
Hans masih mengayuh sepeda sambil membawa keranjang kue. Ia menjajakan kue yang dibuat Nengsih keliling komplek perumahan. Gengsi dan malu, itu yang dirasakan awalnya. Akan tetapi, demi membantu ibunya dia tutupi rasa malu dan gengsi itu. Mengingat Rasyid belum mendapatkan pekerjaan kembali. Terpaksa Hans harus membantu keluarganya.
"Kue, kue, kue," teriaknya sambil mengayuhkan sepedanya.
Komplek terlihat sepi, wajar dan sudah biasa. Memang orang komplek sangat idividulisme, mereka keluar hanya untuk suatu keperluan. Bekerja, belanja, sekolah, kuliah dan lainya. Dengan gontai, Hans tetap menjajakan kuenya.
"Kue!" teriak seorang perempuan paruh baya dari balik pagar rumahnya.
Hans menoleh, lalu mengayuhkan sepeda ke arah area rumah blok C.
"Wah, tumben sekali ada yang jualan kue di sini?" katanya.
"Iya, Bu. Saya dari blok sebelah."
"Owh, gitu. Tinggal dengan siapa?"
"Saya anaknya Pak Rasyid dengan Bu Nengsih."
"Bukannya Pak Rasyid enginer hebat itu ya? Uangnya 'kan banyak, kenapa anaknya jualan kue?"
"Ah, tidak apa-apa, Bu. Saya mengisi liburan sekolah saja, lumayan nambah uang jajan."
"Oh, begitu. Baiklah kalau begitu saya ambil semuanya saja. Kebetulan di rumah akan ada tamu, daripada saya masak dan pesan jauh-jauh."
"Boleh, Bu. Wah, alhamdulillah dagangan saya habis."
"Alhamdulillah, rezeki adiknya."
"Alhamdulillah, terima kasih."
"Berapa semuanya?"
"Semuanya 50 kue, 50.000,"
"Baiklah, saya ambil semua dan ini uangnya."
Ibu tadi menyodorkan uang kepada Hans, dia mengambilnya dengan senang hati. Terlihat sekali wajahnya sumringah jualannya laku terjual.
"Terima kasih, Bu."
"Yang buat kue siapa?"
"Mama."
"Setiap hari?"
"Iya, Bu."
"Nah, kebetulan nih, saya memang membutuhkan setiap hari selasa dan minggu. Kalau pesan sepekan dua kali, bisa?"
"Bisa, Bu. Insya Allah."
"Baiklah, saya boleh minta nomor yang bisa dihubungi?"
__ADS_1
"Sebentar, ini kartu nama Mama saya. Kebetulan memang biasa menerima pesanan dan catring."
"Wah, bisa catring juga."
"Iya, bisa. Bu."
"Baiklah, nanti saya hubungi ibumu. Ini terima kasih kuenya."
Hans pamit dan meninggalkan rumah tersebut. Rezeki yang tidak diduga dan disangka olehnya. Baru jualan sudah mendapatkan pelanggan. Hans pulang dengan membawa uangnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum, eh anak Mama sudah pulang."
"Iya, Ma. Alhamdulillah. Tadi sudah diborong ibu blok sebelah kuenya."
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Ini uangnya."
Hans memberikan lima lembar uang bergambar Cut Nyak Dien pada Nengsih.
"Alhamdulillah kalau sudah habis, sana makan dulu. Mama tadi sisakan untuk kamu."
"Papa mana, Ma?"
"Papa keluar tadi, katanya mau bertemu dengan teman lama. Mudah-mudahan saja dapat pekerjaan baru."
"Oh iya, Ma. Tadi ada yang mau pesan kue sepekan dua kali katanya, ibu komplek sebelah. Tadi sudah Awal kasih kartu nama Mama."
"Begitu, ya. Alhamdulillah kalau begitu,"
Hans masuk rumah, Nengsih masih menyelesaikan beberapa jahitan bajunya. Hari ini memang tidak buka warung karena banyak order jahitan baju. Masalah yang menimpa Rasyid, suaminya. Membuat Nengsih harus menjalani kehidupan yang sulit, ia harus membantu mencari nafkah untuk makan ketiga anaknya. Berat, tetapi Nengsih berusaha bersabar dengan keadaan ini.
"Kasihan, Hans. Karena ayahnya di PHK, dia harus ikut menanggung beban keluarga. Jangankan untuk jajan, bahkan untuk biaya sekolah sangat sulit. Aku sendiri tidak tahu ini akan sampai kapan."
Nengsih membatin sambil melamunan kehidupan yang akan datang kelak akan dialami oleh Hans.
Sementara itu, Hans sendiri bukan merasa nyaman. Tentu saja ini sangat sulit baginya. Di saat semua orang bermain, dia justru membantu keluarga. Setelah mengganti baju, Hans menyantap makanannya. Tidak lagi semewah dulu, meski hanya dengan tempe goreng dan sambal sudah membuatnya kenyang.
"Sudah, makannya?" tanya Nengsih saat menghampirinya di meja makan.
"Sudah, alhamdulillah."
"Maafkan Mama, Nak. Belum bisa memberikan makanan yang lebih baik daripada ini. Kehidupan kita sudah mengalami banyak perubahan, terima kasih sudah bersikap dewasa."
"Mama jangan berterima kasih apalagi minta maaf, Hans tetap senang karena Mama dan Papa tetap ada untuk Hans dan adik-adik."
"Kamu anak yang hebat, Nak. Dengan kondisi yang berat sekalipun, kamu tetap berpikir postif."
"Kata Mama, kita harus banyak bersyukur. Bersyukur sama Allah karena masih diberikan nikmat, nikmat sehat dan rasa nyaman."
"Kamu benar, nak. Di luar sana, banyak yang hidup susah bahkan tidak punya tempat tinggal. Kamu beruntung karena masih punya yang layak dan tidur dengan nyenyak."
__ADS_1
"Iya, Ma. Bahkan di beberapa negara yang mengalami bentrok, mereka tidak memiliki tempat yang aman. Tidur beralaskan kardus, rasa takut bunyi bom yang sewaktu-waktu akan menghancurkan rumah mereka dan seluruh isinya."
"Artinya, Hans tetaplah orang yang paling beruntung. Mama dan Papa tentu sangat bangga kepadamu."
"Ma, memangnya kenapa kita harus merasa kusulitan tidak memiliki uang?"
"Karena uang itu kebutuhan pokok, Nak."
"Tapi mereka tidak semuanya bahagia dengan uang, banyak yang punya uang tapi hutang mereka juga banyak."
"Iya, karena mereka menggunakannya untuk yang tidak begitu bermanfaat. Misalnya karena cicilan mobil, cicilan rumah dan lain-lainnya."
"Untuk apa kaya kalau dengan kredit."
"Itulah cara hidup mereka, bermodalkan gengsi."
"Kita harus banyak bersyukur agar hidup kita merasa cukup dengan yang ada. Kalau sampai tercekik hutang, menjadi kaya pun tidak akan senang apalagi hidup tenang."
"Kamu benar sayang, syukur itu penting sebagai bentuk rasa terima kasih kita kepada Allah. Karena sedikit maupun banyak, memang rizki itu datangnya dari Allah. Sewaktu-waktu, jika kenikmatan Allah ambil, kita harus ikhlas."
"Ma, mama gak malu harus jualan atau jahit baju? Padahal orang tahu semua Papa seorang enginar ternama pada saat itu."
"Kenapa harus malu, kita mencari uang halal. Kita tidak maling atau merampok bank untuk mendapatkan uang. Yang sepatutnya malu, koruptor Negeri kita. Mereka banyak melarikan uang negara, tapi masih percaya diri jalan-jalan ke luar negeri."
"Kok bisa, Ma. Mereka sudah kehilangan rasa malu, bahkan tidak tahu diri."
"Demi uang, mereka rela melakukan apapun sayang. Makanya, sesulit apapun kita, jangan pernah sekalipun mencari jalan itu."
"Untuk apa? Kita mengambil resiko yang akan menghancurkan. Selain itu, mereka menggunakan uang itu untuk mencari wanita lain. Selingkuh dan banyak hal."
"Iya, itulah makanya. Hiduplah dengan normal tanpa ada manipulasi, jangan mau dikalahkan oleh gengsi. Kalau kamu gak punya uang, tunjukan bahwa uang bukan syarat utama membanggakan diri. Banggalah dengan prestasi."
"Iya, Ma. Hans terus belajar dan berprestasi agar menjadi anak yang sukses dan berhasil. Apapun yang terjadi, akan membuat Mama dan Papa bangga."
"Bagus, anak Mama punya semangat yang tinggi dan gigih dalam mewujudkan cita-citanya."
"Ma, kenapa laki-laki suka sekingkuh?"
"Kamu tahu dari mana?"
"Temanku, Khan. Papanya selingkuh dengan wanita lain, jalan-jalan. Padahal, mereka sudah punya anak istri."
"Tidak ada larangan lelaki menikah dengan beberapa istri, tetapi perbuatan semacam ini tidak dibenarkan."
"Apakah istrinya kurang cantik?"
"Kamu seperti orang dewasa saja. Cantik itu relatif, tapi hal semacan itu mengedepankan nafsu."
"Oh, begitu."
"Kamu gak belajar?"
"Eh, iya Ma. Hans belajar dulu."
__ADS_1