
Otak dan tubuh Alina tidak sinkron, otaknya menyuruh menghentikan kegiatan tersebut namun tubuhnya menginginkan hal yang lebih. Berbeda dengan Alina, Rayyan sudah tidak dapat mengontrol hawa nafsunya, ia bahkan telah banyak memberikan tanda merah diseluruh tubuh Alina.
Entah sejak kapan seluruh baju atasan Alina sudah berserakan dilantai, Rayyan seperti sudah kerasukan, ia bukan hanya memberi tanda merah namun juga semakin berani merem*s kedua gunung kembar Alina.
"Egh.. "Alina mulai melenguh setelah tangan Rayyan mulai membelai bagian bawah pusar Alina yang masih tertutup kai segitiga.
"S.. Stop...,Rayyan please stop! " ucap Alina terengah-engah, karena bagian bawahnya sudah hampir pelepasan. Hal ini adalah hal baru bagi Alina karena walaupun ia pernah berpacaran, pacarannya masih batas normal, hanya sampai pada kiss di pipi.
Telinga Rayyan seolah tuli, ia bahkan mulai berani mencium perut Alina dengan tangan yang tidak lepas dari gunung kembar Alina.
'Sial, tubuh Alina sangat indah, mana bisa saya melepaskannya begitu saja, saya akan bertanggung jawab dengan yang saya lakukan sekarang, sudah kepalang tanggung ' Pikir Rayyan dalam hati.
Setelah beberapa saat bermain di d*d* dan perut Alina, Rayyan mulai berani membuka kain segitiga yang menutupi aset paling berharga Alina. Alina seakan kehilangan kekuatan ditubuhnya, ia tidak bisa menghentikan tindakan bejat Rayyan. Dengan mata yang diselimuti kabut gairah, Rayyan berhasil melepaskan kain segitiga milik Alina, terpampang lembah yang lumayan rimbun dengan bentuk yang indah bagi Rayyan.
"Milikmu sangat indah nona, saya ingin mencicipinya" jelas Rayyan dengan senyum smirk yang selalu ia tampilkan. Otak Alina mulai bekerja secara normal, dengan spontan ia menutup bagian dad* dan lembah rimbunnya menggunakan tangannya.
__ADS_1
"Please Rayyan, stop, kita gak bisa ngelakuin ini. Bokap gue juga bakal kecewa sama elu, please! " Alina mengiba di depan Rayyan. Namun dasar setan yang telah merasuki Rayyan atau mungkin memang dasarnya nafsu Rayyan yang tak bisa terkontrol, Rayyan mulai menciumi bagian bawah Alina, bukan hanya itu, Rayyan dengan kurang ajarnya mulai bermain di lembah tersebut.
Setelah selesai bermain di bawah tubuh Alina, Rayyan mulai melepaskan pakaian yang ia kenakan. Bak slow motion yang ditonton Alina, ia melihat bagaimana Rayyan membuka dasi dan kemeja kerja yang dipakai Rayyan hingga kini nampaklah roti sobek Rayyan.Bukan hanya itu, celana panjang serta ikat pinggang Rayyan pun telah terbuka hingga hanya tersisa ****** ***** Rayyan. Tak berapa lama ****** ***** Rayyan pun telah ia copot.
Alina hanya mampu melihat, sesaat otaknya pun ikut berkhianat, Alina mulai berani membelai roti sobek Rayyan. Namun tiba-tiba ia menutup mata, ia sempat shock melihat sesuatu yang panjang diantara kaki Rayyan.
"Nona kenapa anda menutup mata, anda sendiri yang mengatakan bahwa saya orang yang tidak beretika serta mesum, maka akan saya buktikan ucapan anda nona" ucap Rayyan tanpa mengalihkan pandangannya dari tubuh mulus milik Alina.
"Saya berjanji akan melakukannya denga pelan, dan saya akan menikahi nona setelah ini " Rayyan menambahi dialognya.
"Bagaimana nona, apakah nona tertarik dengan senjata saya? " Rayyan bertanya diiringi senyum smirk nya. Alina yang di beri kesempatan memegang senjata Rayyan mulai memberanikan diri memijat senjata Rayyan tersebut, dengan kedua tangannya Alina mulai memaju mundurkan tangannya hingga membuat Rayyan merasa nikmat.
Beberapa saat setelah Alina memberikan kenikmatan kepada Rayyan, dengan sekuat tenaga Alina menendang senjata Rayyan hingga Rayyan memekik kesakitan.
"Aw... ****" ucap Rayyan dengan keras.
__ADS_1
Sekuat tenaga Alina menjauhi Rayyan dan mulai memakai pakaian yang tadi telah terlempar sembarangan. Setelah memakai pakaiannya, Alina mulai mengumpulkan pakaian Rayyan serta melemparkannya ke Rayyan.
"Tuh, pakai dulu baju lo, setelah itu gue mau bikin perhitungan sama lo ! gue bakal ngelaporin lo ke bokap gue, dan pastinya lo bakal di pecat sama bokap gue, lo kira bisa ngalahin seorang Alina haha" Ucap Alina yang mulai berani melawan Rayyan.
Rayyan yang masih merasa sakit dibagian bawahnya mulai kembali kesadaran nya, ia memang tidak merasa menyesal atas tindakannya, namun ia hanya takut bahwa ayah Alina akan merasa kecewa atas sikap nya.
"Maaf nona, saya tadi khilaf.Namun nona jangan khawatir, saya akan bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan, saya akan menikahi nona. Saya juga akan jujur kepada tuan atas segala tindakan saya tadi" Setelah mengucapkan itu dan baju Rayyan telah rapi terpakai, Rayyan keluar dari kamar Alina.
Alina hanya bisa terdiam tanpa kata, ia sendiri merasa aneh dengan segala yang terjadi kepadanya.
Setelah dari kamar Alina, Rayyan masuk ke dalam ruang kerja ayah Alina.
Beberapa saat kemudian....
tok tok tok
__ADS_1
Kamar Alina diketuk oleh pelayan rumahnya. Alina membuka pintu kamarnya, dan ia mulai bertanya tujuan pelayannya tersebut datang menemuinya. Menurut pelayan tersebut, Alina dipanggil oleh ayahnya di ruang kerja ayahnya.