Menjadi Anak Tengah

Menjadi Anak Tengah
Cinta


__ADS_3

"Mat! awas jangan kemana-mana!" teriak mama di pagi hari saat akan pergi ke ladang.


"Siap!" jawabku dari dalam kamar yang sedang memainkan gawai.


[Jadi kesini bang] chat dari Dewi.


[Nanti agak siang] balasku.


[Ditunggu bang]


[Siap, Rani ada?]


[Ya ada lah, kan ini rumahnya bang.]


[Iya juga ya. Minta nomornya dong.]


[Nomor siapa? Mang Udin?]


[Rani lah, iya kali aku suka sama mang Udin, semangka makan semangka dong.]


[Ya kali aja, nih 081xxxxxxxxxx]


[Oke makasih, kamu gak cemburu kan? haha]


[Ke PD an banget deh si Abang, haha]


Setelah dapat nomor Rani segera aku save dan chat dia.


[Pagi Rani, aku Rahmat, masih ingat kan?]


[Pagi, iya masih kok, bang Rahmat kan.] Balas Rani.


Senang rasanya hatiku saat dapat balasan chat dari Rani apa ini yang dinamakan cinta. Rasanya geli sendiri aku mikirin cinta, untung bukan Cinta Kuya.


[Abang boleh ke rumah kamu.]


[Boleh banget bang.]


[Tapi takut gak dianggap, tar gak dimasukin ke rumah malah diusir, haha]


[Gak akan bang, tamu spesial masa dianggurin, hehe.]


Tak terasa waktu mulai merangkak panas, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, termasuk keluargaku. Orang tua yang pergi ke ladang, teh Ami yang beberes rumah juga Ikbal yang asik main PlayStation. Jenuh rasanya, akhirnya aku putuskan mengendap-endap keluar untuk pergi ke rumah Rani.


Karena tak ingin ketahuan adikku Ikbal aku keluar melewati jendela dan mendorong motor yang terparkir di halaman sampai agak jauh. Maklum suara knalpot motorku sangat memekakkan telinga.


Setelah dirasa aman, aku menstater motor dan menaikinya. Tak butuh waktu lama hanya setengah jam aku sudah sampai di rumah yang dimaksud. Rumah bernuansa minimalis dengan cat hijau, di depannya ada halaman yang tak begitu luas ditumbuhi dengan berbagai jenis bunga, terlihat asri dan apik. Aku sering main di daerah sini hanya baru tahu saja ada gadis cantik nan anggun di rumah ini.


"Assalamualaikum," ucapku sambil mengetuk pintu.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, masuk bang," jawab Rani sambil membuka pintu dengan tersenyum manis.


"Boleh duduk?"


"Boleh dong bang masa enggak,"


"Ya siapa tahu aja kursinya cuma pajangan aja gitu, hehe," gurauku yang hanya dibalas dengan tawa kecil oleh Rani.


"Eh ada babang tampan," ucap Dewi yang masuk ke ruang tamu dari belakang.


"Eh ada Neneng Dewi cuaanntik!" balasku dengan mengangkat kedua jempol.


"Ada-ada aja Abang, oh iya Abang mau minum apa? Rani buatin," tawar Rani padaku, rasanya senang sekali entahlah seperti ada magnet kebahagiaan yang Rani pancarkan.


"Gak usah repot-repot! kopi aja boleh, hehe," jawabku.


"Itu mah namanya ngerepotin!" timpal Dewi sengit.


"Apa sih kamu ribut aja! ngefans sama aku," ucapku dengan wajah yang nubuat so imut.


"Uweekk," ucap Dewi memperagakan pura-pura muntah. Aku hanya tertawa melihatnya.


Tak lama kemudian, Rani datang dengan nampan berisi satu gelas kopi panas.


"Ini bang kopinya," ucap Rani sambil meletakkan kopi panas di atas meja di hadapanku.


"Makasih Rani," ucapku sambil menyeruput kopi panas tersebut, "hmm, manis seperti yang buat," lanjutku.


"Bang, suka hiking?" tanya Rani tiba-tiba.


"Apa hiking? Makanan? minuman? atau sejenisnya?" tanyaku balik dengan wajah bingung, maklum sekolah cuma sampai SD itupun banyak ketidurannya di kelas.


Alhasil, ditertawakan oleh Dewi dan Rani. Tapi aku kalem aja.


"Susah ngomong sama orang pinter mah!" ledek Dewi padaku.


"Itu loh bang, naik gunung, Abang pernah?" tanya Rani lembut.


"Belum, ini da anak soleh mah diem aja di rumah, hehe," jawabku sambil bercanda.


"Kebetulan lagi kosong gimana Minggu depan kita hiking, yang deket-deket aja ke gunung Cikuray, gimana?" tutur Rani semangat.


"Boleh juga, tuh!" seru Dewi bersemangat.


"Ayok, bawa apa aja?" tanyaku bingung, karena memang belum pernah.


"Abang punya tas hiking?" tanya Dewi.


"Enggak sih, terakhir punya tas waktu SD, sama nih tas selendang yang selalu setia menemani setiap langkahku, hehe," tuturku sambil menunjuk pada tas kecil yang selalu kubawa.

__ADS_1


"Ya kali, mau hiking cuma bawa selempak doang segitu," ucap Dewi.


"Gak apa, aku ada dua kok, Abang bisa pakai punya aku, aku pakai punya kakakku, kalau liburan doang soalnya dipakainya itupun kalau kesini," tutur Rani, yang ternyata anak kedua dari dua bersaudara, kakaknya sekarang kuliah di Bandung.


"Ok deh, makasih banyak Ran, o iya jadi bawa apa aja sih? serius nanya," ucapku.


"Bawa baju, selimut, makanan, mie, beras, piring, dan yang lainnya yang sekiranya Abang butuhkan," tutur Rani menjelaskan apa saja yang harus kubawa.


"Bentar ya bang aku ambil dulu tasnya," ucap Rani sambil berlalu pergi ke kamarnya.


Tak berapa lama Rani kembali dengan membawa tas besar berwarna hitam dan abu-abu.


"Nih bang! ini ukuran standar 50liter. Abang bawa aja dulu," ucap Rani sambil menyimpan tas di sebelah kursi yang aku duduki.


"Wah, beneran nih Ran, makasih banyak ya!" ucapku girang.


Kami mengobrol asyik kesana-kemari hingga tak terasa ternyata waktu sudah mulai sore. Aku pun pamit pulang pada Rani dan Dewi, dan tak lupa membawa tas yang dipinjamkan Rani padaku.


Setelah keluar rumah, aku pun melajukan motorku ke arah kosan yang biasa dipakai anak-anak berkumpul.


Setelah sekitar lima belas menit perjalanan aku pun sampai di kosan, aku segera memarkirkan motorku dan berjalan menuju kamar paling ujung sambil menenteng tas hiking milik Rani.


"Assalamualaikum!" ucapku sambil nyelonong masuk ke kamar kos.


"Wa'alaikumsalam, pak haji!" jawab Egi, Gilang, dan kawan-kawan serentak.


"Loh, mau naik gunung mana bos?" tanya Egi saat melihatku masuk sambil menenteng tas hiking.


"Cikuray dong!" jawabku semangat.


"Sama siapa?"


"Rani, Dewi, hehe,"


"Cieee, jadi nih jadi!" seru Gilang meramaikan.


"Harus dong!" jawabku sekenanya.


"Tapi liburan gini mah bakal penuh Mat," tutur Rafli.


"Terus kalau penuh kenapa?"


"Ya kalau difoto biasanya kurang bagus momennya kalau banyak orang mah," tutur Rafli menjelaskan.


"Ah biarin lah yang penting hiking aja dulu, urusan foto belakangan, bisa di tukang es cendol atuh gak usah di gunung," ucapku sekenanya karena memang selain belum pernah naik gunung yang penting bisa bareng sama Rani buatku sudah senang banget rasanya.


Baru kali ini rasanya aku punya rasa lebih kepada lawan jenis karena biasanya aku hanya menganggap mereka sebagai teman biasa atau paling sebagai adik-adikan. Aneh, rasayang muncul perlahan tanpa kusadari memberi warna baru dalam hidupku.


"Mat, catur ah tuh gantiin si Iki keok terus," ajak Gilang yang baru selesai main catur bersama Iki.

__ADS_1


"Siap, hayu!" jawabku sambil menuju ke papan catur di hadapan Gilang.


__ADS_2