
Jam sembilan malam Bintang baru sampai dirumah, karena tadi sepulangnya dari rumah sakit Bintang kembali melanjutkan pekerjaannya di Butik.
"Kamu kok pulangnya malem banget sayang?" tanya Widya pada Bintang.
"Kamu habis dari rumahsakit? Duduk disini dulu nak, ada yang ingin Mama tanyakan"
Bintang menurut dengan duduk di sofa lain yang ada disebelah tempat Mamanya duduk.
"Aku ke rumahsakitnya tadi siang Ma, cuma sebentar kok. Terus aku balik lagi ke Butik karena pekerjaan yang deadline akhirnya lembur"
"Ada Nada juga di rumahsakit?" tanya Mamanya lagi.
"Gak ada"
"Syukurlah" Widya bernafas lega.
"Mama boleh tanya satu hal sama kamu, sayang?"
"Boleh dong Ma"
"Bagaimana dengan rencana pertunangan kamu dengan Rifky?" tanya Widya penasaran.
Sebenarnya sudah sejak lama Widya ingin menanyakan hal ini kepada Bintang, tapi dengan kesibukan Bintang dan Rifky yang juga sudah lama tidak pernah berkunjung kerumahnya membuat Widya menunda untuk bertanya.
"Aku belum tau, Ma" jawab Bintang ragu.
"Apa orangtuanya masih belum memberikan restu?"
Bintang pernah menceritakan hal ini kepada Widya, sudah sangat lama. Dan sampai sekarang restu itu belum diberikan. Bintang tampak ragu untuk menjawab dan memilih menunduk.
"Mama tau jawabannya"
Bintang tak memberikan respon. Sampai akhirnya Widya beralih duduk disebelah Bintang.
"Mama tau bagaimana rasanya hubungan tanpa restu. Saran Mama lebih baik kamu pikir-pikir lagi untuk kelanjutan hubungan kamu dengan Rifky. Mama tidak ingin kamu kecewa terlalu lama"
Bintang mengangguk mengerti. Dia tau bagaimana kisah antara Mama dan laki-laki yang seharusnya ia panggil Papa. Widya yang menceritakannya kala itu. Tanpa dikurangi dan tanpa dilebihkan, semuanya sesuai dengan yang Widya alami.
__ADS_1
Berawal dari sebuah restu yang terhalang, namun mereka tetap mempertahankan hubungan sampai akhirnya sebuah kesalahan terjadi yang menyebabkan lahirnya Bintang ke dunia ini.
Berharap dengan keadaan Widya yang hamil, hubungan mereka akan disetujui tapi nyatanya tidak. Laki-laki itu dijodohkan dan akhirnya menikah. Tapi karena tidak suka dengan pernikahan yang dijalaninya laki-laki itu mengalihkan sakit hatinya dengan menjadi seorang workholic, bekerja tidak kenal waktu.
Jika orang normalnya bekerja delapan jam, dia bisa bekerja sampai dua puluh tiga jam. Sampai akhirnya sakit keras dan meninggal dunia.
Sedangkan Widya yang saat itu berprofesi sebagai model dan dengan kondisinya yang sedang hamil memutuskan untuk meminta bantuan kakaknya.
Widya tinggal bersama Nadia dan juga Wisnu sampai anaknya lahir. Dan karena kebutuhan yang harus tetap dipenuhi, ia kembali bekerja dengan profesinya sebagai model tanpa ada yang tau kalau dirinya sudah memiliki seorang anak.
Kerasnya dunia ini membuat Widya tidak sampai hati bila nanti anaknya yang terlahir tanpa status pernikahan, akan menjadi buah bibir banyak media. Terlebih dirinya ada di dunia entertainment.
Sebuah ponsel bersoftcase merah muda dengan motif bintang-bintang dengan layar yang retak, masih sama seperti beberapa tahun lalu saat ditemukan. Bedanya sekarang ponsel itu tidak lagi mati. Hanya saja sim cardnya sudah dicabut.
"Bagaimana kalau kamu tau tentang siapa aku sebenarnya, Bin... Apa kamu akan meninggalkanku? Aku terlanjur mencintai kamu Bintang. Dan aku tidak bisa lepas, aku sangat takut kehilangan kamu"
Rasa takutnya kembali menyergap, dan ia butuh untuk segera meminum obat tidurnya yang rutin dikonsumsi setiap malam saat kesulitan tidur.
***
Bintang sedang memeriksa segala kelengkapan yang diperlukan untuk acara fashion show besok lusa.
Ditangan Bintang kini Aura butik melebarkan sayapnya dalam merambah segala jenis fashion busana. Mungkin awalnya Bintang memang tidak suka dengan desain, karena sebenarnya justru dia yang ingin memperagakan busana tersebut.
Saat itu Widya jatuh sakit karena types dan mengharuskannya untuk istirahat total. Jadilah Bintang yang mengambil alih untuk menggantikan Widya dalam mengelola Aura butik dan berlangsung sampai sekarang.
Awalnya Bintang hanya membantu pembukuan Butik, dan kemudian melanjutkan sekolah mode untuk bisa meneruskan Mamanya menjadi seorang desainer.
"Mba Bintang, semuanya sudah siap dan ekspedisi juga sudah datang" ujar Mira, assisten Bintang.
"Kalau begitu tolong bawakan box yang ini kedepan ya, biar dibawa sekalian sama ekspedisinya" Bintang menunjuk box yang berisi beberapa kebaya yang baru selesai diceknya.
"Oya besok kita flight jam berapa?" tanya Bintang saat Mira sudah akan keluar dari ruangannya dengan membawa box yang diminta Bintang untuk dibawa kedepan.
"Jam tujuh Mba, dan dari siang sampai sorenya kita ada geladi bersih" jawab Mira menjelaskan.
"Oke, makasih ya Mir"
__ADS_1
Mira mengangguk seraya pamit untuk keluar ruangan.
Nada dering panggilan dari ponsel milik Bintang mengalunkan lagu It will rain mikik Bruno mars.
Nama Rifky terpampang dilayar. Rifky calling.
Bintang segera menekan tombol hijau yang berarti menjawab panggilan tersebut.
"Sayang, kamu lagi sibuk? Udah makan siang belum?" tanya Rifky dari sebrang telepon.
"Ini baru senggang mas. Sebentar lagi aku makan kok. Kamu sendiri gimana disana? Kerjaan kamu lancar"
"Justru itu sayang, sepertinya aku akan lebih lama disini. Karena ternyata proyek disini sempat mandeg yang katanya disebabkan oleh anggaran yang tidak memadai. Sepertinya ada yang harus dibereskan dulu disini" Rifky menceritakan permasalahannya terkait proyek yang sedang dikerjakan olehnya.
Perusahaan Rifky bergerak dibidang infrastruktur dan dia adalah arsitek handal yang selalu dipercaya oleh pimpinannya untuk menangani proyek besar.
Padahal orangtua Rifky mempunyai perusahaan sendiri di Surabaya. Perusahaan yang terbilang besar dengan beberapa cabang yang dimiliki diberbagai kota yang ada dipulau jawa.
Tapi sepertinya antara Rifky dan Papanya tidak sejalan, karena Papa Rifky mempunyai perusahaan yang bergerak dibidang otomotif.
Rifky dan Bintang memang saling berbagi cerita termasuk tentang pekerjaannya. Sebenarnya hal itu dilakukan karena permintaan Rifky, agar mereka saling mengenal lebih jauh.
"Masalah apapun yang terjadi jangan sampai bikin kamu stres. Yang ada nanti malah seperti proyek kamu yang di Pulau seribu, malah dipindah tangankan ke oranglain. Kamu harus tetap tenang mas, jangan sampai ada orang yang memanfaatkan kelengahan kamu lagi"
"Kamu tau kan apa yang membuat aku stres waktu itu?"
Bintang menghela nafasnya panjang. Dia jelas sangat tau alasan yang membuat Rifky tidak tenang pada waktu itu. Tidak lain karena orangtua Rifky yang baru tau tentang identitas Bintang sebenarnya, dan saat itu pula mereka meminta Rifky untuk meninggalkan Bintang.
"Besok kamu flight jam berapa? Udah siap semuanya?" tanya Rifky mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin membuat suasana hati sang pujaan menjadi buruk.
"Jam tujuh. Tinggal packing aja nanti malam mas"
"Kamu hati-hati ya, jaga hati kamu selalu buat aku. Entah kenapa setiap kita lagi terpisah seperti ini aku selalu takut nanti ada yang merebut kamu dari aku"
"Mas mulai ngawur deh"
Rifky menghela nafasnya dengan kasar. Seperti ada yang meyesakkan dadanya.
__ADS_1
"Maaf. Aku percaya selama ada aku dihati kamu, tidak akan ada yang bisa mengambil kamu dariku" ucap Rifky dengan penuh percaya diri.