Menjadi Anak Tengah

Menjadi Anak Tengah
Hiking Pertama


__ADS_3

Sabtu malam ini, rasanya sulit sekali untukku memejamkan mata. Ternyata memang benar kata orang 'menunggu adalah sesuatu yang sangat menyebalkan' . Akhirnya, aku menyibukkan diri dengan mendengarkan musik dari gawaiku menggunakan earphone.


Ting.


Tiba-tiba ada notifikasi pesan chat masuk, lalu kulihat layar gawai dan ternyata chat dari Rani, seketika aku tersenyum.


[Assalamualaikum Abang, besok setengah enam harus sudah disini ya, jangan telat.]


[Wa'alaikumsalam cantik, siap. Kok belum tidur?] balasku.


'Entahlah apa memang Rani berniat mengingatkanku atau hanya ingin berbalas chat denganku, tapi yang pasti ada rasa bahagia saat Rani membalas pesan-pesan chatku, apalagi jika nanti membalas perasaan cintaku.' batinku.


[Belum ngantuk aku bang, Abang sendiri kenapa belum tidur?]


[Lagi kangen sama seseorang, hehe.]


[Siapa bang? cieee, Abang punya kekasih ya, duh maaf aku ganggu dong.]


[Kangen Rani Maharani.]


[Ih, Abang bisa aja, kok tahu nama lengkapku bang?]


[Tahu dong, masa tempe.]


[Abang bercanda aja.]


Aku pun terus berbalas pesan chat dengan Rani hingga larut malam, sampai akhirnya aku tertidur entah jam berapa.


"Rahmat, bangun!" panggil mama dengan nada tinggi seperti biasa.


"Hmm," jawabku malas.


"Cepat sholat subuh!"


"iya ma,"


Aku pun bergegas ke kamar mandi dan berlalu menuju ke masjid. Seperti biasa, di masjid hanya ada beberapa orang saja yang berjamaah sholat subuh. Suasana subuh memang sangat menggoda untuk menarik selimut kembali.


Setelah selesai sholat aku segera kembali ke rumah, teringat janjiku pada Rani untuk pergi ke rumahnya setelah subuh. Rencananya aku, Rani, Dewi dan beberapa anak pecinta alam Cikajang akan berangkat hiking pagi ini.


Sampai di rumah kulihat mama sedang memasak bekal untuk ke ladang, sementara teh Ami sibuk membereskan rumah.


"Ma, aku mau pergi dulu hiking ya," izinku pada mama.


"Iya silahkan, hati-hati!" jawab mama.


"Siap, Bu komandan!" ucapku sembari hormat lalu melenggang masuk ke rumah untuk mengambil tas hiking.

__ADS_1


Setelah siap, aku pun berangkat ke rumah Rani dengan sepeda motor kesayanganku. Menembus jalanan yang sepi dan masih gelap, dengan kecepatan sedang hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untuk sampai ke rumah Rani.


Saat tiba di halaman rumahnya, ada dua tas hiking besar tersandar di dinding depan rumah di atas teras.


"Assalamualaikum," ucapku.


"Wa'alaikumsalam, bang masuk bang!" teriak Dewi dari dalam rumah.


"Sudah siap?" tanyaku.


"Siap dong!" jawab Dewi bersemangat.


"Rani mana?"


"Di belakang, bentar lagi kesini."


Tiba-tiba muncul Rani dari dapur dengan seorang wanita paruh baya.


"Bu, kenalin ini bang Rahmat, bang ini ibu Rani," ucap Rani mengenalkanku pada ibunya.


"Rahmat Bu," ucapku sehalus dan seramah mungkin, aneh rasanya agak gerogi berkenalan dengan ibunya Rani ini.


"Oh, ini yang namanya Rahmat, saya ibunya Rani," tutur ibu Rani.


"Bu, Rani berangkat dulu ya," pamit Rani pada ibunya.


"Iya sayang, Dewi, Rahmat tolong jaga Rani ya, hati-hati di perjalanannya, apalagi di gunungnya jangan bertingkah yang aneh-aneh pokoknya ya!" tutur ibu Rani memberi nasihat.


"Siap, Bu!" jawabku dengan bersemangat.


Lalu kami pun pergi dengan mengendarai dua motor, aku sendiri sementara Rani saru motor dengan Dewi. Setelah setengah jam perjalanan kami tiba di kaki gunung Cikuray, ada beberapa rumah penduduk dan lapangan untuk parkiran motor ataupun mobil, apalagi ini musim liburan yang mendaki gunung pun meningkat berkali-kali lipat dari biasanya.


"Dewi, Rani!" panggil seorang lelaki muda sambil melambaikan tangan pada saat kami memarkirkan motor.


"Eh, kak Anto!" seru Rani.


Rupanya yang memanggil bernama Anto dan dia adalah seorang tour guide pendakian gunung kami.


"Sini, gabung!" ucap Anto.


Lalu kami menghampirinya, ada banyak orang disini.


"Kak, kenalin ini bang Rahmat, mau ikut hiking juga," tutur Dewi memperkenalkanku pada Kak Anto tersebut.


"Rahmat," ucapku sambil mengulurkan tangan dan dibalas dengan salam dari tangan Kak Anto, sambil berkata, "Anto, sudah pernah hiking Rahmat?"


"Belum kak, baru pertama ini," jawabku.

__ADS_1


"Oh ya sudah, yuk, semua kumpul!" ucapnya setelah berkenalan denganku.


Kemudian berkumpul sekitar sembilan orang dihadapannya.


"Assalamualaikum, semuanya!" salam Kak Anto membuka percakapan dan dijawab serentak oleh sembilan orang dihadapannya.


"Oke, semuanya sudah lengkap, jadi kali ini kita termasuk kloter dua keberangkatan, nanti ada pos-pos yang harus dilewati, ingat! berlaku sopan dan jaga alam, untuk keberangkatan dan keselamatan mari kita mulai dengan do'a menurut kepercayaan masing-masing," tutur Kak Anto menjelaskan.


Lalu setelah berdo'a kami pun memulai perjalanan mendaki gunung Cikuray. Awalnya sepuluh orang pendaki kelompokku berjalan bersama tapi setelah beberapa meter kami mulai berjalan masing-masing, tanpa ada yang bicara ataupun bertanya, semuanya hanya berjalan dan sibuk mengatur napas agar tidak ngos-ngosan dan tumbang di tengah jalan.


Di setiap pos kami berkumpul yang lebih dulu tiba di pos menunggu yang belum sampai, begitulah hingga beberapa pos terlewati.


Setelah sekitar lima jam perjalanan kami pun sampai di puncak gunung, pemandangan yang indah tersaji di hadapan netra kami, udara sejuk terasa menusuk kulit meskipun hari begitu cerah. Banyak pendaki dari berbagai daerah disini, ada yang telah mendirikan tenda dan banyak juga yang sedang mengobrol ria.


"Alhamdulillah, kita sudah sampai di puncak gunung Cikuray, semuanya silahkan beristirahat dulu," tutur Kak Anto.


"Hey, anak baru ya!" ucap seseorang sambil menepuk pundak ku.


"Iya," jawabku simpel.


"Kenalin, gue Rifki, lu?" tanya Rifki sambil mengulurkan tangan dan langsung aku sambut.


"Rahmat, udah sering hiking bang?" tanyaku pada Rifki.


"Lumayan, buat pendaki budget tipis mah yang dekat-dekat saja," jawabnya santai.


"Oh, pantes cepet tadi di tiap pos, hehe,"


"Tadi itu lama, kalau sama yang sudah biasa perjalanan bisa cuma tiga jam empat jam paling lama, kalau yang baru ya lima sampai delapan jam," tutur Rifki menjelaskan.


"Oke semua istirahat selesai mari kita pasang tenda masing-masing ya," ucap Kak Anto setelah sepuluh menit kami duduk menikmati pemandangan.


"Lu bawa tenda?" tanya Rifki yang membuatku kaget karena memang aku lupa akan hal itu.


"Ya udah, bareng gue aja," ucapnya kemudian.


"Makasih Rif," ucapku.


"Bang, lupa ya gak nyewa tenda tadi dibawah buat Abang!" ucap Dewi sambil menghampiriku.


"Gak apa, aku bareng Rifki kok," jawabku pada Dewi.


"Oh, makasih ya kak!" ucap Dewi pada Rifki.


"Sama-sama Dew," ucap Rifki simpel.


"Nanti sore bakal ada sunrise bang, kita foto ya!" ucap Dewi bersemangat.

__ADS_1


"Siap!" jawabku.


Setelah selesai memasang tenda, kami pun berkumpul dan melakukan beberapa kegiatan pengisi waktu, puncaknya adalah sore hari ketika ada sunrise semua pendaki berebut mendapatkan foto terbaik, untuk kenangan ataupun untuk dijual kembali.


__ADS_2