
Suasana di meja itu hening. Hanya ter dengar suara garpu dan sendok yang ber adu. Canggung. Begitu lah perasaan mereka sekarang. Meski pun Brian sering me mancing obrolan mereka tidak pernah bereaksi. Jadi lah Brian akhir nya me maklumi dan ber harap suatu saat keluarga nya kembali lagi.
Setelah makanan nya selesai Maura ber diri. Angga juga ikut ber diri, Angga dan Maura ber sekolah di sekolah yang sama. Mereka akan berangkat ber sama. Brian ter senyum dan mengusap rambut Maura.
"Maura nggak mau makan bekal lagi kak. udah kenyang"
"Loh kenapa? tumben biasanya juga masih lanjut kok?" tanya Brian melihat Maura yang menatap Angga ia paham dan ter senyum.
"Hati hati ya."
Angga meng angguk ia lalu ber jalan lebih dulu. Di ikuti Maura. Angga ber henti membuat Maura menabrak punggung Angga.
"Kenapa ber henti sih??" ketus Maura.
Angga ber balik ter senyum.
"Kamu beneran kan mau berangkat bareng sama kakak?" tanya Angga lembut.
__ADS_1
"Kalau bukan karena kak Brian. Saya tidak akan mau, mengerti? udah buruan jangan lama lama nanti telat!" Maura menabrak bahu Angga dan masuk ke mobil Angga. Angga menghela napas. Ia ber lari kecil memutar mobil dan masuk.
Maura membuang muka. Angga memutar lagu kesukaan Maura dulu. Dulu mereka berdua sering menyanyikan lagu ini bersama. Angga tahu suatu saat nanti Maura akan memaaf kan nya. Angga hanya bisa melakukan sebisa nya.
Maura menghela napas ia tidak suka jika Angga memutar lagu ini. Angga sengaja kan membuat nya luluh tetapi Maura tidak akan menyerah sedikit pun. Ia berusaha membangun tembok kokoh yang tidak bisa di tembus siapa pun.
Melihat Maura yang tidak ter senyum dan tidak nyaman membuat Angga kecewa. Namun ia tetap membiarkan lagu itu menemani ke canggung an mereka sampai sekolah. Macet. Dan itu berarti Maura dan Angga lebih lama di mobil. Padahal jika di rumah Maura seperti menghindari Angga. Angga menoleh menatap Maura. Maura sama sekali tidak mau menatap nya. Angga ter senyum.
Maura ter kejut saat melihat motor Geo di samping mobil nya, sontak Maura menurun kan kaca mobil nya. Geo tidak menyadari keberadaan Maura. Maura memukul helm Geo membuat Geo mengaduh.
"Eh bidadari nya aku? kenapa?"
"Boleh apa nih? mau nebeng? boleh banget dong. Sayang dong kalo boncengan belakang nya kosong terus? mending di isi bidadari kayak kamu"
Maura ter senyum tipis. Ia lalu membuka pintu mobil.
"Ra mau ke mana?" Maura meng abaikan panggilan Angga ia langsung duduk di boncengan motor Geo.
__ADS_1
Motor Geo melesat. Ini lebih baik. Ia jadi tidak terjebak dengan Angga di kemacetan yang menyebalkan itu. Maura diam sedari tadi. Sekolah masih jauh dan bel masuk masih lama jadi Geo memperlambat laju nya.
"Kok jadi lambat?nanti keburu bel"
"Ini motor udah lama ra jadi kalau buat ngebut bisa rusak. emang kalok rusak kamu mau bantu bayarin"Geo beralasan.
"Oh,, gak juga sih."
"Kalau mau berangkat bareng bilang aja nggak papa kok, nggak ngerepotin kok. Oh iya kemarin kan aku udah sms kamu tuh kenapa kamu nggak bales sms aku?"
"Sibuk,"jawab Maura singkat, padat dan jelas.
"Eh eh?"
...****************...
TO BE CONTINUE
__ADS_1
tunggu part selanjutnya saat author tidak sibuk ya