Mencintai Sahabat

Mencintai Sahabat
6. Bintang yang merona


__ADS_3

Wisnu baru saja selesai menjalani terapi untuk kesembuhan kakinya yang cidera dengan ditemani oleh Nada. Tapi siang ini Nada harus mengajar dikampus. Dia juga tidak mungkin meninggalkan Ayahnya sendirian dirumah sakit.


"Kamu telepon Kakak kamu aja, dia pasti mau kok nemenin Ayah disini"


"Aku gak punya kakak, Yah"


"Tapi bagi Ayah dan Bunda, Bintang tetap anak kami yang berarti kakak kamu Nada"


"Tapi dia-"


"Kalau kamu gak mau telepon Bintang, biar Ayah yang telepon dia"


Nada hanya mengedikkan kedua bahunya malas berurusan dengan Bintang. Bagi Nada Bintang bukan lagi seorang kakak untuknya. Bintang tidak lebih dari seseorang yang menjadi penyebab Bundanya meninggal.


Saat ini Bintang memang tidak mempunyai Papa kandung, karena kata Wisnu orang yang dulu menghamili Widya meninggal karena sakit sebelum niatnya untuk menikahi Widya terlaksana.


Apalagi saat Widya datang kerumahnya dan mengatakan identitas Bintang yang sebenarnya. Meski secara silsilah keluarga mereka berdua adalah sepupu tapi Nada enggan untuk mengakui persaudaraan yang sebenarnya memang ada diantara mereka.


Jangankan menganggap Bintang sebagai kakaknya, mengakui Bintang sebagai saudara sepupunya saja Nada tidak mau.


"Om Wisnu sendirian? Nadanya mana?" tanya Angga saat masuk kedalam kamar rawat inap Wisnu tak mendapati Nada yang biasanya menjaga Ayahnya.


"Nada harus mengajar dikampus. Sebentar lagi pasti Bintang sampai sini" jawab Wisnu seadanya.


"Loh Bintang mau kesini?"


Ada rasa senang yang menyusup masuk kedalam hati Angga.


"Iya tadi Om minta tolong Bintang buat kesini sebentar karena Nada harus mengajar"


Angga mengangguk paham.


"Aku turut berduka cita atas meninggalnya Bunda Nadia, Om. Aku baru tau dari Bintang kemarin"


"Iya gak pa-pa, sekarang semuanya sudah baik-baik saja"


"Assalamu'alaikum" Bintang membuka kamar rawat Ayahnya.


Gadis itu melangkah masuk dengan membawa kantong plastik putih berisi kotak kue brownis.


"Waalaikumsalam" Wisnu dan Angga menjawab salam hampir berbarengan.


"Hai Bin..." Sapa Angga penuh semangat karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan Bintang.


"Kak Elang kok disini?" tanya Bintang.


"Setiap selesai praktek kan nak Angga selalu jengukin Ayah, Bin" Wisnu yang menjawab pertanyaan Bintang.


"Makasih ya Kak, udah selalu jengukin Ayah"


"Sama-sama... Lagipula aku juga senang bisa ketemu Om Wisnu tiap hari. Seperti dulu kan sering bertemu dan tiap pagi kita selalu jogging"


"Iya, dan ada yang katanya mau ikut tapi kalau dibangunin bilangnya lima menit-lima menit terus" ujar Wisnu melirik putrinya.


"Ayah nyindir aku nih?" Bintang merengut kesal.


"Memangnya anak Ayah ini kerasa kesindir ya? Hemm?" Wisnu menggenggam jemari putrinya.

__ADS_1


Angga tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap Bintang. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan kalau sedang kesal. Ingin sekali rasanya ia mencubit hidung Bintang, seperti dulu saat mereka masih kecil.


"Oya tadi sewaktu jalan kesini aku mampir ke toko kue dan beli brownis, Ayah mau aku potongin brownisnya?"


"Boleh, potongin juga buat nak Angga ya"


"Iya Yah"


Bintang berjalan kesofa dan meletakkan bungkusan kuenya diatas meja lalu memotong brownisnya menjadi beberapa bagian. Bintang melupakan sesuatu. Tidak ada piring. Ia lantas membawa kotak brownis itu lagi pada Ayahnya.


"Makan langsung aja ya, gak ada piring" kata Bintang.


"Gak ada piring gak masalah, yang penting hajar brownisnya, hahaa... Betul kan nak Angga?"


"Iya Om, dulu juga kan biasa makan brownis bareng begini di satu tempat"


Bintang masih mengingatnya, bayangan itu terasa sangat jelas. Mereka bersama Nada asik berebut makan brownis buatan Nadia.


Kadang juga Bintang membantu Bundanya saat sedang membuat brownis tapi selalu direcoki oleh Angga, alhasil mereka berdua hanya bermain-main didapur yang membuat Nadia geleng-geleng karena ulah mereka berdua dapur jadi berantakan.


"Sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan sama kamu, Bin. Tapi kamu bilang kamu mau cerita, jadi aku tunggu aja sampai kamu mau menceritakan semuanya" Angga memulai pembicaraan saat sedang duduk berdua dengan Bintang diarea taman rumah sakit.


"Aku sendiri bingung mau memulai cerita ini dari mana kak, terlalu panjang dan rumit"


Tangan Angga terulur mengambil serpihan brownis yang ada diujung bibir Bintang membuat gadis itu terperanjat dengan tindakan Angga yang tiba-tiba.


"Masih aja kalau makan suka berantakan" Angga menunjukkan serpihan brownis yang sangat kecil bagai debu itu pada Bintang.


Angga mengusap gemas puncak kepala Bintang dengan sayang. Lalu tangan itu bergerak menggenggam tangan Bintang. Kali ini ada semburat merah diwajah Bintang yang sangat dinikmati oleh Angga.


Bintang sangat manis ketika merona seperti sekarang.


"Apa?"


"Dokter Angga, sudah waktunya untuk visit pasien rawat inap" seorang perawat menghampiri.


Angga memang sudah berpesan kepada perawat yang nanti akan mendampinginya visit untuk diingatkan bila waktunya visit sudah tiba.


"Bintang, aku akan atur waktu supaya kita bisa ngobrol lagi. Dan aku jamin tidak akan ada yang mengganggu kita" Angga meyakinkan Bintang.


"Iya Kak" Bintang mengangguk dengan senyum manis terhias diwajahnya.


Rasanya ada sedikit rindu yang terobati, tapi belum semuanya, hanya baru sedikit saja.


Bintang menatap punggung lebar itu yang berjalan semakin jauh.


Menatap Angga seperti ini membuatnya terkenang masa lalu bersama laki-laki itu. Teman kecil yang kini menjelma menjadi dokter muda yang tampan.


Usai memberikan mata kuliah di Universitas Merah putih, terlebih dulu Nada mampir ke toko buku untuk keperluannya mengajar. Baru setelah ini Nada akan kembali lagi ke rumah sakit.


Nada tidak akan membiarkan Bintang berlama-lama bersama Ayahnya. Nada tidak rela.


"Nada!"


Nada menoleh mencari tau siapa yang memanggil namanya. Bisa saja ada Nada lain didalam toko buku ini.


"Tante Astri?" Astri menghampiri Nada dengan membawa beberapa buku resep kue ditangannya.

__ADS_1


"Kamu sama siapa sayang?" Tanya Tante Astri begitu sudah sampai didepan rak buku yabg bertuliskan bisnis dan manajemen diatasnya.


"Sendiri. Tante sama siapa?" Tanya balik Nada. Tapi Nada tidak melihat ada Angga yang mendampingi Astri.


"Tante juga sendiri. Kebetulan ketemu kamu, mau gak temenin Tante minum teh sebentar"


Nada melihat jam ditangannya kemudian berpikir sejenak. Merasa tidak enak kalau menolak ajakan Mamanya Angga.


"Maaf ya Tante jadi ganggu waktu kamu yang baru pulang kerja. Seharusnya kan kamu bisa langsung pulang tapi malah Tante ngajak kamu kesini" ujar Astri ketika mereka sudah duduk disebuah kafe dengan Green tea pesanannya, sedangkan Nada memesan cappuchino.


"Santai aja, Tante. Aku juga sedang nggak begitu capek jadi bisa refresh sebentar disini sama Tante"


"Kamu kerja dimana?"


"Aku ngajar di Universitas Merah putih, Tan"


"Wahh, ternyata kamu dosen. Pasti Pak Wisnu sangat bangga karena punya anak secantik kamu dan yang pastinya kamu juga sangat pintar" Astri tak hentinya memuji Nada.


"Tante terlalu memuji. Anak Tante juga pasti sangat pintar, kak Angga kan seorang dokter"


"Tapi Angga tidak pintar dalam mencari jodoh. Usianya sudah sangat cukup untuk membina rumah tangga. Oya Tante belum pernah bertemu dengan Bintang. Apa dia sudah menikah?"


Nada sempat dibuat takjub dengan keluhan yang dituturkan Astri tentang Angga. Ia tak menyangka Astri begitu sangat menginginkan agar anaknya cepat menikah. Mengingat ia sendiri sebagai seorang wanita dengan usia 25 yang terbilang sudah pantas untuk menjadi seorang ibu, atau paling tidak menjadi istri.


Tapi bagaimana mau menjadi istri kalau calon suami saja dia belum punya. Lebih parahnya lagi Nada tidak punya pacar sekarang.


"Belum, tapi mungkin akan segera menikah" Nada menjawab pertanyaan Astri tentang Bintang.


Astri menghela nafas panjang. Meyesalkan sesuatu terhadap putranya.


"Berarti dia sudah punya calon suami?"


Nada mengangguk, tapi juga ragu. Pasalnya dia pernah melakukan tindakan nekat untuk membatalkan pertunangan mereka dengan mengatakan identitas Bintang yang sebenarnya kepada kedua orangtua Rifky.


Bukan tanpa alasan. Nada tidak suka melihat kehidupan Bintang yang nyaris sempurna. Memiliki Mama meski tanpa Papanya, tapi ada Ayah yang sangat menyayangi Bintang. Dan dengan mudah Bintang mendapatkan cinta dari seorang laki-laki yang ingin mempersuntingnya.


"Kamu sendiri bagaimana? Pasti juga sudah punya pacar atau mungkin calon suami"


Pertanyaan Astri membuyarkan lamunan Nada.


Nada tersenyum ragu dan menggeleng lemah.


"Belum terpikirkan, Tan. Pertanyaan Tante justru membuat aku sadar dengan statusku yang ternyata masih begini-begini aja" Nada kali ini tertawa ringan.


"Sama dong seperti Angga. Jangan-jangan kalian berjodoh" ujar Astri.


Sungguh Nada tidak menduga Astri akan terpikirkan hal itu, dirinya dan Angga berjodoh?


Dari penilaian Nada saat bertemu kembali dengan Angga pertama kali, laki-laki itu jelas sangat jauh dari kesan buruk. Justru Angga sangat memukau dengan wibawanya dibalik sneli yang dikenakan saat bekerja sebagai dokter.


"Dokter dan dosen, sangat cocok sayang" Astri meraih sebelah tangan Nada yang berpangku diatas meja, seolah menaruh harapan pada gadis yang kini ada dihadapannya.


"Kalian sudah sama-sama saling mengenal, bahkan sejak kalian masih kecil. Tidak ada salahnya dicoba kan?"


Nada masih ragu dan fokus dengan pikirannya sendiri.


"Untuk tiga hari kedepan Angga ada seminar di Bali. Tadinya Tante berniat untuk pulang ke Surabaya, tapi kalau kamu tidak keberatan Tante ingin mengajak kamu dan Ayah kamu makan malam bersama kalau Angga sudah kembali ke Jakarta. Kamu setuju kan?"

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan kak Angga, Tan?"


"Nanti Tante bicarakan dengan Angga. Tapi Tante yakin Angga tidak akan menolak. Ajak Bintang juga ya, sekalian kita menyambung silaturahmi"


__ADS_2