MENGEJAR CINTA CEO TAMPAN

MENGEJAR CINTA CEO TAMPAN
Jalan Hidup


__ADS_3

Seperti hari-hari sebelumnya, Hans menjalani perjalanan hidupnya dengan sabar dan tabah. Meskipun, sering kali terasa berat. Bahkan lebih berat dari sekadar ujian sekolah saja. Hans mulai terbiasa pulang pergi jalan kaki atau paling tidak naik angkot berangkat pulang pergi sekolahnya. 


Hari ini, Hans pertama kali memulai ujian kenaikan kelas. Untuk usia Hans saat itu, terasa sangat berat dan mendebarkan. Namun, dengan semangat modal belajarnya, ia percaya diri akan menyelesaikan setiap ujian dengan baik. Tekadnya membuat kedua orang tua Hady bangga, agar ia juga mendapatkan beasiswa di sekolah. Untuk meringankan beban orang tua, Hans memperjuangkan itu dengan baik. 


"Bagaimana dengan hari pertama ujiannya, naik?" tanya Papa saat menyambutnya di ambang pintu rumah. 


"Luar biasa," jawab Hans. 


Dengan percaya diri ia menceritakan bahwa dirinya bisa menyelesaikan semua ujian dengan baik dan tenang. Pelajarannya tidak begitu sulit, karena Hans sudah belajar semua materi pelajarannya. 


"Alhamdulillah, kalau kamu berhasil menyelesaikan ujiannya."


"Iya, Pa. Mudah sekali semua soal ujiannya."


"Mudah, karena kamu sudah belajar dan mempersiapkan ujian dengan baik itulah sebabnya tidak sulit dalam menyelesaikan semua materinya."


"Benar, Pa. Aku yakin, nanti nilaiku akan bagus dan menjadi juara kelas tahun ini."


"Aamiin, insya Allah. Ganti baju gih, Papa mau ajak kamu jalan-jalan."


"Baik!"


Hans menurut, dia menganti pakaiannya. Rasyid mengajak Hans berjalan sekitar belakarang rumah. Baru pertama kali dari semua waktu sibuk Papa, hari ini ia menyempatkan waktu mengajak bicara anak sulungnya. 


"Hans,  kalau sudah dewas kamu mau jadi apa?"


"Pengusaha."


"Wah, hebat sekali cita-cita anak Papa."


"Iya, biar banyak uangnya."


"Nak, menjadi pengusaha tidak se-simple itu. Banyak uang tentu karena usahanya juga banyak, semua tidak otomatis dan instan."


"Kalau begitu, Hans akan menjadi anak yang cerdas, rajin belajar dan bekerja keras agar menjadi pengusaha sukses."

__ADS_1


"Aamiin, semoga Allah kabulkan semua cita-cita dan harapanmu. Papa dan Mama hanya bisa mendoakan kamu, tumbuh menjadi anak lelaki yang luar biasa kelak."


"Pa, apakah semua laki-laki harus menjadi orang yang tangguh."


"Tentu saja sayang, karena laki-laki adalah pemimpin. Bahkan nanti, seandainya Papa tidak lagi bersama kalian, kamu sebagai anak sulung adalah kepala keluarga. Kamu memiliki tanggung jawab besar menjaga dan memberikan perlindungan kepada Mama dan kedua adikmu."


"Pa, apakah tanggung jawab itu harus dilakukan?"


"Iya, sayang. Seorang lelaki memiliki tanggung jawab yang sangat besar, terutama saat dia sudah menikah. Tanggung jawab itu akan dipertanyakan di hari akhirat kelak."


"Kalau begitu,  Hans tidak mau menikah."


"Tidak sayang, jangan berkata begitu. Karena Rasulullah itu tidak menyukai umatnya yang melajang. Sesulit apapun perjalanan hidup, menggenapkan seperuh agama itu penting."


"Oh, begitu ya, Pa. Tetapi, tidak semua pernikahan bahagia bukan? Tante Hanna contohnya, menikah tapi harus pisah."


"Kita tidak bisa memilih perjalanan hidup seperti apa, Nak. Berpisah kadang bukan pilihan, tapi itu sebuah jalan keluar dalam mengatasi semua masalah yang ada."


"Hans tidak mengerti, kenapa orang dewasa memilih menikah, lalu berpisah."


"Rumit ya, Pa?"


"Sedikit."


"Hady, suatu hari nanti kamu akan menjalani kehidupan yang lain lebih dari ini. Saat ini, jika kamu merasa masalah kita berat. Akan ada hal yang lebih berat lagi dari pada sekadar terjerat PHK layaknya Papamu ini." lanjut Rasyid. 


"Maksudnya, Papa?"


"Kamu sudah terlihat dewasa secara pemikiran, nak. Meskipun masih terlalu kecil untuk usiamu saat ini. Akan tetapi, suatu saat kamu akan menjalani sebuah perjalanan yang jauh lebih rumit dari ini. Maka saat itu, kamu dituntut untuk menjadi lelaki dewasa."


"Pa, Hady akan selalu membutuhkan Papa sampai dewasa nanti."


"Hady, seorang ayah tidak perlu menjelaskan betapa dia menyayangi anaknya, karena itu naluri. Tetapi seorang anak, sering kali menjadi sangat benci saat ayahnya melakukan kesalahan."


"Apa yang sudah Papa lakukan?"

__ADS_1


"Tidak ada, sayang. Tetapi, Papa manusia biasa. Suatu saat akan melakukan kesalahan, dan mungkin itu tidak termaafkan."


"Hady akan memaafkan, Papa."


"Benarkah?"


"Ya, tentu saja."


"Nak, anak sulung Papa ini akan tumbuh dewasa menjadi lelaki hebat dan lelaki luar biasa. Gadis yang kelak akan mendampingimu adalah gadis terbaik dari banyaknya gadis yang  baik. Kamu akan tumbuh menjadi orang hebat, mandiri dan sukses secara finansial maupun perjalana hidup. Nak, saat berada di atas posisi itu, ingatlah bahwa kamu pernah terjatuh dan bangun berulang kali hingga berhasil. Ingatlah, naik. Jangan pernah melakukan kebodohan yang membuatmu harus kehilangan masa depanmu."


"Iya, Pa. Hans selalu mengingat pesan Papa."


"Nak, saat kamu tumbuh dewasa nanti, akan banyak hal baru dan kemelut hidup yang dijalani. Dan, saat Itu terjadi, ingatlah bahwa Allah ada dalam setiap perjalananmu. Dia akan menuntunmu menemukan jalan lurus. Shirothol mustaqim."


"Hans, hidup ini hanya sebuah panggung sandiwara, Nak. Kamu akan melihat banyak adegan yang akan memuakan, banyak adegan yang menikam jantungmu. Tetapi, jangan pernah kamu berpura-pura, jadilah Hans yang sesungguhnya," lanjut Rasyid. 


"Papa adalah Papa terbaik yang Hady miliki."


"Benarkah, Nak? Kamu yakin?"


"Tentu saja,"


"Nak, suatu hari nanti saat kamu menjadi lelaki dewasa. Jadilah lelaki yang penyayang, tidak apa menangis. Tetapi tunjukkan, tangisanmu bukan sebuah kelemahan. Tangisanmu adalah kekuatan dan menjadikan dirimu seoang lelaki penuh kasih sayang."


Rasyid mendekap anaknya, merangkulnya penuh kasih sayang. Tidak ada yang lebih baik dari ini, hidup bersama kedua orang tua dalam keadaan yang sesulit apapun. Rasyid menyadari bahwa anak sulung akan cepat tumbuh, hingga suatu saat dia tentu akan cepat meninggalkannya. 


Keduanya menatap langit sore dipinggiran Sawahan, Depok. Sudah lama tinggal di dekat kota Selatan Jakarta. Hanya berjarak beberapa menit saja, rumah mereka dekat dengan kota metropolitan. Rasyid mengambil tempat ini agar lebih dekat ke tempat kerjanya di Jakarta. Tapi sayang, pekerjaan itu kini hilang dalam sekejap mata. 


Rasyid sendiri adalah lelaki keturunan arab, ayahnya berasal dari Yaman. Sehingga, Hans memiliki darah arab. Wajah arab dengan hidung mancung, sudah nampak sejak kecil. Mata belo, agak sedikit masuk ke dalam mengikuti bentuk sang ibu yang keturunan Depok asli. Kolaborasi keduanya, dari postur tubuh dan sifat. Hans terlahir dari cinta kedua orang tuanya. 


"Nak, maafkan Papa. Jika suatu hari, Papa melakukan kesalahan yang membuatmu akan membenci Papa. Tetapi, ketehuilah, hadirmu adalah buah cinta Papa dan Mama. Tidak ada keterpaksaan apalagi penindasan," batin Rasyid. 


Teringat dengan jelas dalam ingatannya, saat pertama kali bertemu Nengsih. Wanita yang ia nikahi dengan cinta, wanita yang kini telah memberikannya tiga orang anak tampan. Wanita yang ada dalam keadaan sesulit apapun dalam hidupnya. 


"Hans, hidup ini pilihan, Nak. Untui itu, pilihlah jalan hidup yang akan membuatmu menjadi orang besar."

__ADS_1


 


__ADS_2