
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Serena menatap layar ponselnya. Uang Satu miliar di rekening baru saja masuk transferan dari Rose.
Serena menatap sekeliling kamar ini luas sekali. Ya, Serena di bawah pulang oleh Rose dan Dirga.
Serena langsung mentransfer lima ratus juta ke rekening Ibu panti.
Tak berselang lama ponsel Serena berdering.
Mata Serena berkaca-kaca. "Pasti Ibu heran aku dapat uang sebanyak itu dari mana." Serena menghapus Air matanya.
"Nduk, uang yang barusan kamu kirim banyak banget. Uang dari mana?" Tanya Ibu panti.
"Eh, Serena di ajak kerja keluar negeri gaji nya gede. Itu buat Ibu berobat sama jajan anak-anak lainnya, Bu."
"Walah, kok kamu gak pulang dulu bilang dulu sama Ibu."
"Maaf, ya, Bu. Serena gak keburu ini Serena lagi siap-siap mau berangkat. Udah dulu ya, Bu."
"Kamu harus telepon Ibu nanti."
Serena mematikan sambung telepon. Setidaknya, Serena sudah membalas jasa Ibu panti yang telah merawatnya selama ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Paginya, setelah membersihkan rumah. Serena lanjut memasak di dapur.
__ADS_1
"Wah, Non Serena, biar Bibi aja atuh!"
Serena tersenyum. "Aku juga pembantu kok, Bi. Udah kita masak sama-sama aja. Satu lagi jangan panggil aku dengan kata Non. Serena aja, Bi." Jelas Serena sambil mengiris wortel.
Serena dan Bibi sudah selesai menata lauk pauk di meja. Rose dan Dirga turun dari lantai atas.
"Pagi, Nyonya, Tuan." Bi inem menyapa.
Serena menunduk. Rasanya canggung sekali.
"Serena, kamu bisa panggilkan Arka suruh turun biar bisa sarapan sama-sama."
Serena mengangguk. Serena berjalan menuju kamar Arka. Ragu-ragu Serena ingin mengetuk pintu kamar Arka. Degup jantung Serena berdetak kencang. Serena memejamkan matanya sambil mengetuk pintu dengan perasaan was-was.
Tok!
Serena terkejut dengan mata melotot. "Aduh, Maaf!" Serena mengigit bibir bawahnya. Betapa malunya Serena.
"Lo ngapain masih di sini?" Arka mengepalkan tangannya geram.
Serena tergagap. "Saya ...." Ucapan Serena terhenti karena Arka menarik tangan Serena menuju lantai bawah.
"Mami!" Teriak Arka bergema. Arka menghempas kasar tangan Serena membuat Serena terduduk di lantai.
"Arka!" Jerit Rose.
"Ngapain Mami sama Papi bawah dia pulang?"
__ADS_1
"Arka dia istri kamu!" Bentak Dirga.
Serena meneteskan air matanya. Hatinya sakit. Bukan sakit karena tak di anggap istri tapi sakit karena tidak bisa melawan.
"Bukan, Pi. Seharusnya, Zerena bukan gadis ini!" Tunjuk Arka.
"Zerena hilang entah kemana jadi Serena lah jadi istri kamu." Rose menatap tajam Arka.
"Terserah! Yang jelas Arka bakal cari Zerena sampai ketemu dan lo!" Tunjuk Arka ke wajah Serena. "Setelah Zerena ketemu lo pergi dari kehidupan gue!" Bentak Arka lalu berjalan keluar rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zerena menampar pipi Albert membuat pipi Albert memerah.
"Lo jahat banget sama gue!" bentak Zerena. "Lo udah hancurkan hari kebahagiaan gue. Seharusnya, gue bahagia sama Arka. Lo jahat!" Zerena mengamuk pada Albert lelaki yang menculik nya.
"Gue gak ikhlas lo nikah sama Arka cowok brengsek itu. Lo cuma milik gue!" sahut Albert memohon sambil memegang tangan Zerena.
"Lepasin gue. Gue mau pulang!" teriak Zerena.
Zerena mencoba melarikan diri tapi terhenti ketika mendengar perkataan Albert.
"Gue udah sentuh lo! Lo milik gue Zerena!"
Zerena terdiam terpaku membisu mencerna perkataan Albert tadi. Zerena menutup mulutnya agar tangisannya tak terdengar. Zerena lari keluar dari rumah Albert.
Sepanjang jalan Zerena menangis tak henti. Bagaimana ia akan menjelaskan ke Arka soal itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...