Menjadi Anak Tengah

Menjadi Anak Tengah
Masa Kecil


__ADS_3

"Tangkap bolanya!"


"Gooolllll....!"


"Yeeee....."


Riuh terdengar anak-anak bermain bola di lapangan yang tak jauh dari rumahku, hanya terpisah jalanan. Iri rasanya melihat tawa mereka dari balik jendela rumah milik orang tuaku ini.


"Rahmat! jemuran sudah diangkat belum?" teriak mama yang baru pulang dari kebun untuk beristirahat sholat juga makan siang, kemudian akan berangkat lagi ke kebun hingga sore.


Aku segera menghampirinya.


"Sudah ma," jawabku.


"Oh, kalau begitu segera kau lipat jangan dibiarkan, nanti kusut, mana Ikbal?"


"Tidur ma," jawabku ketika mama menanyakan adik bungsuku yang baru berusia 2 tahun.


"Bagus, cepat kau lipat baju!"


Aku pun berlalu masuk ke kamar yang penuh dengan tumpukan baju yang sudah kuangkat dari jemuran, kemudian mulai melipatnya.


Di umurku yang baru dua belas tahun ini keseharian ku bukan hanya bermain dan belajar tapi dibebankan beberapa pekerjaan rumah dan mengasuh adik bungsuku. Sementara kedua kakakku berada di pondok pesantren dan orang tuaku sibuk bekerja di ladang.


Aku merasa paling dibedakan dari yang lain, aku adalah anak ke tiga dari lima bersaudara, yang pertama bernama Asep, kedua Faqih, ketiga aku, keempat Miftah dan kelima Ikbal. Anehnya, kedua kakakku tak pernah diperintah ini itu oleh mama juga adikku Miftah apalagi adik bungsuku karena memang baru berusia dua tahun. Ikbal jadi tanggung jawabku selama orang tuaku di kebun. Dan jika aku dan Miftah sekolah, Ikbal hanya akan dibiarkan di dalam kamar dengan makanan-makanan ringan yang disediakan mama, hingga aku atau mama pulang ke rumah.


"A Rahmat main yu! ke lapang," ajak Miftah, saat sore.


"Tidak bisa dek, Aa harus jaga Ikbal, mama belum pulang," jawabku sedih karena memang aku jarang bisa bermain kecuali saat mama libur dari ladang.


Tapi tidak dengan adikku yang bebas saja bermain bahkan kadang hingga menjelang Maghrib.


"Ya sudah aku mau ikutan main bola ah," ucap Miftah riang seraya pergi ke lapangan di seberang jalan.


Sakit rasanya hatiku, karena diusia semuda ini aku harus kehilangan masa kecilku.


Matahari mulai meredup, menyisakan senja yang akan melukis indahnya pemandangan alam nan asri desaku ini. Sore ini aku sedang menonton televisi bersama Ikbal yang telah rapi dan wangi sehabis aku mandikan.


Tiba-tiba masuk derap langkah dua orang dewasa ke rumah yang tak lain adalah orang tuaku. Kemudian mereka ke kamar mandi satu persatu untuk membersihkan diri.


Setelah itu ke kamar untuk berganti pakaian.


Mama keluar dari kamar menghampiri aku dan Ikbal yang masih setia di depan televisi.

__ADS_1


"Eh, Ikbal sudah mandi sayang," ucap mama sambil mendudukkan Ikbal di pangkuannya.


"Mat, Miftah mana?" tanya mama kemudian.


"Di lapang, katanya tadi mau main bola," jawabku tanpa menoleh.


"Panggil sana, sudah sore sebentar lagi maghrib,"


"Hmm," jawabku malas sambil berlalu untuk mencari Miftah, adikku.


Setibanya di lapangan yang hanya dipisahkan jalanan dari rumahku, ternyata tidak ada siapapun disini.,


"Mif! Miftah!" aku berteriak-teriak memanggil Miftah. Tapi nihil tak ada jawaban. Aku pun panik.


'bisa marah besar mama kalau aku pulang tidak bersama Miftah' batinku.


Aku pun menyusuri lapangan lalu masuk ke ladang-ladang milik warga, untuk mencari Miftah. Hari mulai gelap tapi Miftah belum juga ketemu, aku panik. Antara takut gelap di ladang juga takut pulang jika tak bersama Miftah. Takut dimarahi oleh mama.


Krik...krik...


Suara jangkrik bersahutan, matahari telah masuk ke peraduan. Gelap. Aku masih di hamparan ladang luas melangkah menjauhi desa untuk mencari Miftah.


Aku sudah lumayan jauh pergi dari desa terdengar deru air sungai mengalir tidak terlalu deras, aku terus berjalan hingga disisi sungai sambil memanggil-manggil Miftah, tapi naas aku menginjak batu licin hingga terperosok ke sungai. Untunglah air sungai tidak terlalu deras hingga aku bisa menarik diriku ke tepi dengan berpegangan pada rumput liar, namun kakiku sangat sakit mungkin tadi aku terkilir hingga aku tak dapat berjalan.


Tiba-tiba ada derap langkah kaki yang memecah keheningan, aku kaget dan merinding takut jika yang datang hewan buas.


"Rahmat!" panggil Ayah ketika dekat.


Aku pun mendongak.


"Ayah!" panggilku dengan mata berbinar.


"Kenapa kamu diam disini nak?" tanya Ayah lembut sambil mengusap rambutku. Kepribadian ayah memang sangat berbeda dengan mama, ayah memiliki watak lembut dan pendiam.


"Tadi aku cari Miftah, tiba-tiba aku terperosok ke sungai dan kakiku terkilir, sakit sekali yah," tuturku menceritakan kejadian yang tadi aku alami.


Ayah langsung berbalik badan dan memberi isyarat agar aku naik kepunggungnya untuk digendong.


Aku pun pulang dengan digendong ayah. Senang sekali rasanya. Setelah beberapa lama aku pun sampai di rumah.


"Assalamualaikum," salam ayah ketika memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam," jawab mama dari dalam yang sedang menidurkan Ikbal.

__ADS_1


"Darimana saja? kenapa lama sekali!" ucap mama dengan nada agak tinggi tapi tersirat kekhawatiran yang jelas terpancar.


Aku diam, takut untuk menjawab.


"Rahmat terperosok ke sungai, kakinya terkilir," ucap Ayah menjawab pertanyaan mama.


"Astaghfirullah Rahmat! Yah telepon Mak Zenab suruh pijit takut kenapa-napa," tutur mama dengan wajah khawatir dibalik perbedaan sikap dan sifat kerasnya tetap ada kasih sayang seorang ibu yang tak dapat dipungkiri.


Lalu mama mengelap tubuhku dan mengganti bajuku dengan baju yang kering.


tuuttt....tuuttt...


Terdengar sambungan telepon saat Ayah menelepon Mak Zenab untuk membenarkan kakiku, beginilah adat di pedesaan jika terkilir pastilah segera diurut oleh tukang urut.


"Assalamualaikum, Mak," salam ayah ketika telepon tersambung.


.


"Bisa ke rumah sekarang, ini anak saya kakinya terkilir,"


.


"iya ditunggu ya Mak, assalamualaikum," ucap Ayah mengakhiri sambungan telepon.


Setelah satu jam menunggu akhirnya Mak Zenab datang.


"Assalamualaikum," ucap Mak Zenab dibalik pintu.


"Wa'alaikumsalam, mari masuk Mak," ucap mama saat membuka pintu dan berlalu mengambil minuman untuk Mak Zenab.


"Ini Mak, Rahmat terkilir tolong dibetulkan," ucap ayah.


"Oh iya iya, ada minyak atau hand body?"


"Ada Mak, sebentar," jawab mama saat menyimpan minuman kehadapan Mak Zenab lalu berlalu ke kamar untuk mengambil hand body.


Setelah ada hand body Mak Zenab pun mulai mengurut kakiku yang terkilir.


"Awww...!" aku menjerit karena lumayan sakit saat dipijit.


"Tenang Jang, sebentar lagi," ucap Mak Zenab.


Setelah selesai, mama menyuruhku beristirahat di kamar dan Mak Zenab pamit pulang. Aku pun dipapah masuk ke kamar oleh ayah. Di kamar ini hanya ada satu lemari besar dan kasur lantai dengan bantal-bantal dan selimut, jika dulu aku tidur bertiga dengan kedua kakakku, sementara Miftah bersama mama, tapi sekarang setelah kedua kakakku mondok aku biasanya tidur berdua dengan Miftah dan Ikbal di kamar mama.

__ADS_1


Rasanya lelah sekali setelah berjalan jauh mencari Miftah dan terperosok ke sungai, aku pun memejamkan mata untuk tidur.


__ADS_2