
Kehidupan ini seperti sebuah roda yang berputar
Tidak akan berhenti sampai Tuhan menghentikan perputarannya
Tapi manusia,
Tentu tidak bisa memilih jalan hidup yang diinginkannya
Jakarta, 1998
"Bruuukk!!!"
Rasyid menjatuhkan tubuhnya di sofa setelah pulang kerja, badannya lesu dan terlihat lelah. Ia membawa beban yang sangat berat dari kantor. Melihat suaminya kelelahan, Nengsih langsung menghampirinya sambil membawakan segelas kopi hangat untuk menghilangkan penat. Hawa panas kota Metropolitan memang membuat siapa pun merasa penat dan gerah. Apalagi mengingat banyak konflik yang terjadi pada tahun-tahun ini. Kerusuhan Mei 1998 misalnya, inilah kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa yang terjadi di Indonesia pada tanggal 14 Mei-15 Mei, khususnya di ibu kota Jakarta. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finasial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demokrasi 12 Mei 1998. Hal ini pun mengakibatkan penurunan jabatan Presiden Soeharta serta pelantikan B. J. Habibie.
Pada kerusuhan ini banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh amuk massa, terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Medan dan Surakarta. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh.
Pada tahun 1997, mata uang rupiah bergerak di luar pakem normal. Rupiah tidak saja bergeliat negatif, tapi lebih dari sekadar itu. Rupiah bergerak sempoyongan. Kemudian September 1997, Bursa Efek Jakarta (saat ini Bursa Efek Indonesia) bersujud pada titik terendahnya. Akibatanya pada tahun itu dinyatakan sebagai awal mulainya terjadi krisis moneter. Akibat hal tersebut, ratusan perusahaan mulai dari skala kecil hingga konglomerat bertumbangan. Sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal mendadak berstatus insolvent alias bangkrut. Sektor industri, manufaktur, dan perbankan adalah sektor yang terpukul cukup parah. Sehingga risiko lanjutannya adalah lahirnya gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK. Penganguran melonjak ke level yang belum pernah terjadi sejak akhir tahun 1960-an yakni sekitar 20 juta orang atau 20 persen lebih dari angka kerja.
"Minum dulu, Pa." Nengsih menawarkan segelas minuman untuk suaminya.
"Terima kasih," jawab Rasyid dingin sambil mengambil gelas berisi air putih tersebut.
"Bertahun-tahun aku berkerja di perusahaan ini, tapi tidak pernah mengalami konflik yang seburuk ini, Nengsih."
"Sabar, semua ada hikmah. Kita akan menghadapi ini bersama-sama, kita akan melewati ini bersama-sama."
"Hans masih kecil, Nengsih. Bagaimana sekolahnya akan berlanjut, sementara aku tidak bisa lagi memberikan dia fasilitas terbaik untuk memenuhi kebutuhannya. Terutama kebutuhan sekolahnya. Tidak mungkin aku membiarkan dia menanggung beban hidup, dia masih terlalu kecil untuk memahami keadaan ini."
"Kita akan bicarakan ini pelan-pelan pada anak sulung kita, insya Allah Hans akan mengerti dengan kondisinya."
"Tidak akan semudah itu, Nengsih. Kehidupan dia akan berbalik dengan hidupnya selama ini, aku sudah kehilangan pekerjaanku."
"Aku akan mencoba mencari peluang agar kita kita menjalani semua ini bersama. Hans anak kita, anak sulung kita."
__ADS_1
"Aku hampir tidak percaya dengan semua yang terjadi padaku, tapi ini terjadi begitu saja seperti hembusan angin."
"Bukan hanya kamu yang mengalami masalah ini, ini masalah bersama. Ini masalah yang terjadi pada bangsa kita."
"Aku adalah kepala keluarga, dalam sekejap aku harus terjatuh. Ketiga anakku akan menanggung semua penderitaan ini, aku seorang ayah yang tidak berguna, Nengsih. Aku tidak berguna lagi untuk mereka."
"Kamu adalah suamiku, menikah denganmu bukan karena jabatanmu. Apapun yang terjadi padamu, aku ikhlas menjalankan semuanya. Jangan merasa sendiri atau tidak berguna lagi, karena sebagai istri tugasku adalah berada di sampingmu. Mendukung semua yang terjadi padamu, membantu semua kesulitanmu."
"Tuhan sangat baik, mengirimkan kamu di dalam hidupku. Nengsih, terima kasih selalu ada bersamaku. Aku akan mencoba memberikan yang terbaik sebisaku dan menemukan jalan keluar dari masalah yang menimpa kita."
"Istirahatlah, sebentar lagi Hans akan pulang. Apapun yang terjadi, kita harus memperlihatkan wajah yang tenang. Biarkan masalah ini terjadi, anak-anak tidak perlu mengetahui kesulitan orang tuanya,"
Rasyid mengecup kening istrinya, ia berlalu meninggalkan ruang tengah menuju kamar. Panas dan letih membuat suasana hatinya ikut memanas saat itu, beruntung Nengsih hadir untuk menenangkan dan memberikan dorongan semangat padanya. Tidak lama berselang kepergian Rasyid, Hans muncul dari balik pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum, " katanya sambil membuka sepatu di balik pintu.
"Wa'alikum salam. Eh, anak Mama sudah pulang."
Hans mencium tangan Nengsih, lalu Nengsih mencium kening si sulungnya. Anak laki-laki yang tangguh dan luar biasa, dia punya semangat dan kegigihan yang diwariskan sang ayah. Ambisius dan egois adalah wataknya yang sudah nampak sejak kecil. Dengan malas, Hans memberikan selembar kertas kepada Nengsih.
"Baiklah, nanti mama akan lihat. Sekarang kamu istirahat, ganti baju dan jangan lupa cuci kaki terlebih dulu. Polusi di luar tidak bagus untuk kesehatan kulit, banyak kuman."
"Baik, Ma."
Hans meninggalkan Nengsih, Nengsih membuka surat dari sekolah. Surat pemberitahuan biaya sekolah Hans yang harus segera dibayarkan, padahal bulan ini tidak mendapatkan uang gaji dari papanya. Jangankan pesangon, gaji bulanan saja tidak dibayar. Rasyid benar, anak sekecil Hans harus menanggung masalah keluarganya. Nengsih masuk kamar anak sulungnya, terlihat dia sedang mengerjakan tugas sekolahnya.
"Sayang, lagi apa?"
"Mengerjakan PR."
"Sudah selesai belum?"
"Sudah nih, Ma. Kenapa?"
Hans meletakan alat tulis di mejanya seraya menatap wajah sang ibu. Ah, betapa rapuh sekali wajah itu. Hans meraih wajah cantik sang ibu dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Mama mau bicara, boleh?"
"Tentu saja, apa?"
"Hans sayang Mama dan Papa 'kan?"
Hans mengerutkan dahi mungilnya. Nada pertanyaan itu seperti sebuah kedukaan. Ada sesuatu yang tersimpan, tapi sang ibu enggan untuk berterus terang.
Tanpa membuat sang ibu kebingungan, dengan polosnya Hans menjawab pertanyaan itu. Terdengar sulit memberikan jawaban yang tepat kepada ibunya.
"Iya, tentu saja. Kenapa Mama bertanya begitu?"
"Tidak apa-apa, Mama hanya merasa bahwa setelah ini Hans akan tumbuh menjadi anak yang mandiri tidak perlu Mama ataupun Papa lagi."
"Nanti, kalau Hans sudah besar, Ma. Tentu tidak akan ada yang lebih Hans sayang daripada Mama dan Papa."
"Hans, mulai sekarang kehidupan akan berubah nak. Untuk itu Hans harus lebih sabar dan lebih hemat dalam keuangan. Mama sudah baca suratnya, nanti kalau sudah ada uang akan Mama antarkan ke sekolah."
"Papa 'kan ada, Ma?"
"Hans, roda kehidupan kita sedang di putar Tuhan. Makanya kamu harus lebih kuat dan lebih sabar dalam menjalankannya."
"Papa kenapa, Ma?"
"Nak, karena krisis moneter yang menimpa negeri kita, Papa ikut terdampak. Tadi siang Papa dipecat dari perusahaan tanpa diberikan gaji, jangankan pesangon. Perusahaan Papa mengalami kebangkrutan, sehingga harus mengeluarkan para pekerjanya termasuk Papa."
"Kasihan Papa, Hans janji akan membantu Papa."
"Maafkan Mama, kamu harus ikut menanggung penderitaan keluarga karena hal ini. Adik-adikmu masih sangat kecil untuk bisa terlibat dalam keadaan ini."
"Mama tenang saja, Hans akan belajar dengan tekun dan giat. Agar Hans mendapatkan beasiswa dan tidak merepotkan Mama dan Papa."
"Ya Tuhan, Nak. Terima kasih sudah membuat Mama bangga memiliki kamu."
"Hans juga bangga punya Mama. Mama jangan sedih, jangan nangis lagi, Hans ada untuk Mama."
__ADS_1