
Kuabaikan keluarga itu dan memilih untuk menyibukkan diri dengan gawai. Namun, siapa sangka, si anak tertua datang menghampiriku. Dia terlihat sangat gugup sampai sulit berjalan normal, akan tetapi dia tetap teguh memaksa dirinya untuk melangkah.
“Permisi, boleh aku duduk di sini?” katanya merujuk pada kursi kosong di sisi lain meja.
“Boleh. Duduk saja.” Aku mempersilakannya duduk.
Dia menarik kursi lalu duduk dengan anggun.
“Kamu datang sendirian?” ujarnya.
“Iya, soalnya Cuma aku yang diundang,” kataku dengan memberinya sedikit senyum sapaan tanpa melepas gawai di tangan.
Gadis ini memiliki paras yang cantik. Matanya yang secerah langit dan bibir tipisnya menyita perhatianku. Kulitnya yang putih pualam berpadu indah dengan pakaian yang di kenakan. Selain itu, dari gerak gerik tubuhnya barusan, aku yakin dia mengikuti semacam pelatihan tata krama.
Boleh kubilang, dia mungkin dibesarkan di dalam keluarga yang baik. Namun, aku sedang tidak ingin meladeni siapa pun sekarang. Jadi sengaja kubuat gestur penolakan dengan menyilangkan tangan kiriku di dada. Kuharap dia mengerti dan segera kembali ke mejanya.
Gadis itu mendeham. “Namaku, Natasha. Kamu?” dia lanjut bertanya.
Dia tidak mengerti bahasa tubuhku rupanya.
Terpaksa kumatikan gawai dan fokus pada lawan bicaraku. Lagi-lagi aku harus berhadapan dengan orang asing. Jika bukan karena gadis ini adalah salah satu tamu VIP, aku pasti akan terus mengabaikannya.
“Nana Sanitra,” kataku berpura-pura ramah.
Mata Natasha terlihat berbinar. Dia mungkin merasa senang karena responsku sesuai harapannya. Kurahap ramah-tamah ini segera berakhir.
Sayangnya, aku malah terjebak dalam jerat Natasha. Baru 5 menit kami berkenalan, dia mulai menceritakan banyak hal tentang keluarganya. Berkali-kali aku juga harus meladeni rentetan pertanyaan darinya.
Dia tipikal orang yang banyak bicara. Apa dia tidak pegal mengoceh terus-terusan?
Dari pembicaraan ini, aku bisa tahu bahwa Natasha adalah dari keluarga Ganendra. Seingatku itu adalah nama salah satu nama keluarga pemegang saham perusahaan yang dipimpin oleh ayah tiriku.
Semua ceritanya membosankan sampai dia menyinggung soal novel. Alisku sedikit terangkat.
“Aku sangat suka baca novel. Banyak karya penulis besar sudah aku baca. Juga ... aku punya novel ini.” Natasha merogoh isi tasnya lalu menunjukkan sebuah novel yang di sampulnya tertera namaku.
“Kamu penulis buku ini kan?” sambungnya. “Iya kan? Boleh aku minta tanda tanganmu?” pinta Natasha.
Aku sedikit terkesiap. Aku tidak berpikir gadis ini membaca novel karanganku. Itu novel yang pernah jadi best seller tahun lalu. Di halaman belakannya, terdapat foto wajahku. Wajar saja jika Natasha tahu siapa aku.
Untuk alasan ini aku menegakkan posisi dudukku. Setidaknya, aku wajib menghormati para pembaca. Aku mendeham.
“Iya, kamu suka?” tanyaku antusias.
“Suka! Aku bahkan punya semua bukumu di rumah. Mau lihat?” Natasha mengutak-atik gawai miliknya lalu menunjukkan satu baris rak berisi buku-buku yang kutulis. Total ada 7 buku; dua di antaranya adalah antologi.
Hidungku mekar saking bangganya.
Kemudian, kububuhkan tanda tanganku pada halaman pertama novel yang Natasha bawa. Dia berterima kasih berulang kali. Dia bilang pasti akan menjadikan novel itu sebagai harta keluarganya.
Tak lama kemudian, sang adik turut mendatangi meja kami. Seorang remaja 15 tahun dengan perawakan tinggi, kurus dengan kulit sawo matang. Dia meminta Natasha untuk kembali ke meja mereka.
“Sekali lagi terima kasih, Nana. Maaf sudah ganggu waktumu.” Natasha berpamitan. Dia kembali pada orang tuanya.
Dari kejauhan kulihat dia dengan gembira menunjukkan halaman buku yang ada tanda tanganku. Tentu saja aku merasa bangga dan senang bertemu penggemar buku karanganku. Hanya saja, aku mendapat firasat aneh soal Natasha. Intuisiku berkata bahwa tali takdir kami mungkin akan saling bersinggungan di masa depan.
Tak lama setelahnya, pintu terbuka. Tampak seorang pria tua berpakaian adat jawa lengkap dengan blangkon dan beskapnya masuk. Matanya menyisir seisi ruangan hingga tertuju padaku. Dia tersenyum tipis lalu melepas blangkonnya, menampakkan rambutnya telah memutih sepenuhnya.
Aku mengenal orang itu. Sangat mengenalnya karena kami pernah tinggal di satu rumah yang sama. Dia tak lain adalah Muttar Bagawain, kepala pelayan di rumah keluarga besar ayah tiriku. Sejak terakhir kali aku melihatnya, dia masih terlihat sehat dan segar bugar walau usianya sudah kepala enam.
“Pesta akan segera dimulai wahai para tamu undangan sekalian. Tuan rumah ingin para tamu istimewanya untuk masuk ke aula pesta,” ujarnya.
Natasha dan keluarganya pergi lebih dahulu. Sedangkan aku menyusul setelah mereka. Namun, ketika hendak pergi, langkahku dihentikan oleh sang kepala pelayan.
“Lama tak jumpa! Den Nana! Senang bisa bertemu dengan Anda lagi.” Pria tua itu membungkuk hormat padaku.
Muttar sudah puluhan tahun mengabdi di rumah keluarga ayah tiriku sebagai kepala pelayan. Tidak ada yang meragukan loyalitas dan kesetiaannya. Bahkan, di umurnya yang sudah senja, dia masih giat bekerja. Entah kapan dia akan pensiun.
“Senang bertemu pak Muttar juga.” Aku berjalan melewatinya. “Bisa antar aku ke aula?”
Muttar mengangguk. “Siap, laksanakan.” Dia segera memimpin jalanku.
__ADS_1
Aula tempat pesta digelar benar-benar dihias sedemikian rupa. Banyak hiasan bunga, dan ornamen dengan warna-warna cerah kesukaan si kembar. Tak hanya itu, terdapat pula penampilan band terkenal yang tengah membawakan lagu hits mereka.
Nazar benar-benar tidak menahan diri untuk menghambur-hamburkan uang. Entah sudah berapa ratus juta dia habiskan untuk pesta ulang tahun anak kembarnya.
Para tamu yang hadir rata-rata bukanlah remaja seusia Nika-Niki, melainkan para orang dewasa. Aku menduga pesta ulang tahun hanya menjadi ajang pertemuan tak resmi bagi para mitra bisnis Nazar.
Muttar menawariku untuk mencicipi beberapa hidangan dan minuman, tapi aku menolak. Aku memintanya untuk langsung mengantarku ke tempat Nazar berada. Muttar mengiyakan perintahku dengan membawaku menuju panggung utama.
Dari kejauhan dapat kulihat si kembar, ibu, dan ayah tiriku berada di sana. Duduk di sofa empuk sembari menyambut para tamu undangan. Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga yang semestinya. Kebahagiaan terukir jelas di wajah mereka khususnya ibu.
Kapan terakhir kali aku melihat wanita yang melahirkanku tersenyum bahagia dengan begitu tulus? Tentu saja bukan saat bersamaku. Kehadiranku sudah pasti akan melunturkan senyuman itu. Jika aku ke sana, sudah pasti suasana akan menjadi runyam.
Haruskah aku tetap datang menghampiri mereka? Sekalipun aku di sini karena diundang oleh Nazar, aku tidak bisa melangkah lebih jauh. Aku mesti sadar diri.
Kuhentikan langkahku. Muttar menoleh heran.
“Ada apa, Den?” tanya si kepala pelayan.
“Aku gak bisa ke sana. Beritahu pak Nazar, Nika, dan Niki kalau aku akan menunggu di ruangan tadi saja. Jangan beritahu ibu kalau aku juga ada di sini,” kataku.
Muttar mengiyakan permintaanku tanpa bertanya lagi. Maka aku lantas kembali menuju ruangan sebelumnya. Kembali melewati kerumunan manusia. Beberapa pasang mata mengekor ke mana kakiku melangkah. Beberapa lagi berbisik. Kututup telingaku rapat-rapat dan mempercepat langkah.
Aku pergi dari sana, meninggalkan kemeriahan pesta diiringi nyanyian lagu.
~kau harus bisa ... bisa berlapang dada ... kau harus bisa ... bisa ambil hikmahnya ...~
Aku menunggu dengan santai di ruang tunggu. Sesekali memeriksa notifikasi di layar gawai. Tidak ada pesan masuk. Aku sendirian di sana. Memang rasanya membosankan, tapi ini lebih baik ketimbang berada di aula pesta.
“Meong!”
Aku terperanjat kaget. Tiba-tiba dari kolong meja yang tertutupi kain muncul seekor kucing.
“Hei, kenapa kamu bisa di sini?” kuraih si kucing dan menaruhnya di pangkuanku. “Kamu masuk dari mana?”
Sebagai seorang cat person, aku hampir tidak pernah bisa menahan diri untuk tidak membelai kucing yang kutemui. Terlebih jika kucingnya itu berbulu putih pendek dengan ekor panjang. Persis seperti yang tengah kupangku.
Kuelus-elus bulunya yang putih. Sensasi lembutnya benar-benar menenangkan
Pintu terbuka. Si kucing melompat turun lalu pergi bersembunyi.
“Kakak!” panggil Niki seraya melambai. Di belakangnya, Nika mengekor. Keduanya terlihat cantik dalam balutan gaun mewah.
“Finally, kakak datang juga. Aku minta maaf ya soal yang kemarin. Because of me you get into trouble.” Niki meminta maaf untuk kejadian tempo hari di festival.
Aku mengelus kepalanya. “Gak apa apa kok. Itu Cuma masalah kecil. Oh iya, ini hadiah untuk kamu dan Nika.” Kuberikan kotak merah kecil padanya.
“Pitanya imut, tapi ini isinya apa?” Niki mencoba menggoyangkan kota itu tapi tidak ada suara terdengar. “Nika! Lihat! Kakak kasih kita hadiah.”
Nika sedikit berbeda dengan kembarannya. Wajah mereka memang mirip, tapi sifat dan gaya mereka berbeda. Nika cenderung lebih tenang dan dewasa ketimbang kembarannya. Kadang aku berpikir dia lebih cocok jadi kakak untuk Niki ketimbang jadi adiknya.
“Kakak, apa kabar?” tanya Nika.
“Aku baik,” jawabku singkat.
Nika beralih pada kembarannya. “Niki, boleh aku minta tolong? Bisa ambil minuman untuk Kakak?.”
“Eeeh? Why always me? Kenapa nggak kamu saja?” keluh Niki.
Nika memutar bola matanya. “Aku akan beri kamu puding bagianku besok.”
“Oke deh!” Niki setuju dan segera pergi. Mudah sekali untuk ditipu. Aku yakin Nika tidak serius akan memberikan jatah pudingnya.
Setelah Niki menghilang dari pandangan. Nika lantas menyerangku. Pukulannya menargetkan ulu hati. Aku refleks merespons serangan mendadak tersebut dengan melompat mundur.
“Kamu belajar karate Cuma buat main pukul orang sembarangan, Nika?” sindirku.
Gadis itu terdiam lalu menurunkan kuda-kudanya. Sorot matanya tajam seakan menyengatku.
“Kenapa kakak datang ke sini?!” Nika bertanya menyelidik.
“Adikku ulang tahu. Wajar kan kalau aku datang?” dalihku.
__ADS_1
Nika menatapku penuh kecurigaan. “Kakak ... jangan bohong. Aku tahu Kakak tidak pernah peduli soal Aku dan Niki.”
Dia benar. Aku memang tidak peduli. Bahkan, jauh di dalam hatiku, aku merasa iri, dengki, dan dendam pada mereka. Sering sekali aku menyalahkan si kembar atas apa yang kualami dulu.
Satu-satunya orang yang sadar isi hatiku hanya Nika. Dia pernah dengan sengaja membaca isi buku harian milikku. Siapa sangka bahwa kakaknya yang selalu terlihat baik hati, ternyata menyimpan rasa benci luar biasa padanya. Aku jamin, Nika pasti syok waktu itu.
Kutunjukkan padanya surat undangan dari Nazar. Nika menatap jijik amplop hitam yang kupegang. “Kamu benar, Nika. Kalau bukan karena undangan ini aku gak akan datang. Buang-buang waktu.”
Kuperhatikan tangannya mengepal.
“Aku sudah ngasih kalian kado. Jadi, aku mau pulang.” Aku melenggang pergi.
“TUNGGU!” teriak Nika.
“Apa lagi?” aku menoleh setengah kesal.
“Jangan pernah dekati Niki lagi!” ujarnya.
Aku menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal.
“Kalau begitu, jaga dia supaya tidak dekat-dekat aku.” Aku melanjutkan langkahku keluar dari sana.
Di lorong, aku berpapasan dengan Natasha. Kali ini dia sendirian. Aku tidak berniat menegurnya, jadi aku hanya mengangguk tersenyum seraya lanjut pergi. Namun, setelah beberapa langkah menjauh, barulah dia memanggil namaku.
Aku menghela nafas pendek. Lagi-lagi aku harus berlagak sopan.
“Ada perlu apa, Natasha?” tanyaku.
“Maaf kalau aku tidak sopan. Sebenarnya, aku akan mulai kuliah di Yogya, tapi aku belum tahu tempat-tempat di sini. Ini kali pertama aku tinggal sendiri,” katanya setengah gugup.
“Terus?” kataku.
“Aku minta bantuanmu. Aku ingin kamu temani aku keliling kota di hari kamis minggu depan? Apa kamu bisa?” pintanya.
Jawabannya sudah pasti: kutolak. Aku tidak mau menghabiskan waktuku untuk anak orang kaya yang baru kukenal beberapa menit lalu. Apalagi dia berasal dari keluarga mitranya Nazar. Pasti ada udang dibalik batu.
Sebelum aku sempat menolak. Gawaiku berdering. Ada telepon masuk dari Nazar. Natasha mempersilakanku untuk menjawab panggilan tersebut. Demi sopan-santun, aku menjauh darinya dan mengatur call volume ke rendah.
“Halo?” kataku.
“Aku sudah mengundangmu, tapi kamu malah tidak muncul di aula pesta. Muttar bilang kamu ada di ruang tunggu,” cerocosnya.
“Ya, tapi sekarang aku mau pulang.” Aku menjawab ketus.
Nazar mendeham. “Seperti biasa, tidak sopan. Tabiatmu tidak ada mirip-miripnya dengan Farah, ibumu.”
“Jadi, apa maumu sekarang? Aku sudah datang ke pesta. Bisa lepaskan aku?” kataku.
“Apa Natasha ada bersamamu?” tanya Nazar. “Jika iya, dengar ini baik-baik. Aku mau kamu jadi anak berbakti mulai dari sekarang. Natasha itu anak dari mitraku. Kamu harus akrab dengan dia.”
“Kenapa aku harus terlibat urusanmu?” tanyaku sengit.
Nazar tertawa. “Apa kamu lupa seberapa besar kekuasaan yang aku punya, Nana? Memang tidak sebesar 9 Naga, tapi cukup untuk melumatmu sampai habis. Juga, aku punya daftar nama orang-orang terdekatmu. Kamu gak mau kan hidup mereka jadi rusak?”
“Dasar bedebah!” bentakku. “Jangan main-main!”
Ayah tiriku tidak pernah main-main saat mengancam. Apa yang dia katakan bukanlah omong kosong.
“Pokoknya, lakukan apa yang aku suruh. Jangan membantah atau kejadian bertahun-tahun lalu akan terulang lagi. Sampai jumpa, anakku.” Nazar memutus sambungan teleponnya.
Aku berusaha menyeimbangkan nafas. Meredam amarah yang memuncak.
“Kamu gak apa-apa, Nana? Siapa yang menelfon?” Natasha terlihat khawatir.
Kurasa aku harus mulai berteman dengan tuan putri ini. Rasanya pasti akan melelahkan. Namun, jika tidak kulakukan, Nazar akan menargetkan orang-orang di dekatku. Aku tidak bisa membayangkan wajah sengsara Mbak Anna dan yang lain.
“Soal tawaranmu tadi. Aku bisa ajak kamu keliling kota,” kataku menyanggupi permintaan Natasha.
Matanya berbinar senang.
“Terima kasih, Nana. Nanti aku hubungi lagi ya.” Dia lantas pergi menuju ke arah aula pesta.
__ADS_1
Tunggu dulu. Bagaimana dia akan menghubungiku jika aku tidak memberinya info kontak? Biarlah, itu bukan urusanku. Biar si bedebah Nazar yang mengurusnya.