
Rembulan menghiasi langit malam, menyaksikan muda-mudi berkeliaran. Zaman telah bermetamorfosa, malam tak lagi menakutkan bahkan ditunggu untuk para remaja yang dimabuk asmara.
Jam menunjukan pukul delapan malam saat aku keluar kosan menuju alun-alun, tempat aku janjian dengan Dewi, kursi-kursi taman panjang dengan dikelilingi pedagang-pedagang makanan di pinggir pagar, sungguh tepat untuk menikmati secangkir kopi di malam yang dingin.
"Dew!" panggilku saat memarkirkan motor dihadapan salah satu bangku taman yang panjang. Rupanya Dewi tak sendiri, ia bersama temannya yang aku sendiri belum mengenalnya. Malam ini Dewi mengenakan jaket dan celana jeans panjang berwarna hitam dengan rambut sebahu yang tergerai, sungguh kontras dengan wanita disisinya yang mengenakan rok panjang, jaket juga kerudung pasmina instan. Anggun.
"Eh bang," jawabnya sambil tersenyum. Aku memang biasa dipanggil Abang oleh teman-teman wanita.
"Kenalin dulu bang, Rani sepupuku, aku paksa dia temenin aku soalnya takut kalau jalan malam-malam sendiri kesini, hehe," tutur Dewi memperkenalkan sepupunya.
"Oh Rahmat," ucapku sambil mengulurkan tangan dan disambut oleh gadis itu.
"Rani," jawabnya sambil tersenyum. Manis.
"Udah lama nunggu?" tanyaku pada keduanya.
"Baru kok, bang aku ada masalah nih," jawab Dewi dengan wajah muram.
Entah kenapa aku memang sering jadi tempat curhat teman-temanku baik laki-laki ataupun perempuan.
"Masalah apa emangnya?" tanyaku santai sambil berlalu untuk memesan kopi ke salah satu pedagang di pinggir pagar.
Lalu kembali dengan kopi di gelas plastik dan duduk di hadapan Dewi dan Rani di sebuah meja dari coran semen, sambil menghisap rokok ditemani secangkir kopi.
"Orang tua aku bang, tiap hari ribut mulu, sampai katanya mau cerai segala," tutur Dewi lalu menarik nafas panjang ada gurat kesedihan di wajahnya.
"Sedih aku bang, pengen gitu kayak orang lain hidup tenang sama orang tuanya damai, adem kayaknya, ini mah tiap hari ribut-ribut."
Rani merangkul Dewi untuk menenangkannya, air mata Dewi terlihat mulai menetes.
"Yang paling sakit bang, ibu aku sekarang sering bawa laki-laki lain ke rumah! kalau ditanya jawabnya bapak kamu sih duluan yang main api jadi ibu bales," lanjut Dewi dengan mulai terisak.
"Keluarin aja Wi, biar kamu tenang, aku mungkin gak bisa bantu banyak cuma ya seenggaknya kamu bisa percaya sama aku," ucapku.
Seketika pikirku melayang teringat mama yang dari dulu memang sering membedakanku dengan saudara-saudaraku dan sifatnya yang keras juga bawel, tapi setidaknya mama masih menyayangiku sebagai anaknya dan selalu setia dengan ayah tak ada konflik berarti di keluargaku.
"Sabar Wi," ucap Rani singkat sambil memeluk Dewi.
'Perhatian dan anggun, dua kata untuknya' batinku.
"Gini deh Wi, emang bener bapak kamu selingkuh duluan?" tanyaku menyelidik.
"Enggak bang! aku yakin, cuma ada janda kegatelan yang suka sama bapak. Dia penyebabnya," jawab Dewi.
__ADS_1
"Udah kamu selidikin?" tanyaku, Dewi mengangguk pasti tanda iya yakin.
Aku menarik nafas panjang, ikut sedih rasanya. Begitu banyak anak yang frustasi karena orang tuanya. Orang tua yang menghiraukan anaknya demi egonya. Padahal seorang anak adalah hasil buah cinta orang tuanya.
Jika anak adalah kertas putih sudah selayaknya ia mendapat warna kebahagiaan bukan hanya warna-warna gelap dari ego orang tuanya. Tapi dunia memang tidak seindah negeri dongeng.
Aku kenal kedua orang tua Dewi, mereka masih cukup muda karena Dewi anak tunggal. Tapi bukankah kedewasaan tidak diukur dengan usia.
"Bang aku harus gimana?" tanya Dewi seketika membuyarkan lamunanku.
"Nanti deh kita pikirin jalan keluarnya, biar kamu tenang dulu, kalau lagi panas gini bukan solusi yang ada polusi," jawabku.
"Polusi, emangnya kendaraan apa!" timpal Dewi.
Rani tersenyum.
'manis' batinku.
"Dew sementara kamu tinggal di rumahku aja, mama gak akan keberatan kok, lagian biar kamu bisa tenang juga," tutur Rani menawarkan.
"Hm, iya deh Ran, makasih ya, bang makasih juga ya," ucap Dewi tulus.
"Sama-sama jika anda perlu tak perlu sungkan hubungi nomor dibawah ini," ucapku sambil menunjuk ke bawah yang nyatanya tak ada apa-apa.
Dewi dan Rani tertawa kecil.
"Eh siapa dulu atuh Spongebob gitu, haha,"
Kami tertawa renyah. Aku tak pernah menceritakan masalahku pada siapapun, aku lebih senang menghibur orang lain dan menyimpan lukaku dengan rapi bagai lilin yang menerangi tapi dirinya terbakar.
Ting...drrrtt.
Gawaiku bergetar, tanda telepon masuk. Saat kulihat nama 'ayah' yang menelepon. Segera kuangkat.
"Wa'alaikumsalam yah"
.
"Di alun-alun,"
.
"Iya sekarang,"
__ADS_1
Ayah menelpon, mama menyuruhku pulang. Untuk anak yang terbiasa diacuhkan rasanya bagai menemukan oase di padang pasir. Menyegarkan.
"Oh iya rumah kamu dimana Ran? biar aku anterin kalian," tanyaku pada Rani.
"Gak usah bang, deket kok dari sini," jawab Rani sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
"Oh gitu ya, bisa dong kapan-kapan main, hehe,"
"boleh kok, boleh banget malah bang,"
"Yee... makasih Ran, aku padamu loh, hehe,"
"Ekhm.." Dewi berdehem.
"Apa sih sirik aja," ucapku pada Dewi.
"Ya udah bang kita pulang dulu ya," pamit Rani padaku.
"Siap, siap,"
"Ditunggu mampirnya bang,"
"Ya udah kali yu ah Ran, makasih ya bang, kita pulang dulu," ucap Dewi sambil berlalu.
"Siap, hati-hati di jalan Rani, hehe,"
Aku berlalu, menaiki motorku. Niat awal untuk pulang ke kosan aku batalkan, jadi pulang ke rumah.
Jalanan malam lengang, hanya ada lampu orens di beberapa tempat di sisi jalan, aku memacu kuda besi dengan kecepatan sedang. Membayangkan berkumpul dengan keluarga di rumah. Ah, senangnya.
Di rumah sekarang hanya ada mama, ayah, Ikbal juga teh Ami istri A Asep kakak pertamaku. Sedangkan yang lain punya dunia masing-masing. A Asep bekerja di Medan setelah menikah sementara kakak kedua A Faqih dan Miftah mondok di sebuah pesantren.
Sementara aku sama sekali tak tertarik dengan mondok, ada saja yang membuat aku kabur dari pondok. Tapi sungguh tak ada maksudku untuk menyakiti hati orang tuaku, hanya saja aku juga punya cara dan jalan untuk hidupku.
Aku banyak belajar dari jalanan, tentang kebersamaan yang tak pernah aku dapatkan, tentang solidaritas yang membuat aku merasa ada dan tentang menghargai yang membuat aku mengerti bahwa hidup tak hanya butuh materi dan buku tapi juga kecerdasan sosial.
Pukul sembilan malam aku sampai di rumah.
"Assalamualaikum," salamku saat akan memasuki ruang keluarga yang terletak dibelakang.
Di ruangan bercat cokelat muda yang tak begitu luas ini, hanya ada televisi dan karpet. Keluargaku biasa berkumpul disini jika malam ketika rutinitas selesai.
Saat aku masuk ada Ayah, mama, teh Ami dan Ikbal yang sedang menonton televisi.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serempak.
"Eh Mat udah pulang, makan dulu nak," ucap mama lembut.