
Bu Wijaya berusaha untuk merangkulnya tetapi Liona menangkis tangan ibunya.
"Ada apa Li." tanya Bu Wijaya .
Pak Wijaya pun melirik Liona.
"Aku benci!! sama mama dan papa." Liona menatap tajam kearah mereka air matanya mulai menetes.
"Li mama sama papa ingin yang terbaik untuk kamu." ucap Bu Wijaya berusaha menenangkan Liona.
"Tapi mah aku tidak mau menikah dengan Devian." air mata Liona mulai mengalir dengan deras.
"Tidak, mau tidak mau kamu harus tetap menikah dengan Devian." ucap pak Wijaya dengan tegas.
Liona menatap Bu Wijaya dan berjalan mendekatinya stelah itu dia memeluknya. Ia menangis sejadi jadinya di pelukan mamanya.
"Mah aku tidak mencintai Devian bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya. Kehidupan rumah tangga macam apa yang akan aku jalani hiks...hiks." kali ini Liona benar benar merasa sangat sedih.
Melihat Liona seperti itu buk Wijaya menghelus elus kepala Liona.
"Nak Devian itu anak yang baik mama dan papa yakin dia bisa membahagiakan dan menjaga kamu. Tolong menikahlah dengan dia Liona." kata Bu Wijaya dengan suara yang lembut.
"Tidak Ma aku tidak mencintai dia lagi pula aku sudah punya kekasih." ucap Liona dengan terisak.
"Kekasih mu itu laki laki tidak bertanggung jawab ia bahkan tidak sopan terhadap papa dan mama waktu kami bertemu." ucap pak Wijaya.
"Pokoknya papa mau kamu nikah dengan Devian titik." ucap pak Wijaya dengan suara tinggi. Dia sebenarnya agak geram dengan sikap Liona yang seperti itu.
"Pah tolong tenang anak kita sedang sedih jangan membuat dia makin sedih lagi." ucap Bu Wijaya berusaha menenangkan suaminya.
Pak Wijaya hanya menarik nafas untuk meredam amarahnya.
Liona melepas pelukan nya dari ibunya dan menatap pak Wijaya.
"Papa jahat!! papa nggak pernah memikirkan perasaan aku. Aku benci!! papa!!" Ucap Liona dengan nada tinggi.
Liona langsung berlari ke arah kamarnya dan mengunci kamarnya.
Pak Wijaya berniat untuk menghampiri Liona.
" pah jangan, biarkan Liona menenangkan dirinya dahulu. nanti kalau sudah tenang kita bisa bicara dengan nya." ucap Bu Wijaya menghentikan suaminya.
Pak Wijaya membalasnya dengan mengangguk.
" Iya mah, memang sebaiknya begitu."
*************
__ADS_1
Sore pun tiba, Devian segera pulang ke rumahnya. Ia segera mandi karena badanya berkeringat akibat olahraga.
Setelah selesai mandi ia pun tertidur.
Pagi pun tiba, Devian segera bangan dari tidurnya. Ia beranjak untuk mandi dan bersiap - siap pergi ke kantor.
Setelah selesai bersiap - siap, ia langsung sarapan.
Bi Marni memasakan makanan sarapan ke sukaan Devian yaitu sandwich dan susu.
"Monggo den, silahkan sarapan." Ucap Bu Marni tersenyum ke arah Devian.
"Iya bi." Devian membalas senyum bi Marni dengan senyum nya yang manis.
"Bi aku kan sudah tidak punya orang tua lagi. Dan bibi sudah aku anggap orang tua sendiri. Sebaiknya bibi tidak usah berkeja lagi sebagai pembantuku." ucapnya di sela makan.
"Apa!!! bibi dipecat den." Bibi Marni terkejut mendengar perkataan Devian.
"Bukan dipecat bi tapi aku ingin bibi jadi ibu angkat ku." kata Devian.
"Terus nanti siapa yang akan merawat mu nak ." Kata bibi Marni.
"Soal itu mah tenang aja aku kan sudah besar jadi bisa merawat diri sendiri." kata Devian sambil melirik bi Marni.
"Kalau itu mau mu nak bibi akan dukung."
Bibi Marni mengangguk."Baik den"
"Bi Minggu depan aku akan menikah jadi nanti bibi datang ya." ucap Devian memegang kedua tangan bi Marni.
"Wah nikah sama siapa nak. Kamu kan belum pernah dekat dengan wanita setau bibi."
"Aku akan menikah dengan Liona bi, anaknya pak Wijaya."
"Owwwalah, semoga pernikahan kamu langgung ya nak sampai tua." bi Marni memegang kudua pipi Devian.
" Iya bi, doakan saja ya Bi." Devian pun mencium tangan bi Marni dan segera pergi ke kantor.
Devian sudah sampai di kantor ia segera masuk ke dalam ruanganya.
Devain duduk di meja kerjanya dan menyiapkan beberapa berkas untuk dia meeting dengan klien dari luar negri nanti.
Tok tok tok
Terdengar suara ketokan dari luar.
Devian segera menyuruh masuk.
__ADS_1
"Masuklah." ucap Devian.
Pintu pun dibuka dan yang masuk adalah sekretaris Devian bersama Arjuna dan David.
Sekretaris Devian lang sung menghampiri Devian sementara Arjuna dan David duduk di sofa. Mereka berdua hanya ingin main ke perusahaannya Devian.
"Maaf pak Devian. Hari ini bapak ada meeting dengan klien penting dari luar negri pak. Meeting akan dimulai 20 menit lagi." jelas sekretaris Devian.
"Iya saya sudah tau. kamu duluan saja saya mau berbicara dulu dengan teman - teman saya." Jawab Devian.
"Baik pak." Sekretaris Devian segera keluar dari ruangan Devian dan pergi menuju ruang meeting.
Devian segera ikut duduk di sofa bersama Arjuna dan David.
"Ada apa kalian ke sini biasanya hari Kamis saja." ucap Devian.
"Iya gua sama David mau nanya." ucap Arjuna sambil menatap Devian.
"Emang bener lu mau nikah sama Liona Dev." tanya David serius.
"Iya emangnya kenapa." balas David.
"Aduh Dev emangnya nggak ada cewe lain apa." Arjuna menatap Devian dengan tatapan khawatir.
"Emangnya ada apa sama Liona. kok sepertinya kalian tidak suka dengan dia."
tanya Devian yang mulai bingung.
"Dev Liona itu kan wanita galak, jutek, dan sombong lagi. Masa lu mau sih nikah sama dia. Dan apa sih yang membuat lu tiba - tiba mau nikah sama dia." ucap David.
David pun menghela nafas ia mulai menceritakan kenapa dia mau menikahi Liona.
Arjuna dan David mendengarkanya dengan antusias, sesekali mereka berdua merasa iba kepada Devian.
" Jadi begitu ceritanya Jun, dav . Gua tau Liona orangnya galak, jutek, dan sombong tapi kalo sampe gua nolak permintaan om Wijaya gua nggak enak, Kan selama ini dia udah banyak bantu gua. Bahkan udah kayak orang tua sendiri bagi gua." ucap David dengan perasaan bimbang.
Arjuna dan David mengangguk mengerti dengan keadaan Devian saat ini.
"Dan sekarang gua udah putuskan dengan mantap bahwa gua akan menikahi Liona, gua akan menjaganya dan membuatnya bahagia, walaupun mungkin dia nantinya akan benci Ama gua. Tapi gua akan terima resikonya." David memandang ke langit langit berusaha untuk tegar.
"Kalau emang itu keputusan lu Dev gua sama Arjuna akan dukung lu dan akalu ada masalah nanti saat elu udah nikah, lu jangan sungkan - sungkan ngomong sama kita. Siapa tau kita bisa bantu. oke." David menepuk - nepuk pundak Devian berusaha untuk membuatnya bersabar.
" Iya Dev kalo elu butuh bantuan kita. Kita siap bantu kok." Arjuna tersenyum ke arah Devian.
Devian yang tadinya bersedih kini muali tersenyum.
Stelah itu mereka bertiga kembali ke aktifitas masing - masing.
__ADS_1