Mencintai Sahabat

Mencintai Sahabat
4. Penolong


__ADS_3

Hari ini pekerjaan Bintang sangat menyita waktu, sampai jam makan siang pun diabaikannya. Deadline membuatnya mabuk dengan sketsa yang akan segera disulap menjadi sebuah rancangan gaun mewah nan elegan karya Bintang Aura Maheswari.


Butik sedang mempersiapkan untuk acara fashion show yang akan digelar minggu depan, dan rencananya akan diadakan di Bali. Sedangkan produksi untuk Aura butik harus tetap berjalan disaat Ia pergi nanti.


Sebuah kotak yang berisi makanan mendarat diatas meja kerja Bintang. Membuat Bintang yang sejak tadi fokus berkutat dengan buku sketsanya mengalihkan pandangannya pada kotak makanan itu.


"Setiap sedang sibuk kamu selalu melupakan makan siang" seseorang yang tadi meletakkan kotak makanan itu kini berjalan menuju sofa yang ada diruang kerja Bintang.


"Kerjanya dilanjut nanti, sekarang kamu makan dulu" Rifky menepuk sofa yang kosong disampingnya agar Bintang duduk disebelahnya.


"Makasih udah bawain aku makan siang, mas" ucap Bintang akhirnya saat sudah duduk disamping Rifky.


Rifky mengusap lembut puncak kepala Bintang.


"Kalau kita sudah menikah nanti, aku gak akan biarkan kamu bekerja seperti ini. Sama diri kamu sendiri aja kamu gak peduli bagaimana nanti dengan aku dan anak kita nanti?"


Hampir saja Bintang tersedak oleh makanannya. Mendengar ucapan Rifky tadi kenapa seolah-olah mudah bagi lelaki itu untuk mereka menjadi sepasang suami istri. Sedangkan dalam bayangan Bintang sendiri menikah dengan Rifky terasa sangat jauh.


"Jadi kamu gak suka kalau aku kerja?"


"Bukannya aku gak suka kamu kerja, sayang. Aku gak suka kalau kamu mengabaikan kesehatan diri kamu sendiri. Aku gak mau kamu sakit"


"Aku baik-baik aja kok mas"


"Syukurlah kalau kamu memang baik-baik aja, tapi please jangan buat aku khawatir lagi. Bagaimana kalau senadainya hari ini aku gak kesini bawain kamu makan siang. Kamu pasti gak akan makan"


"Iya... Maaf"


Rifky begitu percaya kepadanya kalau ia bilang baik-baik saja. Jika saat ini yang berada disini adalah Angga, pasti dia tidak akan semudah ini percaya kepadanya.


Angga?


Kenapa tiba-tiba Bintang jadi membandingkan Rifky dengan Angga? Tidak! Bukan membandingkan! Saat ini dia memang sedang tidak baik-baik saja, karena pertemuannya dengan Nada tadi dirumah sakit. Oleh karena itu kesibukannya kali ini ia gunakan untuk mengalihkan kesedihannya. Ya seperti itulah.


"Bagaimana pekerjaan kamu kemarin di Bandung, mas? Lancar?"


"Alhamdulillah semuanya lancar, pasti karena kamu yang selalu doain aku" Rifky mencolek hidung Bintang yang membuatnya gemas.


"Berkat kerja keras kamu juga dong mas"


"Nah sebaiknya memang seperti itu, kita saling melengkapi. Aku yang bekerja dan kamu cukup mendoakan aku"


"Apaan sih kamu mas..."


Rifky adalah laki-laki yang dua tahun ini selalu ada untuknya. Kehadirannya seperti malaikat penolong.

__ADS_1


Tepatnya setelah lima tahun lalu ketika Widya menjemput Bintang dari rumah Wisnu, dan mengajaknya untuk tinggal bersama di Jakarta. Dan di tahun pertama butik milik Widya mengalami musibah kebakaran sekaligus kerugian yang tidak sedikit.


Saat itu Widya memutuskan untuk sementara berjualan baju dibazar dengan sisa koleksi butik yang bisa diselamatkan. Dan disanalah Widya mengenal Rifky yang berprofesi sebagai arsitek.


Rifky mewakili perusahaannya yang katanya memberikan bantuan untuk para wirausaha yang belum memiliki tempat untuk usahanya.


Sampai pada akhirnya Rifky bertemu dengan Bintang. Rifky yang mendekati Bintang dan menyatakan perasaan sukanya kepada Bintang. Meski tidak langsung mendapat respon dari gadis itu, tapi Rifky pantang menyerah.


Banyak lagi kebaikan yang Rifky lakukan untuk keluarganya sampai Bintang merasa tidak enak untuk terus menolak laki-laki itu. Butuh waktu dua tahun untuk Rifky benar-benar berjuang mendapatkan hati Bintang.


Dia orang baik, Bintang rasa alasan itu sudah cukup untuk dirinya bisa menerima cinta dari Rifky.


Namun belakangan ini Bintang merasakan sebuah kesia-siaan dari hubungannya dengan Rifky. Di awal hubungan mereka kebetulan kedua orangtua Rifky sedang berada di Jakarta dan Rifky mengajak Bintang untuk bertemu dengan kedua orangtuanya.


Pertemuan pertama berjalan baik dan tidak ada intimidasi atau judge buruk dari kedua orangtua Rifky. Tapi entah bagaimana orangtua Rifky bisa tau tentang status Bintang, sampai kedua orangtua Rifky menyuruh anaknya untuk segera memutuskan hubungannya dengan Bintang.


Tapi Rifky keras kepala, dengan dalih terlanjur cinta dan cinta butuh perjuangan dia mengajak Bintang untuk memperjuangkan hubungan mereka. Dua tahun berjalan namun semuanya masih sama, hingga Bintang merasa lelah.


Berbeda dengan Bintang, Rifky masih memiliki keyakinan untuk restu yang pasti akan didapatkan dari kedua orangtuanya.


Apa yang harus Bintang lakukan?


...***...


Bintang keluar dari minimarket dengan membawa satu kantong plastik putih berlogo nama minimarket.


Bintang berjalam sambil bersenandung kecil menikmati gerimis dan ia menyadari awan mendung yang menutup bintang malam ini. Tak apa, tidak harus melihat bintang karena ia juga ingin menunjukkan tempat favorit mereka pada Angga.


"Bintang!"


Nadia berlari sampai ketengah jalan dan mendorong tubuh Bintang sepenuh tenaga yang membuat tubuh Bintang terlempar sampai ke bahu jalan.


Pandangan Bintang mengabur, tapi ia masih dapat melihat banyak orang menghampiri, bukan kearahnya. Melainkan ketengah jalan, dan ada satu orang yang menghampirinya. Kemudian kesadaran Bintang hilang.


"Bundaaa...!" Seru Bintang dalam isak tangisnya dengan kedua mata yang masih terpejam.


Widya membuka pintu kamar putrinya karena mendengar suara teriakan dari dalam. Dan benar Bintang tengah bermimpi buruk lagi. Mimpi yang sama sejak Bundanya meninggal karena kecelakaan.


"Bintang, bangun sayang..." Widya membangunkan Bintang dengan mengusap kepala gadis itu dengan pelan.


Widya tidak sampai hati melihat peluh yang membasahi kening putrinya, sudah sering Bintang bermimpi buruk seperti ini, mimpi yang sama tentang malam kecelakaan naas itu.


Bintang membuka kedua matanya, dan ia bisa melihat sorot teduh penuh kekhawatiran dari mata Mamanya. Airmata Bintang jatuh mengakhiri mimpi buruknya.


Widya segera mengambilkan air minum yang ada dinakas samping tempat tidur Bintang.

__ADS_1


"Minum dulu sayang"


Bintang lantas bangun dan duduk dengan bersandar diujung tempat tidurnya. Ia mencoba mengatur nafasnya baru kemudian meminum air putih yang diberikan oleh Widya.


"Maaf ya Mama jadi bangunin kamu nak"


"Gak pa-pa Ma, udah pagi juga kan"


Widya mengangguk dan langsung memeluk tubuh putrinya yang pucat.


"Aku kangen Bunda, Ma" Akhirnya Bintang menangis lagi, ia tak bisa menyembunyikan rasa rindunya terhadap sang Bunda.


Meski Nadia bukan ibu yang melahirkannya, tapi Nadia adalah ibu yang telah membesarkannya dengan cinta yang tulus layaknya seorang ibu kepada anak kandungnya sendiri. Begitulah yang Bintang rasakan.


"Maafin Mama ya sayang" lirih Widya tak sampai terdengar oleh Bintang.


Bagi Widya rasanya minta maaf saja tidak cukup. Ia bukan lah ibu yang baik, tapi apa jadinya jika dulu ia tidak memberikan Bintang yang masih bayi kepada kakaknya-Nadia.


Mungkinkah kehidupan Bintang akan jauh lebih beruntung bila bersamanya atau justru sebaliknya. Bukankah tidak ada yang lebih baik dari tinggal bersama orangtua kandungnya sendiri? Tapi kondisinya saat itu Widya hamil tanpa menikah, sedangkan Papa Bintang saat itu sudah dijodohkan oleh orangtuanya.


Sungguh sesal yang tak akan pernah bisa ia tebus atas kesalahan dimasa lalunya. Kesedihan Bintang saat ini bermula dari kesalahan Widya sendiri.


Dan kini Widya justru telah menikah dengan Papa kandung Bintang. Cinta mengalahkan segalanya.


Bintang melepas pelukan Mamanya. Kemudian beranjak dari tempat tidur.


"Aku mau siap-siap berangkat ke butik, Ma"


"Kamu gak ke rumah sakit?"


Bintang menggeleng.


"Ada Nada disana"


"Dia gak bolehin kamu jenguk Ayah Wisnu?"


"Boleh kok Ma. Aku gak ke rumah sakit kan karena harus prepare buat acara fashion show beberapa hari lagi"


Widya menghampiri Bintang yang sudah akan masuk kedalam kamar mandi yag ada didalam kamarnya.


"Kamu jangan bohong sama Mama, Bintang. Mama sangat tau bagaimana sikap Nada sama kamu sejak Bunda Nadia meninggal. Dia kan yang selalu menyalahkan kamu"


Andaikan Mamanya tahu kalau Nada juga menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Wisnu. Hari itu memang Wisnu mengalami kecelakaan usai mengantarkan Bintang ke Butik. Seandainya saat itu Bintang tidak menerima tawaran Wisnu pasti Ayahnya akan baik-baik saja.


"Ma, sudah ya... Jangan bahas itu lagi"

__ADS_1


Akhirnya Widya mengangguk.


__ADS_2