Menghabiskan Malam Bersamamu

Menghabiskan Malam Bersamamu
Potongan Masa Lalu


__ADS_3

Dua tukang pukul itu mengangguk patuh pada ibu. Mereka dengan sigap menangkap dan mengunci persendian lenganku. Rasanya sakit dan aku tidak bisa bergerak. Salah sedikit, persendianku bisa lepas.


“Oy lepas!” aku berontak.


“Kato! Bantu aku!” teriakku berharap Kato mau menolongku. Namun, tidak ada yang terjadi.


Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Namun, tidak kutemukan sosok gadis itu di mana pun. Dia mungkin sudah kabur entah ke mana. Pada akhirnya, Kato sekalipun akan mementingkan dirinya sendiri. Sedari awal aku memang tidak mempercayainya.


“Gak usah berontak!” bentak salah satu dari mereka seraya menyeretku dengan mudah.


Aku sudah pasti tidak akan bisa menang melawan dua tukang pukul ini.  Dari postur hingga bobot tubuh pun aku sudah kalah. Aku sudah babak belur tadi pagi, aku tidak mau lagi dipukuli. Aku berpaling pada ibu, berharap dia menarik perintahnya.


“Ibu! Aku ini anak ibu! Apa Ibu tega?” teriakku pada wanita itu.


Dia masih terlihat sama sejak terakhir kali aku melihatnya lima tahun lalu. Dia masih senang mengenakan kaus yang dibalut jaket berbulu dan celana jeans. Hal yang berubah darinya hanyalah gaya rambutnya yang kini dipangkas sebahu dan garis usia di wajahnya.


Sayang, harapanku pupus. Ibu sama sekali tidak menghiraukanku dan malah berbalik pulang. Hatiku mencelus sedih. Seharusnya, aku tahu kalau ibu memang begitu. Dari dulu, sikapnya tidak pernah berubah.


Dua body guard itu membawaku ke tempat yang agak remang-remang dan sepi. Sebuah lahan kosong yang terletak tak jauh dari alun-alun. Satu-satunya penerangan di sini hanyalah lampu jalan yang sekarat.


“Bang Dwiki, ini mau langsung kita sikat aja?” ujar salah satu dari mereka.


Jantungku berdebar memompa adrenalin. Di sisi lain, aku sedang memikirkan siasat demi bisa meloloskan diri. Jika tidak bisa menang lewat adu pukul, aku masih punya cara lain. Aku akan membujuk mereka dengan uang.


Aku tahu betul menyuap bukan hal bagus, tapi setidaknya aku bisa mengulur waktu. Namun, sebelum aku sempat berbicara. Salah seorang tukang pukul yang dipanggil Dwiki menyahut.


“Gak usah! Kita lepas di sini saja!” jawab Dwiki.


“Kok begitu sih, Bang? Kalau bu Bos nanti tanya kita bagaimana?”


“Kamu tenang saja Dirga. Aku yang tanggung jawab. Kamu balik duluan sana!” perintah Dwiki dengan nada tinggi.


Dirga hanya bisa mengangguk patuh. Dia terlihat penurut, mungkin saja karena Dwiki adalah seniornya.


“Oke Bang. Aku pergi duluan.” Dirga bergegas pergi.


Kemudian, tinggal aku dan Dwiki. Dia lalu melepaskanku dan meminta maaf karena sudah bertindak kasar. Dia berdalih melakukan semua itu untuk mengelabui ibuku dan tukang pukul lainnya.


Selanjutnya, dia mengaku menerima perintah rahasia dari atasannya yang tak lain adalah ayah tiriku, sekaligus ayah kandung Nika & Niki. Itu berarti, Dwiki dari awal sudah tahu siapa aku.


“Saya ada pesan dari pak Nazar untuk mas Nana,” katanya seraya merogoh saku lalu menyerahkan sebuah amplop hitam.


Di amplop tersebut tercetak rangkaian tiga huruf disertai sebuah kata: VIP Invitation.


“Pesannya ada di dalam. Kalau begitu, saya pamit.” Dia lantas pergi.


Kubuka amplop itu lalu membaca isi surat di dalamnya. Kubaca dari paragraf pertama sampai akhir. Kulipat kembali pesan tersebut lalu menyelipkannya di saku celana. Kuhirup nafas dalam-dalam lalu berteriak kencang.


Tua bangka itu benar-benar tahu cara menjahiliku. Sikapnya memang tidak seburuk ibu, tapi aku sama sekali tidak menyukainya. Kalau sudah begini, mau tidak mau aku harus datang. Di dalam surat itu, dia mengancam akan menjegal penjualan novelku jika aku tidak hadir di pesta ulang tahun Nika dan Niki.


“Kamu kenapa teriak?” ujar Kato yang entah muncul dari mana.


Aku meliriknya sinis. Berani sekali dia menampakkan diri setelah diam-diam pergi.


“Bukan urusanmu. Kamu dari mana aja? Bukannya tadi kamu kabur?” kataku sedikit sinis.


“Aku? Kabur? Jangan asal nuduh!” Dia menoyor kepalaku. “Dari tadi aku di sini ngikutin kamu. Lihat ini.”


Kato menjentikkan jarinya. Dalam sekejap, dia menghilang dari pandanganku. Kemudian, dia muncul kembali.


“Udah ngerti sekarang? Ini namanya ajian akasha mohana. Aku bisa menghilang dari pandangan mata.”


Aku melongo karena terkejut. Satu lagi hal di luar nalar yang Kato perlihatkan.


“Intinya kamu jadi tembus pandang?” kataku.


“Bukan! Ini lebih mirip mengalihkan fokus orang lain ke tempat lain. Aku tetap di sini, tapi otak kamu gak bisa nangkep keberadaan aku di mana,” ungkapnya.


“Jadi kamu nggak kabur?” tanyaku sekali lagi.


“Enggak,” jawabnya singkat.


“Kenapa? Apa alasannya?” aku menembaknya dengan rentetan pertanyaan.


“Aku mana bisa ninggalin kamu lah. Kamu orang baik, Na. Aku gak mungkin bodo amat sama orang yang udah ngasih aku PS5 Cuma-cuma,” jelasnya seraya menunjukkan kotak PS5 di tangannya..

__ADS_1


Aku memijat dahiku. Tak habis pikir dengan jawabannya. Bukan karena kesal, tapi karena alasan yang lain.


Aku meminta maaf pada Kato karena sudah menuduhnya.


“Udahlah gak apa-apa. By the way, aku laper. Cari makan yuk!” ajaknya.


Aku bernafas lega. “Mau burger? Aku yang traktir.”


Dia mengangguk.


Kato mengajakku untuk mendatangi sebuah restoran siap saji yang buka di mall Malioboro. Aku sempat menyarankan tempat lain yang lebih dekat, tapi Kato bersikeras. Dia bilang ingin sekalian menyusuri jalan Malioboro bersamaku.


“Mau sambil pegangan tangan?” dia menawarkan diri.


Aku merasa dia sedang mempermainkanku.


“Candaanmu jelek, Kato!” kataku.


Dia tertawa. “Ah gak asyik! Padahal jarang-jarang loh kamu bisa pegang tangan cewe cantik kayak aku.”


“Maaf gak minat,” kataku lantas berjalan lebih dulu sedang Kato mengikuti dari belakang.


Malioboro ramai seperti biasanya. Orang-orang sibuk menikmati suasana malam yang ditawarkan oleh jalan penuh sejarah ini. Ada yang duduk bermesraan, sekadar jalan-jalan tanpa tujuan, atau sekadar berswafoto.


Lebih jauh berjalan, kudapati pula pertunjukan sanggar seni yang menampilkan permainan alat musik dan tarian. Mereka sudah biasa tampil di Malioboro hampir setiap malam. Oleh karena itu, sanggar seni itu menjadi ikon hiburan tersendiri bagi para pelancong.


Dari tempatku berdiri, berdiri megah bangunan hotel yang dimaksud oleh Niki. Jika pesta ulang tahun si kembar diadakan di sana itu berarti mereka juga menginap di hotel itu. Bayangan wajah ibu melintas di benakku.


“Malah ngelamun. Lagi mikirin apa?” Kato menepuk bahuku. Lamunanku buyar.


“Bukan apa-apa.” Aku lanjut berjalan.


“Apa kamu masih kepikiran soal ibumu?” kata Kato.


Langkahku terhenti. Kenangan dari masa lalu hilang-muncul di pelupuk mata.


Dalam ingatanku, ibu bukanlah sosok yang lembut. Dia adalah orang dengan karakter yang keras dan kasar. Aku bahkan pernah ditenggelamkan ke bak mandi olehnya.


Setelah Nika dan Niki lahir, sifat ibu berubah. Dia seakan menjadi orang yang berbeda. Dia benar-benar merawat si kembar dengan penuh kasih sayang. Tidak ada makian, bentakan, atau amarah yang meledak-ledak. Namun, itu tidak berlaku untukku.


“Bisa kita beli burger sekarang, Kato?” kataku untuk mengalihkan pembicaraan.


Gadis itu terhenyak. Dia tampaknya menyadari perubahan pada nada bicaraku barusan. Apakah Kato merasakan kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan di dalam kata-kataku? Aku tidak tahu. Dia lantas mengangguk lalu memimpin jalan menuju gerai makanan cepat saji.


Kato memintaku untuk mencari tempat sementara dia memesan makanan. Maka, aku memilih tempat duduk di dekat jendela. Pemandangan keramaian jalan Malioboro dapat terlihat dari sini dengan jelas.


“Maaf lama.” Kato datang bersama dengan dua paket burger delux.


Aku mengangguk.


Kuambil burger lalu menggigitnya dengan satu gigitan besar. Rasanya enak, kurasa aku bisa menghabiskan ini dalam sekejap. Namun, kudapati Kato masih diam saja tidak menyentuh makanannya. Pandangan matanya sedikit turun.


“Kenapa gak makan?” tanyaku.


Mata kami bertemu.


“Aku minta maaf. Aku ngerasa kata-kataku tadi udah kelewatan,” katanya.


Kuletakkan burgerku di piring lalu duduk menyender.


“Gak apa-apa, Kato. Aku sama sekali gak tersinggung kok. Aku akui dia memang punya sikap yang jelek. Jadi, gak usah dimasukkan hati ya,” kataku.


Kato mengangguk lalu menyantap burgernya. Namun, tetap saja terasa ada yang mengganjal di antara kami. Kudapati Kato masih mencuri-curi pandang padaku.


“Ada apa? Kamu penasaran kenapa ibuku bisa se-jahat itu?” tanyaku.


Dia menggeleng dan segera memperbaiki sikap. “Enggak juga. Aku ini orang asing. Aku gak berhak tanya soal masalahmu kan?”


Penasaran dengan hidup orang lain adalah kewajaran. Hanya saja, terlalu kurang ajar jika sampai kepo—terlalu penasaran hingga mengganggu. Di sini, Kato menyadari posisinya sebagai orang asing. Dia memilih menahan mulutnya untuk bertanya demi menjaga perasaanku.


Bukan sekali dua aku bertemu orang asing. Tiap kali bertemu mereka, aku merasa takut dan cemas. Namun, saat bersama Kato, aku tidak terlalu merasa begitu. Justru aku merasa seakan bertemu teman lama. Kami saling mengerti dan ada di satu frekwensi yang sama.


“Kato ... Gimana kalau kita temenan?” kataku.


“Kita? Temenan? Kamu yakin?” sahutnya.

__ADS_1


“Iya,” jawabku mantap.


Kato menatap sekitar.


“Anu ... Nana. Aku sama sekali gak keberatan sih Cuma ... kamu harus tahu kalau aku ini bukan manusia loh. Kamu udah lihat sendiri kalau aku ini gak normal. Aku ini Manujagala—setengah siluman.” Dia bicara serius.


“Terus? Apa masalahnya? Aku gak peduli kamu siluman atau bukan. Aku Cuma ngerasa kalau aku bisa temenan sama kamu pasti asyik,” kataku.


Kato tampak terkesiap mendengar ucapanku. Namun, ada senyuman tipis di bibirnya.


“Dari dulu kamu gak berubah sama sekali ya Na.” Gumamnya dengan suara kecil. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


“Tadi kamu bilang apa?” tanyaku.


“Bukan apa-apa. Kalo begitu, ayo kita berteman. Siap-siap aja karena aku bakalan sering recoki kamu tiap hari.” Dia mengajakku untuk berjabat tangan.


Kusambut uluran tangannya. “Gak masalah.”


Aku dan Kato berada di sana cukup lama. Selain karena kami malas pindah tempat, juga karena Kato dia menantangku untuk main UNO. Salah satu permainan kartu yang populer di kalangan anak muda.


“Ayo kita taruhan! Kita main 5 ronde. Yang kalah harus ngabulin satu permintaan dari yang menang. Deal?” Kato membagikan kartu.


“Deal!” Lubang hidungku kembang kempis saking bersemangatnya.


“Do you ready to lose, Nana?” katanya.


Kuraih kartu bagianku dan mulai mengatur strategi. Kato baru saja menggali kuburannya sendiri. Dia tidak tahu telah menantang siapa.


“Hei Kato. Asal kamu tahu, aku ini gak pernah kalah main UNO. Siap-siap nangis di pojokkan.” Api persaingan menyala di mataku.


Ronde demi ronde berlalu dan aku selalu jadi pemenangnya. Di ronde terakhir aku menghajar Kato dengan telak. Dia menatap nanar tumpukan kartu di meja. Tumpukkan stres tampak jelas di mukanya.


“Kok bisa sih?!” dia menggebrak meja.


“Kan sudah kubilang. Aku gak pernah kalah main UNO.” Aku menyombongkan diri.


“Jahat banget ih! Sekali-kali kasih aku menang kek.” Dia membuang muka.


“Taruhan ya taruhan. Jadi boleh kan aku minta sesuatu?” kataku.


Kato membuang nafas pasrah.


“Ya sudah kamu mau minta apa? Jangan yang aneh-aneh!” katanya.


Kurogoh saku belakangku untuk mengambil surat yang diberikan Dwiki sebelumnya. Aku mengeluarkan surat itu dan menunjukkannya pada Kato. Dia membaca isinya dengan cermat. Raut wajahnya berubah bingung dan penasaran.


Setelah selesai membaca, Kato mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata penuh pertanyaan. “Ini surat undangan pesta `kan? Ini dari siapa?”


“Ayah tiriku. Dia bajingan yang suka mengancam. Aku dipaksa hadir di pesta ulang tahun adikku.” Kuteguk tetes terakhir soda di gelas.


“Besok. Aku dan kamu. Kita sama-sama hadir di pesta ulang tahun adikku. Kamu bisa kan?” sambungku.


“HAH? Gak bisa! Aku gak mau.” Dia menolak.


“Jadi ... kamu mau ingkar janji? Katanya tadi yang kalah harus ngikutin kemauan yang menang,” sindirku.


“Tapi, gak gini juga! Aku belum pernah hadir ke acara yang mewah. Aku gak tahu sopan-santun di keluargamu juga. Intinya, aku takut malah bikin kamu malu,” jelasnya.


Aku berpikir sejenak.


“Kato. Kamu bilang kalau kamu itu setengah siluman kan? Apa namanya tadi? Manujagala?” kataku.


“Iya itu. Emangnya kenapa?”


“Kamu bisa berubah wujud gak?” tanyaku.


Kato menyipitkan matanya. Dia sepertinya sadar ke mana pembicaraan kami mengarah. Kemudian, kubisikkan rencanaku padanya. Air mukanya seketika berubah kecut.


“Nana. Sebenarnya, aku gak suka ide kamu barusan. Aku akan setuju, tapi dengan dua syarat,” ujarnya.


“Oke, apa saja syaratnya?” kataku.


“Yang pertama: aku bukan hewan peliharaan. Jadi tetap anggap aku manusia,” jelasnya.


“Terus yang kedua apa?” kataku.

__ADS_1


Kato melirik jaket yang kukenakan.


__ADS_2