
Semakin sore, jumlah pengunjung Cafe Sita & Rama terus bertambah. Kebanyakan pelanggan yang datang adalah pasangan couple anak-anak muda. Para waitress dengan sigap melayani dan mengarahkan para tamu menuju tempat duduk yang masih tersedia. Kurasa tempat ini akan ramai sampai nanti malam.
Tak lama kemudian, Kato menghampiri mejaku. Dia sudah menyelesaikan sifnya dan bersiap untuk pulang.
“Kamu gak pulang, Na?” tanya Kato.
Aku menggeleng.
“Aku masih mau nunggu,” kataku.
“Mau aku temenin?”
“Terserah,” jawabku.
Kato menarik kursi lalu duduk di sebelahku. Jarak kami sangat dekat, bahkan aku bisa mencium parfum yang gadis ini pakai. Wanginya mengingatkanku pada padang bunga musim semi.
“Pinjem bahumu bentar.” Dia menyandarkan kepalanya ke bahuku.
“Kato?” panggilku.
“Iya, mas Nana?” sahutnya.
“Kamu lagi ngapain?” kataku.
“Lagi nyender ke pundak cowo yang dingin banget kek kulkas,” jawabnya.
“Gak enak dilihatin orang tahu. Gimana kalau ada temanmu yang lihat? Mereka bisa salah paham,” kataku.
Kato lantas duduk tegak menghadapku.
“Jadi, kalau semisalnya enggak ada yang lihat nih, berarti aku boleh nyender ke kamu, gitu?” godanya seraya tersenyum jahil.
“Ya gak gitu juga,” kataku kehabisan kata-kata.
Mukaku terasa panas dan memerah layaknya kepiting rebus. Perasaan apa ini? Kenapa aku malah merasa malu. Terlebih, untuk sesaat, jantungku berdegup cepat. Aku tidak mengerti. Sedangkan Kato tampak biasa saja. Dia mungkin menganggap sikapnya tadi adalah hal biasa.
“Lucu,” katanya.
“Apanya yang lucu?” sergahku.
Kato beranjak berdiri. “Enggak ada. Aku pamit duluan ya. Oh iya, nanti malem kita main bareng lagi yuk. Aku tahu tempat asik buat main.”
“Oke. Perlu aku jemput?” kataku.
“Nggak usah. Lagian, aku yang bakalan jemput kamu,” ujarnya lalu pergi menuju pintu keluar.
Setelah Kato pergi, aku coba menghubungi salah satu rekan mbak Anna. Aku sedikit berharap semoga ada kabar tentang editorku itu. Sayangnya, aku malah dapat kabar kalau dia tidak masuk kantor sejak pagi. Aneh sekali, padahal mbak Anna itu orang paling tepat waktu, dan disiplin.
Hari makin gelap. Mungkin editorku tidak akan datang. Aku akan menghubunginya nanti. Jadi, kuputuskan untuk pulang saja. Namun, tak lama berselang, mbak Anna akhirnya datang.
“Maaf Nana. Aku telat!” ujarnya sembari duduk di seberangku. Nafasnya naik turun dan penampilannya berantakan. Dia mirip orang yang bangun tidur. Wajahnya kusut dan matanya bengkak seperti habis menangis.
“Ini naskahku untuk novel yang baru, Mbak.” Kuserahkan flash disk berisi file draft padanya.
“Aku periksa sekarang ya,” katanya lalu sibuk menyalakan laptop.
Mbak Anna tidak banyak berubah sejak pertama kali kami bertemu. Perawakannya yang mungil menjadikannya mirip seperti siswi SMP. Meskipun pada kenyataannya, tahun ini dia genap berkepala tiga, dia masih terlihat seperti remaja periang.
Namun, hari ini dia terlihat berbeda. Selain penampilan yang tidak karuan, aku tidak menangkap aura riangnya yang biasa. Selain itu, kudapati pula tangannya bergetar tak biasa.
“Mbak Anna kenapa? Kalo mbak Anna sakit, biar aku antar ke dokter,” kataku.
Dia tertegun sesaat lalu melihatku sendu. Sedetik kemudian, dia menangis tersedu-sedu. Tentu saja, tangisan mbak Anna menarik perhatian orang-orang. Dia menangis cukup keras.
Setelah beberapa menit, dia akhirnya dapat berangsur tenang. Kupesankan untuknya susu kocok coklat dengan ekstra es krim. Itu minuman favoritnya sih. Kuharap itu bisa sedikit menenangkannya.
“Makasih, Na. Kamu wis paling ngerti cara hibur aku,” katanya sembari sesenggukan.
Aku menghela nafas.
“Jadi mbak Anna kenapa?” tanyaku lagi.
Dia menekur ke meja. Tangannya memegang erat gelas milk shake.
“Aku lan tunanganku wis putus, Na. Dheweke ngapusi. Dia selingkuh sama sahabatku sendiri. Padahal kami sudah rencana mau nikah akhir tahun ini. Jarene nrima aku apa adanya, siap setia. Nanging buktine? Bohong! B*ll ****!” ungkapnya.
Kemudian, mbak Anna tenggelam dalam ceritanya. Dia menumpahkan segala rasa kecewa dan sedihnya. Dia memaki tunangan dan sahabatnya dalam bahasa Jawa yang tidak akan lulus sensor di media mana pun. Aku baru tahu kalau mbak Anna bisa berkata se-kasar itu.
Aku hanya bisa duduk diam mendengarkan.
Bukan tanggung jawabku untuk menghibur orang yang bersedih. Namun, melihat mbak Anna yang biasa ceria berubah begini, aku jadi terenyuh. Aku tidak pandai menghibur. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah mengalihkan fokusnya ke tempat lain.
Jadi, aku berusaha untuk mengalihkan arah pembicaraan kami ke pekerjaan: membahas draft novel. Perlu sedikit effort, tapi itu berhasil. Memang tidak cukup untuk menyembuhkan hati. Tapi paling tidak, mbak Anna bisa melupakan sejenak masalahnya.
Kini, dia fokus membaca tulisan di layar laptopnya.
“Gak bisa. Ini juga masih kurang bagus, Na. Aku merasa ada yang kurang di tulisanmu ini,” ujarnya dengan masih sesenggukan.
“Apanya yang kurang, Mbak?” tanyaku.
Mbak Anna mengambil tisu lalu mengusap pipinya yang basah.
__ADS_1
“Feeling. Itu kurangmu. Aku gak merasa ada greget di tulisanmu sekarang, Na. Beda dibanding tulisanmu yang dulu-dulu. Alur ceritanya juga sudah klise banget!” katanya.
Ulu hatiku sakit seakan kena hantaman palu.
“Tapi kan, alur yang begitu itu paling laku di pasar, Mbak! Penjualan novel-novelku lancar-lancar aja. Mbak Anna juga dapet bonus gara-gara itu, kan?” kataku membela diri.
Sang editor membuang nafas dengan ekspresi kesal.
“Iya kamu benar sih. Selama penjualan bagus, sebenarnya gak masalah. Tapi, sebagai senior, aku kudu menehi saran. Aku wis moco ratusan karya selama jadi editor. Semua penulisnya nduwe potensi, tapi kebanyakan malah stuck di situ-situ aja,” tuturnya.
“Maksud Mbak apa sih?” kataku.
“Maksud aku ... kalau kamu mau sukses! Kamu wajib berkembang!” katanya.
Setelahnya, wanita itu menceramahiku tentang bagaimana menaruh perasaan pada tulisan. Jiwa editornya seketika menggebu-gebu. Dalam hati, aku tersenyum. Setidaknya, mbak Anna bisa lupa sebentar tentang tunangannya.
Sesi pertemuan itu berakhir tepat pukul enam sore. Kami sama-sama meninggalkan cafe. Aku mengantarnya menuju taksi yang telah menunggu. Sebelum pergi, mbak Anna sempat memberiku saran untuk mengulang tulisanku dari awal.
“Aku gak bisa maksa kamu untuk nulis dari awal. Semua keputusan ada di kamu, Na. Kamu bisa lanjut naskah yang sekarang atau tulis yang baru,” katanya.
“Iya, aku bakalan pikir-pikir lagi,” kataku.
“Satu lagi ... Makasih ya Na. Berkat kamu aku bisa lupa sebentar soal masalahku. Aku gak tahu kamu sengaja atau enggak, tapi aku benar-benar berterima kasih,” katanya.
“Iya, mbak. Sama-sama. Terus ... rencana mbak Anna setelah ini apa?” tanyaku.
Ada hening sebentar.
“Aku gak tahu, Na. Yang jelas aku mau batalin pertunanganku dulu. Aku juga harus minta maaf ke orang tua. Jujur, sebenarnya aku bingung harus bilang apa ke mereka,” ungkapnya disertai senyuman pahit.
Kami pun saling berpamitan. Taksi yang ditumpanginya lantas melaju membelah jalanan.
Aku sendiri tidak pulang ke kos. Aku memilih untuk berkeliling kota untuk melepaskan beban pikiran yang hinggap. Walaupun begitu, beban itu tidak benar-benar hilang. Aku tidak sedang memikirkan revisi naskah, akan tetapi potongan memori masa lalu yang muncul kembali ke permukaan.
Pertemuan dengan mbak Anna sukses men-trigger kenangan kelam itu kembali. Padahal, aku sudah mati-matian melupakannya. Aku tidak mau mengingatnya lagi.
Langit kota pelajar perlahan mulai menggelap seiring terbenamnya matahari. Udara dingin dengan segera menyergap seisi kota. Sekumpulan becak motor dan andong yang biasa mangkal di kawasan titik nol Malioboro pun telah membubarkan diri. Namun, tetap saja, titik nol masih tetap ramai oleh para pelancong.
Sebagai orang yang telah lama tinggal di kota ini, mengunjungi Malioboro bukan hal yang istimewa lagi. Aku sering lewat sini dan hampir tidak ada yang berubah. Jalanan sepanjang 2 kilo meter ini masih sama seperti dulu.
Setelah memarkirkan motor, aku memilih untuk duduk-duduk di sekitar titik nol. Kunyalakan sebatang rokok. Kuhisap perlahan-lahan sembari menikmati suasana di sini.
Tiba-tiba seseorang menutup mataku dari belakang.
“Ayo tebak siapa?” ujar orang itu.
Suasanya familiar.
“Kato!” jawabku.
Kato telah berdandan menjadi pribadinya yang biasa. Warna pakaiannya didominasi warna gelap. Selain itu, dia juga memakai riasan yang sama persis seperti kemarin. Aku heran kenapa dia senang sekali berdandan ala gothic.
“Mau?” aku menawarinya rokok.
“Thank you.” Dia mengambil sebatang lalu ikut menyumbang asap.
Tidak ada pembicaraan di antara kami. Kato pun tampaknya belum tertarik untuk memulai.
“Tahu dari mana aku di sini?” tanyaku membuka obrolan.
Kato menunjuk hidungnya.
“Baumu. Aku bisa ngelacak orang Cuma dari bau lho!” katanya dengan bangga.
“Apa itu juga termasuk kekuatan misteriusmu, Kato? Mirip anjing pelacak ya?” kelakarku.
Ekspresi Kato seketika berubah kusut.
“Nana! Kamu ngomong apa barusan? Aku mirip anjing?! Aku biasanya bakalan nabok orang yang ngomong kayak gitu. Aku ini kucing tahu!” omelnya.
Eh? Kucing? Apa maksudnya?
“Maaf-maaf,” kataku.
“Oke aku maafin, tapi jangan diulang lagi! Janji?” dia menunjuk batang hidungku.
“Janji!” sahutku.
Kato tersenyum puas.
“Yosh! Kita lets go!” ajaknya.
“Ke mana?” tanyaku.
“Festival!” jawabnya sambil menunjuk arah alun-alun.
Setiap bulan Juni, di pekan ketiga, ada sebuah festival yang diselenggarakan oleh dinas pariwisata. Event itu biasanya berlangsung selama satu pekan. Seingatku, hari ini adalah hari terakhir.
“Ayo!” Kato menggenggam tanganku lalu kami bersama-sama pergi ke sana.
Kami disambut dengan meriah oleh meriahnya suasana festival. Lampu kelap-kelip terpasang hampir setiap penjuru alun-alun. Puluhan lapak makanan dan wahana telah siap siaga menyambut para pengunjung.
__ADS_1
“Ada satu permainan yang bikin aku penasaran di festival ini. Aku pengen banget hadiahnya,” ujar Kato seraya menuntunku ke sebuah lapak permainan menembak.
Si penjaga segera menawarkan dagangannya begitu kami mendekat.
“Silakan dicoba. Permainan menembak melatih fokus. Cuma 20 ribu untuk 3 kali kesempatan. Hadiah utamanya boleh pilih sendiri. Ada boneka, PS5, dan Smartphone! Monggo dicoba, Mas-Mbak.”
Kudapati mata Kato berbinar menatap jajaran hadiah utama di meja display. Dia kelihatannya sangat suka tertarik pada boneka panda raksasa.
“Aku mau coba pak!” ujar Kato pada si penjaga.
Segera Kato dipinjami sebuah senapan mainan dengan tiga peluru karet.
Ini dari permainan ini sebenarnya sederhana. Ada beberapa target berbentuk bebek dengan jarak yang berbeda. Semakin jauh target yang bisa ditembak pemain, poinnya juga makin besar. Tapi, untuk dapat hadiah utama, pemain harus mengenai target terjauh tiga kali berturut-turut.
“Lihat aku, Na! Aku pasti dapet hadiahnya!” katanya dengan penuh percaya diri.
“Hadiah utama, come to mama!” sambungnya seraya menarik pelatuk.
Nahas, jangankan kena target, pelurunya malah melenceng jauh. Aku tidak bisa menahan tawaku. Kato menatapku sengit lalu lanjut menembak. Dia pasti merasa kesal dan malu karena sudah terlalu percaya diri.
Sesuai dugaan, tidak ada satu pun yang kena.
“Dah lah aku nyerah!” Kato pundung.
Aku menarik nafas panjang. Kutaruh dua lembar 20 ribu-an di meja lalu si penjaga memberiku enam peluru.
“Semangat Nana!” seru Kato. “Kalo gak ada yang kena, kamu harus beliin aku permen kapas!”
Gadis itu ada-ada saja.
Kubidik sasaran terjauh. Jaraknya kurang lebih lima meter. Aku tidak boleh meleset. Jadi, kupelankan alur nafas. Kufokuskan pikiranku sepenuhnya. Kutarik pelatuk. Peluru karet lantas melesat menyerempet bagian sisi target. Namun, itu belum cukup untuk menumbangkannya.
“Dikit lagi!” Kato terlihat gereget.
Masih ada sisa lima peluru.
Kubidik kembali sasaran terjauh. Aku hanya perlu tenang dan fokus. Kutarik pelatuk. Moncong senapan langsung memuntahkan peluru. Namun, tembakanku meleset cukup jauh.
Kualihkan bidikanku pada target selanjutnya. Kali ini aku sudah tahu pola angin di sini. Aku harus lebih tenang dan fokus dari sebelumnya. Kutarik pelatuk. Peluru terbang menjatuhkan bebek sasaranku.
Kuulangi terus polanya, hingga peluru terakhir. Aku berhasil mengenai semua bebek terjauh. Si empunya lapak hanya bisa melongo melihat aksiku. Dia menelan ludah.
“Nana! Kok kamu jago banget sih! Aku gak tahu kalo kamu jago main ginian!” Kato senang bukan main. Dia sampai menggoyang-goyang badanku.
“Bisa berhenti gak? Aku pusing!” kataku.
“Ups!” Kato akhirnya berhenti.
“Kamu yang pilih hadiahnya sana,” kataku.
“Eh? Beneran? Aku yang pilih?” Dia tampak tidak percaya.
“Beneran, Kato Wito. Aku gak bohong,” kataku.
Dia segera menghampiri si penjaga lapak dan menagih hadiahnya. Lalu, dia kembali dengan satu box berisi PS5. Wajahnya berseri-seri seolah baru saja memenangkan lotre ratusan miliar.
Aku membuang nafas kecewa. Kukira dia akan mengambil boneka. Kato tetaplah Kato. Dia gadis yang eksentrik dan misterius. Wajar kalau aku belum bisa menebak arah berpikirnya.
“Anu ... thank you, Na. Aku gak nyangka kalau kamu sebaik ini,” Kato tersenyum.
Untuk sekejap, jantungku berdetak cepat dan mataku tak bisa lepas darinya. Gadis ini adalah yang terburuk. Aku tidak tahu kalau Kato bisa tersenyum semanis itu. Buru-buru kupalingkan muka untuk menyembunyikan mukaku yang memerah.
Aku akui Kato memang cantik sih. Maksudku, dia punya mata yang cerah dan tajam. Parasnya pun cukup menawan, agak tirus, dengan bibir tipis. Cewek keren istilahnya. Walaupun begitu, aku tidak pernah berpikir bisa terpesona olehnya.
“Kita lanjut yuk! Aku haus!” Kato menarik-narik jaketku.
Mendadak dari kejauhan, seseorang memanggil namaku.
“KAKAK!”
Aku menoleh mencari asal suara itu. Kudapati seorang remaja perempuan berjaket putih berlari menghampiriku. Dengan segera, dia memelukku erat.
“Kakak! I miss you so much! I didn't expect to meet you here. Aku senang bisa ketemu Kakak di sini,” ujarnya.
“Niki? Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanyaku setengah terkejut.
“Kakak sudah baca emailku belum sih? Aku kan sudah bilang kalau ulang tahun aku dan Nika dirayakannya di kota ini. Di hotel besar di ujung jalan sana,” jelasnya.
Itu berarti selain Niki, orang-orang itu juga pasti ada di sini.
Aku menelan ludah.
Benar saja, dua sosok lain muncul tak lama setelahnya diikuti tiga orang berbadan besar. Nika dan Ibu datang bersamaan. Tidak ada salam atau sapaan. Baik Nika maupun ibu melihatku dengan tatapan yang sama. Ada rasa tidak suka dan jijik yang terpancar dari mata mereka.
“Paksa Niki pulang,” perintah ibu pada salah satubody guard-nya.
Niki langsung berlindung dibalik badanku.
“No! Mom! I wanna be with my big bro!” tolak Niki. Namun dia tubuh kecilnya kalah kuat dibanding para penjaga. Mereka menyeretnya pulang.
Ibu masih di sini. Dia menatap lurus padaku.
__ADS_1
“Seret laki-laki itu ke tempat sepi dan hajar dia di sana,” perintahnya pada sisa penjaga.
Suasana menjadi runyam dengan cepat.