MENGEJAR CINTA CEO TAMPAN

MENGEJAR CINTA CEO TAMPAN
Ujian Kenaikan Kelas


__ADS_3

Hans mendapatkan angin segar, ketika wali kelas memberikan kartu ujian padanya. Hampir saja dia putus asa dan patah semangat ketika teman-temannya sudah sibuk dengan jadwal ujian yang padat. Sedangkan dirinya, bahkan kartu saja belum dapat. Siang itu, pulang sekolah. Hans dipanggil oleh wali kelas ke ruang TU, lalu diberikannya kartu ujian hari senin nanti. Dengan riang, dia kembali ke rumah sambil memamerkan kertas ujiannya. 


"Assalamu'alaikum," ucap Hans dengan nada riang.  


"Wa'alaikum salam," jawab Papa. 


"Mama di warung?"


"Pulang yang ditanyakan Mama aja nih?  Papa enggak?"


Hans mencium tangan papanya, lalu Rasyid menggendongnya dan mencium pipi serta keningnya. Hans kecil, tampan, lucu dan cerdas. Dia mewarisi Rasyid yang memiliki keturunan Yaman. Tentu saja, wajah arab Hans darinya. Kecerdasan dan juga kreativitas tangannya warisan sang ayah. Tapi, sosok Hans yang tangguh dan sabar terbentuk dari sifat Nengsih. Hans adalah kolaborasi kedua orang tuanya. 


"Pa, Hans bisa ujian." katanya gembira. 


Rasyid ikut bahagia mendengarnya, meskipun ia sudah tahu kabar ini dari Nengsih tadi. 


"Pa, Hans mau belajar dulu. Nanti setelah belajar, baru ke warung." 


Rasyid mengangguk, lalu menurunkan Hans dari pangkuannya. Rasyid kembali bekerja, menyelesaikan sedikit lagu designnya. Sebaga arsitektur, Rasyid tidak bosan membuat banyak design baru. Meskipun, designnya tidak djual atau tidak laku lagi di pasaran. 


Hans mengganti pakaian, lalu membersihkan diri. Kemudian ia membuka buku belajarnya satu persatu dipelajari dan dikerjakan setiap soalnya. 


"Pokoknya, aku harus bisa menjadi juara. Pokoknyanya, aku harus mendapatkan beasiswa sekolah tahun ini." tekad Hans. 


Anak ini terlalu kecil, dia harus dewasa sebelum waktunya. Tetapi Hans punya tanggung jawab besar pada dirinya sendiri, menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya. Hans menjalani semua prosesnya tanpa mengeluh apalagi menangis. Dia berusaha tegar, meskipun kadang dia juga menangis. 


"Aku kuat, aku tangguh. Aku pasti bisa, aku harus berhasil."


Dialah Hans Fransisco, lelaki kelahiran 30 Mei 1992. Dia dibesarkan oleh seorang ibu yang hebat, ayah yang luar biasa. Wajar saja, jika di usia sekecil apapun dia berani. Hans tahu bahwa dirinya sedang berproses, itulah mengapa dia harus berhasil. 


Setelah menyelesaikan lembaran terakhir, Hans bergegas ke warung yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah hanya berjalan kaki selama 15-20 menit saja sudah sampai. 


"Assalamu'alaikum, Ma." sapanya. 

__ADS_1


"Wa'alaikum salam." jawab Nengsih. Ia tampak sedang membereskan beberapa dagangannya sambil menggendong adik kecilnya Arfan. 


"Ma, Arfan turunkan saja. Biar Hans yang menemaninya." 


Nengsih tersenyum, sambil menurunkan Arfan. 


"Baiklah, Mama akan selesaikan pekerjaan yang lain."


"Iya, Ma."


Hans mengajak adiknya bermain, sesekali membantu Nengsih melayani pelanggan. Hans tidak gengsi apalagi malu membantu Nengsih bekerja. Selama Arman main bersama Rasyid, Hans menemai bayi Arfan. Hans seorang kakak yang bertanggung jawab, di tengah kesulitan keluarga dia berusaha membantu Papa dan Mama-nya. 


Sore itu, langit senja terlihat murung. Hans menyeka air matanya. Seolah senja mengisyaratkan dan mewakili perasaannya. Ini bukan hanya sebuah ujian kenaikan kelas di sekolah, tetapi ini sebuah ujian kenaikan kelas dalam menjalani alur kehidupan. Setelah ini, jika lulus dalam ujian ini tentu saja Allah akan naikan level manusia pada tingkat yang lebih tinggi. Ibarat masuk Surga, mungkin saat ini naik pada level surga paling dasar dan Allah ingin menaikan pada level Surga Firdaus. Surga paling tinggi. 


"... Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216)


Memang, manusia selalu merasa paling tahu dengan kehidupannya. Merasa paling hebat dan paling benar dalam hidupnya. Padahal sebenarnya dia tidak tahu apa-apa mengenai dirinya sendiri dan hidupnya. 


"Sebentar lagi, Ma. Hans masih menikmati keindahan senja."


"Hans, langit senja itu tidak akan merubah azzura sekali pun kamu pandang dengan seksama."


"Hans tahu, Ma. Hans hanya sedang berpikir."


"Apa yang kamu pikirkan, nak?"


"Kenapa di saat begini harus mengalami ujian berat, padahal selama ini tidak pernah berpikir Papa akan mengalami penurunan dalam usaha."


"Kamu tahu nak, kita terlalu terlena pada dunia. Selama ini, kita hanya menganggap bahwa hidup yang kita jalani sudah terjamin dengan gaji papa yang cukup menjanjikan. Mama tidak pernah berpikir akan mengalami penurunan, sementara banyak cicilan yang belum lunas. Mobil dinas papa juga harus ikut diambil perusahaan."


"Semua jatuh seketika, Ma. Hans harus merangkak dari nol untuk memulai hidup baru."


"Hans sayang, anak sulung Mama. Kamu anak yang hebat, anak yang kuat. Mama berharap kamu bisa berbesar hati menerima semua keadaan kita."

__ADS_1


"Hans tahu, Ma. Hujan ini akan ada redanya, tidak melulu membasahi bumi."


"Benar, sayang. Hujan ini akan ada redanya, kita hanya perlu bersabar dalam menyikapi semua kondisi dan keadaan yang ada."


"Terima kasih sudah menjadi Mama terbaik untuk Hans, Ma. Terima kasih sudah mengajarkan Hans agar lebih kuat dan sabar."


Nengsih menurunkan badannya, tepat sejajar dengan anak sulungnya. Ia melihat ada genangan hujan di sana, hujan dari pelupuk mata kecilnya. Sambil tersenyum, Nengsih menyeka air matanya. 


"Hans, laki-laki itu harus kuat dan tangguh. Tapi, jika kamu ingin menangis, menangislah sampai kamu menemukan ketenangan setelahnya."


Hans menghapus aliran hujan yang semakin deras, "Hans tidak apa-apa, Ma. Hans kuat, kok."


Nengsih tak kuasa melihat anak lelakinya berderai air mata. Ia segera mendekap dalam pelukannya. Hans yang berusaha menahan air mata, seketika tumpah. Ia menangus sesegukan, tentu saja. Hans hanyalah anak 8 tahun yang seharusnya tidak mengalami beban apapun. Di usia ini, seharunya dia hanya menikmati hidup dan semua fasilitas kedua orang tuanya. 


"Mama janji sayang, Mama akan memperbaiki kondisi ekonomi kita. Mama berjanji akan terus membesarkanmu sampai beranjak dewasa. Kamu harus tumbuh dengan sebaik-baiknya."


"Ma, Hans gak apa-apa. Tapi Hans kasihan, melihat Mama harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Aku, Arman dan Arfan."


"Sayang, tidak apa-apa. Papa sedang mengalami kesulitan, tugas Mama hanyalah membantu papa agar kita tetap bertahan hidup. Memang pekerjaan papa tidak akan bisa pulih dalam sekejap, tapi Mama yakin bahwa ini akan kita lalui dengan baik."


"Allah menghadirkan Mama untuk Papa sebagai hadiah terbaik.  Tentu saja, bukan hanya aku sebagai anak Mama yang merasa beruntung. Papa adalah orang yang paling beruntuk memiliki Mama."


"Mama dan Papa juga beruntung memiliki kalian, terutama kamu. Karena kamu membuat Mama banyak belajar, belajar untuk menjadi ibu yang hebat."


"Mama sudah hebat."


"Oh, ya? Benarkah?"


"Tentu saja, Ma. Mama adalah sosok ibu kebanggaan, dan sosok istri yang tangguh."


"Belajar dari istri para Nabi, mereka hidup dengan sederhana. Tetapi, mereka tetap sabar meskipun harus memakan tiga butir kurma dan air putih sebagai pengganjal perutnya."


 

__ADS_1


__ADS_2