
From : Kak Elang
Bintang, aku vidcall sekarang ya
Boleh?
Bintang tersenyum membaca pesan whatsapp dari Angga. Sebenarnya ia juga tak sabar untuk segera bertatap muka dengan Angga. Mereka akan bertemu tapi dalam video call. Bintang segera membalas pesan dari Angga.
To : Kak Angga
Jangan dulu, biar nanti aku yg video call Kak Elang
Sabar ya... Aku ada kejutan
***
Malam ini Bintang menginap dirumah sakit menamani Ayahnya, dan sekarang Ayahnya sudah tidur. Tinggal dirinya yang masih terjaga, tubuhnya lelah tapi matanya tak bisa diajak untuk istirahat.
Pertemuan dengan Angga tadi pagi diruang IGD menyisakan kerinduan dalam kecewa yang membuat canggung dalam diri Bintang.
Benarkah dia Elangnya? Teman masa kecil yang pernah pergi meninggalkannya?
Bintang ingin menyapa namun enggan.
Ada suara yang tertahan bila ingin menyebut namanya. Seperti rindunya kepada Angga yang masih tertahan.
Bintang kecewa karena teman kecilnya itu pergi jauh disaat ia kehilangan Bundanya yang meninggal karena kecelakaan. Dia merasa sendiri saat itu, ditambah kenyataan yang kemudian mengubah jalan hidupnya.
To : bintang_maheswari@gmail.com
Subject: happybirthday
From : erlanggapratama@gmail.com
Happy birthday Bintang
Semoga kamu selalu bahagia
Tetap jadi Bintang yang ceria 😊
Aku dapat beasiswa untuk kuliah di Jerman
Aku pamit... Kamu jaga diri baik-baik ya...
Aku selalu ingat pesan kamu saat aku pindah ke Surabaya dulu,
Dimanapun kita tinggal, sejauh apapun jarak kita,
Kita akan selalu memandang langit yang sama dengan bintang paling terang milikmu
Kata kamu, aku jadi langit biar bisa memiliki banyak bintang
__ADS_1
Tapi kamu salah,
Aku tidak ingin memiliki banyak bintang
Karena aku cukup satu bintang, yaitu kamu
Aku akan selalu merindukan bintang kecilku
Elangnya Bintang 🌟
Bintang masih ingat email terakhir yang dikirimkan oleh Angga untuknya. Email yang tidak pernah dibalas tapi selalu ia simpan.
Bintang sangat mengharapkan kehadiran Elangnya saat itu, tapi Elangnya malah terbang tinggi meninggalkannya semakin jauh.
Dulu mereka tinggal di Bandung, tapi saat Angga lulus Sekolah Menengah Pertama dia dan orangtuanya pindah ke Surabaya.
Bintang tidak tau alasan mengapa mereka memutuskan untuk pindah ke kota yang sangat jauh dari Bandung, tapi dari yang pernah Angga ceritakan padanya Bintang hanya mengetahui kalau kedua orangtua Angga sudah berpisah. Tapi tidak seharusnya Angga dan Bintang ikut berpisah juga.
Ting!
Ada nada pesan whatsapp dari ponsel Bintang yang tergeletak dimeja. Bintang melihat nama Rifky dilayar ponselnya.
From : Rifky
Sayang, kamu lagi apa? Udah tidur?
maaf ya seharian ini aku sibuk banget
Malam ini aku jalan pulang ke Jakarta
Besok aku ke rumah kamu ya
Aku udah kangen banget sama calon istriku
I Love U 🥰
Bintang menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan.
Bintang mengetik balasan untuk Rifky, pria yang kini berstatus sebagai kekasihnya. Satu bulan yang lalu Rifky sudah berniat untuk melamarnya dan menjadikan Bintang sebagai calon istri, tapi restu orangtua lah yang menyebabkan lamaran itu belum terlaksana.
Kedua orangtua Rifky tidak setuju dengan hubungan yang terjalin antara putra semata wayangnya dengan Bintang. Sebenarnya Bintang juga sudah mengalah dan menyerah, tapi Rifky tetap kekeuh mempertahankan hubungan mereka.
To : Rifky
Tadi pagi Ayah kecelakaan, Mas...
Jadi aku nemenin Ayah di RS
Kita ketemu besok siang aja ya di Butik
Send.
__ADS_1
Tanpa menunggu balasan lagi dari Rifky, Bintang me-non aktifkan ponselnya. Ternyata terpikirkan tentang hubungan antara dirinya dengan Rifky yang tak kunjung mendapatkan restu dari orangtua lelaki itu membuat matanya seketika merasa lelah, dan ingin segera terpejam. Akhirnya Bintang bisa tidur juga.
...***...
"Baru dua hari aku pergi dan kamu udah buat Ayah kecelakaan! Apa kamu ingin Ayah pergi seperti Bunda?! Bunda meninggal karena kamu! Ingat itu! Sekarang juga kamu pergi dari sini!" Bentak seorang gadis yang baru saja masuk ke kamar rawat inap Wisnu.
"Nada, jangan bicara seperti itu pada Kakakmu!" Wisnu yang masih terbaring diranjang pasien tak tinggal diam melihat Nada membentak Bintang dihadapannya.
Bintang yang baru selesai menyuapi sarapan untuk Ayahnya meletakkan nampan diatas nakas.
"Udah Yah, gak pa-pa. Lagipula aku juga harus berangkat ke Butik sekarang" Bintang meraih tangan kanan Ayahnya untuk berpamitan.
"Baguslah kalau mau pergi!" sinis Nada.
"Nada-"
Mengetahui Ayahnya yang sudah bersiap untuk membelanya, Bintang mengusap punggung tangan Ayahnya seraya menggeleng dan tersenyum, seolah berkata dia baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Nada tersenyum puas saat Bintang berjalan melewatinya.
"Aku gak suka kalau Ayah selalu bilang Bintang itu kakakku. Aku harap Ayah gak lupa kalau dia bukan anak Ayah" ujar Nada kepada Ayahnya dengan kesal.
Bintang mendengarnya, tangannya yang sedang memegang handle pintu tiba-tiba bergetar. Tapi ia tetap keluar dari kamar rawat Ayahnya.
Dia memang bukan anak kandung dari Ayahnya, tapi cintanya tulus layaknya seorang anak kepada orangtuanya. Lalu salahkah dia bila kenyataan mengatakan dia bukan anak kandung dari kedua orangtua yang telah merawat dan membesarkannya?
Nada adalah anak dari Wisnu dan Nadia, usianya hanya terpaut satu tahun dengan Bintang.
Sejak meninggalnya Nadia, sikap Nada terhadap Bintang sangat berubah 180 derajat. Padahal dulu mereka sangat dekat dan saling menyayangi.
Nada juga tidak bisa jauh dari Bintang, kemanapun Bintang pergi dia selalu ikut. Termasuk saat Bintang banyak menghabiskan waktu bermain dengan Angga. Hanya saja saat malam kecelakaan itu Nada sedang ada kegiatan camping yang diadakan oleh sekolahnya.
Genangan airmatanya tak mampu terbendung lagi, pertahanannya runtuh dan buliran airmata pun akhirnya jatuh.
"Kamu kenapa?"
Bintang yang menundukkan wajahnya dengan tangis yang tak bisa ia luapkan, punggungnya yang menyandar pada dinding didepan kamar rawat inap Ayahnya, seketika sadar dimana dirinya berada sekarang saat sebuah suara menyadarkannya.
Bintang menyeka airmatanya dengan punggung tangannya sendiri, lalu menegakkan kembali wajahnya dan ia bisa melihat Angga yang berdiri dihadapannya dengan tatapan khawatir.
Angga bisa melihat mata sembap milik Bintang. Sepasang mata yang dulu selalu berbinar penuh semangat kini tampak mendung dengan jejak airmata yang menyusut pergi.
"Apa yang terjadi?" tanya Angga lagi masih dengan kecemasannya.
Bintang menggeleng.
"Aku harus pergi sekarang, Kak"
Saat Bintang akan berbalik untuk pergi Angga menahan pergelangan tangan gadis itu, dan membuat Bintang menoleh pada Angga.
"Biar aku antar kamu ya, kebetulan jam praktekku masih dua jam lagi"
__ADS_1
Angga memang sengaja berangkat ke rumah sakit lebih awal karena ingin menjenguk Wisnu. Tapi begitu sampai didepan kamar rawat Wisnu dia malah melihat Bintangnya menangis.