Menikah Dengan Babu

Menikah Dengan Babu
Tidak Di Anggap


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rose merasakan kepalanya pusing tak habis pikir bagaimana masalah ini bisa cepat kelar.


"Bu, lebih baik saya pergi aja dari sini."


"Tidak bisa begitu, Serena. Kamu itu sudah di kenal banyak orang bahwa kamu itu menantu keluarga kami."


Serena menghela nafas bagaimana dia akan melewati masalah ini. Apa dia akan hidup tenang?


Malam hari nya, Rose dan Dirga pamit untuk keluar negeri karena ada urusan bisnis mendadak.


"Serena, kami pergi dulu ya." Rose memeluk Serena. "Bi, jaga Serena ya. Jangan sampai Arka berbuat hal yang tidak di inginkan." Tutur Rose.


Bi Inem mengangguk mengerti. Serena dan Bi Inem melambaikan tangan ketika mobil yang di kendarai Rose dan Dirga sudah jalan.


Saat Bi Inem dan Serena mau masuk ke dalam rumah mobil Arka sampai di depan rumah. Arka keluar dari mobil lalu menatap Serena dengan wajah datar.


"Den Arka, Nyonya sama Tuan pergi keluar negeri barusan." Bik Inem tersenyum.


"Loh ... Kok saya gak di kasih tau sih?" Arka kesal berarti dia akan berdua saja di rumah ini dengan Serena.


"Udah makan? Di meja masih ada makanan," ucap Serena pelan.


Arka menatap Serena lalu melengos pergi.


"Sabar ya, Non." Bi Inem mengelus pundak Serena.

__ADS_1


Serena mengikuti Arka dari belakang. Arka berhenti di meja makan.


"Mau makan? Aku siapin ya." Serena baru saja mau mengambil piring tapi di tepis oleh Arka.


"Bi Inem!" Teriak Arka membuat Bi Inem sedikit berlari.


"Ya, Den!"


"Siapin saya makanan!"


Bi Inem melirik Serena. Serena mengangguk mengiyakan agar Bi Inem mengurusi Arka. Serena berjala masuk ke dalam kamarnya.


Arka menyuapi sendok ke mulutnya. "Enak." Gumam Arka.


Bu Inem terkekeh. "Itu yang masak Non Serena, Den." Ucapan Bi Inem membuat Arka hampir tersedak.


"Loh, Den, gak di abisin makanannya?"


Arka berjalan sambil menggelengkan kepalanya. Arka masuk ke dalam kamar nya ia mencoba menghubungi Zerena.


Dan ternyata di angkat.


"Sayang, kamu kemana aja?"


Di sisi lain Zerena menghapus air matanya. "Aku ...." Ucapan Zerena terhenti.


"Kami ninggalin aku sendiri di hari spesial buat kita."

__ADS_1


"Aku gak bisa lagi." Jawab Zerena lalu mematikan sambungan telepon.


Arka kesal kenapa Zerena tidak menjelaskan pakar masalahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karena terlalu banyak pikiran Serena sampai lupa makan. Membuat asam lambungnya naik. Serena turun ke lantai bawah menuju dapur. Serena baru saja ingin mengambil air putih tapi tiba-tiba Serena kehilangan keseimbangan lalu tergeletak tak sadar kan diri.


"Den Arka!" Teriakkan Bu Inem membuat Arka keluar dari kamarnya.


"Den, Non Serena pingsan."


Dengan terpaksa Arka mengangkat tubuh Serena dengan cara menggendong nya agar Serena bisa di bawah ke rumah sakit.


Lima belas menit berlalu Arka sampai di rumah sakit. Arka duduk di ruang tunggu menunggu Dokter yang sedang memeriksa Serena.


Pintu terbuka muncul lah Dokter yang menangani Serena.


"Gimana keadaan dia?" Tanya Arka.


"Dia sepertinya telat makan membuat asam lambung nya naik dan sepertinya akhir-akhir ini pasien terlalu banyak beban pikiran membuat pasien sedikit stress dan mungkin lupa mengisi perut." Jelas Dokter.


"Kemungkinan pasien baru boleh pulang besok, Pak." Sambung Dokter.


"Baiklah. Terimakasih."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2