Menjadi Anak Tengah

Menjadi Anak Tengah
Rasa Rumah


__ADS_3

"Eh Mat udah pulang, makan dulu nak," ucap mama lembut.


Sambutan yang selalu kudapat setiap kali pulang setelah menghilang beberapa hari, hangat rasanya. Tapi keesokan paginya akan dilanjutkan dengan wejangan khusus yang membuat kupingku panas.


"Iya ma," aku pun duduk di sebelah Ikbal sambil memakan isi toples yang ada di hadapanku.


Acara lawak yang kami tonton cukup menghibur. Sesekali membuat tawa aku dan adikku pecah.


Ketika malam semakin larut kami pun masuk kamar masing-masing, ada 3 kamar di rumah ini, satu kamar orang tuaku, satu kamar teh Ami dan satu kamar aku dan Ikbal.


Di kamarku hanya ada satu lemari dan satu kasur lantai, tak ada poster-poster seperti anak muda kebanyakan. Aku lebih suka stiker yang kutempel penuh di lemari.


Aku dan Ikbal merebahkan badan, lelah rasanya. Bukan lelah fisik karena bekerja tapi lelah hati karena gersang kasih sayang.


"A kenapa sekarang aa jarang pulang?" tanya Ikbal.


"Gak apa-apa, kenapa? kangen ya...," jawabku sambil bercanda.


"Iya gak ada temen kalau di rumah,"


Ikbal memiliki karakter introvert, dia tidak banyak bicara apalagi pada orang baru, berkebalikan denganku yang sok akrab. Jadilah diantara kakak-kakaknya yang lain akulah yang paling dekat dengannya selain karena karakterku yang supel tapi dulu saat kecil Ikbal lebih banyak aku yang asuh.


"Kan ada teh Ami, Ikbal bisa ngobrol sama teh Ami, teh Ami enak ko diajak ngobrol,"


"Beda a."


"Hehe, beda bagaimana?"


"Entahlah, tapi aa yang paling ngerti."


"Besok kamu sekolah?"


"Enggak a, libur."


"Oke besok aa gak akan kemana-mana."


"Serius a?"


"Dua rius."


"Asik!"


"Ya sudah cepat tidur dasar bocah, hehe."


"Oke a,"


Tak lama kemudian terdengar nafas teratur tanda Ikbal telah terlelap dan pergi ke alam mimpi.


*****


Ayam berkokok, matahari belum sedikitpun menampakan dirinya, adzan subuh menggema di setiap masjid, mengajak orang-orang yang terlelap untuk bangun dan menanggalkan selimut.


"Rahmat, bangun!" teriak mama dari luar seperti biasa jika aku ada di rumah.

__ADS_1


"Siap Bu komandan," jawabku malas.


"Cepat ke kamar mandi terus sholat!"


"Iya moms," ucapku sambil bangun dan membangunkan Ikbal yang tidur di sisiku.


"Bal, bangun subuh," ucapku sambil menepuk-nepuk badannya yang gempal.


Ikbal menggeliat, aku pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Lalu keluar untuk sholat di masjid. Masjid terletak di seberang jalan dari rumahku jadilah sholat di masjid sudah menjadi rutinitas keluargaku yang laki-laki.


Masjid yang memiliki begitu banyak kenangan masa kecilku, kadang aku tersenyum bila mengingatnya. Dulu setiap sehabis Maghrib aku dan teman-teman akan mengaji di masjid ini. Disaat yang lain sibuk belajar aku justru sibuk menjahili teman-teman, hingga akhirnya aku sering kena sanksi berdiri di depan masjid atau dicubit karena tak bisa diam.


"Mat, tumben sudah bangun jam segini," ucap Pak Mukidi membuyarkan lamunanku.


"Maklum ada alarm otomatis pak, beda dari yang lain pokoknya, haha," ucapku memberi isyarat alarm yang berarti teriakan mama.


"Hehe, tingkatkan,"


"Siap!"


Iqomah dikumandangkan, para jamaah masjid berbaris untuk melaksanakan sholat subuh, hanya ada sekitar sepuluh orang yang berjamaah. Dengan diimami oleh ayah kami pun khusyuk dalam lantunan ayat suci yang dibacakan.


Setelah sholat, aku beranjak pulang ke rumah.


Melalui pintu dapur aku masuk ke rumah dengan mengucapkan salam.


"Mat, tolong sapu halaman!" ucap mama setelah menjawab salam sambil memasak nasi goreng. Seperti biasa, entah kenapa mama selalu paling nyaman bila memerintahkan aku untuk mengerjakan sesuatu. Tidak seperti saudara-saudaraku yang lain yang jarang bahkan tak pernah diperintah apapun.


"Siap ibu komandan," ucapku sambil berlalu ke halaman depan dan mengambil sapu lidi untuk menyapu.


Aku pun bergegas mengambil uang yang disodorkan mama dan pergi ke warung. Meskipun hari masih sangat pagi warung-warung di desa sudah buka.


Setibanya di warung, aku berkata pada mang Odik penjaga warung, "Mang, beli kecap yang lima ribu,"


"Boleh, Rahmat aja yang selalu ke warung mah si rajin," ucap mang Odik karena memang selalu aku yang disuruh ke warung sejak dulu jika ada keperluan yang harus dibeli.


"Aamiin mang, hehe," jawabku sekenanya.


"Nih mat," ujar mang Odik sambil memberikan kantong plastik hitam berisi kecap.


Aku pun mengambilnya dan kembali pulang ke rumah.


"Ma, ini kecapnya," ucapku saat masuk ke dapur.


"Iya sini," ucap mama sambil mengambil kecap dan memasukannya ke dalam nasi goreng.


"Sarapan dulu mat, teh, yah! cepat sini sarapan dulu!" panggil mama mengumpulkan seisi rumah untuk sarapan.


"Mana Ikbal ma?" tanyaku karena tak melihatnya sejak pulang berjamaah tadi.


"Tidur lagi di kamar," jawab teh Ami yang tadi memang membereskan rumah.


"Oh," jawabku singkat.

__ADS_1


Teh Ami kemudian membantu mama menyiapkan sarapan.


Ting..


Notifikasi pesan masuk di gawaiku, aku membukanya dan ternyata dari Dewi.


[Bang kata Rani main sini ke rumahnya, aku juga masih disini.]


[Oke, paling besok.] balasku, lalu aku memasukan kembali gawaiku ke dalam saku celana.


'Lumayan ketemu lagi nona manis' fikirku.


Seketika sarapan telah dihidangkan, tak ada meja makan di rumahku jadi kami terbiasa makan lesehan, tapi disitulah letak kenikmatannya.


"Mat, kalau bisa jangan kemana-mana," wejangan mama seperti biasa.


"Siap ma buat hari ini mah," ucapku disela-sela makan.


"Atau bantu mama di ladang, biar kamu bisa,"


"Iya nanti,"


"Nanti-nanti, nanti itu gimana sekarang!"


"Siap ibu komandan," ucapku sambil menempelkan tangan di dahi seperti hormat upacara.


Setelah selesai makan aku memilih masuk ke kamar dan memainkan gawai.


Iseng ku coba buka pesan-pesan di media sosialku, ternyata ada beberapa pesan yang belum aku baca. Aku memang jarang membukanya hanya sesekali.


[Bang, kapan main lagi kesini? Gak seru kalo gak sama Abang] Amel.


[Mat, dimana?] Rendra.


[Bang kapan gila bareng lagi?] Rena.


Aku tersenyum melihatnya. Ada beberapa pesan juga yang bernada serupa. Aku memang dikenal lucu dan kocak di depan teman-teman makanya kata mereka kalau kumpul tanpa aku katanya gak seru.


"Mat, jemur itu pakaian sudah dicuci sama teh Ami!" teriak mama dari luar.


"Hmm," jawabku sambil berjalan menuju kamar mandi yang di depannya telah ada cucian yang siap dijemur sementara teh Ami masih mencuci karpet di dalam kamar mandi, aku pun mengangkatnya dan bergegas keluar untuk menjemurnya di halaman depan.


Lalu lalang para siswa sekolah yang pergi ke sekolah sambil menatapku heran, karena seperti biasa aku hanya mengenakan kaus oblong dan celana jeans selutut sambil menjemur pakaian. Tak pernah ku hiraukan tatapan heran para siswa tersebut karena memang tak ada untungnya buatku.


Setelah selesai menjemur, aku masuk ke dalam rumah untuk menyimpan ember, kulihat Ikbal sedang sarapan di depan televisi.


"Bal, kenapa libur? tapi tadi di depan banyak anak sekolah," tanyaku penasaran.


"Kan Jum'at a, persatuan libur, kalau yang di negeri mah Minggu liburnya," jawab Ikbal menjelaskan.


"Oh iya ya sekarang kan jum'at, lupa aa,"


"Kaya udah tua aja,"

__ADS_1


"Emang kali!" ucapku sambil memperagakan wajah kakek-kakek.


"Haha." kami pun tertawa bersama


__ADS_2