Mencintai Sahabat

Mencintai Sahabat
5. Bintangnya Elang


__ADS_3

"Masih ada berapa pasien lagi, Sus?" tanya Angga kepada perawat yang membantu prakteknya hari ini.


"Yang tadi itu pasien terakhir, Dok"


"Alhamdulillah... Makasih ya Sus"


Perawat itu mengangguk kemudian keluar dari poli klinik penyakit dalam.


Angga melepaskan sneli yang sejak tadi dikenakan dan juga stetoskop yang mengalung dilehernya. Praktek hari ini cukup melelahkan, tapi mungkin rasa lelahnya akan hilang jika sudah bertemu dengan Bintang. Ya Elang merindukan Bintangnya. Padahal kemarin baru bertemu.


Jadwal visitnya masih satu jam lagi, jadi Angga memutuskan untuk ke kamar rawat inap Wisnu.


"Nak Angga sudah selesai prakteknya?" tanya Wisnu ketika Angga sudah masuk kedalam kamar rawatnya.


"Sudah Om. Bagaimana kondisi Om Wisnu sekarang?"


"Alhamdulillah sudah lebih baik dari kemarin. Tadi pagi juga fisioterapi"


"Syukurlah. Oya ini aku bawakan buah buat Om. Aku taruh disini ya" Angga meletakkan bingkisan buahnya diatas nakas samping ranjang pasien.


"Makasih ya nak Angga, pakai repot-repot bawa buah segala"


"Engga repot kok Om. Hemm... Bintang belum kesini ya?" pandangan Angga menyapu seisi kamar rawat inap Wisnu, tapi yang dicari tidak ada.


"Bintang lagi banyak kerjaan. Jadi belum bisa kesini dulu" jelas Wisnu berbohong kepada Angga, karena sebenarnya Nada yang melarang Bintang untuk menjenguk.


"Begitu ya... Hemm... Om, aku boleh minta nomer handphonenya Bintang?"


"Boleh. Ini Om buka dulu kontaknya" Wisnu tampak mencari nama kontak putri sulungnya. Ya bagi Wisnu Bintang tetap menjadi anak pertamanya.


"Kamu salin ya" Wisnu memberikan handphonenya kepada Angga agar bisa langsung menyalin ke handphonenya sendiri.


"Makasih ya Om" ucap Angga setelah selesai menyalin nomer ponsel Bintang. Dan nomer kontak Bintang ia beri nama Bintangnya Elang. Angga sampai tersenyum sendiri saat mengetik nama itu.


"Kak Angga ya?" Seorang gadis baru saja masuk kedalam kamar rawat Wisnu.


Gadis itu mengenal Angga. Tapi Angga terlihat bingung.


"Nak Angga gak ingat sama anak Om ini?" tanya Wisnu.


"Nada?"


Gadis itu sudah berdiri dihadapan Angga dengan senyumnya yang manis.


"Jadi Nada yang dulu cengeng suka ngompol sekarang sudah jadi gadis yang cantik ya" ucap Angga setengah menggoda Nada.


Nada tersipu malu dengan Angga yang memuji dirinya cantik, tapi tidak dengan ejekan suka ngompol yang Angga lontarkan tadi kepadanya.


"Ih jahat banget sih Kak, yang diingat jelek semua"


"Gak pa-pa lah, yang penting lihat sekarang dong. Udah jadi wanita karir"


"Udah jadi bu dosen tapi masih aja manja nih" seloroh Wisnu bercanda.


"Assalamu'alaikum"


Semua yang ada didalam kamar rawat Wisnu menoleh ke arah pintu yang terbuka perlahan, "Waalaikumsalam"

__ADS_1


"Loh... Mama? Ngapain Mama kesini?" tanya Angga menghampiri Mamanya.


"Tadi Mama ke ruangan kamu, tapi kata Dokter lain kamu lagi kesini. Yasudah Mama susulin aja kesini"


"Maksudku kenapa Mama kerumah sakit?"


"Kamu kan sudah janji sama Mama mau makan siang sama anaknya teman Mama"


"Tapi satu jam lagi aku ada visit Ma. Ini juga aku lagi jengukin Om Wisnu dulu"


"Hai Tante" sapa Nada pada Astri.


"Silakan duduk dulu Bu Astri" Wisnu mempersilakan.


"Pak Wisnu dan..." Astri mengingat-ingat nama anak Wisnu.


"Nada, Tante"


Astri berjalan mendekat ke ranjang pasien, tempat Wisnu terbaring.


"Oh Nada, Tante kira Bintang. Kamu sudah dewasa ya sekarang. Semakin cantik"


"Tante bisa aja" Nada tampak malu-malu.


"Pak Wisnu sakit apa?"


"Engga sakit, Bu. Cuma kena musibah aja kemarin kecelakaan tapi Alhamdulillah sekarang sudah baik"


"Syukur alhamdulillah kalau begitu pak. Aduh maaf nih pak Wisnu, saya kesini gak bawa apa-apa"


"Gak pa-pa, Bu Astri kesini juga kami berterimakasih".


Saat Angga sudah berada diapartemen wajah Bu Astri yang sedang duduk disofa ruang tamu masih saja terlihat kesal. Bagaimana tidak, seharusnya perjodohan yang terselubung dalam acara makan siang tadi bisa berjalan lancar kalau Angga tidak tiba-tiba pergi karena ada operasi mendadak untuk pasiennya yang kritis.


Meski tau Mamanya sedang kesal kepadanya, Angga tak lupa untuk mencium tangan Mamanya.


"Aku minta maaf, Ma"


"Lama-lama Mama capek ngenalin kamu sama anak-anak teman Mama" Astri duduk disofa ruang tamu.


"Yasudah kalau capek jangan dilanjut, Ma"


"Kalau jangan dilanjut terus kamu kapan nikahnya, Ngga? Umur kamu itu udah lebih dari cukup untuk segera berumah tangga"


"Akan ada waktunya untuk aku menikah, Ma. Yang penting Mama sabar" Angga beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju kamarnya untuk ganti baju dan beristirahat karena hari sudah cukup malam. Operasi tadi siang cukup menguras tenaga dan pikirannya.


Sejak satu bulan Angga tinggal di Jakarta, ia lebih memilih apartemen sebagai tempat tinggalnya. Karena hanya untuk ditempati seorang diri.


Keberadaan Astri diapartemennya saat ini tidak lebih untuk melepas rindu kepada putra semata wayangnya. Dan kebetulan Astri memiliki beberapa teman yang tinggal di Jakarta dan anaknya belum menikah, jadi muncul ide untuk menjodohkan Angga yang diusianya sekarang sudah seharusnya menikah.


Sejak kepulangan Angga dari Jerman Astri kerap mencecar dengan menyuruh Angga untuk mencari calon istri. Tapi Angga tak kunjung memperkenalkan seorang gadis kepadanya. Jadilah sekarang Astri yang turun tangan untuk mencari calon menantu.


Angga hampir lupa untuk mengirim chat kepada Bintang.


To : Bintangnya Elang


Hai Bintang Tadi aku cari kamu dikamar Om Wisnu Tapi katanya kamu lg sibuk Besok kamu bisa ke RS? Elang

__ADS_1


Send.


Ting!


Tak perlu menunggu lama chatnya langsung dibalas oleh Bintang.


From: Bintangnya Elang


Lihat besok ya Kak Aku belum tau Kerjaanku lg banyak


Angga menghela nafas panjang. Kenapa rasanya ia seperti kosong, sedalam ini kah rindunya pada Bintang? Padahal kemarin ia baru bertemu dengan Bintang.


Angga membuka tirai dikamarnya untuk melihat malam yang dihiasi banyak bintang. Biasanya dengan seperti ini akan bisa sedikit mengobati kerinduannya pada Bintangnya.


Bintangnya? Seperti kata kepemilikan.


"Oya Ayah kamu dirawat dirumah sakit mana, sayang?" tanya Rifky saat sedang dalam perjalanan untuk mengantarkan Bintang ke Butik.


"Jakarta hospital"


"Kebetulan banget, ada saudara sepupuku yang kerja dirumah sakit itu. Udah lama banget aku gak ketemu dia"


"Memangnya lama gak ketemu kenapa mas?"


"Iya dia itu baru pulang satu bulan yang lalu dari luar negri, sekolah kedokteran dan lanjut kerja diluar juga"


Bintang mengangguk-angguk. Ia juga merasakan bagaimana rasanya lama tidak bertemu, sampai sepuluh tahun lamanya.


Ia teringat dengan chat Angga semalam. Bintang juga merasa bersalah kepada Ayahnya karena belum bisa menjenguk ke rumah sakit lagi. Dirinya tidak ingin membuat Nada marah dengan kehadirannya disana.


Rifky menghentikan laju mobilnya didepan Aura butik.


"Makasih ya mas. Kamu hati-hati dan semangat kerjanya"


Setelah Bintang melepas seatbeltnya dan akan membuka pintu, Rifky justru menahan pergelangan tangan Bintang.


"Kenapa mas?" tanya Bintang seraya menoleh pada lelaki yang berstatus kekasihnya sejak dua tahun lalu.


"Hari ini aku ada survey proyek di Lombok, aku menginap beberapa hari disana. Dan kamu juga akhir pekan ini ada acara di Bali"


Bintang mengerutkan keningnya tak paham maksud pembicaraan kekasihnya ini. Seingat dia Rifky sudah menjelaskan tentang survey proyeknya ke Lombok.


"Iya mas, kan kamu sudah bilang kemarin. Kamu juga sudah tau tentang acaraku di Bali nanti"


"Iya, tapi aku pasti akan sangat merindukan kamu sayang" ucap Rifky setengah berbisik.


Rifky mengusap lembut pipi Bintang kemudian mendekatkan wajahnya pada gadis yang sangat ia harapkan akan menjadi istrinya kelak.


Jarak mereka semakin tipis sehingga Bintang dapat merasakan hembusan nafas Rifky. Sampai akhirnya Bintang memalingkan wajahnya kesamping hingga membentur bibir Angga tampak membentur pipi Bintang.


"Maaf mas"


Rifky menjauh, ia memperbaiki posisi duduknya.


"Kamu hati-hati ya, jangan telat makan siangnya"


Bintang mengangguk canggung. Selama ini hubungannya dengan Rifky memang sudah masuk tahap yang serius karena Rifky menyatakan niatnya untuk segera melamar Bintang. Hanya tinggal menunggu restu orangtuanya saja.

__ADS_1


Tapi entah kenapa Bintang masih saja menjaga jarak dengan kekasihnya itu. Kalau sebatas pegangan tangan dan pelukan Bintang tidak keberatan. Namun tidak lebih dari itu, Bintang belum bisa. Masih ada sedikit keraguan dihati gadis itu, mungkin karena belum adanya restu.


__ADS_2