
Jam telah menunjukkan pukul 22.36 WIB. Sudah larut malam. Dari sudut kamar yang gelap gulita, aku duduk sembari memeluk lutut. Sayup-sayup terdengar suara kereta melintasi di rel yang berada tepat di belakang kos.
Sesekali aku mengecek jam di layar hp. Waktu bergulir menuju tengah malam. Suasana sekitar kos sudah cukup sepi, orang-orang sudah terlelap dalam mimpi. Aku pun ingin segera memejamkan mata, tapi obat tidur yang biasa kuminum sudah tidak mujarab lagi. Alhasil, aku tetap terjaga.
Sebenarnya, ini bukan pertama kali. Aku sudah hidup bersama gangguan tidur selama bertahun-tahun. Biasanya, cukup dengan minum obat, aku bisa terlelap sampai pagi. Namun, entah kenapa, cara itu tidak lagi berhasil belakangan ini.
Tiba-tiba sebuah pesan whatsapp masuk. Tadinya hendak kubaca, tapi setelah tahu siapa yang mengirim, kuurungkan niatku.
“Buat apa dia repot-repot nanya kabar! Dasar gak tahu malu!” gumamku.
Pesan itu benar-benar mengganggu benakku sekarang. Udara dalam kos terasa pengap dan detak jantungku naik tidak karuan.
“Mau cari udara segar?” gumamku.
“Ayo,” sahutku.
Kuraih jaket yang tergantung dan bersiap dalam lima menit. Tidak banyak benda yang kubawa kecuali sebungkus rokok, beberapa lembar uang, dan kartu nama bertuliskan Nana Sanitra. Selain itu, tidak ada lagi. Aku bahkan tidak berniat membawa hp.
Ketika turun ke lantai satu, aku bertemu dengan pak Mahfud si empunya kos. Entah kenapa dia belum tidur di jam segini.
“Mas Nana mau ke mana?” tanya pak Mahfud.
“Jalan-jalan pak,” jawabku singkat
“Jalan-jalan kok malam? Ndak pagi saja? Malam begini banyak klitih lho!” katanya.
“Gak apa apa pak. Saya bisa jaga diri,” kataku.
Memang benar, saat ini isu klitih atau begal sedang naik akhir-akhir ini. Sudah banyak korban, tapi aku tidak peduli. Aku segera pergi dari sana meninggalkan pak Mahfud sendirian.
Ke mana tujuanku?
Aku tidak tahu. Aku tidak punya tujuan pasti. Berbekal jaket dan celana olahraga, aku menyusuri jalanan sendirian di tengah malam yang dingin. Aku berharap semoga dengan begini, aku bisa segera merasa lelah dan bisa tidur pulas.
Aku lumayan terkejut mendapati jalan dan tempat yang bisa kulewati saat siang hari tampak berbeda ketika malam. Sebagian terlihat sangat gelap dan sepi, sebaliknya ada pula yang ramai dan terang berkat lampu-lampu.
Sudah cukup jauh aku meninggalkan kos. Di sepanjang jalan, aku melihat banyak sekali tempat nongkrong yang dipenuhi oleh orang-orang. Tempat yang menjadi tempat berkumpulnya para penikmat malam untuk menghabiskan waktu. Sayangnya, aku tidak tertarik untuk singgah.
Aku memilih untuk meneruskan langkahku lebih jauh lagi.
Iseng-iseng aku menendang kerikil atau sampah di trotoar. Beberapa berhasil kutendang masuk tong sampah, sedangkan sisanya jatuh ke saluran air.
Berkali-kali aku berteriak dan berlaga seperti orang mabuk. Kemudian, meracaukan apa saja yang muncul di kepalaku dan bernyanyi sepuasnya. Aku bebas melakukan apa pun sekarang. Lagi pula, tidak akan ada yang peduli pada pemuda yang bertingkah aneh di kegelapan malam.
Sekali lagi, aku merasa bebas!
Namun, aku tidak bisa berdebat ketika kakiku merengek minta istirahat. Kuputuskan untuk menepi sebentar di depan sebuah mini market yang masih buka lalu menyalakan sebatang rokok. Kunikmati tiap hisapan sambil memikirkan apa yang akan kulakukan selanjutnya.
“Enaknya ... boleh minta satu?”
Aku terperanjat kaget sambil terbatuk-batuk. Siapa yang bicara?
Kudapati ada seorang gadis yang duduk di kursi kosong di depanku. Sejak kapan dia ada di sana. Apa karena aku terlalu fokus melamun jadi aku tidak sadar ada orang yang datang?
“Kenapa kaget? Boleh aku minta satu?” ulangnya.
“Sorry, aku gak sadar ada orang,” kataku seraya kembali duduk lalu menawarkan sebatang rokok untuknya.
“Thanks!” ujarnya.
Rasanya agak aneh dan canggung saat harus berbagi rokok dengan orang asing terlebih seorang gadis. Aku tidak terbiasa dengan orang baru. Jadi, aku memilih untuk diam saja sembari menikmati rokok.
“Kayaknya kamu bukan orang sini, kamu asal mana?” kata si perempuan membuka pembicaraan. “Kenalin, namaku Kato Wito. Panggil aja Kato.”
Kato Wito? Bukan nama yang wajar untuk orang Indonesia. Apa dia orang asing? Ah tidak juga. Gadis ini memiliki paras gadis pribumi. Namun, caranya berpenampilan yang agak tidak biasa.
Dia mengenakan atasan berupa kemeja hitam lengan panjang dengan rompi. Bawahannya, dia memakai dengan rok hitam selutut yang dipadukan dengan stoking hitam. Selain itu, aksesoris seperti sabuk, cincin, dan sepatu memiliki tema warna gelap yang sama. Baru kali ini aku bertemu pecinta fesyen gothic secara langsung.
“Aku Nana,” kataku. “Aku memang bukan orang sini. Aku Cuma kebetulan lewat.”
“Emang kamu mau kemana?” tanya Kato.
Kubuang sisa puntung rokok lalu mengambil batangan yang masih baru.
“Nggak kemana-mana. Aku Cuma kelayapan gak jelas,” jawabku sekenanya.
“Serius? Sendirian? Malam-malam?” balasnya.
__ADS_1
Aku mengangguk.
Di luar dugaan, Kato malah tertawa seolah apa yang kukatakan padanya adalah lelucon.
“Apanya yang lucu?” ujarku setengah ketus.
Perlahan tawanya berhenti dan berganti ke senyuman. Matanya lurus menatapku seakan aku adalah objek target yang tak boleh lepas. Namun, aku sadar ada makna lain dalam tatapannya. Matanya seolah menyelam masuk ke dalam benakku.
“Kamu gak bisa tidur ya? Makanya kelayapan?” ujar Kato tiba-tiba.
“Apa pedulimu?” sahutku ketus.
“Aku peduli? Gak ada sama sekali. Kamu orang asing dan aku juga orang asing. Gak ada alasan buat aku peduli sama kamu. Aku Cuma penasaran dengan orang baik yang ngasih aku rokok kretek ini. Apa aku salah?” Dia memainkan rokok pemberianku di antara jari tengah dan telunjuk.
Aku menghela nafas. Yah, dia ada benarnya. Aku harusnya tidak bersikap ketus dan kurang ajar. Baiklah, mari sedikit berpura-pura ramah.
“Aku kena insomnia,” jawabku singkat dengan nada datar.
Suasana menjadi hening sesaat.
“Insomnia ya ...” Kato menyalakan rokoknya, lalu ikut menyumbang asap di udara.
“Hey, Na!. Aku tahu ini bakal aneh buat kamu karena kita baru ketemu. Tapi, daripada keluyuran sendirian, gimana kalau kamu ikut aku? Aku bisa bawa kamu ke tempat-tempat asik. Kita bisa main apapun sampe pagi,” tuturnya.
“Tempat asik? Aku gak tertarik sama diskotik atau lokalisasi,” kataku.
Kato berdiri lalu berjalan ke halaman minimarket. Dia berbalik dan merentangkan tangannya.
“Apa Cuma dua tempat itu yang kamu pikir bisa buat asik-asik, Na? Pikiranmu sempit banget deh! Ini malam hari! Banyak tempat seru buka di jam segini tahu!” katanya.
“Terus?” sahutku.
“Ayo ikut aku main! Aku yakin kamu gak akan nyesel. Toh kamu juga gak bisa tidur kan?” sekali lagi Kato mengajakku.
“Aku gak minat, sorry.” Aku tidak mau terlibat dengannya. Terlebih pakaian gothic-nya cukup menggangguku.
“Ayolah! Jangan sok jual mahal kek begitu! Ayo!” ajaknya sekali lagi.
Kato Wito si gadis asing. Siapa dia? Aku tidak tahu. Jahat atau baik, aku tidak bisa menebaknya. Di luar itu semua, ajakannya memang terkesan mencurigakan. Dia bisa saja sedang berusaha menjebakku, tapi setelah kupikir baik-baik, tidak ada salahnya jika aku mengiyakan ajakan Kato.
“Ya sudah! Aku ikut!” kataku.
Dia lantas mendekat dan mengajakku berjabat tangan.
“Selamat datang di dunia malam, Nana.”
Kusambut tangannya. “Ya, mohon bantuannya.”
Perjalanan berlanjut. Baru lima menit kami pergi bersama, Kato ternyata sangat cerewet dan banyak bicara. Dia mengomentari hampir segala hal yang kami temui. Walaupun berisik, aku merasa sedikit terhibur berkat celotehnya.
“Ah iya, Na! Pilih salah satu, Mie Ayam atau Bak Pao?” katanya tiba-tiba.
“Mie Ayam,” jawabku sekenanya.
“Yosh, sudah ditentukan! Pegang tanganku!” Dia mengulurkan tangannya.
“Sebentar. Buat apa kita pegangan tangan?” kataku menyela.
Kato memutar bola matanya.
“Pake nanya! Kita lari lah! Aku gak mau kamu ketinggalan. Ayo cepet pegangan!” tegasnya.
“Apa hubungannya?” aku masih keberatan.
Dahi Kato mengerut jengkel. Dia lantas meraih tanganku dengan paksa. Di luar dugaan, tenaga Kato luar biasa kuat. Aku bahkan tidak bisa melepaskan tanganku dari genggamannya.
“Ayo!” serunya.
Kami lantas berlari atau lebih tepatnya, Kato menyeretku. Kemudian, sesuatu yang tidak masuk terjadi. Pergerakan dunia sekitarku menjadi sangat lambat. Semua benda termasuk kendaraan dan manusia ikut melambat. Hanya kami berdua yang bergerak secara normal.
“Kenapa Na? Kamu kaget?” tanya Kato seolah membaca kebingunganku.
Aku dibuat tidak bisa berkata-kata.
“Mau nyoba yang lebih seru gak?!” teriaknya.
Kato tiba-tiba berhenti dan berbalik. Aku yang tidak siap, mau tidak mau aku menabraknya. Namun, dia dengan sigap menangkap dan “melemparkan” tubuhku ke langit. Ya, kamu tidak salah membaca. Gadis itu benar-benar bisa melemparkanku ke udara bebas beberapa puluh meter dari atas tanah.
__ADS_1
“AAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH” teriakku sambil memejamkan mata. “AKU GAK MAU MATI!”
“Kenapa panik? Kamu gak bakalan mati kok! Tenang aja, ada Kato di sini!” Kato menyusul terbang sambil tertawa.
Tangannya meraihku dan di saat itulah kurasakan laju jatuhku melambat.
“Nah Nana! Buka matamu dan lihat pemandangannya!” ujarnya.
Kuberanikan diriku untuk membuka mata. Perlahan tapi pasti, kulihat cahaya gemerlapan terhampar. Benar-benar indah. Aku tidak pernah mengira kalau pemandangan kota dari ketinggian sangatlah menakjubkan. Aku merasa seperti sedang memandangi gugusan bintang.
Kato menangkap tubuhku. Kemudian, kami mendarat di tanah dengan mulus.
“Itu luar biasa! Bagaimana kamu ngelakuin semua itu, Kato?” ujarku antusias.
“Aku jelasin nanti. Ayo kita makan dulu!” tunjukkan pada sebuah lapak kaki lima tak jauh dari tempat kami sekarang. Anehnya tidak ada penjual lain selain lapak mie ayam itu. Ditambah lingkungan sekitar lumayan gelap dan sangat sepi karena berada di komplek ruko tua yang agak jauh dari jalan raya.
Kato memimpin jalan.
“Met malem, Pak Jarwo!” sapa Kato pada si penjual.
“Met malem juga, Kato. Tumben gak sendirian, pacarmu ya?” sahut si penjual sambil berbasa-basi.
“Pak Jarwo bisa aja. Mana mungkin aku pacaran sama cowok ini! Pak Jarwo tahu sendiri kalau aku sukanya om-om berduit!” sanggah Kato.
Mereka berdua kompak menertawakan lelucon barusan.
Kami memasuki tenda dan duduk lesehan. Pak Jarwo datang sambil membawakan dua gelas teh manis hangat.
“Jadi mau pesen apa mas mbak?” tanya si penjual.
“Tunggu dulu, pak!” sela Kato. “Aku belum ngasih tahu temenku ini apa istimewanya mie ayam di sini!”
Kato mencengkeram pundakku.
“Dengerin aku, Na. Mie Ayam buatan pak Jarwo ini enak pake banget, dan aku yakin kamu bakal ketagihan. Kamu bisa pesan porsi kecil, sedang, sampe besar. Tapi ... sebagai orang yang udah pengalaman, aku saranin kamu untuk pesan porsi jumbo!” tuturnya dengan serius.
Aku menggeleng tidak setuju.
“Maaf Kato. Tapi, aku gak bisa makan porsi jum ...”
“Pak Jarwo! Porsi Jumbonya dua ya!” potong si gadis gothic.
“Siap laksanakan!” sahut si penjual yang langsung sigap menyiapkan pesanan.
“Maaf pak! Saya gak pesan prosi jumbo.” Aku beranjak berdiri untuk menghampiri pak Jarwo.
Tiba-tiba si Kato “menyerangku”. Dia dengan mudah menarik bajuku sampai aku terjatuh ke belakang. Lalu, tanpa segan, dia mencekik leherku. Tentu saja aku meronta, tapi aku kalah kuat.
“Pokoknya kamu harus makan yang porsi jumbo! Titik!” Dia memaksa.
“Iya-iya aku ngerti!” kataku memelas.
Kato lantas melepasku. “Kamu gak akan nyesel kok. Percaya sama aku!”
Akhirnya, aku tidak punya pilihan selain mengikuti kemauannya. Dasar gadis sialan. Tak lama berselang, pak Jarwo kembali bersama dua mangkuk besar mie ayam.
“Selamat makan!” ucap Kato.
“Selamat makan,” sahutku.
Ketika suapan pertama masuk ke mulutku, aku kehilangan kata-kata. Aku belum pernah merasakan mie ayam selezat ini. Dari sekian banyak mie ayam, ini adalah yang terenak. Tak perlu waktu lama, satu porsi jumbo mie ayam habis kutandaskan.
“Tuh kan abis. Enak kan?” goda Kato.
“Ya lumayan, aku suka.” Kato ada benarnya juga. Aku tidak menyesal memesan porsi jumbo.
Kuambil sebatang rokok lalu menyalakannya. Tidak ada yang bisa menggantikan sensasi merokok setelah makan.
“Setelah ini kita kemana?” tanyaku.
“Ke mana ya enaknya, gimana kalau ke cafenet? Bisa mabar Talorant kita! Gini-gini aku jago lho main gituan!” ujarnya sambil menyombongkan diri.
Talorant ya. Kali ini aku akan membalas perbuatannya. Lihat saja nanti.
“Oke, kita ke cafe net habis ini!” kataku.
Kato mengacungkan jempolnya.
__ADS_1