
Setelah kebisuan yang terjadi selama perjalanan didalam mobil tadi, ternyata Angga membawa Bintang ke pantai.
Bintang yang masih hanyut dengan kesedihannya tersadar ketika angin laut menerpa wajahnya, dan helaian anak rambut yang kini menjuntai ditepian wajahnya karena kaca mobil yang ternyata diturunkan hingga Bintang bisa melihat pantai dengan sangat jelas dari dalam mobil.
"Mau sampai kapan kamu diam seperti ini, Bin? Apa yang sebenarnya membuat kamu sedih?"
Lagi-lagi Bintang menggeleng. Angga memang tidak melihat airmata diwajah Bintang, tapi jejak air mata yang ia lihat saat masih dirumah sakit tadi cukup menjelaskan bahwa teman kecilnya ini sedang tidak baik-baik saja.
Lebih tepatnya teman kecil yang telah menempati seluruh ruang hatinya dengan cinta. Ya, tujuh tahun yang lalu Angga baru sadar dirinya jatuh cinta kepada teman kecilnya. Dan tujuh tahun yang lalu juga ia kehilangan cintanya.
"Mungkin kamu bisa bilang kalau kamu baik-baik aja pada orang lain. Tapi jangan kamu pikir karena kita lama gak ketemu aku jadi lupa tentang kamu. Aku tau kamu Bintang, aku tau semua tentang kamu dan aku masih ingat semuanya"
Kata-kata Angga berhasil membuat Bintang menatapnya. Tapi hanya sekilas karena setelahnya Bintang kembali menatap ombak yang bergulung, sedangkan Angga terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu dengan pandangan menerawang ke masa lalu.
"Dulu kamu pernah jatuh sewaktu kita sedang main kejar-kejaran. Padahal lutut kamu berdarah, tapi kamu bilang gak pa-pa" Angga mulai bercerita masa kecilnya bersama Bintang.
Bintang ingat, dulu mereka dan juga Nada masih sama-sama kecil dan sedang bermain kejar-kejaran. Bintang terjatuh dan ditolong oleh Angga.
"Kamu tau kan, dulu aku selalu bawa plaster kemana-mana. Dan aku yang pasang plaster dilutut kamu. Kamu bilang gak sakit tapi nyatanya kamu menangis sewaktu plaster itu menempel diluka kaki kamu, sampai Nada meledeki kamu yang menangis. Aku tau kamu kesakitan Bin. Jadi sekarang kamu jangan coba untuk bohongi aku" lanjut Angga dengan ceritanya.
Bintang yang sejak tadi memandangi pantai dari dalam mobil, kini beralih melihat pada sosok teman kecilnya yang kini telah menjelma menjadi pria dewasa yang sangat tampan dengan balutan kemeja formal yabg dikenakannya. Dan jangan lupakan jejak kumis yang sudah dicukur dan cambang tipis di wajah lelaki itu yang semakin menambah pesona seorang Elang.
"Dan sekarang aku juga tau kalau kamu sedang tidak baik-baik aja" ucap Angga meluruskan pandangannya pada gadis yang duduk disampingnya. Teman kecil yang telah tumbuh sempurna.
Bintang terlihat sempurna dimata Angga, masih sama sempurnanya seperti saat beberapa tahun lalu ketika Angga menyadari ada Bintang didalam hatinya.
Bedanya sekarang Bintang telah menjadi wanita dewasa, wajahnya tak lagi polos seperti dulu. Ada polesan lipstick dibibir gadis itu, ada rona merah muda dipipinya, bulu mata yang lentik, dan wangi mawar yang menguar dari tubuhnya. Bintang semakin cantik.
Angga menepiskan anak rambut yang menutup sebagian wajah Bintang, seolah tak ingin ada yang mengganggu pandangannya sedikitpun.
__ADS_1
"Kamu gak mau berbagi sama aku?" tanya Angga sarat akan bujukan.
Berbagi? Selama ini Bintang kira dirinya sudah cukup dengan Rifky. Ia merasa Rifky bisa menjadi tempatnya berbagi, tapi pada kenyataannya lelaki itu tak banyak tau tentang Bintang.
Bahkan mungkin Rifky juga tidak menyadari tentang hati Bintang yang tak lagi bermuara pada dermaga cintanya, karena lelah dengan orangtua Rifky yang selalu menentang hubungan mereka.
"Bagaimana aku mau berbagi dengan orang yang udah pergi jauh ninggalin aku?" lirih Bintang.
Pergi jauh meninggalkan Bintang? Angga menyugar rambutnya. Ternyata kecanggungan dari sikap Bintang terhadapnya sejak kemarin tercipta karena gadis itu merasa dirinya telah ditinggalkan. Tapi bukankah Bintang yang tidak membalas email terakhir darinya?
"Kak Elang pergi semakin jauh disaat Bunda meninggal, dan saat itu aku sangat membutuhkan kehadiran Kak Elang didekatku"
Kali ini Angga dapat melihat kesedihan yang nyata dari Bintang, air mata gadis itu menghancurkan hati dan perasaannya. Ia bisa merasakan begitu jahat dirinya yang meninggalkan Bintang disaat gadis itu membutuhkannya. Begitu kan kata Bintang?
Dan tentang meninggalnya Nadia, sungguh Angga sama sekali tidak tau. Dia juga merasa sedih, Nadia sudah seperti Ibunya sendiri. Mereka sangat akrab dengan sering berkumpul untuk menghabiskan brownis buatan Nadia dalam canda yang menghangatkan.
Angga tak kuasa melihat air mata Bintang, dia lantas membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Bintang pun tak menolak.
Angga bisa merasakan kekecewaan Bintang kepada dirinya. Bagaimana mungkin dia dengan teganya pergi jauh meninggalkan bintangnya. Bukankah ia seharusnya menjadi langit, tempat untuk bintang. Tapi ia lebih memilih menjadi elang untuk bisa terbang jauh dengan bebas.
Kini dia harus berterimakasih pada takdir yang kembali mempertemukannya dengan Bintang. Bagaimana jadinya jika ia tetap terpisah dari Bintangnya, langit tidak akan pernah bisa meninggalkan bintangnya bukan?
Angga ingat dulu Bintang meminta dirinya untuk menjadi langit yang tidak akan pernah meninggalkan bintang.
Apa yang sebenarnya terjadi pada teman kecilnya ini, apa yang membuat Bintangnya bersedih begitu dalam. Ia bisa merasakan luka yang tak sedikit pada hati gadis yang kini berada dalam pelukannya.
"Aku janji mulai sekarang dan selamanya gak akan pernah pergi jauh meninggalkan kamu lagi, kalau bisa langit ingin terus bersama bintangnya"
Angga merasakan Bintang yang menganggukkan kepalanya. Rasa tenang dan lega menjalar pada hati Angga. Kini ia berjanji juga kepada dirinya sendiri akan selalu ada untuk Bintangnya. Bintang, gadis yang selama ini ia rindukan, gadis yang tak pernah beranjak sedikitpun dari hatinya. Bintang, gadis yang kini berada dalam pelukan Angga.
__ADS_1
Bintang sendiri merasakan sebuah ketenangan berada dalam pelukan teman kecilnya. Meski ia belum menceritakan semua kesedihannya, tapi dengan kembalinya Angga sekarang rasanya seperti sebagian bebannya terangkat.
...***...
Angga kini sudah sampai mengantarkan Bintang disebuah butik.
"Kamu kerja disini?"
"Ya, lebih tepatnya aku yang mengelola. Butik ini milik Mama"
"Mama? Maaf, tapi apa Om Wisnu menikah lagi?"
Bintang menggeleng dengan senyum tipis yang berusaha ia sematkan.
"Ceritanya panjang Kak"
"No problem, aku punya banyak waktu untuk kamu Bin"
Yang ada dipikiran Angga kemungkinan Ayah Bintang menikah lagi dengan seorang wanita yang kebetulan memiliki butik yang sekarang dikelola oleh Bintang.
"Loh bukannya tadi waktu dirumah sakit Kak Elang bilang dua jam lagi mulai praktek? Dan sekarang sudah tinggal sedikit lagi waktu yang tersisa untuk Kak Elang cepat menuju rumah sakit"
Ya Bintang benar dan Angga menyerah.
"Oke, mungkin sekarang memang terbatas waktunya. Tapi aku akan selalu ada untuk kamu Bintang"
Kalimat Angga mampu menerbitkan sebuah senyum yang kini tersungging diwajah cantik Bintang.
"Makasih ya Kak"
__ADS_1
Angga mengangguk. Kemudian tangannya bergerak maju mengusap pipi Bintang.
"Jangan pernah nangis lagi, karena sekarang ada aku yang gak akan pernah membiarkan kamu merasa sedih dan sendiri"