Menghabiskan Malam Bersamamu

Menghabiskan Malam Bersamamu
Cafe Net dan Apartemen


__ADS_3

Aku menyesal karena mengiyakan ajakan Kato untuk bermain Talorant. Dia berulang kali mempermalukanku dengan memperoleh peringkat teratas di setiap match. Kato bahkan sempat mendapatkan ACE. Sebagai pemain lama Talorant, aku merasa harga diriku sedikit tercoreng dan sebagai laki-laki, aku merasa minder.


“Hore! TOP PAGE lagi!” serunya. “Victory is mine!”


Jam di pojok kanan layar PC menunjukkan pukul dua dini hari. Waktu jadi terasa singkat ketika bermain game online. Punggungku terasa kaku dan tenggorokanku kering. Kurasa aku harus beristirahat sebentar. Kutaruh mouse lalu beranjak berdiri.


“Mau kemana?” tanya Kato.


“Beli minum. Mau ikut?” jawabku.


“Gak mau. Tapi aku titip minuman ya. Sekalian beliin. Aku mau lanjut main solo bentar,” katanya.


“Oke!” sanggupku.


Bagian market ada di lantai satu, jadi tidak butuh waktu lama untuk membelinya. Dalam waktu lima menit, aku sudah kembali dengan dua botol soda di tanganku. Sementara itu, Kato masih berkutat dengan permainannya.


“Ini!” kataku seraya menyerahkan satu botol pada Kato.


“Thankyou! Simpen aja di meja. Aku lagi sibuk!” sahutnya.


Kuakui bahwa Kato memang punya skill bermain Talorant di atas rata-rata. Dia bisa memaksimalkan potensi setiap karakter yang dia mainkan. Selain itu, kemampuannya dalam memprediksi pergerakan musuh membuatku bergidik ngeri.


Tak lama kemudian, match berakhir. Kato kembali memenangkannya.


“Capek!” ujarnya.


“Kamu sering main Talorant, Kato?” tanyaku.


“Enggak juga. Aku main pas pengen saja sih.” Kato meraih botol soda di meja. “Tapi ... Kamu juga lumayan jago, Na. Tapi tetep masih lebih jago aku sih.”


Kato tertawa mengejek.


Aku menatapnya sinis.


“Wah! Udah jam setengah tiga, kita lanjut ke tempat lain yuk!” ajaknya.


Aku mengiyakan ajakan Kato.


Setelah mematikan PC, kami lantas turun ke bawah. Sama halnya dengan lantai dua, di lantai satu sudah tidak ada komputer yang menyala. Suasananya cukup sunyi, hanya bunyi rak pendingin yang masih terdengar. Selain itu, sudah tidak ada orang di setiap kubikel yang tersedia. Satu-satunya orang di sini adalah si operator cafe net yang tidur dengan pose aneh.


“Lihat! Mas-mas itu tidurnya lucu!” tunjuk Kato pada mas Operator yang ketiduran dengan posisi bertopang dagu.


Ngomong-ngomong soal tidur, aku merasa lumayan mengantuk sekarang. Aku menguap lebar.


“Ayo Na!” ujar Kato seraya membuka pintu keluar.


Fajar akan segera terbit, tapi gadis ini masih mau mengajakku ke berkeliling. Ini sudah hampir jam 3 pagi. Malam akan segera berakhir. Aku tidak bisa memikirkan alasan lain untuk tetap bersama Kato.


“Kita mau ke mana?” tanyaku.


Kato berbalik menghadapku. Dia tersenyum lalu menyentuhkan jari telunjuknya ke bibir.


“Rahasia.”


Kakiku berjalan mengikuti tiap langkah Kato dengan sendirinya. Melihatnya dari belakang mengingatkanku pada seseorang di masa lalu. Baik orang itu maupun Kato, mereka sama-sama memiliki rambut hitam panjang. Sayangnya, itu adalah bagian dari kenangan yang sama sekali tidak ingin kuingat.


“Na, gimana menurutmu tadi? Asyik kan main Talorant?” katanya.


“Lumayan,” jawabku singkat.


“Kok nada bicaramu kek orang sebel gitu? Malu ya di tiap match aku yang gendong?” dia menoleh sambil menyeringai.


“Malu? Enggak! Kenapa juga harus malu? Hari ini aku memang sengaja saja kasih kamu kesempatan. Aku Cuma belum serius aja,” dalihku.


Kato tertawa mendengar kebohonganku.


Kami terus berjalan menyusuri trotoar, sesekali berhenti ketika ada yang menarik minat Kato. Contohnya, seperti papan iklan yang menampilkan seorang pria mengendarai mobil; dan terdapat slogan: “pria punya selera”.


“Aneh ya, padahal ini iklan rokok, tapi gak ada unsur rokoknya. Mereka sebenarnya mau jualan apa? Jual rokok? Apa juga mobil?”  ujar Kato.


Kato ada benarnya juga. Iklan rokok memang membingungkan. Aku perokok, tapi aku tidak pernah merasa termotivasi untuk beli rokok gara-gara iklan begini.


Kami meneruskan perjalanan, melewati dua perempatan lalu berbelok ke jalan Nogotirto. Hingga akhirnya kami sampai di depan pintu gerbang sebuah gedung tingkat tiga. Kakiku lemas bukan main.


“Capek. Jadi, ini tempat apa?” kataku.

__ADS_1


“Ini apartemen, Nana. Aku tinggal di sini! Ayo masuk!” ucap Kato.


Aku melongo.


Apa-apaan gadis ini?! Kenapa dia malam membawaku ke rumahnya? Apa dia sudah tidak waras membawa laki-laki asing masuk? Bagaimana kalau aku tiba-tiba khilaf?


Bentar ...  kayaknya aku enggak mungkin bisa khilaf sih, soalnya mudah bagi Kato untuk menghajarku jika berani macam-macam. Selain itu, aku mengkhawatirkan pandangan masyarakat pada Kato nantinya. Dia seharusnya tidak melakukan hal ini.


“Maaf Kato, kayaknya aku gak bisa. Aku mending pulang aja!” aku buru-buru ambil langkah seribu.


Nahasnya, gadis itu berhasil menangkap dan menyeretku kembali.


“Ayo gak apa-apa. Kamu capek sama ngantuk kan? Ayo istirahat di apartemenku aja!” katanya.


Aku ingin menolak, tapi Kato tidak membiarkanku pergi. Aku sadar, aku tidak mungkin bisa kabur begitu saja darinya. Dia menarik-narik bajuku dengan kasar.


“Oke-oke! Tapi lepas dulu bajuku!” kataku.


“Gak! Nanti kamu kabur!” sergahnya.


“Tapi bajuku mau robek! Lihat! Aku janji gak akan lari!” kataku.


“Janji?” sahut Kato.


“Iya, janji!” kataku.


Akhirnya, dia mau melepas bajuku dan mau tidak mau aku harus mengekornya masuk ke dalam. Firasatku mengatakan bahwa Kato pasti merencanakan sesuatu. Siapa pun pasti akan berpikir sama seperti aku `kan?


Anehnya, instingku sama sekali tidak menangkap adanya sinyal bahaya. Walaupun begitu, aku harus tetap waspada dan siap untuk melarikan diri.


Kato memimpin jalan masuk ke Lobi apartemen. Kemudian, menaiki tangga alih-alih menggunakan lift.


“Apartemenku di lantai dua. Naik tangga dikit gak apa apa kan?” ujarnya.


Apartemen milik Kato berada dekat dengan tangga. Kato membuka pintu dan mempersilakanku masuk.


Ketika aku masuk, aku lumayan terkejut melihat penampakan isi apartemennya yang di luar ekspektasiku. Maksudku ... kukira tempat tinggalnya akan punya kesan ala-ala gothic, tapi  ternyata malah sangat normal.


“Anggap saja rumah sendiri. Aku ambil kasur lantai dulu ya. Kamu bisa duduk dulu di Sofa,” katanya lalu masuk ke ruangan lain.


Tunggu ... bukankah ini kesempatanku untuk kabur? Kato sedang sibuk di ruangan lain dan pintu belum dikunci. Aku buru-buru menuju pintu, akan tetapi aku teringat semua hal yang lakukan semalam. Jika Kato memang berniat mencelakakanku, dia pasti sudah melakukannya dari awal.


Sejujurnya, aku tidak merasakan adanya bahaya ketika bersama Kato. Entah karena instingku yang menumpul atau memang dia yang pandai bersandiwara. Celotehnya selama kami mengobrol terasa sangat alami dan semua ekspresinya pun tidak dibuat-buat.


Aku bimbang untuk beberapa saat.


“Boo!”


Aku terperanjat kaget ketika sesuatu menepuk pundakku.


“Melamun terus! Mikirin apa?” tanya Kato menegurku.


“Enggak, bukan apa-apa.” Aku berdalih.


“Itu kasurnya dah siap.” Kato menunjuk kasur di lantai. “Maaf ya, kamar di sini Cuma ada satu. Kamu gak apa-apa kan tidur di ruang tengah?”


Aku mengangguk.


“Kalau begitu, aku tinggal ya. Aku mau bersihin make up dulu. Met tidur,” ujarnya lalu masuk ke kamarnya, mungkin.


Dan begitulah.


Aku tidak jadi kabur dan malah berbaring di kasur lantai di apartemen milik seorang gadis yang baru kukenal. Untuk jaga-jaga, aku tidak akan memejamkan mata. Aku takut terjadi sesuatu selama aku terlelap. Namun, aku salah perhitungan dan berakhir tertidur.


Tak berselang lama, aku terbangun dalam kondisi berkeringat dingin dan jantungku berdetak cepat. Nafasku memburu seolah habis dikejar oleh sesuatu. Ditambah, kepalaku rasanya nyeri sekali.


Inilah alasan mengapa aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang dan berakhir insomnia. Aku tidak tahu sebabnya, tapi aku yakin pasti karena mimpi buruk. Namun, aku tidak pernah bisa mengingat isi mimpi yang kualami.


“Na? Ada apa?” Kato keluar dari kamarnya. Kali ini dia mengenakan baju kaus biasa yang dipadukan dengan celana olahraga. Dia sudah menghapus riasan di wajahnya.


Aku tidak menjawab. Aku masih mencoba menenangkan diri sembari memijat dahi. Kato lantas menghampiri dan duduk di sampingku.


“Apa kamu selalu kayak  gini, Na? Ngigau tiap malam?” tanya Kato.


“Bentar ... aku ngigau?” aku balik bertanya.

__ADS_1


Kato mengangguk. “Iya. Malahan kamu teriak. Makanya aku keluar kamar takut kamu kenapa-napa.”


Aku tidak tahu kalau aku juga mengigau.


“Maaf aku ganggu,” kataku.


“Enggak kok, Na. Mau cerita? Siapa tahu aku bisa bantu,” katanya.


Kemudian, aku menceritakan masalah tidurku pada Kato. Gadis itu mendengarkanku dengan penuh perhatian.


“Oh jadi begitu ... mau aku bantu?” ujarnya.


“Caranya?” kejarku.


Kato memintaku tidur membelakanginya. Dia juga memperingatkanku untuk tidak berbalik ataupun menoleh. Kalau aku melanggar, dia mengancam akan melemparku dari balkon. Aku yakin dia sedang bercanda soal ancaman barusan, tapi mari menurut saja.


Kemudian, kurasakan usapan lembut membelai punggungku. Rasanya sangat nyaman dan menenangkan. Usapan ini mengingatkanku pada seseorang di masa lalu. Aku benci untuk mengingat orang itu, tapi aku sudah terlalu lelah untuk merasa kesal saat ini.


“Na ...,” panggilnya.


“Ya?” kataku.


“Kamu takut gak sama aku?” tanya Kato.


Kenapa Kato menanyakan pertanyaan ini. Apa dia mencoba untuk mengetes nyaliku? Kurasa tidak. Aku malahan menangkap kesenduan di nada bicaranya. Jadi aku pikir, dia tidak sedang mengujiku.


“Aku gak tahu. Aku bingung harus ngerespon apa. Pengalaman dilempar ke langit dan terbang cukup buat aku kaget sih. Cuman, gimana ya, mau takut pun aku gak bisa karena kamu masih manusiawi buat aku,” tuturku.


“Jadi kamu gak takut ya. Kalau semisalnya aku siluman, gimana? Kamu bakalan takut?” Kato mengejarku.


“Tergantung sih. Kalau kamu punya niat jahat, aku pasti takut. Jangan bilang kalau kamu aslinya itu dedemit yang lagi nyari tumbal?!” kelakarku.


Dia menoyor kepalaku dari belakang.


“Tolong dijaga mulutnya ya!” dia marah.


“Maaf-maaf, aku gak maksud jelek. Oh iya, aku mau bilang terima kasih. Semalem itu bener-bener asyik. Kalau gak ada kamu, aku pasti Cuma keluyuran gak jelas,” kataku.


Kato tidak membalas kata-kataku, tapi tangannya tetap bergerak mengusap punggungku.


“Oh iya. Kato ...,” kataku.


“Apa?” sahutnya.


“Aku penasaran ... Kenapa kamu ‘bisa tanpa beban’ bawa aku ke sini? Bagaimana tanggapan tetanggamu nanti kalau mereka tahu kamu bawa orang asing masuk?” kataku.


Ada hening sejenak.


“Maaf, itu rahasia. Aku gak bisa bilang. Aku Cuma bisa bilang kalau kamu aman di sini. Dan soal tetangga, biar aku yang urus,” ucapnya.


Gadis ini bicara apa sih, aku tidak paham sama sekali maksudnya.


Sebelum sempat bertanya lagi, entah kenapa, energiku mendadak surut. Di sisi lain, tubuhku tiba-tiba jauh terasa lebih rileks dan mataku menjadi berat. Kantuk dengan cepat menguasaiku. Aku berusaha mati-matian untuk tetap terjaga; dan menahan kelopak mataku untuk terus terbuka. Sayangnya, aku kalah dan berakhir jatuh tertidur.


Perlahan kubuka kelopak mataku dan kudapati hari sudah siang. Perlu sedikit waktu sampai kesadaranku terkumpul sempurna. Baru kali ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku sama sekali tidak mengalami mimpi buruk.


Aku harus berterima kasih pada Kato, tapi dia sudah tidak ada. Mungkin dia ada di kamarnya.


Tenggorokanku terasa kering sekali. Segera, aku bangkit berdiri lalu menuju dapur. Aku butuh air untuk meredakan dahaga. Di depan kulkas, kutemukan selembar kertas yang ditempel dengan magnet. Di kertas itu, Kato meninggalkan sebuah pesan:


Kalau kamu haus, ada air dingin di kulkas. Oh iya, Pintunya gak aku kunci kok, jadi kamu bisa pulang. Aku gak tega bangunin kamu. Aku pergi duluan ya soalnya aku harus kerja.


Ttd, Kato


Kato Wito. Dia gadis yang baik. Semua prasangka burukku tentangnya telah sedikit memudar. Mungkin, alasannya membawaku kemari Cuma bagian dari kebaikannya saja. Walaupun aku tetap curiga sih.


Kutuliskan di kertas itu kata terima kasih untuk Kato dan nomor hpku.


Sudah waktunya untuk pulang. Aku tidak bisa lama-lama di sini.


Setelah minum, aku bergegas pergi. Namun, saat baru saja keluar dari pintu, aku berpapasan dengan seorang pria berbadan kekar. Mata kami sempat bertemu dan dia menatapku dengan penuh curiga. Kualihkan pandanganku dan buru-buru berlari menuruni tangga.


Sampai di lantai satu, aku terkejut bukan main. Sosok pria kekar itu ada di sana, berdiri menghadang di pintu keluar. Bagaimana bisa? Padahal tadi dia ada di lantai dua dan aku berlari turun duluan ke lantai satu.


Aku menelan ludah.

__ADS_1


Dugaanku, dia sama seperti Kato. Hanya saja, kali ini instingku berkata bahwa aku harus menyelamatkan diri.


__ADS_2