
Setelah Foreplay yang telah dilakukan Rayyan, Alina mendapatkan pelepasan yang pertama. Alina merasa seluruh raganya menjadi lemah, bahkan rasa ini adalah rasa yang tak pernah ia rasakan sama sekali sebelumnya.
Pipi Alina memerah menahan malu, karena ketika ia pelepasan pertama, Rayyan bahkan menggodanya dengan sengaja melihat bagian bawah Alina dengan tatapan 'lapar'.
"Bagaimana honey? apa kita mau lanjut? kalau kamu tidak mau ya sudah, saya tidak akan melanjutkan permainan kita" jelas Rayyan dengan senyum khas nya.
" Lu tuh suami nyebelin tau gak !!! udah buat gue tersiksa,tapi lu gak mau tanggung jawab, hiks hiks hiks" Alina kesal dengan sikap Rayyan yang mempermainkan dirinya. Awalnya memang ia menolak untuk disentuh oleh Rayyan, namun ketika sudah mulai dipermainkan Rayyan, Alina terbawa suasana dan ingin merasakan lebih. Anggap saja dia perempuan yang mudah berubah, tapi hari ini ia ingin hal lebih dari Rayyan.
Sebenarnya bukan hanya Alina yang menginginkan lebih, Rayyan pun menginginkan 'itu'dengan Alina. Namun ia hanya ingin Alina sendiri yang meminta ia melakukan 'itu'. Makanya ia sengaja mempermainkan Alina.
"Pokoknya kalau om gak lanjut, gue bakal bilang ke bokap kalau lu udah KDRT, dan kita bakal cerai besok pagi!" Ancam Alina.
Sontak saja ancaman Alina mengenai perceraian membuat gairah Rayyan kembali menyala, ia tidak ingin Alin pergi dari hidupnya.
Rayyan langsung mencium bibir merah Alina dengan rakus, ia juga menggigit kecil bibir indah tersebut,spontan Alina membuka mulutnya. Rayyan langsung memasukkan lidahnya kedalam mulut Alina, mengeksplor seluruh rongga mulut Alina tanpa terkecuali.
Alina mulai kembali melenguh dan mendes*h dengan ciuman Rayyan. Tangan Rayyan tak tinggal diam, ia mulai merem*s kedua gunung kembar Alina, kecupan di d*d* Alina berubah menjadi his*apan di pucuk gunung kembar tersebut.
"Ah... Sh... " Alina menarik rambut Rayyan lalu ia mulai memajukan d*d* nya, tanda ia senang dan ingin lebih atas permainan Rayyan.
Setelah beberapa saat memberikan pemanasan kepada Alina, Rayyan mulai membuka seluruh pakaiannya. Setelah semua pakaiannya terbuka, tampak kebanggaannya sudah berdiri tegak. Alina yang melihat itu hanya bisa terkagum dengan ukuran suaminya wkwkwk.
"Kamu ingin memegangnya honey? " tanya Rayyan. Ia bahkan menuntun tangan Alina kearah senjatanya tersebut. Tanpa sadar Alina bahkan berani memegang senjata Rayyan, ia mulai merem*as dan menaik-turunkan tangannya diatas senjata suaminya, hal inj membuat Rayyan merasa keenakan dengan tangan istrinya.
__ADS_1
"Sudah cukup honey! " jelas Rayyan yang sudah tidak tahan. Alina hanya terkekeh melihat wajah suaminya.
"Mungkin ini akan sedikit sakit honey, tapi saya akan pelan-pelan memulainya, kalau memang kamu tidak bisa tahan, kamu boleh menggigit lengan saya atau kamu boleh menarik rambut saya"
Rayyan berkata panjang lebar agar Alina bisa merasa nyaman berhubungan dengannya. Alina hanya mengangguk setelah ultimatum Rayyan tadi.
Setelah beberapa saat, Rayyan masih mencoba memasuki Alina.
"Om please ini sakit huhu.... "
"Please om, aww.. sakit"
Alina masih terus menangis karena apa yang ia rasakan memang sangat sakit. Rayyan mulai menciumi seluruh permukaan wajah Alina dan berhenti di bibir. Ia ingin membuat Alina tidak fokus terhadap rasa sakit bagian intinya.
Jleb
"Aww... om, ini sakit, jangan gerak dulu, diem ya om huhu"
"Oke honey, saya diem kok, kamu fokus saja terhadap rasa nikmat setelah ini, kalau kamu masih sakit, kamu bisa mencium bibir seksi saya" Rayyan masih saja narsis ditengah genjatan senjata milik keduanya.
"Ish jangan bercanda, aku memang benar-bnar sakit tau"
"Aww... om, punya om kegedean tuh, makanya sakit banget "
__ADS_1
"Ya memang punya saya kualitas premium, lagian punya kamu juga sangat sempit, makanya terasa sakit " Rayyan tak mau kalah.
"Saya mulai gerak ya sayang"
Rayyan mulai menggerakkan pinggulnya perlahan, keluar masuk dari lembah surga milik Alina. Yang awalnya hanya pelan, akhirnya Rayyan memaju-mundurkan miliknya dengan tempo yang cepat.
"Shh....shh..o.. om, jangan terlalu cepat, ini masih sakit om" Pinta Alina
"Tenang honey, setelah ini akan terasa nikmat"
"Ahh... punyamu sangat sempit, ini enak sekali, saya sampai melayang memasuki punyamu nona". Mungkin 'nona', 'honey','om, dan ' bodyguard mesum'adalah panggilan khusus atau bisa jadi panggilan sayang untuk keduanya.
Sekian lama bergerak, Alina merasa ada yang mau keluar di area intinya.
"Ahh...om berhenti, aku kebelet pipis" jelas Alina
"Kamu bisa mengeluarkannya disini nona, itu bukan pipis, keluarkan saja,saya menanti kamu mengeluarkan 'pipis'kamu" jelas Rayyan dengan napas terengah-engah.
"Ahhh... " akhirnya Alina mendapatkan pelepasan kedua,Rayyan yang juga ingin mendapatkan pelepasan, mempercepat tempo pinggulnya. Rayyan bahkan menghis*p keras pucuk gunung kembar Alina serta merem*s gunung kembar tersebut.
"Ahhh" erang Rayyan mendapatkan pelepasan pertamanya. Dengan napas yang masih terengah-engah, Rayyan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Alina. Keadaan mereka dipenuhi peluh hasil berolahraga di ranjang. Senjata mereka masih menyatu, milik Rayyan mulai mengecil, beberapa saat setelahnya Rayyan mencabut miliknya di milik Alina.
Alina menggulingkan tubuhnya kepelukan Rayyan, ia mencari kenyamanan di pelukan Rayyan, namun beberapa saat Alina menginginkan tubuh Rayyan kembali. Ia mulai berani membelai dada bidang Rayyan, bahkan berani menghis*p pucuk dada Rayyan.
__ADS_1
"Honey, berhenti deh, nanti milik saya on lagi kamu mau tanggung jawah huh? "
Milik Rayyan mulai kembali on setelah perlakuan alina tadi.