
Sebelum Kato sempat mengatakan syarat kedua, mendadak kami kedatangan tamu. Seorang laki-laki berpenampilan mentereng tiba-tiba mendatangi meja kami. Dia mengenakan pakaian dengan gaya ala peaky blinders lengkap dengan topi dan aksesoris lainnya. Aku tak habis pikir kenapa ada orang yang suka berpakaian meniru aktor film.
Laki-laki itu lantas menyapa Kato dengan ramah.
“Selamat malam, Kato. Senang bisa ketemu kamu di sini. Kelihatannya kamu sedang asyik main kartu sama temanmu ya. Boleh aku join?”
Kato pasti mengenal orang ini, tapi kurasa hubungan mereka sangat buruk.
“Iya, aku lagi asyik sama temanku di sini. Bisa kamu pergi, Niko?! Kamu ngerusak pemandangan. Hush-hush pergi sana!” Kato berusaha mengusir laki-laki itu.
“Astaga, kata-katamu jahat banget, Kato. Padahal aku sengaja cari-cari kamu sampai sini lho. Masa kamu mau main usir begitu aja?” kata Niko dibumbui kekagetan palsu.
“Dia siapa, Kato?” tanyaku.
Kato melirik orang itu sebentar. “Dia Niko. Dia ...”
“Calon tunangannya Kato. Salam kenal,” potong Niko.
“Bukan!” timpal Kato cepat-cepat. “NIKO!”
Niko tersenyum, menampakkan lesung pipit di kedua pipinya. Dia mungkin merasa puas karena telah berhasil menyulut amarah Kato.
Untuk seukuran laki-laki, Niko benar-benar sosok yang menawan. Dia punya hidung yang mancung, matanya cerah, dan wajahnya tampak bersahaja. Selain itu, dia juga punya tubuh yang bagus: tinggi dan cukup berotot.
Niko merogoh saku jasnya. Kemudian, duduk bertopangkan lutut. Di tangannya, kini, ada sebuah kotak cincin berbentuk hati. Perlahan dia membuka kotak tersebut, menampakkan dua cincin di dalamnya.
“Seperti malam-malam sebelumnya. Aku, Niko Kuro ingin melamarmu, Dewiku Kato Wito. Aku mencintaimu. Will you marry me?”
Perbuatannya otomatis memancing perhatian banyak orang. Ada yang menonton, memotret, dan merekam dengan gawai.
Kato menghela nafas. Kekesalan terukir jelas di wajahnya.
“Ini sudah yang ke-sekian kali kamu melamarku, Niko. Kapan kamu mau nyerah? Berapa kali aku harus bilang kalau aku gak akan pernah bisa nerima kamu. Apa telingamu itu tuli? Cepat-cepat ke dokter THT ya,” ujar Kato dengan sarkasme yang kental.
Niko menutup kotaknya kembali lalu berdiri seraya membersihkan pakaiannya yang terkena debu. Dia tampak tidak terguncang sama sekali. Justru sebaliknya, Niko malah terlihat lebih percaya diri. Dia dengan lantang mengatakan bahwa dia akan terus melamar Kato sampai hati gadis itu luluh.
Mengganggu sekali.
Di luar dugaan, Kato langsung bangkit lalu menampar laki-laki itu cukup keras. Niko seketika terdiam. Dia mungkin terkejut tidak mengira Kato akan menamparnya.
“Moga kamu ngerti, Niko. Jangan buang-buang waktumu untuk hal bodoh. Sampai kapan pun aku gak akan pernah jadi pasanganmu,” ujar Kato.
Niko tersenyum dan menggeleng pelan.
“Kamu nolak aku pasti karena mimpi siang bolong itu kan? Mau sampai kapan kamu berharap, Kato? Orang yang kamu tunggu itu tidak akan pernah datang. Bisa jadi dia sudah punya kekasih, atau mungkin dia sudah mati. Dari pada kamu menunggu yang tidak pasti, ada aku yang selalu ada ...” oceh Niko.
Laki-laki itu sudah gila. Kudapati tangan Kato mengepal. Dia siap ******* Niko. Mengingat Kato memiliki kekuatan sebagai manujagala, dampak pukulannya bisa mematikan. Maka sebelum jatuh korban, aku segera menengahi mereka.
“Maaf, Niko. Kami pergi dulu,” kataku singkat saja.
Kato dan aku bergegas meninggalkan restoran.
Aku membawa Kato menuju bangku jalan yang cukup jauh dari Mall. Pandangan matanya turun dan wajahnya murung sekali. Tak lama berselang, tangis Kato pecah tanpa sebab. Dia terisak-isak sambil menyebut Niko orang yang bodoh.
__ADS_1
Setelah mbak Anna, kini aku melihat Kato menangis.
Butuh waktu beberapa menit bagi Kato untuk kembali tenang.
“Niko gobl*k!” umpatnya dengan sisa-sisa air mata.
“Butuh minum?” kataku menawarinya air mineral yang kubeli dari pedagang asongan.
“Makasih, Na.” Kato menerimanya.
Aku menduga kalai Kato mulai goyah setelah Niko mengungkit soal “orang yang Kato tunggu”. Aku tahu sebaiknya aku tidak ikut campur di hidup orang lain. Namun, aku merasa sedikit penasaran juga.
“Tadi Niko bahas soal orang tuamu ya?” tanyaku.
“Bukan.” Kato menggeleng.
“Dia itu orang yang istimewa, baik, dan juga cinta pertamaku. Aku ingin ketemu orang itu lagi.” Matanya menerawang jauh.
“Sekarang dia ada di mana?” kejarku.
“Aku gak tahu. Aku lupa,” jawabnya.
Kemudian, Kato memintaku untuk mengantarnya pulang. Aku pun mengiyakannya. Sepanjang perjalanan, dia tidak bicara apa-apa. Hening. Namun, aku tahu bahwa gadis ini tengah sibuk dengan pikirannya sendiri saat ini.
Aku mengantarnya sampai pintu masuk apartemen. Dia berterima kasih dan segera masuk. Namun, ketika aku berbalik. Tanda kuduga, Kato kembali dan memelukku dari belakang.
Gadis ini benar-benar tidak tahu batasan ya.
“Anu ... Kato? Asal main peluk itu gak boleh tahu!” tegurku.
Baiklah, aku menyerah. Lamat-lamat kudengar Kato menggumamkan sesuatu. Suaranya terlalu rendah sehingga aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Kurasa itu bukan hal yang penting, mungkin.
Dia melepasku dan langsung berlari masuk. Gadis yang aneh.
Kurasa malam ini, aku tidak punya pilihan selain pulang ke kos. Itu berarti aku akan terjaga setengah bosan sampai fajar.
Aku sampai di kos tepat pukul 12 malam. Masih ada beberapa jam sampai fajar. Kuparkirkan motorku di halaman lalu naik ke lantai dua tempat kamarku berada. Ketika kukuakkan pintu, aku terkejut mendapati kamarku sudah seperti kapal pecah. Isi lemari berhamburan dan buku-buku di rak berserakan di lantai.
Tak hanya itu, di dinding tertulis dengan spidol hitam, sebuah tulisan bernada ancaman. Seseorang yang menuliskannya sudah pasti si pelaku. Namun, bagaimana cara dia berhasil masuk ke dalam, sedangkan pintu terkunci. Terlebih, aku tidak menemukan tanda-tanda kerusakan pada pintu.
Aku menggaruk belakang kepalaku. Aku sedang tidak mood untuk menerka-nerka identitas si pelaku. Belum lagi, aku sudah cukup lelah hari ini. Aku ingin duduk-duduk malas di dalam kos yang sempit ini.
Kunyalakan kipas angin dan segera membereskan kekacauan.
Sewaktu sedang merapikan buku yang tercecer, kutemukan dua lembar foto yang terselip di buku harian lamaku. Aku memiliki diary itu sejak masuk SMP dan habis kutulisi ketika kelulusan kelas 3. Setelahnya, buku ini menjadi pajangan saja. Aku bahkan sampai lupa pernah menaruh foto di dalamnya.
Foto pertama adalah foto kenangan kelas saat kelulusan. Samar-samar aku ingat bagaimana foto itu diambil beberapa tahun lalu. Itu momen yang cukup indah. Sedangkan, di foto kedua, tampak aku tengah berpose bersama temanku, Shima. Kami tersenyum lebar sembari berpose ala-ala anak metal.
Shima dan aku adalah teman masa kecil. Kami sekolah di sekolah yang sama sejak TK hingga SMP. Sayangnya, kami masuk SMA yang berbeda dan tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang. Aku penasaran bagaimana kabar gadis itu sekarang.
Saat hendak menaruhnya ke album, sudut mataku menangkap suatu kejanggalan pada foto itu. Kutarik kursi lalu menyalakan lampu belajar. Kuperhatikan kembali foto itu dengan lebih teliti. Benar saja, ada kejanggalan pada proporsi objek di dalamnya.
Foto kedua berformat landscape dengan latar tembok mading. Aku berpose tepat di tengah frame, sedangkan Shima ada di sebelah kiriku. Hal itu membuat seolah objek di dalamnya “berat sebelah”. Mengapa fotografer tidak memotret kami tepat di tengah frame waktu itu.
__ADS_1
Aku berusaha mengingat kembali bagaimana foto itu diambil, tapi ingatanku berkabut. Tidak ada satu pun memori di kepalaku yang memutarkan kenangan itu. Tidak mungkin aku melupakannya kan?
Kupandangi foto tersebut lamat-lamat.
“Kenapa aku tidak bisa ingat ya.” Aku bergumam sendiri.
Dua hari kemudian ...,
Hari yang tidak kutunggu akhirnya tiba. Ayam berkokok tanda mentari pagi telah tiba. Aku duduk bersandar ke tembok kos. Kepalaku terasa berat dan bajuku basah oleh keringat. Semalaman ini aku sama sekali tidak bisa tidur karena mimpi buruk. Mimpi yang sama yang selalu datang ketika aku memejamkan mata.
Segera aku bangkit berdiri dan meregangkan badan.
Hari ini, tanggal 18 Juli adalah hari ulang tahun Nika dan Niki.
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Terlihat jelas di permukaannya, wajah lelah dari seorang laki-laki yang masuk fase quarter life. Matanya berkantung; dan rambutnya berantakan.
Mendadak, gawaiku berdering. Satu panggilan dari nomor asing.
“Halo?” ujarku.
“Halo?! Ini Nana kan?” ujar seorang perempuan di ujung sana.
“Ya, ini siapa?” tanyaku.
“Shima Tribuana Tunggadewi! Masih ingat aku?” jawabnya.
“Shima?! Ini Shima yang dulu pernah nembak kakak kelas pas SMP itu bukan?” tanyaku lagi.
“JANGAN DIUNGKIT LAGI! PLIS! Aku malu banget tiap kali ingat kelakuanku sendiri,” katanya.
Kami lantas tertawa. Suasana cair dengan cepat. Kami saling bertanya kabar dan sedikit bercerita tentang kesibukan masing-masing. Aku sedikit tidak percaya karena aku bisa berbicara lagi dengan sahabatku yang satu ini. Sebuah kebetulan yang ajaib.
Shima bilang bahwa dia akan mengunjungi kota tempatku tinggal untuk urusan mendesak. Namun, dia tidak menjelaskan kepentingan apa yang mengharuskannya datang kemari. Dia hanya memintaku untuk menjemputnya di stasiun beberapa hari lagi dan menemaninya berkeliling kota pelajar.
Aku langsung mengiyakan, tanpa bertanya lagi. Sayangnya, tidak banyak yang bisa kami bicarakan di sambungan telepon, maka kami menyudahi percakapan itu.
Lupakan dulu soal Shima. Hari ini aku punya agenda yang jauh lebih penting. Sebuah kotak merah mungil bertengger di atas meja. Hadiah untuk Nika-Niki. Kuharap si kembar suka dengan hadiah yang kuberikan.
Aku tiba setengah jam lebih awal di hotel tempat pesta ulang tahun berlangsung. Khusus untuk hari ini, aku mengenakan pakaian terbaikku; satu set jas lengkap dengan dasi, kemeja, dan celana kain. Menurutku, busana ini yang paling aman walau aku terlihat seperti pekerja kantoran sih.
Saat memasuki lobi hotel, kutunjukkan surat undangan di meja penerimaan tamu. Sadar bahwa di amplopku tertulis VIP Invitation, salah seorang pegawai hotel dengan segera memandu jalanku menuju ruang khusus tamu VIP.
“Acara akan dimulai setengah jam lagi. Jadi silakan menunggu di ruangan ini.” si pemandu membukakan sebuah pintu yang dibaliknya terdapat sebuah ruangan berisi fasilitas khusus dan meja jamuan.
Si pemandu lekas pamit.
Di ruangan itu, aku tidak sendirian, ada empat tamu lain. Mereka semua asyik berbincang satu sama lain sembari menikmati jamuan yang tersedia. Kelihatannya mereka adalah satu keluarga; kulihat ada ayah, ibu, dan dua orang anak; satu remaja laki-laki, satu perempuan dewasa muda.
Aku masuk lalu duduk di kursi yang jauh dari keluarga itu. Tak lama berselang, kegaduhan mereka meredup berganti dengan bisik-bisik. Anak tertua terlihat mencuri-curi pandang padaku.
Apa mungkin mereka sedang membicarakanku?
Siapa orang-orang itu?
__ADS_1
Kalau mereka juga tamu VIP, bisa jadi mereka punya hubungan kuat dengan Nazar. Aku mesti berhati-hati. Besar kemungkinan, apa pun yang direncanakan ayah tiriku itu berkaitan dengan orang-orang ini.