MENGEJAR CINTA CEO TAMPAN

MENGEJAR CINTA CEO TAMPAN
Penjual Koran Jalanan


__ADS_3

Perjalanan hidup seseorang tidaklah sama, ujian hidup seseorang tidaklah sama. Tidak ada kisah dan perjalanan yang sama persis, tentu saja. Dari banyaknya kesamaan, tentu ada perbedaan. Seperti anak kembar, meskipun terlahir bersamaan. Akan tetapi, kehidupan mereka akan berbeda. Rizki, jalan hidup dan masa di dunia tentu berbeda. Karena setiap orang memiliki catatan hidup masing-masing sesuai kadar kemampuan dan nasib takdir mereka. 


Begitu pula dengan Hans, ia pernah berada di atas awan naik ke langit. Apapun yang diperlukan tentu saja sangat mudah di dapatkannya. Tanpa perlu bekerja, tanpa perlu mencari sendirinya. Ayahnya tentu saja akan memenuhi semua itu dengan mudah. 


Akan tetapi, tahun itu telah merubah nasibnya dan merubah semua pengharapannya. Ia harus menjalani kehidupan yang pahit dan getir di tengah krisis moneter yang menimpanya. Setelah selesai ujian, saatnya berlibur panjang. Hans memanfaatkan waktu libur untuk menjajakan koran di lampu merah. Dalam terik, panas, gerah dan debu jalanan, ia tetap melakukan itu demi mengumpulkan uang.


"Koran, Koran, Koran, Pak, Bu. Korannya!!"  teriak Hans sambil menjajakan korannya. 


Ia menghapus keringat yang menetes, satu dua orang melintas melambaikan tangan. Bahkan, saat lampu merah berhenti. Hans tak menghentikan, dia terus menjajakan korannya yang tidak seberapa. Ia tak menyerah, meski beberapa kali ditolak. 


"Nak, korannya," panggil seorang lelaki paruh baya sambil membuka kaca mobilnya. 


"Koran Pak?  Iya boleh," tanya Hans meyakinkan sambil menyeka keringatnya. 


Hans memberikan koran itu kepada bapak tadi. Senyum Hans mengembang, setelah seharian menjajakan koran akhirnya ada yang membelinya. 


"Ini uangnya ya, Nak." 


Selembar uang 10.000,- terlipat, Hans menolaknya. Senyum itu redup, tidak ada uang di saku celana untuk memberi uang kembalian. 


"Maaf, Pak. Saya tidak ada kembalian, tidak apa-apa. Bawa saja korannya."


"Tidak bisa begitu, dong. Saya berniat membeli, bukan meminta."


"Tapi, saya tidak punya kembalian, Pak."


"Ini, ambil saja kembaliannya. Untuk jajan es krim."


Hans sedikit ragu, tetapi bapak itu berusaha meyakinkannya. Akhirnya dia menerima uang itu, ada rasa bahagia. Uang sebanyak ini akan cukup untuk bekal dan membantu orang tuanya. 


"Terima kasih, Pak," kata Hans. 


Belum sempat menjawab apapun, bapak tersebut melajukan mobilnya karena sudah waktunya jalan. Hans kembali menjajakan korannya. Panas letih, semua terasa. Dahaga di kerongkongannya mulai terasa. Hans duduk di trotoar dekat pedang es cendol. Ia menelan ludah, rasa haus terasa di kerongkongannya. 


"Kamu haus, Nak."


Pedagang itu menyapanya. 

__ADS_1


"Iya, pak."


Tanpa berucap apapun, pedagang cendol itu mengisi gelas dengan cendol dan gula beserta es, lalu diberikan kepada Hans. 


"Ini, ambil."


"Jangan, Pak. Saya tidak ada uang," katanya. 


Hans menolak, dia tidak ada uang seperpun untuk membeli minuman. Uang yang baru saja didapatkannya itu untuk simpanan keperluan sekolahnya. Saat ini, Hans berusaha meringankan beban keluarga.


"Tidak apa-apa, anggap saja saya sedekah biar dagangan saya tambah berkah." 


"Masya Allah, Pak. Terima kasih banyak."


"Sama-sama."


Hans melahap es cendolnya, terlalu haus dahaga hingga habis dalam sekejap. 


"Haus banget, kayaknya."


"Ah, kamu bisa saja. Saya sih bukan tidak mau baca, tapi memang tidak bisa baca."


"Lho, kenapa Pak?"


"Kamu beruntung, Nak. Lahir setelah kemerdekaan negeri kita dikumandangkan. Meskipun sekarang banyak kerusuhan dan anarkis, tetapi itu kesalahan pemimpin yang tidak bisa mengamankan rakyatnya. Sedangkan saya dulu, jangankan sekolah, untuk belajar saja harus bersembunyi."


"Kenapa begitu?"


"Zaman saya, mau belajar susah. Setiap hari banyak tentara Belanda yang patroli untuk mengawasi kami. Kami tidak boleh belajar, mereka tidak mau bangsa kita menjadi pintar."


"Seram sekali, tentu saja kami yang hidup di masa revormasi ini sangat beruntung."


"Nak, kamu masih kecil. Tapi pemikiranmu benar-benar dewasa. Saya tidak percaya kalau kamu hanya orang biasa."


"Sama saja, saya orang biasa. Pak."


"Kamu kok jualan? Bapak ibumu ke mana?"

__ADS_1


"Papa saya seorang enginer di perusahaan besar, tapi karena krisis moneter yang terjadi kami harus terkena dampaknya. Papa di PHK, mau tak mau saya harus mencari uang sendiri untuk keperluan saya."


"Masya Allah, Nak. Mulia sekali hatimu, dalam kondisi ekonomi yang terjatuh justru berusaha untuk tidak menyulitkan keluargamu."


"Saya sudah diberikan kenikmatan hidup dalam jangka waktu yang cukup lama. Setidaknya, saya bersyukur masih diberikan tempat tinggal yang layak meskipun dalam kondisi yang sesulit ini."


"Kalau masih ada, mungkin anakku sudah sebesarmu saat ini. Sayang sekali, dia harus pergi lebih dahulu akibat kanker yang dideritanya sejak lahir."


"Innalillahi, semoga Bapak dan keluarga diberikan kekuatan dan digantikan dengan yang lebih baik dari yang sudah pergi."


"Aamiin, semoga saja. Tetapi, itu mustahil, karena istri saya sedang menderita kanker payudara. Saya bekerja sebagai buruh pabrik, tapi karena krisisi moneter ini pula saya kehilangan pekerjaan dan harus julan cendol. Pulang ke kampung biayanya akan lebih mahal, saya berusaha bertahan di kota metropolitan agar istri saya bisa dbantu."


"Insya Allah ada jalan keluarnya, Pak."


"Aamiin, saya juga selalu meminta kepada gusti Allah agar diberikan kekuatan dan kesabaran yanh lebih. Saya dan istri berusaha kuat menjalani ujian ini."


"Setiap orang diuji Allah dengan cara berbeda dan berdasarkan kemampuan yang berbeda. Kadar kemampuannya juga berbeda. Insyaallah, setiap ujian yang Allah timpakan itu adalah ujian kenaikan kelas kita pada level yang jauh lebih tinggi dari sekarang."


Bapak itu mengangguk membenarkan pernyataan Hans, ini hanyalah sebuah ujian kenaikan kelas. 


"Sebentar lagi sholat dzuhur, saya harus pulang, pak."


"Baiklah, Nak. Hati-hati."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatu."


Hans berlalu meninggalkan bapak penjual es cendol tadi. Ia berpikir tentang yang dikatakanya pada bapak tadi. Manusia yang sifatnya pelupa, padahal dia sendiri tahu bahwa ini adalah ujian. Tetapi sering kali, Hans merasa kecewa terhadap keputusan Allah padanya. Kini, dia kembali disabarkan dalam keikhlasan. Laku atau tidak jualan korannya, tetap saja tidak boleh menghentikan untuk berusaha agar ia mendapatkan penghasilan yang cukup. 


"Aku tidak boleh menyerah, tidak boleh kalah oleh bapak penjual es cendol. Aku harus berusaha lagi, insya Allah semua ini akan ada hasilnyal," batin Hans. 


Hans melangkah meningalkan taman lampu merah, ia akan pulang sebelum kembali berjualan. Jarak dari lampu merah ke rumah cukup jauh 30 menit baru sampai di sana. Akan tetapi, Hans tidak menyerah, lelah dan sakitnya punggung ia hari ini takkan bisa mengantikan punggung sang ayah yang telah berjuang menjadi seorang arsitek sebelum terkena PHK. 


"Allah hanya memindahkannya kepemilikan harta pada Papa dan Mama saat itu, sekarang Allah mau ambil lagi. Aku tidak boleh sedih apalagi kecewa, aku harus membantu orang tua semampuku."


Hans membatin, meyakinkan hatinya bahwa hujan ini akan segera berlalu. 

__ADS_1


__ADS_2