Menikahi Istri Yang Arrogant

Menikahi Istri Yang Arrogant
Teman Lama


__ADS_3

Tetapi baru beberapa langkah dia berjalan ada seorang wanita cantik menghampirinya.


Devian merasa familiar dengan wajahnya tetapi dia tidak ingat.


"Hi Dev, Bagaimana kabarmu sekarang. Sudah lama ya kita tidak bertemu."


"Maaf kamu siapa ya, Aku tidak kenal" Devian menatapnya dengan pandangan bingung.


"Masa lupa sih. Ini aku Maura teman masa kecil kamu."


"Ohhh kamu Maura. Pantesan aku familiar banget sama wajah kamu. Sekarang kamu tambah cantik ya."


"Iya dong, aku kan sekarang model, harus tampil cantik setiap saat.hahaha. Oh ya aku dengar orang tua mu sudah meninggal saat kamu umur 15 tahun. Aku turut berduka cita."


"Iya nggak apa apa memang sudah takdir. oh ya btw kamu ngapain di sini?"


"Aku di undang ke pesta ulang tahunya Liona. Dia itu teman aku. Kamu sendir ngapin di sini?"


"Pak Wijaya mengundang aku, dia adalah rekan bisnis ku"


"Oh ya Dev ngomong - ngomong kamu udah punya pacar belum nih." Maura tersenyum.


"Belum lah aku kan mau fokus sama carier ku dulu. soal gituan mah nanti aja."


jawab Devian dengan santai.


"Kenapa belum kamu kan udah sukses Dev. Tampan pula perempuan mana yang tidak mau sama kamu." Jawab Maura sambil cekikikan.


"Aku masih terlalu muda Maura untuk memikirkan hubungan asmara."


"Ya baiklah baiklah Devian dari dulu tidak pernah berubah selalu anti sama yang namanya cinta."


"Ya udah Maura aku mau berbicara sama pak Wijaya aku pergi dulu ya." Devian pun meninggalkan Maura.


Padahal aku ini mencintaimu dari dulu Dev. batin Maura


**********


Liona menghampiri teman temanya setelah selesai berkenalan dengan Devian .


"Liona Itu siapa, ganteng banget, kenalin dong." ucap salah seorang temanya.


"Apaan sih ganteng juga nggak." Jawab Liona dengan Ketus.


"Buta ya mata lu Li, cowok ganteng begitu dibilang jelek."


Liona hanya diam saja sibuk memainkan ponselnya.

__ADS_1


**********


Pesta pun akhirnya selesai semua tamu sudah pulang. Hanya Devian yang belum pulang karena Pak Wijaya menyuruhnya menunggu sebentar untuk berbicara dengan keluarganya.


"Om sebenarnya ada apa, apakah ada hal penting yang ingin om sampaikan." ucap Devian.


"Iya Saya dan ibu ingin bicara bertiga dengan kamu." ucap Wijaya memandang Devian.


Sebenarnya ada apa sih, sepertinya ada hal penting yang mau mereka bicarakan. Ucapnya dalam hati.


Tak lama kemudian Bu Wijaya datang dan duduk di samping Pak Wijaya.


"Nak Devian." sapa Bu Wijaya dengan senyum ramahnya.


"Iya Bu." Devian mengangguk sambil tersenyum ke arah Bu Wijaya.


"Mi ayo kita bicarakan hal itu kepada Devian." ucap pak Wijaya.


Bu Wijaya membalasnya dengan anggukan.


Mendengar kata - kata pak Wijaya, Devian semakin penasaran ia pun bertanya "Sebentar-sebentar, sebenarnya ada apa sih pak,Bu."


" Nak Devian sebenarnya kami ingin minta tolong kepadamu."ucap Bu Wijaya.


"Minta tolong apa Bu silahkan katakan, jika aku sanggup aku pasti akan usahakan. Bapak sama ibu kan sudah sangat berjasa dalam kehidupanku." Devian menatap mereka berdua dengan tatapan serius.


"Agar apa om?" tanya Devian yang merasa semakin bingung.


"Agar kamu mau menjadi suaminya!"Ucapan pak Wijaya membuat Devian terkejut.


"Apa! om" Mata Devian membulat.


"Iya nak kami ingin agar kamu menjadi istrinya Liona." jelas Bu Wijaya.


"Ta..tapi kenapa harus saya om" tanya Devian dengan wajah serius.


"Karena kamu adalah lelaki yang baik dan penuh tanggung jawab. om yakinkamu pasti bisa membahagiakan dan melindungi Liona." Jawab pak Wijaya dengan serius.


"bibi dan om mohon nak agar kamu bersedia menjadi suami dari Puteri kami."


ucap Bu Wijaya.


Devian bingun harus menjawab apa di sisi yang satu dia tidak mencintai Liona di sisi yang lain dia juga tidak mau menyakiti pak Wijaya dan Bu Wijaya yang sudah di anggapnya sebagai orang tua.


Devian berpikir sejenak merenungkan permintaan mereka.


Apa! aku menikah dengan Liona tapi aku tidak mencintainya dan jika aku menolak aku akan menyakiti hati om dan bibi. oke! oke! sebaiknya aku terima saja tawaran mereka anggap saja ini balas budiku kepada om dan bibi atas jasa mereka selama ini. bathin Devian.

__ADS_1


"om! bibi!" ucap Devian setelah merenung sebentar.


"Ya, bagaimana nak apa keputusan mu." Jawab mereka berdua serempak.


"keputusanku adalah Aku mau menjadi suami dari Liona." Jawab Devian dengan terbata - bata.


"Alhamdulilah pah, akhirnya nak Devian akan jadi menantu kita dan suami dari Liona." Bu Wijaya terlihat sangat bahagia sampai memeluk pak Wijaya.


sementara Devian masih terlarut dalam pikirannya Dia bingung akan jadi seperti apa ke depanya menikahi wanita jutek dan dingin seperti Liona.


Terlintas di pikiran Devian apakah Liona sudah mengetahui hal ini apakah belum.


"sebentar sebentar om! bibi! aku mau tanya." ucap Devian menyela mereka berdua yang tengah bahagia.


Mereka berdua pun menatap Devian.


"Ya Dev silahkan. Mau tanya apa."ucap pak Wijaya.


" apakah Liona sudah tau hal ini om."


Keduanya menggeleng menandakan belum.


"Lalu bagaimana jika Liona tidak mau om." tanya Devian melirik pak Wijaya.


"kalau itu mau tidak mau dia harus menikah dengan kamu karena ini adalah demi kebaikan dirinya. Om tidak mau dia salah pilih dan kamu adalah pilihan yang tepat menurut om." mendengar hal itu Devian tersenyum getir. Dia merasa kedapanya mungkin Liona akan benci kepadanya. Soalnya kesan dari pernikahannya seperti pemaksaan. Memang berat menikah dengan orang yang tidak dia cintai. Jadi Devian berpikir mungkin harus bersabar untuk kedapanya menghadapi Liona.


"Baik om." jawab Devian.


"Oh ya, om, bibi berhubung waktu sudah malam sebaiknya aku pulang ke rumah."


"oh iya nak maaf ya telah menyita waktu istirahatmu."


"Iya Bi tidak apa - apa." jawab Devian.


"Kalau begitu hati hati di jalan ya" ucap pak Wijaya dan Bu Wijaya.


"Baik om, bibi. Kalau begitu aku pulang ya." Devian pun segera salam kepada Pak Wijaya dan Bu Wijaya dan setelah itu pulang ke rumahnya mengendarai mobil.


Sesampainya di rumah Devian langsung melepaskan pakaiannya dan mandi.


Setelah mandi ia langsung berbaring di kasurnya yang megah dan empuk.


Ia mulai memejamkan matanya. Tetapi tidak bisa bisa karena kepikiran Liona dan kedepanya.


***aduhhh bagaimana ini, bagaimana jika dia tidak mau dan terpkasa. Dia pasti akan sangat membenciku. Dan kehidupan rumah tangga seperti apa yang akan kami jalani. ucapnya dalam hati.


Devian mengusap wajahnya dengan gusar.

__ADS_1


Lama kelamaan matanya mulai lelah dan akhirnya tertidur***.


__ADS_2