Menikahi Istri Yang Arrogant

Menikahi Istri Yang Arrogant
Pergi ke pesta


__ADS_3

Malam pun tiba Devian sudah pulang dari kantornya.


Ia membersihkan diri habis itu ia berbaring di kasur. Devian memainkan ponselnya.


Beberapa menit kemudian suara telepon berbunyi di ponselnya.


Dertttt Dertttt Dertttt


Devian melohat siapa yang menelepon ya dan ternyata itu adalah Pak Wijaya.


Devian mengangkat telepon tersebut.


"Halo, Pak Wijaya." sapa Devian.


"Halo devian." jawab pak Wijaya.


" Ada apa ya pak meneleponku malam - malam." tanya Devian.


"Saya ingin membicarakan pernikahanmu dengan Liona. Jadi kapan kamu ingin menikahi Liona."


"Saya akan menikahi Liona Minggu depan pak."


"Alhamdulilah, lebih cepat lebih baik nak, terimakasih nak."


"Iya pak. Apa hanya hal itu saja yang ingin bapak sampaikan."


"oh ya satu hal lagi yang ingin saya sampaikan ke kamu yaitu besok Liona ada undangan pesta temanya om ingin kamu pergi bersama Liona."


"Bagaimana ya om. Soalnya aku kan harus bekerja besok." jawab Devian.


"Kamu kan CEO nya. Jadi sehari libur nggak apa apa kan." ucap pak Wijaya dengan nada santai.


"Ok deh om. Aku besok akan menemani Liona." ucap Devian pasrah.


"Terimakasih ya nak, kamu memang calon menantu idaman."


"Iya om sama - sama." telepon pun terputus.


Devian menghempaskan tubuhnya ke kasur dan dia menatap langit - langit. Ia menarik nafas dalam - dalam mencoba untuk tenang. Ia yakin pasti esok hari saat pergi dengan Liona, ia tidak akan dianggap.


Apapun yang terjadi besok aku harus bersabar terhadap sikap Liona padaku. batin Devian agak merasa sedikit cemas.


Setelah lelah memikirkannya perlahan lahan mata Devian mulai tertutup. Hingga akhirnya ia tertidur lelap.


*******


Pagi pun akhirnya tiba.


Ia mulai bangun dari kasurnya dan mandi. Setelah selesai mandi Devian menuju ruang ganti pakaian. Ia hanya memakai kemeja dan celana panjang untuk pergi ke pesta temanya Liona.


Setelah selesai Devian langsung bergegas ke rumah pak Wijaya.


Devian menempuh perjalan selama 20 menit untuk mencapai rumahnya pak Wijaya.


Setelah selesai Devian langsung turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah.


Tok tok tok

__ADS_1


Suara pintu rumah di ketuk.


Beberapa detik kemudian pintu rumah terbuka. Terlihatlah pak Wijaya bersama istrinya dan puterinya yaitu Liona.


"Asalamualaikum om, Tante." Ucap Devian kemudian mencium tangan pak wijaya dan Bu Wijaya.


"Waalaikumsalam." ucap mereka bertiga.


Liona tampak terkejut melihat kedatangan Devian.


Untuk apa dia kesini.batin Liona ketus.


"Liona sayang hari ini Devian akan menemanimu ke pesta." Bu Wijaya membelai rambut Liona yang panjang.


Liona mengernyitkan dahinya.


"Mah kenapa harus dia sih." jawab Liona kesal sambil menunjuk Devian.


"Pokoknya kalau kamu nggak pergi sama Devian. Papa nggak izinkan kamu berangakat ke pesta." tegas pak Wijaya.


"Iya paaa." jawab Liona menunduk takut. Sebab jika ia menolak maka Liona nanti akan susah sendiri.


"Ya udah ayo berangkat." Ucap Liona langsung berjalan menuju mobil Devian tanpa melihat Devian.


Pak Wijaya dan bu wijaya geleng - geleng kepala melihat sikap anaknya itu.


"om aku sama Liona berangkat dulu ya." ucap Devian.


Devian pun memasuki mobil sementara Liona sudah berada di dalam. Mereka berdua akhirnya jalan menuju tempat pesta yaitu di rumahnya teman Liona, jaraknya agak jauh sekitar 1 jam.


Diperjalanan Devian dan Liona hanya diam, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka berdua.


Melihat situasi seperti itu Devian menjadikan waktu berdua ini sebagai kesempatan untuk lebih dekat dan lebih mengenal Liona.


"Liona." Sapa Devian yang masih fokus menyetir.


Liona hanya diam tidak menjawab, ia masih menatap pemandangan di luar jendela.


"Liona aku tau kamu pasti marah." ucap Devian.


"Diam!!!" bentak Liona sambil menatap Devian dengan tajam.


Devian kemudian menatap Liona. Ia memberhentikan mobilnya ke pinggir jalan.


Devian menghadap ke Liona. Tangannya ingin menyentuh dan membelai rambut Liona.


"Jangan sentuh aku." Liona menepis tangan Devian.


"Liona... tidak bisakah kamu membuka hati mu untuk ku." ucap Liona dengan nada lembut.


"Hahaha lebih baik aku mati daripada harus mencintaimu." Liona menyuguhkan senyum sinisnya.


Devian hanya menghela nafas nya.


"Liona kamu kan akan menjadi istriku seharusnya kamu menghargai aku sebagai calon suamimu."


"Cihhh suami kau bilang. Suami macam apa kau. Kau itu hanya laki - laki brengsek yang memaksaku untuk menikah denganmu." ucap Liona.

__ADS_1


"Aku tidak memaksamu, ayahmulah yang ingin aku menikahimu."


"Diam!!!! kau pasti sudah menghasut ayahku agar ia memaksa aku menikah dengan mu." ucap Liona menunjuk Devian.


Air mata Liona mulai menetes.


Melihat air mata Liona, Devian merasa sedih ia berusaha untuk menghapus air mata Liona tetapi Liona menangkis tangan Devian.


"Liona janganlah menangis aku sangat sedih jika air matamu itu keluar." ucap Devian mencoba menenangkan Devian.


"Tidak perlu sok baik di depanku. pria seperti mu itu hanya bisa merenggut kebahagiaan orang lain." Jawab Liona menangis.


Devian serasa di sayat hatinya mendengar perkataan yang diucapkan Liona.


Beberapa menit terisak Liona menghapus air matanya dan berhenti, ia mencoba untuk tenang.


"Ayo cepat jalan." ucap Liona membuang muka dari Devian.


Devian pun segera menjalankan mobilnya.


Mereka berdua menempuh perjalanan cukup lama yaitu 1 jam untuk sampai di acara pesta karena jalanan macet.


Akhirnya mereka sampai di tempat pesta.


Devian segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang disediakan.


"Ayo Liona." ajak Devian yang mulai membuka pintu mobil.


"Tunggu." ucap Liona menatap tajam ke arah Devian.


Devian pun membalikan badanya menghadap Liona. Ia menatap Liona dengan tatapan teduh.


"Ada apa Liona." Ucap Devian.


"Aku tidak mau jalan dengan kamu saat pesta, aku malu."


"Lalu aku harus apa."


"Menjauhlah dari aku saat di pesta nanti." ucap Liona.


"Baiklah tapi aku akan terus mengawasi mu dari jauh." ucap Devian.


Devian dan Liona pun keluar dari mobil. Liona segera menghampiri teman - temanya sementara Devian menjauh dari Liona tetapi tetap mengawasinya dari jauh dia tidak mau terjadi apa - apa dengan Liona.


Tak berselang lama ada seorang laki - laki menghampiri Liona. Melihatnya datang Liona langsung memeluknya. Setelah selesai berpelukan Laki - laki tersebut menarik tangan Liona mengajaknya ke suatu tempat.


"Si..siapa laki - laki itu, apa dia pacarnya Liona." Ucap Devian pelan. Devian merasa kesal melihat Liona berpelukan dengan laki - laki lain padahal ada dia yang mengawasinya.


Liona memang benar - benar tidak menghargai perasaanku.. Batin Devian mengepal erat tangannya.


Devian pun mengikuti kemana laki laki itu membawa Liona pergi. Takutnya laki - laki tersebut berbuat yang macam - macam terhadap Liona.


********


Liona dan laki - laki tersebut sudah sampai di tempat yang sepi dekat pesta tersebut.


"Sayang kamu mau bicara apa sama aku."

__ADS_1


Ucap laki laki tersebut sambil mengelus pipi Liona yang mulus dan putih itu.


"A...aku mau kita putus." ucap Liona dengan air mata yang membasahi pipinya....


__ADS_2