Menghabiskan Malam Bersamamu

Menghabiskan Malam Bersamamu
Hari yang Berat


__ADS_3

Aku harus perlu bersikap biasa saja. Sekalipun dia punya kekuatan misterius, belum tentu dia akan menyerangku secara tiba-tiba. Maka, berbekal pemikiran itu, aku berjalan menuju pintu tanpa ragu. Melihatku mendekat, orang itu dengan sendirinya memberikan jalan.


“Permisi,” kataku.


Aku menahan diriku untuk tidak lari. Selama masih berada di area apartemen, bersikap ‘biasa’ adalah pilihan terbaik. Aku tidak mau menarik kecurigaan siapa pun khususnya pria paruh baya barusan. Firasatku mengatakan bahwa dia bukan orang baik-baik.


Setelah cukup jauh dari apartemen, aku baru menyadari sesuatu. Aku sama sekali tidak hafal rute menuju jalan besar. Aku berusaha mengingat-ingat rute yang diambil Kato semalam. Nihil, aku tidak ingat apa-apa selain rambut hitam gadis itu.


“Astaga! Yang bener aja,” gumamku.


Mau tidak mau aku harus bertanya pada warga setempat. Maka, sembari menyusuri jalan, aku bertanya pada siapa saja yang kutemui. Mereka berbaik hati menunjukkanku arah yang benar.


Namun, pada akhirnya aku tetap saja tersesat. Orang terakhir yang kutanya malah mengarahkanku menuju sebuah jalan yang sangat sepi. Tidak ada rumah penduduk dan tidak ada satu pun kendaraan lewat sini. Hanya ada bunyi serangga dan kicauan burung di pepohonan.


Aku merasa ada yang aneh dan janggal. Seolah aku memang sengaja dibuat tersesat. Mustahil para warga sepakat untuk menipuku. Kurasa, ada hal lain yang ikut andil. Mungkinkah semacam sihir?


Aku menelan ludah.


Bersamaan dengan itu, mendadak angin dingin berhembus pelan.


Aku langsung berbalik hendak pergi menuju arah tempatku datang. Akan tetapi, niatku urung seketika karena sosok pria yang kulihat di apartemen ada di sini. Dia menghadang jalanku. Aku mundur beberapa langkah.


“Bisa kita bicara sebentar, nak?” katanya.


Orang itu tiba-tiba menghilang lagi. Ke mana dia pergi?


Aku terkejut bukan main ketika dia muncul begitu saja di hadapanku. Jika saja aku tidak terbiasa mengendalikan diri, aku pasti sudah menjerit barusan.


Dari dekat, aku bisa melihat sosoknya dengan jelas. Seorang pria paruh baya berperawakan tinggi dan kekar. Dia punya ekspresi menakutkan. Ditambah, ada bekas luka melintang dari dahi kanan hingga pipi kirinya.


Kami saling menatap. Jujur, aku merasa terintimidasi. Namun, aku tidak boleh menunjukkan rasa takutku.


“Di mana gadis itu? Di mana Kato Wito?” tanya si pria. Suaranya terdengar berat dan aku menangkap ada kemarahan di nada bicaranya.


Dia sedang mencari Kato rupanya.


“Maaf, pak. Saya gak tahu,” kataku singkat.


Dia mendengus lalu mendekatkan wajahnya ke mukaku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya dari dekat. Mulutnya berbau tembakau.


“Aku lihat kau keluar dari apartemennya tadi. Kamu pasti tahu sesuatu kan?” tuduhnya.


Aku menggeleng kuat-kuat.


“Maaf saya gak tahu apa-apa. Memangnya apa alasan bapak repot-repot tanya ke saya soal Kato? Kenapa gak  tunggu gadis itu pulang saja?” kataku balas bertanya.


“Karena ini.” Dia lantas melepas penutup mata kanannya. Menampakkan rongga kosong tanpa bola mata.


Nafasku tertahan.


“Kamu benar, Nak. Aku bisa menunggu gadis itu pulang dan menyergapnya. Tapi, dia pasti bisa menghindariku sebelum aku sempat menangkapnya. Dan lagi, apartemen itu adalah wilayah kaum Manujagala. Aku pasti mati kalau berani macam-macam di sana,” ungkapnya.


“Jadi?” kataku.


“Aku butuh umpan untuk mancing gadis itu datang,” ujarnya.


Tiba-tiba aku merinding. Suaranya yang berat membuat bulu kudukku berdiri.


Aku melangkah mundur untuk menjaga jarak.


Tiba-tiba pria itu menghilang bak ditelan udara. Lalu, secara tiba-tiba, dia muncul kembali tepat di hadapanku. Tinjunya mengepal. Aku tidak sempat mengelak.


“Ah, sial!” umpatku.


Pukulannya mengenai wajahku. Aku lantas melompat mundur. Pipiku berdenyut nyeri.


Lalu, serangan selanjutnya datang. Kali ini tinjunya menyasar kepalaku. Namun, aku jauh lebih siap sekarang. Aku merunduk dan masuk ke dalam pertahanannya. Kulepaskan satu pukulan ke dagunya. Dia terhuyung mundur.


“Refleksmu boleh juga,” katanya sembari meludah.


Aku yakin pukulanku barusan tidak berefek apa-apa untuknya. Justru malah tanganku yang merasa sakit.


Dasar psikopat! Dia serius ingin menjadikanku sandera. Aku benar-benar ada di posisi sulit. Pertama, aku kalah dalam postur. Kedua, pria ini punya kekuatan misterius. Dan ketiga, sekalipun aku jadi sandera, aku sangsi Kato akan datang menyelamatkanku.

__ADS_1


Dalam sekejap mata, dia lenyap. Lagi-lagi kemampuan misterius.


Buk!


Satu hantaman mendarat di belakang kepalaku. Aku seketika ambruk. Kepalaku pusing bukan main. Aku mencoba berdiri tapi kakiku goyah. Tak lama berselang, pria psikopat itu muncul kembali dan menghujani tubuhku dengan rentetan pukulan dan tendangan.


Sebagai penghabisan, pria itu lantas sigap mencekik leherku.


Aku berusaha sekuat tenaga untuk memberontak. Namun, aku kalah kuat.


“Aku jadi penasaran bagaimana wajah gadis siluman itu pas lihat mayat pacarnya!” ujarnya seraya mempererat cengkeraman tangannya.


Aku tidak bisa bernafas.


“TUKAR TEMPAT! SEKARANG!” seru sebuah suara.


Dunia mendadak menjadi gelap gulita. Aku tidak bisa melihat apa-apa, hanya ada kegelapan yang tidak berujung. Mungkin saja, tempat ini adalah akhirat? Kalau benar, itu berarti aku sudah mati.


Aku duduk memeluk lutut. Bahkan, setelah mati pun hanya ada kegelapan. Aku tidak tahu mana yang lebih baik antara hidup atau mati. Tidak adakah tempat pulang yang indah untukku? Mungkin tidak akan pernah ada.


“Dengerin aku, Na. Mie Ayam buatan pak Jarwo ini enak pake banget, dan aku yakin kamu bakal ketagihan. Kamu bisa pesan porsi kecil, sedang, sampe besar. Tapi ... sebagai orang yang udah pengalaman, aku saranin kamu untuk pesan porsi jumbo!”


Entah kenapa malah ucapan Kato yang kuingat di situasi begini. Aku jadi ingin makan mie ayam lagi bersama gadis itu. Sekali lagi saja.


“BANGUN, BODOH!” ujar suatu suara.


Tak lama kemudian, aku terbangun. Aku kembali ke dunia nyata. Di saat bersamaan, kepalaku rasanya sakit bukan main. Kudapati aku sudah duduk di dalam taksi yang tengah melaju. Tunggu dulu ... bukannya aku tadi berada di jalanan sepi itu ya dan aku hampir mati.


“Mas! Mas gak apa-apa?” tanya sang driver.


“Saya gak apa-apa pak,” jawabku.


“Anu, kita hampir sampai ke tujuan. Mau turun di sebelah mana?” katanya.


Sembari memijat kepala aku melihat keluar.


“Ini dimana?” tanyaku.


“Ini UNY mas. Bukannya tadi mas mau ke sini?” katanya.


“Pak tolong anter saya ke jalan laksda dekat kampus negeri agama. Biaya jalannya campur aja gak apa-apa. Nanti saya tetap bayar kok.” Aku berbaring di kursi belakang.


Si driver geleng-geleng kepala. Walaupun begitu, dia tetap mengikuti permintaanku.


Aku tidak ingat bagaimana aku bisa meloloskan diri dan berakhir di taksi ini. Yang lebih mengejutkan, tangan dan bajuku penuh cipratan darah. Namun, itu bukan darahku. Lupakan dulu soal ini, yang terpenting aku bisa selamat.


Hal pertama yang kulakukan saat sampai kos adalah mandi. Aku duduk di bawah shower, membiarkan air mengguyur kepalaku. Rasanya dingin dan menenangkan. Dengan begini, aku bisa sejenak melupakan beban yang kumiliki.


Namun, aku tidak bisa berlama-lama. Aku harus bergegas mengobati lebam dan luka lain sebelum bertambah parah. Kumatikan shower lalu mengeringkan badan.


Sembari berpakaian, kuraih smartphone lalu menyalakannya. Puluhan notifikasi masuk saling berebut untuk tampil. Ada banyak missed call dan chat dari editor-ku; dan pesan suara dari nomor tidak dikenal.


Kutekan tombol play.


“Halo kak Nana! Genki?! Ini aku Niki. Maaf, tiba-tiba kirim pesan. Anu, lusa ini Kakak sibuk gak? Jadi gini kak, lusa itu perayaan ulang tahun aku sama Nika yang ke-14. Aku pengen banget ngerayainnya bareng sama kakak. Aku udah kirim undangannya lewat email. Nanti dicek ya kak. Terus ... jangan khawatir. Ibu udah sehat sekarang. Jadi ... anu ... kakak bisa datang `kan?”


Bip. Pesan suara berakhir.


Nika dan Niki adalah adik beda ayah yang lahir dari pernikahan ibuku dengan suami barunya. Kelahiran mereka berdua menjadi sebuah tanda pengingat bagiku. Tanda bahwa dunia memang tidak adil.


Aku menghempaskan badan ke kasur. Hari ini, aku benar-benar tidak beruntung.


Kubaca satu per satu pesan dari editor-ku, mbak Anna. Dia marah-marah dan mengomeliku karena belum menyetorkan draft novelku yang baru. Oleh karena itu, dia ingin kami bertemu hari ini untuk membahasnya.


Aku menghela nafas berat.


Di tengah mood yang berantakan, aku malah harus bertemu dengan editor. Padahal, aku sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa. Aku akan meminta pemunduran jadwal. Akan tetapi, tak lama setelahnya, sebuah pesan baru masuk, dari mbak Anna.


“Kalau kamu mangkir, itu berarti melanggar kontrak lho. Siap-siap bayar denda ya!”


Singkat, padat, dan mengancam.


“Hari ini jam setengah tiga. Aku tunggu di sini,” sambungnya. Dia lalu mengirimkan sebuah alamat Cafe.

__ADS_1


Kutengok jam dinding menunjukkan pukul 14.03.


Aku kehabisan kata-kata


“Mau berangkat?” gumamku. “Ayo!”


Kuraih tas dan kunci motor lalu pergi.


Hanya butuh 15 menit untuk sampai ke tempat pertemuan. Di gerbang masuk terdapat sebuah plang bertuliskan “Sita & Rama Cafe”. Nama yang sangat unik. Kuparkirkan motor lalu masuk ke dalam.


Sesuai namanya, “Sita & Rama”. Cafe satu ini punya desain dan ornamen yang mengangkat tema pewayangan. Itu bagus dan sangat instagramable. Kurasa aku menjadikan tempat ini sebagai referensi.


Masih ada waktu sebelum mbak Anna datang. Kuputuskan untuk memesan camilan sembari menunggu. Namun, tidak ada siapa-siapa di bagian pesanan. Kutekan bel beberapa kali hingga seorang waitress muncul dari arah belakang.


Aku cukup terkejut karena aku mengenalnya.


“Selamat datang di Cafe Sita & Rama. Silakan mau pesan apa?” ujarnya.


“Kato? Kamu kerja di sini,” ujarku.


“Kok kamu bisa di sini, Na? Perasaan aku gak ngasih tahu kamu deh. Apa jangan-jangan kamu nge-stalk aku ya? Baru kenal sehari, tapi udah berani nguntit. Dasar mesum!” ujarnya.


Aku tidak punya tenaga untuk meladeninya sekarang.


“Enggak. Aku ke sini karena janjian sama orang,” jelasku.


“Na. Kamu gak apa-apa? Itu pipimu kenapa bisa lebam?” katanya.


“Gak kenapa-napa. Serius,” kataku.


Kato menatapku curiga.


“Ya sudah kalo gitu. Mau pesan apa?” katanya.


Setelah mengatakan pesananku, Kato merekomendasikan untuk duduk di meja kosong di pojokkan. Aku mengiyakan kata-katanya. Tak lama kemudian, Kato datang sembari membawa pesananku.


Kato sangat cocok dengan seragam waitress. Sama halnya ketika dia mengenakan busana ala gothic. Dia tetap terlihat cantik.


Kato meletakkan semua pesananku di meja. Dia mengamatiku sebentar lalu duduk di kursi di depanku.


“Wajahmu kenapa? Kamu kelahi sama siapa?” tanya Kato. Sorot matanya menunjukkan kekhawatiran.


Haruskah aku menceritakan padanya tentang si psikopat. Aku tidak mau membuat Kato merasa bersalah. Motif pria itu menghajarku adalah karena aku terlibat dengan gadis ini. Hati kecilku berkata kalau aku akan kehilangan momen bersama Kato jika mengatakan yang sebenarnya.


“Pas pulang dari apartemenmu, aku gak sengaja ketemu preman mabok di jalan. Dan ya ... kami berantem. Untung banyak warga yang misahin.” Aku berbohong.


“Ya, ampun! Tapi kamu gak apa-apa kan?” ujarnya.


“Cuma bonyok,” kataku. Kuharap dia mempercayai kebohonganku.


Kato lantas mencondongkan badannya.


“Katanya kamu di sini mau ketemu orang. Siapa? Pacarmu ya?” katanya.


Aku menggeleng.


“Aku mau ketemu mbak Anna, editor-ku. Dia yang ngajak ketemuan di sini. Kebetulan banget bisa ketemu kamu di sini,” kataku.


“Edtior ya. Oke-oke. Kalau gitu, kamu punya pacar gak?” tanya Kato.


Aku menyipitkan mataku. Gadis ini baru saja menginjak ranjau.


“Enggak,” kataku dengan melas menerima nasib.


“Hmm, gitu ya. Oke deh! Aku balik kerja dulu ya,” ujarnya seraya beranjak pergi.


“Kato!” panggilku.


“Ya?” sahutnya.


“Apa nanti kita bisa ... main bareng lagi?” tanyaku.


Kato menoleh dan tersenyum.

__ADS_1


“Kita lihat saja nanti,” jawabnya.


__ADS_2