Menikahi Istri Yang Arrogant

Menikahi Istri Yang Arrogant
Pernikahan


__ADS_3

Liona berjalan keluar dari rumah itu dan diikuti Devian.


Mereka berdua keluar dari rumah itu bersamaan dengan polisi yang sudah datang. Polisi pun menangkap dan membawa Aldi yang sudah terkapar akibat Devian......


Setelah itu Devian dan Liona menaiki mobilnya dan pulang.


Di perjalanan Liona masih menangis.


Devian hanya diam saja sebab ia tidak mau nantinya Liona marah.


Aku tidak tau harus berbuat apa. Jika aku mencoba untuk berbicara dengan mu aku takut nanti kamu marah. Batin Devian sambil melirik Liona.


Mereka berdua akhirnya sampai di rumah Liona. Liona langsung ke luar dari mobil dan setelah itu ia langsung berlari cepat masuk ke rumah. Ia segera menemui papa dan mama nya.


"Ada apa dengan kamu sayang kok kamu nangis." ucap Bu Wijaya khawatir.


Liona segera memeluk Bu Sarah. Bu Wijaya( Bu Sarah )


"Ada apa dengan kamu sayang." Pak Wijaya tak kalah khawatir dan merasa kasihan melihat anaknya menangis seperti itu.


"Mah Liona takut hiks... hiks." Ucap Liona sambil terisak.


Devian pun segera datang. Saat Devian tiba pak Wijaya terlihat marah.


"Devian apa yang terjadi dengan putri ku ? apa kau yang sudah membuatnya menangis." ucap pak Wijaya sedikit kesal.


"Bu... bukan aku om yang membuatnya menangis. " Ucap Devian terkejut.


"Lalu apa yang membuat putriku menangis." cap pak Wijaya.


"Itu karena kekasih nya Liona om. Tadi Liona hampir dilecehkan sama kekasihnya." ucap Devian.


"Apa !!!" Pak Wijaya dan Bu Sarah terkejut. Pak Wijaya segera menghampiri puterinya lalu memegang bahu Liona.


"Liona kamu nggak apa - apa kan sayang."


tanya pak Wijaya khawatir.


Liona mencoba menghapus air matanya.


"Aku nggak apa - apa pah. Beruntung tadi Devian datang tepat waktu dan menyelamatkan ku." ucap Liona menatap papah nya sambil tersenyum simpul mencoba untuk menutupi kesedihannya.


"Syukurlah kamu baik - baik saja , jika sampai terjadi sesuatu sama kamu papah nggak bakalan bisa memaafkan diri sendiri." Kata pak Wijaya yang merasa lega dan sekaligus merasa bersalah.


Bu sarah mendekati Liona dan mengeluus - elus kepalanya.


"Untuk saja ada nak Devian." ucab Bu Sarah.


Pak Wijaya menghampiri Devian dan memeluknya.


"Untung ada kamu Dev kalau tidak, om tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kedepanya." Ucapnya masih memeluk Devian.

__ADS_1


Devian menerima pelukan itu.


"Itu sudah menjadi kewajiban aku om sebagai laki - laki sekaligus calon suami Liona." ucap Devian.


"Om memang tidak salah memilih kamu menjadi calon suami anak om." ucap nya tersenyum.


Setelah itu mereka berkumpul di ruang tamu kecuali Liona karena mereka ingin membicarakan pernikahan. Sebenarnya Liona masih enggan untuk menikah dengan Devian tetapi jika ia menolak maka perusahaan warisan pak Wijaya tidak akan diberikan kepadanya sepeser pun.


Walaupun Devian telah menolongnya tetap saja Liona masih membenci Devian.


Setelah mengobrol cukup lama Devian pun pulang.


Pernikahan Devian dan Liona akan di laksanakan 1 Minggu ke depan.


*********


Akhirnya hari pernikahan tiba. Pernikahan Devian dan Liona dilaksanakan di sebuah rumah mewah yang akan di tinggali Devian dan Liona setelah mereka menikah.


Para tamu sudah berdatangan , mulai dari keluarga terdekat Devian dan Liona sampai teman - temanya, termasuk Arjuna dan David. Serta para rekan bisnis Devian dan pak Wijaya.


Devian hari ini memakai setelan jas berwarna hitam, ia terlihat tampan dan keren. Sedangkan Liona memakai gaun berwarna putih yang sangat cocok untuk kulitnya yang putih dan mulus.


Acara hijab kabul pun dilakukan.


Walaupun terjadi kendala yaitu Devian sulit berkata - kata atau membuka mulutnya ketika hijab kabul karena gerigi tetapi bisa diatasi dengan cepat.


Akhirnya hijab kabul selesai dan sekarang giliran pesta pernikahannya.


"Terimakasih ya sudah datang." Devian tersenyum ramah.


Mereka berdua segera pergi dari Devian untuk menikmati pesta pernikahan tersebut.


Pesta berjalan hingga sore hari.


Para tamu mulai pulang dan akhirnya pestanya berakhir.


Setelah selesai Devian dan Liona pergi menuju kamarnya. Sikap Liona masih saja dingin terhadap Devian Bahkan selama hijab kabul dan pesta pernikahan Liona tidak pernah senyum sama sekali.


Pak Wijaya dan Bu sarah mengantar mereka berdua menuju kamar mereka. Untuk malam ini pak Wijaya dan Bu menginap di rumah mewah yang telah dibeli oleh Devian untuk tempat tinggalnya bersama sang istri.


Setelah mengantar sepasang suami istri itu ke kamar mereka. Pak Wijaya dan Bu Sarah segera pergi ke kamar mereka untuk istirahat.


Devian dan Liona memasuki kamar mereka.


Liona langsung segera ke ruang ganti untuk mengganti pakaian nya. Karena tidak mungkin ia tidur menggunakan gaun seperti itu. Devian duduk di sofa menggu Liona berganti pakaian, ia juga ingin berganti pakaian.


Setelah Liona keluar Devian masuk kedalam ruang ganti dan Menganti pakaianya. Setelah itu ia ke luar. Devian menatap sekitar dan melihat Liona sedang duduk di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


Devian mendekatinya dan duduk di samping nya.


Liona hanya diam saja ia tidak memperdulikan keberadaan Devian.

__ADS_1


Lama mereka berdiam - diaman hingga akhirnya Devian membuka suara.


"Liona!!" panggil Devian menatap memandan Liona.


Liona tidak menjawab nya , ia masih fokus ke ponsel nya.


Devian menghela nafas dan menggeleng kan kepala nya.


Ia segera merebut ponsel Liona.


Liona terkejut ia langsung menatap Devian dengan kesal.


"Apa sih!! ganggu aja." bentak Liona.


"Li... aku ini sekarang adalah suami kamu. Kamu tidak boleh mendiamkan suami kamu seperti ini."


"Suka - Suka aku dan apa kau bilang suami, Aku bahkan tidak pernah menganggapmu suami." Liona tersenyum mengejek ke arah Devian.


"Liona sadarlah aku ini suami mu jadi bersikap lah baik kepadaku." Tegas Devian.


Liona membuang mukanya dan tidak memperdulikan perkataan Devian.


"Aku nggak peduli." ucap Liona dengan nada tinggi.


Mendengar perkataan Liona Devian menjadi geram ia mulai mendekati liona dan menindihinya.


Kali ini wajah Liona terlihat ketakutan dan berkeringat dingin, ia takut Devian akan menyetubuhinya.


"Mi... minggir kau." Ucap Liona dengan wajah yang tampak takut.


Devian tersenyum penuh kemenangan ke arah Liona.


"Kenapa!! apa kau takut." Devian menatap Liona dengan penuh hasrat.


"Bukankah tadi kau berperilaku sombong terhadapku, sekarang kemana sikapmu yang tadi." ucap Devian dengan tatapan menusuk.


Tanpa aba - aba Devian mencium bibir mungil Liona dengan paksa. Liona mencoba untuk melawan tetapi tenaga Devian lebih besar darinya. Liona mendorong dan memukul dada Devian tetapi ditangkap. Kini kedua lengan Liona terkunci oleh tangan kiri Liona.


Devian terus menerus mencium Liona. Liona hanya bisa menangis ia sudah tidak berdaya lagi di depan Devian. Belum puas dengan Bibirnya, Devian mulai membuka kancing baju piyama Liona. Ia lalu membukanya dan terlihatlah dada Liona yang sangat seksi.


Liona semakin menangis ia merasa sangat ketakutan saat ini.


"He.... hentikan Devian hentikan.." ucap Liona terisak.


Sontak Devian tersadar ia menatap wajah Liona , wajahnya penuh dengan air mata yang membasahi pipinya. Devian merasa iba kepada Liona, ia segera melepaskan Liona dan segera bangkit dari posisi menindihi Liona. Devian mengusap wajahnya dengan gusar, ia hampir saja memaksa Liona. Liona langsung menutup kembali baju piyama nya.


"Kau.. kau jahat Devian jahat.. jahat.. hiks... hiks" Liona menatap tajam Devian.


Liona kini duduk di samping kasur.


Devian mendekati Liona dan dengan sigap Liona menjauh, ia tidak mau dekat dekat dengan Devian.

__ADS_1


"Liona aku minta maaf aku khilaf." ucap Devian menyesal.


__ADS_2