Mengapa Suamiku Berbeda?

Mengapa Suamiku Berbeda?
2.Sungguh menyulut emosi


__ADS_3

Siang itu sinar matahari tak terlalu terik, namun hawa panas dirasakan oleh Salwa karena amarah yang tengah ia rasakan. Bagaimana Salwa tidak marah dua minggu lagi hari pernikahannya dengan Irwan akan dilaksanakan. Namun Salwa belum bisa mengajukan berkas untuk mendaftarkan pernikahan ke KUA. Hal ini dikarenakan Irwan masih bersantai ria, belum mengurus berkas miliknya sama sekali. Padahal memang sudah seharusnya pihak calon mempelai pria menyerahkan berkas berkas miliknya ke pihak calon mempelai wanita terlebih dahulu untuk diserahkan ke KUA dan diproses, tapi kalau berkas milik Irwan saja belum di serahkan sama sekali ke pihak wanita bagaimana Salwa mau mengurus semuanya ke KUA.


"Mas, gimana ini berkasnya mas kapan diserahin ke aku, biar nanti aku jadikan satu sama berkas aku,terus aku serahin ke KUA".kata luna melalui sambungan telepon.


"Emang syarat syarat nya buat daftar ke KUA apa aja ya Sal, terus gimana ini ya cara mas ngurus berkasnya, harus ke pak RT dulu apa gimana? "tanya Irwan pada Salwa, yang bukannya memberi jawaban atas pertanyaan Salwa tapi malah balik bertanya seperti orang b*doh.


"Astagfirullah mas, kamu tuh dari kemarin kemarin ngapain aja sih, ini tuh pernikahan kita tinggal dua minggu lagi loh, dan mas malah belum nyiapin berkas apapun sama sekali. Mas sekarang zaman udah canggih ya, mas bisa cari di g*ogle kek atau diy*utube kek, cari tau tuh syarat syarat buat daftarin pernikahan ke KUA tuh apa aja, lagian temen mas kan banyak yang udah pada nikah,tinggal tanya aja apa susah nya sih ya ampun". Salwa nyerocos menjawab pertanyaan Irwan dengan emosi.


"Yah kan mas belum tau Sal, namanya juga baru pertama kali ini mau nikah jadi mas nggak tau lah syarat syarat nya apa aja".jawab Irwan santai.

__ADS_1


"Gini ya as kalau ngomongin soal baru pertama kali mau nikah, aku juga ya baru pertama kali mas mau nikah. Tapi aku berusaha mas aku tanya tanya sama yang udah pengalaman,cari tau ke g*ogle,usaha dong mas. Ya udah yang terpenting sekarang mas siapin dokumen pribadi mas dulu, KTP, Kartu Keluarga,Akte kelahiran,terus nanti minta surat pengantar RT dan RW". Kata Salwa.


"Aduh Sal, KTP sama Akte kelahiran mas ketinggalan di kost an tempat kerja mas dulu, mas kayaknya ini harus ngurus dulu KTP sama aktenya, mungkin mas mau bikin baru lagi, kamu sabar dulu ya." Kata Irwan dengan santai.


Salwa yang sedari tadi menahan emosi semakin meledak rasa emosinya, sampai tubuhnya bergetar. Ia benar benar bingung saat ini karena sudah sangat kewalahan dan kelelahan karena Salwa adalah wanita mandiri, jadi ia sendiri yang kesana kemari mengurus segala persiapan untuk pernikahannya, dari mulai membantu sang ibu berbelanja segala keperluan untuk resepsi,mencari dan melakukan janji temu dengan MUA,bahkan memesan undangan serta mencari fotografer. Belum lagi masih masa pandemi jadi harus mengurus surat izin keramaian. Sangat banyak yang harus dipersiapkan karena memang sudah diniatkan oleh ke dua orang tua Salwa untuk mengadakan resepsi besar besaran ala orang desa, bahkan mendatangkan penyanyi biduan dan grup orkes desa. Serta membagikan sekitar hampir 1.000 undangan.


"Mas, sebenarnya yang mau nikah tuh aku sendiri apa gimana sih, kok mas malah santai santai nggak ngurusin berkas berkas penting. Yang mau nikah itu kita berdua mas. Tapi ini kenapa kok malah aku sendiri yang harus mikir semuanya sih..sampai sampai berkas mas pun aku yang mendesak mas buat nyiapin, emang mas fikir aku nggak banyak kerjaan gitu nyiapain ini itu? "kata Salwa memyampaikan uneg uneg nya yang tertahan sejak tadi.


"Apa mas bilang, ngurus semuanya sendiri jadi kelimpungan?? terus apa kabar aku mas, aku perempuan dan aku juga ngurus semuanya sendiri. Bahkan mas nggak ngurusin yang namanya undangan, dekorasi pelaminan, MUA segala macem kan, dan mas bukannya mengapresiasi aku buat ngurus semuanya sendiri tapi malah ikutan ngeluh, dan bahkan ngurus berkas buat daftar ke KUA aja kalau bukan aku yang nagih ke mas nggak juga di urus urus." Salwa lagi lagi berkata sambil meluapkan emosinya.

__ADS_1


"Udah dong Salwa kamu tenang aja, pasti beres kok semuanya,kamu tuh jangan terlalu tegang dan marah marah terus dong. Jujur ya Sal mas tuh selama ini orangnya santai, tapi buktinya segala sesuatunya berjalan sesuai rencana,jadi jangan terlalu difikirin ya, hehehe. "irwan berujar dan saat keadaan tengah genting seperti ini Irwan malah sempat tertawa kecil dari seberang sana.


"Mas, aku nggak salah denger kan ya mas barusan malah ketawa. Tolong ya mas ini sama sekali nggak lucu, mas kita ini mau nikah loh, mas kenapa kok malah bertingkah aneh kayak gitu sih. Sumpah ya mas aku benar benar nggak habis fikir sama jalan fikiran mas". Kata Salwa yang sudah benar benar marah dan mulai kehabisan kata kata.


"Ya maksud mas gini loh Sal mas tuh nggak mau kita ribut ribut karena masalah ini. Dan mas niatnya cuma mau redain emosi kamu, karena kalau salah satu emosi maka salah satunya harus meredamnya, jadi mas agak sedikit ajak kamu bercanda biar nggak terbawa emosi." kata Irwan dengan entengnya.


Salwa terdiam. Kali ini ia benar benar tak bisa lagi berkata kata. Lidahnya kelu,bulir bulir air mata mulai membanjiri wajah mulusnya. Tenggorokannya terasa sangat kering kerontang seperti telah berhari hari berada di gurun tanpa mendapati air setetespun.


Dan setelah sekian menit membisu Salwa berujar "Mas tolong kasih handphone nya ke ibunya mas,aku mau ngomong sama ibu".Kata Salwa sambil meremas tangannya menahan segala macam rasa yang saat ini ia rasakan. Ya, perasaan marah, sedih, bingung menjadi satu.

__ADS_1


"Ya udah tunggu bentar ya."Jawab Irwan.


Tak lama setelahnya..."Halo assalamualaikum nduk.. piye nduk? suara seorang wanita berusia sekitar lima puluhan dari seberang sana terdengar sangat ramah. Ya, selama ini Salwa sering berbincang dengan calon ibu mertua melalui telefon. Dan dari telefon pun Salwa bisa merasakan kalau calon ibu mertuanya adalah orang yang ramah, khas keramahan orang indonesia suku jawa tentunya, karena memang calon ibu mertuanya jawa tulen.


__ADS_2