Menginjak Surga

Menginjak Surga
Bab 11:Berlatih I


__ADS_3

Puncak Gunung Iblis, merupakan gunung iblis tertinggi dan merupakan tempat dimana iblis abadi sering berkultivasi menghadap matahari.


Puncak Gunung Iblis juga tempat yang sering dikunjungi oleh banyak murid. Sayangnya, tempat itu tidak lagi dikunjungi karena ada sebuah rumor yang mengerikan yang mana rumor itu mengatakan semua murid yang sedang berkultivasi akan menghilang setelah matahari mulai terbenam.


Tapi rumor hanyalah rumor, hal itu tidak bisa menakut-nakuti Meng Yuan karena dirinya merasa itu hanyalah haluan mereka(para murid) saja.


Di suatu tempat di sekte iblis surgawi, di puncak gunung iblis. Nampak seseorang yang sedang berkultivasi menghadap matahari yang akan terbenam.


Seseorang itu adalah Meng Yuan, yang mana sekarang dia memakai pakaian yang berbeda dari sebelumnya. Dia memakai pakaian milik iblis abadi, Mo Yen.


“Huuu... Apakah aku harus belajar teknik mengendalikan sepuluh ribu pedang abadi? Teknik yang mendalam dan legendaris?” dia merasa bimbang.


'Tidak, jika aku mempelajari teknik itu. Semua orang yang ada di dunia bawah sudah pasti akan bisa merasakan fluktuasi energi yang sangat besar. Bahkan mungkin saja jika aku berlatih teknik ini, seluruh hal yang ada di dunia bawah bisa bergetar. Maka dari itu, aku harus berhati-hati.' pikirnya sambil kebingungan.


Dia pun berdiam diri menatap langit, setelah itu suatu teknik muncul di kepalanya.


“Hmm? Sepertinya aku harus berlatih teknik tinju pemecah gunung.” gumamnya sambil tersenyum senang.


“Tapi, itu nanti saja. Karena aku ingin menguji seberapa kuat teknik yang ku pelajari saat berada di makam iblis abadi.”


Dia lalu berdiri dan berbalik badan setelah itu pergi ke sebuah tempat yang cukup populer di sekte iblis surgawi.


Setelah berjalan cukup lama dengan menuruni gunung dan melewati beberapa rumah di sekitar. Dia akhirnya sampai ke tempat yang ia tuju.


“Jadi ini ya tempatnya? Tempat yang dikatakan tempat latihan paling ekstrim di sekte iblis surgawi.” ucapnya sambil menyeringai senang.


Tempat itu dinamakan Aula Pertarungan Hidup dan Mati. Sebuah tempat dimana para murid sekte iblis surgawi mengadakan sebuah duel hidup dan mati, atau hanya sekedar sparing biasa.


Tempat itu berbentuk seperti sebuah pagoda yang tinggi dan besar. Tempat itu mempunyai 10 lantai, 5 lantai di bawah merupakan aula hidup dan mati, dan 5 lantai di atas merupakan tempat untuk melatih mental dan pikiran agar indra menjadi semakin tajam.


Meng Yuan pun masuk ke dalam tempat itu, dan dia langsung di buat terkejut dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


“Hajar! Jangan beri dia ampun!!” teriak salah satu murid yang sedang menonton sebuah pertarungan.


Saat Meng Yuan melihat pertarungan itu, ia benar-benar tercengang dan merasa ingin ikut bertarung melawan semua murid yang ada di aula itu.


Namun dia menahan keinginannya dan lanjut berjalan menuju lantai atas. Itu karena dia ingin menguji kekuatan mentalnya.


“Jika aku menguji kekuatan mentalku dan bisa menggunakannya, aku pasti akan menjadi murid yang hebat dan menjadi orang yang terkenal.” gumam Meng Yuan sambil mengepalkan tangannya.


Kalau begitu, mari kita uji seberapa kuat kekuatan mentalku!


...***...


Di sisi lain, nampak seorang gadis yang sedang berkultivasi di bawah pohon yang begitu besar. Yang dibawahnya terdapat sebuah kolam yang berisikan ikan-ikan kecil dan besar.


Gadis itu bernama Song Yun, yang mana dia adalah adik laki-laki Song Ma.


*Huft...


'Kakak... Apa kau masih terus memikirkan lelaki bajingan yang beruntung itu?' pikirnya sambil membuka matanya.


Dia iri kepada Meng Yuan yang selalu mendapatkan perhatiannya, tapi ia tidak berani mengatakan apa yang ada di pikirannya kepada Song Yun.


Di lantai ke-6, di depan pintu masuk sebuah ruangan yang bertuliskan #42. Pintu masuk ruangan pengujian kekuatan mental.


*Wuung...


“Jadi ini ya yang namanya ruangan pengujian kekuatan mental?” gumamnya sambil membuka pintu masuk ruangan.


Di dalam ruangan itu hanya ada besi yang sepertinya sudah lama tidak digunakan, dan juga ada beberapa batu bata yang sudah dipenuhi oleh lumut berwarna hijau.


Di ruangan itu juga, terdapat 3 bendera yang membentuk sebuah segitiga.

__ADS_1


“Bendera yang warnanya berbeda membentuk sebuah segitiga? Apakah ini merupakan formasi pertahanan mental?” tanyanya dengan sendirinya.


Tanpa berlama-lama, Meng Yuan pun berjalan dan duduk berposisi lotus di tengah-tengah segitiga itu. Lalu menarik napas dalam-dalam dan mengosongkan pikirannya.


Meng Yuan yang tengah berkultivasi dengan tenang dikejutkan dengan suara ledakan yang begitu besar di luar ruangan.


Tapi, dia tidak langsung keluar. Itu karena jika dia langsung menghentikan kultivasinya sudah dipastikan dantiannya akan hancur dan tidak bisa berkultivasi lagi karena jika aliran Qi nya belum stabil, dia akan terkena penyumbatan Qi.


Setelah menenangkan aliran Qi nya, dia lalu bergegas keluar dari ruangan pengujian mental. Dan saat dia bergegas turun ke lantai bawah, bukannya aulanya menjadi kosong, malahan semakin ramai.


Dia pun bertanya ke salah satu penjaga yang ada di aula itu.


“Permisi, penatua. Kalau boleh tahu, ledakan yang tadi itu bersala dari mana, ya...?”


Penatua itu pun tertawa dan menjawabnya.


“Ledakan itu terjadi karena pertarungan 2 orang yang ada di sana.” sambil menunjuk ke arah seorang gadis yang sedang bertarung.


“Oh, begitu ya... Kalau begitu, terima kasih tetua.” ucapnya sambil menahan kekesalannya.


Meng Yuan lalu melirik ke arahnya dengan amarah yang begitu besar di matanya. Setelah itu pergi dan kembali ke ruangannya dan lanjur berkultivasi.


Sesaat, gadis itu bukannya merasakan sebuah amarah melainkan niat membunuh yang begitu besar dari tatapan Meng Yuan. Gadis itu pun menjadi tidak fokus dan berakhir mengalami kekalahan, dan Meng Yuan tidak sadar bahwa hari itu adalah hari dimana ia akan merasakan sesuatu yang belum pernah ia radakan sebelumnya.


Kembali ke Meng Yuan, yang mana sekarang ia sedang berada di pikiran yang kosong.


“Ini... Apakah ini di dalam kesadaranku?” tanya Meng Yuan sambil kebingungan.


Nampak sebuah lautan yang sangat luas di dalam kesadarannya. dia lalu berkeliling di dalam lautan kesadarannya dan menemukan sebuah buku yang tidak tebal tidak tipis.


Dia lalu menghampiri buku itu dan membukanya, halamannya kosong. Sama sekali tidak ada tulisan maupun gambaran, ia pun merasa kesal karena merasa seperti dibohongi oleh buku itu.

__ADS_1


“Cih, apa-apaan buku ini? Dan juga bagaimana buku ini bisa berada di lautan kesadaranku?” dia kebingungan.


Saat dia menutup matanya, buku itu tiba-tiba menghilang. Dia pun menahan kekesalananya dan pada saat dia berbalik badan, ia terkejut dengan apa yang dilihatnya.


__ADS_2