
Hari-hari yang dilewati Hans menghadapi ujian ia lalui dengan mudah dan menyenangkan. Meskipun harus ikut membantu Nengsih di warung kue, ia tetap giat belajar dan menjaga adik-adiknya yang kecil. Adiknya mulai beranjak dewasa memasuki usia 9 tahun. Pemikirannya mulai lebih dewasa, dia mulai berpikir banyak mengenai masa depannya. Hal yang harus dilakukan dan yang tidak dilakukan menjadi proritas utamanya.
Dialah Hans Fransisco, si sulung kebanggaan kedua orang tua. Prestasi demi prestasi terus ia kembangkan, bukan tuntutan orang tua. Akan tetapi, Hans berusaha untuk memberikan yang terbaik demi orang tuanya. Hans tumbuh menjadi lelaki yang berajak dewasa, pekerja keras dan giat belajar.
Hari ini, setelah ia bergelut dalam ujian berhari-hari, ia menghadapi kenaikan kelas. Seperti anak pada umumnya, tentu saja Hans sangat bahagia datang bersama kedua orang tua dan adik-adiknya dalam kegiatan ini. Serangkaian acara dilalui, dari kegiatan pelepasan anak kelas 6, pentas seni dan lainnya. Sebagai anak kelas 2 SD dia tidak banyak ikut andil dalam acara, kecuali kegiatan kenaikan kelas. Saat tiba waktunya mengumumkan kejuaraan kelas.
Hans berkata, "kalau Hans berhasil menjadi juara 1, Papa dan Mama pasti bahagia."
"Baik, terima kasih kepada Ayah dan Bunda yang sudah menemani Ananda dalam kegiatan Pelepasan dan Kenaikan Kelas ini. Nah, tadi kita sudah melihat siswa berprestasi dari kelas 1, sekarang akan diumumkan siswa berprestasi dari kelas 2," ucap salah satu pembawa acara kegiatan.
"Baiklah, juara ketiga kelas 2 SD Jamiat Al Khoer diraih oleh, Rania Larasti! Silahkan Rania dengan ayah bundanya naik ke atas panggung, maju ke depan."
Mereka maju ke atas panggung.
"Selanjutnya, juara kedua diraih oleh, Rafka Herlambang! Silahkan Rafka dengan ayah bunda naik ke atas panggung."
Juara kedua pun nak ke atas panggung.
"Yang paling ditunggu dan dinanti, juara pertama kelas 2 SD Jamiat Al Khoer diraih oleh."
Hans duduk bersama kedua orang tuanya sambil berdoa. Berharap ini akan menjadi tahun yang paling membahagiakannya.
"Juara pertamanya, diraih oleh Hans Fransisco. Selamat atas kemenangan tahun ini, silahkan Hans bersama ayah bunda naik ke atas panggung."
Rasyid naik ke atas panggung, sedangkan Nengsih tidak karena kedua anaknya yang lain sangat aktif. Sehingga kewalahan untuk membawanya bersama. Rasyid mencium anaknnya. Kemenangan dan keberhasilan Hans adalah sebuah prestasi yang diraihnya atas kerja keras dan usaha Hans selama ini. Hasil memang tidak akan pernah mengkhianati usaha, tentu saja. Acara pun berlanjut, pengumuman kejuaraan dari kelas lain.
__ADS_1
"Baiklah, Bapak, Ibu. Serangkaian acara telah sukses dilaksanakan, kami berterima kasih atas kesediannya menyempatkan waktu untuk menghadari acara Ananda tercinta. Selanjutnya kami umumkan juara Umum tahun ini."
Semua hadirin terlihat lebih tegang lagi, sambil berdoa. Berharap anak-anak mereka mendapatkan prestasi itu.
"Baiklah, juara ketiga diraih oleh Zefanya Clara Anatasya dari kelas 5a. Juara umum kedua diraiah oleh Rama Anandita Putra dari kelas 6. Terakhir, yang paling ditunggu adalah juara pertama di raih oleh Hans Fransisco dari kelas 2"
Semua bersorak mendengar pengumuman itu, memberikan tepuk tangan hangat dan sambutan kepada para pemenang juara.
"Selanjutnya, sebagai apresiasi untuk ketiga juara umum, pihak sekolah membebaskan biaya sekolah untuk mereka. Saya persilahkan kepada Bapak kepala sekolah dan semua guru naik ke panggung untuk memberikah hadiah kepada siswa berprestasi tahun ini."
Hans bersyukur dengan apa yang didapatkan olehnya dalam waktunya yang bersamaan. Prestasi dan hadiah yang ia perjuangkan, untuk itulah dia harus mempertahan prestasi agar bisa berada di posisi ini sampai lulus sekolah.
"Awal."
Panggilan kesayangan Rasyid pada anak sulungnya.
"Terima kasih untuk hari ini, karena sudah membuat Mama dan Papa bangga. Usaha dan kerja keras yang kamu lakukan mendapatkan hasil terbaik sesuai harapan dan keinginanmu."
"Semua karena doa Mama dan Papa juga tentunya. Hans tidak akan berhasil tanpa ada dorangan kalian."
"Tapi, Papa benar-benar minta maaf. Karena sampai saat ini Papa belum berhasil mendapatkan pekerjaan baru. Mama masih harus bekerja keras untuk membantu keuangan kita."
"Tidak apa-apa, Pa. Arfan juga sudah mulai besar, sebentar lagi bisa jalan. Kalau anak-anak sudah bisa saling menjaga, Mama bisa fokus untuk mencari pengahasilan untuk keluarga kita."
"Hans juga akan membantu, alhamdulillah kita masih bisa makan walaupun seadanya. Mungkin, memang jalan hidup ini yang harus kita tempuh."
__ADS_1
"Nanti, aku harus mendapatkan banyak penghasilan untuk membantu Mama. Agar aku juga tidak meminta uang jajan ke Mama," batin Hans.
Ah, anak sekecil ini harus berpikir tentang mencari nafkah, itu hal yang tak biasa. Akan tetapi, inilah Hans. Anak 9 tahun menginjak 10 tahun harus memikirkan sendiri untuk bisa jajan. Bukan sebaliknya, meminta uang kepada orang tua. Bahkan, kadang kali menangis tak berkesudahan saat tidak diberikan uang oleh orang tuanya. Tidak sedikit anak tidak mau berangkat sekolah karena tidak diberikan uang jajan.
"Awal, anak kesayangan Mama. Mama tidak punya apapun untuk diberikan kepadamu sebagai hadiah dari prestasi yang kamu perjuangkan. Akan tetapi, Mama hanya punya doa-doa terbaik kesukseanmu di masa depan," ucap Nengsih sambil mengecup kening anaknya.
Hans memeluk Nengsih dan Rasyid, betapa indahnya hubungan keluarga ini. Dalam kesulitan apapun, mereka kompak saling mendukung dan membantu.
"Papa juga, sayang. Papa tidak lagi bisa memberikan apapun padamu. Jangankan mainan, bahkan uang jajanmu saja tidak bisa. Hanya saja, doa terbaik Papa untukmu selalu menyertai."
"Papa, Mama, jangan sedih. Jangan khawatir dengan semua yang terjadi padaku, Hans akan menjadi lelaki hebat kebanggaan Mama dan Papa. Memberikan contoh yang baik untuk adik-adikku."
Nengsih dan Rasyid tersenyum, keduanya saling pandang. Hans kembali bermain dengan teman sepermainanya, layaknya anak yang lain ceria dan bahagia. Hans seolah meninggalkan sejenek kemelut dan kerumitan hidup dan masalah yang dihadapinya.
"Anak kita hebat, Nengsih. Sangat luar biasa, dia menjadi anak-anak ketika bertemu teman-temannya. Akan tetapi, dia bisa menjadi lelaki dewasa saat berusaha menyelesaikan masalahnya."
"Ya, kamu benar. Dia adalah anak yang istimewa, sangat istimewa. Sebagai seorang ibu, tentu saja aku begitu sangat bangga telah melahirkannya ke dunia."
"Menjadi orang tua darinya tentu saja, kita harus bangga. Anak kita adalah anak terbaik berbeda dari yang lain."
"Tentu saja, tidak akan ada yang percaya dengan masalah yang dihadapinya. Tetapi, dia justru membuktikan dengan banyaknya prestasi. "
"Saat dia beranjak dewasa, dia akan menjadi lelaki yang hebat dan berhasil. Sebagai orang tua, tidak ada yang lebih bahagia daripada itu. Sekalipun dia melakukan kenakalan kecil, tentu saja itu tidak membuat kita marah. Justru terlihat sangat lucu dengan tingkahnya."
"Anak kita memang hebat."
__ADS_1
"Itu, karena ibunya juga hebat."