
Suasana rumah sakit yang sunyi, tampak Ayuna sedang duduk tertidur di ranjang pasien. Terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya, dia adalah Sultan. Kekasih dan cinta pertama Ayuna. Mereka sudah 2 tahun berpacaran sejak masih SMP, Ayuna kelas 7 dan Sultan kelas 9 saat itu. Sekarang Ayuna baru saja lulus dari sekolah menengah pertamanya dan besok adalah hari pertama Masa Orientasi Siswa di sekolah barunya.
Ayuna bermimpi sedang bermain PS seperti biasanya bersama Sultan, berlatih Volly dan di temani berlatih menari. Seketika Ayuna terbangun karena Sultan memanggilnya dengan lembut.
"Nimas" Sultan mengangkat tangannya perlahan dan mengusap rambut coklat Ayuna.
"Cimas kok udah bangun? Mau apa? Makan atau minum?" tanya Ayuna panik.
"Aku cuma mau lihat kamu aja, pacar aku yang paling cantik" suara lirih yang membuat Ayuna bahagia sekaligus sedih. "Jangan kemana-mana ya" pinta Sultan
"Nanti Jam 1 malam aku pulang dulu ya, mau ambil baju buat persiapan MOS besok. Gak sampe 1 jam aku janji udah ada di sini lagi" kata Ayuna sambil menggenggam tangan sultan yang berselang infus.
....
Ayuna bersiap untuk pulang bersama ayahnya, tapi Sultan meminta Ayuna untuk tetap bersamanya sebentar lagi. Ayuna menolak karena hanya dia yang tau apa saja yang harus di bawa besok.
Di perjalanan perasaan Ayuna tidak karuan mengingat kondisi Sultan yang terus menurun. Sesampainya di rumah, Ibu sudah siap dengan 2 koper besar milik Ayuna dan beberapa peralatan MOS. Tanpa kata ibu langsung menaikkan semua barang ke mobil di bantu ayah, Ayuna mengambil barang yang belum ibu siapkan. Ibu sudah menangis dan ayah terdiam.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah sakit, tidak ada percakapan hangat diantara mereka bertiga. Perasaan Ayuna semakin tidak karuan. Benar saja, sesampainya di rumah sakit semua keluarga Sultan sudah hadir. Semua memeluk Ayuna histeris, sedangkan Ayuna masih tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tampak Mama Sultan yang tidak sadarkan diri dan Papa Sultan yang jongkok sambil menangis. Ayuna berlari menuju kamar Sultan dirawat, tampak dokter yang sedang membereskan alat yang menempel di tubuh Sultan.
Ayuna mendekati Sultan perlahan, menggenggam erat dan mencium punggung tangannya.
"Hey Cimas, nimas sudah dateng. Mau makan apa? Nimas bawa buah apel merah kesukaan cimas. Aku udah nepati janji kan buat dateng kesini kurang dari sejam. Cimas bangun dong... Bilang ke mereka kalau Cimas baik-baik aja" Ayuna mencoba menahan tangisnya.
Ibu Ayuna mencoba untuk menenangkannya, Ayuna bersikeras kalau Sultan masih hidup dan akan sembuh. Suasana sedih pun semakin menjadi jadi, tangis akhirnya keluar dari mata Ayuna.
Jenazah Sultan segera di mandikan dan di solatkan, karena akan di kubur di tempat kelahirannya. Wajah ling lung menyelimuti Ayuna, seolah masih tidak oercaya atas kepergian kekasihnya.
Tepat pukul 5.00 Am, Jenazah di berangkatkan menggunakan ambulans. Ayuna ikut dalam ambulans dan menemani Sultan untuk terakhir kalinya. Ayah dan ibu bersama dengan kedua orang tua Sultan naik mobil dan mengantarkan Ayuna ke sekolahnya.
Ayuna terlambat dan sempat di bentak oleh OSIS. Namun wakil ketua OSIS membelanya.
"Lu gak liat dia ke sini naik apa?! Otak lu dimana sih?" bentak Taufik pada anggotanya.
Ayuna melewati keduanya tanpa kata dan menuju rombongan kelasnya. Saat tiba di rombongan kelas, Ayuna nyaris di hukum oleh kakak Romble. Lagi-lagi Taufik menyelamatkannya.
Dengan dingin Ayuna berkata. "Lain kali biar saya menghadapi masalah saya sendiri kak"
__ADS_1
"Gak ada yang lihat kamu diantar ambulans tadi, mereka gak tau kalau kamu sedang berduka" jelas Taufik yang membuat seisi ruangan terdiam.
"Mungkin ada yang melihat, tapi pura-pura buta. Sekali lagi, biarkan saya menghadapinya sendiri kak. Terimakasih" Jawaban tegas Ayuna membuat Taufik kagum.
"Oke, silahkan duduk dan berbaur dengan lainnya" jawab Taufik sambil pergi meninggalkan ruangan.
Ayun jelas membuat siapapun kagum, selain wajah cantiknya dia lain daripada yang lain. Disaat semua orang takut menghadapi kakak kakak OSIS, dia justru berbicara dengan nada tinggi terhadap wakil ketua OSIS.
....
3 hari sudah berlalu, hari ini adalah hari penutupan MOS. Perkemahan Penerimaan Tamu Ambalan di laksanakan. Ayun dan 9 teman lainnya membereskan barang di dalam tenda.
"Ayun, kamu gak banyak ngomong selama kita kenal. Kalau boleh tau, siapa yang meninggal?" Salwa bertanya penuh penasaran.
Ayun terdiam beberapa saat "Pacar aku" nada datar yang jelas penuh kesedihan terucap singkat membuat Salwa terdiam.
....
Malam hari pun tiba, ini adalah malam akrab. Ada beberapa alumni dan tamu undangan. Saat ini ada tamu dari sekolah lain yang sedang sambutan. Sekolah Taruna yang penuh dengan laki-laki tampan yang membuat seisi sekolah heboh. Leo, dia Taruna yang sangat amat tampan diantara temannya yang datang, dia ketua taruna tahun ini. Pandangannya tertuju pada Ayuna yang sedari tadi melihat ke arah api unggun. Leo tampaknya mengenal Ayuna dan setelah sambutan dia mengatakan pada panitia acara bahwa Ayuna akan bernyanyi diiringi gitar darinya.
...
Ayuna jelas terkejut karena namanya dipanggil, dan dia merasa tidak mendaftarkan diri terpaksa untuk maju. Ketika melihat Leo sedikit senyum terlihat di wajah cantiknya. Siapapun terkejut saat melihat senyum itu termasuk Taufik.
...
Ayuna sudah menyanyikan 2 lagu, dan lagu terakhir yang membuat siapapun menangis.
Tak pernah terpikir olehku
Tak sedikit pun kubayangkan
Kau akan pergi tinggalkanku sendiri
Begitu sulit kubayangkan
Begitu sakit kurasakan
__ADS_1
Kau akan pergi tinggalkanku sendiri
Di bawah batu nisan kini
Kau telah sandarkan
Kasih sayang kamu begitu dalam
Sungguh 'ku tak sanggup ini terjadi
Karena 'ku sangat cinta
Inilah saat terakhirku melihat kamu
Jatuh air mataku menangis pilu
Hanya mampu ucapkan
Selamat jalan, kasih
....
Air mata mengalir deras membasahi pipi Ayuna dan Leo, membuat semua ikut menangis. Siapa sangka kalau Leo adalah teman baik Sultan, mereka satu angkatan. Leo mengenal baik seorang Ayuna, orang yang selalu ceria dan heboh. Kini yang dia lihat adalah Ayuna yang sangat berbeda 180° dari yang dia kenal.
Setelah acara selesai, Ayuna masih menangis dan di dampingi Leo dan teman temannya.
"Kamu harus kuat Na, Sultan juga gak mau lihat kamu sedih gini" kata Leo
"Sultan udah bangga punya kamu Na, kamu berhasil masuk sekolah favorit ini" Aldo menyela
"Kita juga merasa kehilangan, sahabat kita yang selalu pamerin kamu, yang selalu jadi support sistem buat kita" tambah Bimo
Mereka ber 4 selalu bersama, Sultan selalu mengajak Ayuna saat berkumpul bersama. Jadi tidak heran betapa akrabnya mereka.
"Kalian tau kan, sejauh ini Sultan sumber kekuatan ku. Sultan udah pergi, gimana aku bisa semangat ngelewatin hari hari tanpa dia?" kata Ayuna sambil menangis.
"Memang sulit Na untuk terbiasa dengan ini semua, tapi percaya deh. Kamu pasti bisa." Yakin Leo
__ADS_1
Sedikit banyak kehadiran Leo, Aldo dan Bimo mengobati kesedihan Ayuna. Taufik yang sebenarnya sedari tadi mengamati mereka ikut meneteskan air mata, dia baru ini melihat ada cinta yang sangat tulus dari seorang gadis yang bisa di bilang bocah.
....