Menikah Dengan Babu

Menikah Dengan Babu
PERGI ATAU TINGGAL


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Serena memegang kepalanya yang sedikit pusing. Di setiap sudut serba putih dan tidak ada siapapun. Kenapa dia bisa di rumah sakit batin Serena. Serena melirik ke meja samping bad nya. Tenggorokan Serena kering. Serena mencoba mengambil gelas yang berisi air hampir dapat tapi gelas hampir saja jatuh untungnya Arka menangkap gelas itu.


"Hampir aja." Serena menghela nafas.


Arka menaruh kembali gelas di meja. "Lo ngapain sih! Mau bikin geger rumah sakit ini sama kejatuhan gelas."


Serena membuang muka sampai kapan ini berakhir. Serena muak dengan hubungan yang tak sehat ini.


"Yang nungguin lo malam ini Bi Inem. Bentar lagi Bi Inem sampai."


Serena mengangguk. Arka langsung keluar dari ruangan Serena. Saat Arka di depan pintu Bi Inem kebetulan sudah sampai.


"Den," sapa Bi Inem.


"Bi, jagain dia. Arka pulang dulu." Arka langsung pergi.


Bi Inem menggelengkan kepalanya. Bi Inem masuk menghampiri Serena. Melihat Bi Inem Serena menghapus air matanya.


"Non, sabar ya." Bi Inem mengelus kepala Serena.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Paginya, Arka di kagetkan dengan kehadiran Zerena. Arka tersenyum bahagia melihat orang yang dia cintai. Arka memeluk Zerena.


"I miss you."

__ADS_1


Arka mencium kening Zerena. Zerena menangis.


"Kamu kemana aja? Aku telepon gak kamu angkat terus?" Arka memegang kedua pipi chubby Zerena.


"Aku di culik sama Albert. Dia udah lecehkan aku. Mana mungkin kamu bisa terima aku lagi." Tangis Zerena pecah.


Arka mengepalkan kedua tangannya. Emosi Arka memuncak. Arka memeluk Zerena dan tiba-tiba Serena dan Bi Inem sampai ke rumah Serena melihat pemandangan itu.


"Den ...." Bi Inem melongo.


"Dia siapa?" Tanya Zerena menatap Serena yang masih pucat pasi.


"Eh, dia, pembantu baru di rumah ini saudara Bi Inem kebetulan lagi sakit itu baru aja pulang dari rumah sakit." Jawab Arka berbohong.


Bi Inem menatap Serena sambil meremas pundak Serena agar tenang.


Bi Inem menggandeng Serena. Serena menunduk saat melintas di dekat Arka dan Zerena.


'Memang sepatutnya aku tidak ada di antara mereka.' batin Serena


Arka mengajak Zerena pergi keluar dari rumah untuk memperjelas semua masalah itu.


Serena di lantai atas menatap lirih kepergian Zerena dan Arka. Serena menghapus air matanya.


"Apa aku pergi aja ya. Zerena sudah kembali untuk apa aku di sini lagi?" Gumam Serena putus asa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Arka pulang kerumah langsung menuju kamar Serena. Serena yang masih bersantai duduk selonjoran di kursi terkejut melihat kehadiran Arka.


"Gue mau ngomong." Arka menatap Serena dengan tatapan serius.


Serena langsung mendekati Arka siap mendengarkan apa yang akan Arka bicarakan.


"Gue mau gak ada satu pun yang boleh tau kalo kita sudah menikah."


"Zerena?"


"Ya."


Serena mencoba tersenyum. "Kalo begitu izinkan saya keluar dari rumah ini." jawab Serena.


Arka menggertak giginya. "Lo mau gue di marahin sama Mami Papi gue kalo lo pergi gitu aja!" bentak Arka. "Lo di sini aja! Lo boleh pergi kalo lo di usir sama Mami gue." sambung Arka.


Serena menunduk ketakutan mendengar bentakan Arka.


"Gini aja. Kita cari solusi biar lo di usir dari rumah ini." Arka tersenyum licik.


"Caranya apa?" tanya Serena dengan wajah polos.


"Lo cukup tenang aja biar gue yang atur semuanya. Lo bisa pergi dan gue bisa balik ke Zerena." Arka menepuk bahu Serena dengan bahagia.


Arka pergi dari kamar Serena dengan senyuman lebar di wajahnya. Serena menghapus air matanya entah kenapa ia begitu sedih. Hati nya perih seperti teriris pisau yang di baluri garam di peras jeruk nipis. Sangat pedih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2