
Di usia 8 tahun, Hans harus mengalami tekanan hidup yang luar biasa hebatnya. Meskipun begitu, dia terlahir sebagai anak sulung yang merasakan dan mengalami kemelut kesulitan orang tua. Hans seorang anak yang tangguh dan kuat, itulah sebabnya dia mampu bertahan dalam keadaan sesulit apapun yang dihadapinya.
Perjalanan itu harus ia lalu, Hans mulai belajar lebih giat lagi. Memberikan prestasi yang cemerlang untuk membuat kedua orang tuanya bangga. Awalnya memang terpaksa akhirnya dia menikmati semua proses itu tanpa mengeluh kepada mama dan papa-nya.
Sejak di PHK, Rasyid tidak lagi bekerja. Karena saat itu sulit mencari lowongan kerja. Kisruh yang membuat dia dan keluarganya harus mengalami dampak dari krisis moneter ini. Sebagai istri, Nengsih tidak serta merta memarahi sang suami atau meminta bercerai. Alih-alih, justru membantu keuangan suami dengan membuka peluang usaha baru. Menjual makanan dan kue untuk dipasarkan. Selain untuk memenuhi keperluan rumah tangga, ini juga untuk membantu biaya sekolah Hans.
Terpaksa, ia harus menjalani jungkir balik kehidupan. Tak pernah dia bayangkan sebelumnya, dia akan menjalani semua ini.
Sebab sebelumnya, Rasyid adalah seorang arsitektur terkenal dan ternama. Gajinya puluhan juta dengan berbagai tunjangan yang didapatkan. Tapi, sekalinya terkena PHK, semua berbalik arah dan berbanding terbalik dari kehidupan sebelumnya. Beruntung Nengsih memiliki simpanan uang untuk bertahah hidup dalam beberapa bulan. Ia juga menggunakan uang itu untuk modal usaha barunya.
"Kak, mobil Papa ke mana?" tanya adiknya, Arman.
"Di jual, Papa gak punya uang."
"Papa 'kan kerja, kak?"
"Iya, Papa kerja. Tapi sudah tidak bekerja lagi, makanya kita harus hemat dan membantu Mama jualan."
Hans harus merelakan dirinya pulang sekolah dengan membantu Mama jualan di pasar. Tidak lagi bermain seperti sebelumnya, sambil menjaga toko kue Mama biasanya Hans belajar dan menyelesaikan tugas sekolahnya.
"Kalau mau belajar pulang saja, jangan sampai urusan sekolahmu terganggu hanya karena membantu Mama."
"Tidak apa-apa, Ma. Belajar 'kan sebentar, lagi pula Mama harus sambil momong Arfan yang masih bayi."
"Hans, Mama bangga punya kamu. Sebagai anak sulung yang bertanggung jawab dan pengertian. Mama janji akan memperbaiki keadaan, agar kamu dan adik-adik bisa menjalani hidup normal kembali."
"Mama kita itu lagi naik roller coaster, naik turun yang tak berkesudahan. Tapi, kita tetap sabar dalam menjalankan semua prosesnya. Nanti juga ini semua akan berakhir."
"Hans, anak Mama. Masya Allah sayang, kamu membuat Mama bisa bertahan sejauh ini." Nengsih mencium kening anaknya, lalu mendekapnya.
"Nak, maafkan Mama. Maafkan Mama harus harus melibatkan kamu hidup sulit dan sederhana. Maafkan Mama, karen di usia ini kamu harus kehilangan masa kecilmu." batin Nengsih sambil menyeka linangan air matanya.
Tidak seperti biasanya, Hans tidak lagi memiliki teman sepermainan. Dia pergi ke sekolah, lalu pulang langsung menganti baju dan membantu Nengsih sambil mengerjakan tugas sekolah. Waktunya dihabiskan begitu sepanjang hari, padahal seharusnya diusia itu dia memiliki banyak teman meskipun hanya sekadar main kelerang atau main futsal di lapangan.
Hingga suatu siang, Nengsih datang ke sekolah untuk meminta keringanan cicilan biaya sekolah.
"Selamat siang, Ibu Nengsih!" sapa petugas Tata Usaha (TU) sekolah.
"Selamat siang."
__ADS_1
"Baik, ada keperluan apa?"
"Saya mendapatkan surat dari sekolah mengenaik biaya sekolah anak saya."
"Atas nama siapa?"
"Hans Fransisco."
Petugas TU itu terdiam sejenak, berusaha mengingat nama siswa yang disebutkan Nengsih.
"Oh, Hans. Baik Ibu, rinciannya sudah tertera di surat yang kami kirimkan."
"Benar, kalau boleh, saya ingin mencicilnya. Insya Allah saya akan menyelesaikan pembayaraannya."
"Sebenarnya ini akhir semester, Hans akan ujian sekolah. Kalau tidak dilunasi tidak bisa mengikuti ujian."
"Saya mohon, saya janji akan menyelesaikannya. Tapi saat ini biaya belum ada."
"Kalau boleh tahu, kapan akan dibayarkan?"
Nengsih terdiam, melihat situasi dan kondisi saat ini tidak memungkinkan bagi Nengsih membayar dalam waktu dekat. Mengingat Rasyid belum ada pekerjaan dan tabungan mereka sudah terkuras habis.
"Baiklah, saya coba diskusikan dengan kepala sekolah. Sebentar, saya akan panggilkan."
Bu guru cantik itu meninggalkan ruangan, lalu masuk ke ruangan kepala sekolah. Seorang lelaki besar tinggi menggunakan jas hitam berjalan bersamanya.
"Selamat siang, Ibu." sapa kepala sekolahnya.
"Siang, Pak."
"Ini orang tua Hans, ya?"
"Benar, Pak. Saya ibunya."
"Jadi begini Bu, Hans sudah dua bulan menunggak uang bulanan dan bulan ini ada biaya tambahan uang ujian dan kenaikan kelas. Untuk bisa mengikuti ujian kelas, Hans harus menyelesaikan biayanya terlebih dulu."
"Pak, saya tahu. Selama ini saya juga tidak pernah menunggak, tapi keadaannya di luar kendali saya dan suami. Keadaannya sangat rumit dan kami juga merasa sangat kesulitan karena hal ini."
Pak kepala sekolah terlihat menimbang dan bercengkrama dengan petugas TU tadi. Nengsih terus berdoa dan bersholawat dalam hati. Berharap ada keajaiban Allah untuk membantu kesulitannya.
__ADS_1
"Bu," kata Kepala Sekolah.
"Kami akan mencoba bantu, Hans bisa mengikuti ujian. Mengingat dan menimbang anak ibu cukup bagus prestasinya di sekolah. Saya akan memberikan keringanan, kapan ibu ada uang silahkan dibayarkannya," jelas Kepala Sekolah
"Alhamdulillah, masya Allah. Pak, saya berterima kasih sudah membantu anak saya, insya Allah saya akan segera bayar biayanya. Saya berjanji."
"Baik, bu."
"Kalau begitu, saya pamit terlebih dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Nengsih meninggalkan ruang TU dengan sumringah, anaknya masih memiliki banyak harapan dan kesempatan untuk tetap sekolah. Meskipun harus meminta belas kasihan, Nengsih tidak gengsi, semua dia lakukan untuk Hans. Dia pulang dengan Hati yang bahagia. Dengan menaiki angkot, Nengsih kembali ke rumah.
"Bagaiamana, Bu." tanya Rasyid setelah Nengsih pulang.
Rasyid menunggu warung di pasar menggantikan Nengsih, sambil mencari lowongan pekerjaan.
"Alhamdulillah, Pa. Pihak sekolah memberikan Hans keringanan. Dia masih bisa mengikuti ujian sekolah, dan kita harus mencari uang agar bisa segera membayarkan biaya sekolahnya."
"Papa akan mencoba mencari peluang kerja lain, untuk membuka bisnis itu tidak memungkinkan. Uang tabungan kita juga habis untuk biaya hidup. Hanya mengandalkan jualan yang penghasilannya tidak seberapa."
"Sabar, Pa. Kita harus sabar."
"Aku tidak tahu akan seberapa lama kesulitan ini."
"Yang terpenting kita tidak lelah berusaha dan menjalankan semua ini. Gusti Allah tidak tidur, kita harus menyingkirkan semua debu dalam rumah. Tapi untuk itu, kita bisa mengatasinya bersama-sama."
"Maafkan aku, sekarang tidak berguna lagi untuk kalian."
"Jangan bicara begitu, Pa. Papa sudah memberikan yang terbaik untukku dan anak-anak. Mungkin, sekarang sudah saatnya Papa banyak menghabiskan waktu bersamaku dan anak-anak. Karena selama ini, Papa sibuk bekerja dan tidak ada waktu sama sekali untuk kami."
"Kamu benar, harusnya aku bersyukur banyak menghabiskan waktu bersama kalian."
"Iya, Pa. Selama beberapa tahun terakhir, gusti Allah sudah memberikan banyak nikmat untuk hidup kita. Sekarang hanya giliran orang lain. Yang terpenting, nikmat sehat, nikmat melihat, nikmat mendengar dan banyak kenikmatan lainnya Allah berikan kepada kita tanpa kurang sesuatu apapun."
"Allahu rabbi, istri macam apa kamu? Aku terjatuh kamu masih setia bersamaku."
"Aku hanya berusaha bersyukur dan menikmati proses kenaikan level sebagai hamba Allah yang dicintaiNya."
__ADS_1