan Angga pun sebenarnya Bintang sangat ingin bertemu dengannya, Bintang juga merindukan teman kecilnya itu, tapi dia sudah terlanjur menerima ajakan Widya, dan tidak mungkin dia membatalkannya.


Tante Widya yang sangat baik kepadanya. Widya adalah adik dari Bundanya yang setiap liburan akhir semester Tante Widya selalu mengajaknya berlibur ke luar kota bersama Nada juga.


"Kak Angga kok gak pernah cerita tentang pacarnya?" tanya Bintang membuyarkan lamunan Angga.


"Pacar?" Angga mengerutkan keningnya, tiba-tiba saja Bintang menanyakan tentang pacar.


"Gak ada, emang kamu punya pacar?" Angga terlihat ragu dan menyesal dengan pertanyaannya sendiri, tapi dia juga penasaran ingin tau dengan jawaban yang akan diberikan oleh Bintang.


Angga dan Bintang memang tidak pernah membicarakan tentang pacar, karena mereka lebih sering berdiskusi tentang pelajaran dan keseharian mereka tanpa pernah menyinggung tentang pacar.


Tentunya Angga yang selalu membantu Bintang untuk mempelajari materi yang tidak dimengerti, dan Angga dengan sangat sabar dan telaten akan menjelaskannya untuk Bintang. Lagipula mereka juga tidak punya pacar.


Bagaimana mau punya pacar, kalau Angga saja membatasi dirinya dengan perempuan disekolahnya. Padahal banyak siswi yang naksir dan jatuh cinta pada pesona Angga.


Ia menjadi siswa teladan karena selalu bisa mempertahankan juara dikelasnya. Dan saat tahun kemarin Angga mewakili sekolah untuk ikut kejuaraan karate dan berhasil menjadi winner up.


Ada satu nama yang baru ia sadari kini tengah menguasai hatinya. Bintang.


"Belum" jawab Bintang yang menimbulkan pertanyaan lain pada Angga.

__ADS_1


"Belum berarti akan?"


Lagi-lagi Angga menyesali pertanyaannya sendiri.


"Aku gak tau sih Kak, kan dia juga baru pertama kali nganterin aku pulang tadi. Dan dia ngajakin jalan hari minggu besok"


"Dia?"


"Iya, dia namanya Mario"


"Ayah...." Sebuah suara menyadarkan Angga dari lamunannya.


"Bagaimana kondisi Ayah? Kaki Ayah juga kenapa sampai diperban begini?" Bintang tak bisa lagi menahan kekhawatirannya terhadap Ayahnya.


"Hanya luka kecil, sayang. Bukan begitu nak Angga?"


Angga menoleh pada sosok gadis yang berdiri di samping ranjang pasien IGD. Bintang.


"Eh... iya betul, dengan melakukan terapi selama dirawat dirumah sakit akan bisa segera memulihkan kondisi Om Wisnu" jelas Angga sempat terbata.


"Sayang, kamu masih ingat kan dengan nak Angga? Dulu kamu manggilnya Elang" tanya Wisnu mengingatkan putrinya.


Bintang masih terdiam dengan beradanya sosok laki-laki yang sudah sepuluh tahun tak pernah ia temui. Benarkah yang ada dihadapannya saat ini adalah teman masa kecilnya? Elang yang terbang terlalu tinggi dan sangat jauh.


Laki-laki berperawakan tinggi berbadan bidang proporsional, dengan wajah tampan maskulin mengenakan sneli dan semakin terlihat pesona dan wibawanya karena ada cambang halus yang tumbuh disekitar dagunya.


Siapapun pasti akan tenggelam dalam pesona dokter muda bernama Erlangga Pratama, tapi tidak termasuk Bintang.


Pandangan Bintang memang tak bergeming, terpaku pada satu titik yaitu Angga. Teman masa lalu atau teman masa kecil? Akan tetapi tatapan itu menyimpan kecewa disertai luka yang tak mampu Angga artikan.


Angga ingin bisa menatap lebih lama lagi gadis kecilnya yang kini telah tumbuh begitu sempurna, cantik nan menawan dengan rambut panjang bergelombang dan polesan makeup tipis namun tak ada senyum yang menyapanya.


"Keluarga Pak Wisnu bisa segera ke bagian administrasi? Agar Pak Wisnu bisa segera dipindahkan ke kamar rawat inap" seorang perawat menghampiri.

__ADS_1


"Iya Sus, saya akan kesana" ucap Bintang segera menuju bagian administrasi sesuai instruksi dari perawat tadi.


Bintang belum sempat menyapa Angga, begitu juga sebaliknya. Sepuluh tahun tidak bertemu dan tujuh tahun dari sepuluh tahun itu mereka saling menghilang tanpa komunikasi sama sekali. Sudah pasti ada rindu dalam kecanggungan diantara mereka.


__ADS_2