
Sejak janji seminggu lalu untuk hiking bersama Rani dan Dewi, rasanya waktu terasa lambat bagiku, sampai akhirnya aku tiba pada hari Sabtu yang artinya besok aku berangkat mendaki gunung Cikuray.
"Ma, bagian apa sekarang di ladang?" tanyaku pada mama yang akan pergi ke ladang.
Sudah beberapa hari ini aku ikut bekerja ke ladang tentu saja untuk mendapatkan bekal perjalananku besok.
"Panen cabai keriting di Cipanas," jawab mama dengan nada biasa, yang justru jadi tak seperti biasanya yang dengan nada tinggi, mungkin karena beberapa hari ini aku ikut bantu-bantu di ladang.
"Ok, siap Bu komandan," jawabku sambil memeragakan gaya hormat, dan berlalu untuk berganti kostum dengan pakaian kerja yaitu kaos tangan panjang, celana panjang, topi, dan sepatu boot.
Kemudian, aku berangkat ke ladang dengan berjalan kaki, karena jaraknya memang tak terlalu jauh dari rumah hanya sekitar dua puluh menit dengan berjalan kaki.
Suasana perkebunan menghampar di hadapanku, indah sekali, kotak-kotak kebun yang luas terlihat rapi ditumbuhi berbagai tanaman, betapa baiknya Tuhan telah memberi rezeki melalui tanah desaku.
Aku telah sampai di ladang orang tuaku, ladang yang ditumbuhi cabai kriting. Aku pun bergegas mengambil karung dan mulai memetik cabai yang sudah merah dan nantinya akan dijual ke bandar atau pengepul.
Tak terasa waktu mulai beranjak siang, saat kulihat jam di gawaiku rupanya pukul 10.00 siang.
"Rahmat!" tiba-tiba sebuah suara memanggilku. Saat aku menoleh rupanya mama yang memanggilku.
"Iya, apa ma!" jawabku dengan agak keras karena memang jarak kami yang berjauhan, aku disisi kanan ujung ladang dan mama disisi sebaliknya.
"Sini, makan dulu!" ucap mama mengajakku makan, ini adalah saat yang paling aku suka. Aku pun segera berjalan menuju ujung kiri kebun. Rupanya, sudah ada mama, ayah, dan tiga pegawai mama yang juga bersiap untuk makan.
Sudah menjadi kebiasaan mama dan warga desa lainnya saat bekerja di ladang untuk membawa bekal dari rumah. Selain karena lebih hemat, juga karena bila sudah di tengah ladang jauh dari pemukiman tak ada warung.
"Ayo, makan Mat, tumben rajin," ucap bi Darmi pegawai mama yang juga memulai makannya.
"Hehe, harus dong bi kan anak kesayangan mama," ucapku sekenanya dengan nada bergurau.
"Sekalian belajar, namanya juga di desa ya kalau gak dari kebun mau darimana lagi," ucap mama menimpali.
Aku pun mengambil piring plastik yang sudah disediakan, lalu menyendok nasi beserta lauknya yaitu tempe goreng, sambal dan tumis waluh tak lupa dibubuhi kerupuk. Makanan dan masakan yang sederhana tapi dengan suasana kekeluargaan dan makan setelah lelah bekerja rasanya sungguh luar biasa nikmat.
Setelah selesai makan dan minum aku segera melanjutkan tugasku memetik cabai keriting yang sudah merah.
__ADS_1
Satu persatu kupetik cabai, hingga tak terasa karung yang kubawa hampir penuh.
Allahu Akbar..... Allahu Akbar......
Suara adzan berkumandang, itu tandanya waktunya untuk pulang. Untuk pekerja memang biasanya hanya sampai Dzuhur mereka bekerja dan digaji setiap sepuluh hari sekali namun beda halnya dengan pemilik kebun, jika cuaca bagus ia hanya akan istirahat sholat dikala Dzuhur lalu kembali ke ladang hingga sore hari.
"Ma, ini disimpan dimana?" tanyaku pada mama sambil membawa karung berisi cabai penuh.
"Tali-taliin Mat, terus bawa ke rumah pakai motor," tutur mama menjelaskan apa yang harus aku lakukan berikutnya.
"Siap ma!" ucapku, sambil berlalu mengumpulkan karung-karung berisi cabai yang ada di ladang. Lalu, aku tali karung-karung itu dengan tali rafia. Setelah itu aku mengambil motor yang tadi dipakai ayah untuk ke ladang ini.
Aku naikan satu karung di belakang dan satu karung di depanku untuk kubawa pulang ke rumah. Setelah itu aku pun pulang dengan membawa dua karung tersebut lalu setelah sampai rumah aku menyimpannya di halaman dan bergegas kembali ke ladang untuk mengambil karung-karung berisi cabai yang lainnya.
Setelah beberapa kali bolak-balik mengambil karung, akhirnya tugasku selesai. Lalu aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan pergi ke masjid.
"Bal, udah pulang?" tanyaku saat akan ke masjid dan melihat Iqbal sedang asik menonton televisi dengan masih mengenakan seragam sekolahnya.
"Udah a, mau kemana?" jawab Iqbal sekaligus bertanya kembali padaku.
"Ayo!" jawab Iqbal sambil bangkit dari duduknya kemudian mematikan televisi.
Aku sudah terbiasa sholat di masjid karena jarak masjid yang memang dekat dengan rumahku yaitu berada di seberang jalan,juga karena didikan orang tuaku.
Masjid yang tidak terlalu luas dengan cat kuning dan variasi hijau ini telah ada sejak aku kecil, setiap memasukinya aku selalu teringat kenangan indah masa kecil saat belajar mengaji disini.
Setelah selesai sholat, aku dan Iqbal kembali pulang.
"Assalamualaikum," ucapku saat memasuki rumah. Sepi, ada yang menjawab. Lalu aku berjalan ke halaman belakang rupanya mama telah rapi dan sedang menjual cabai kepada pengepul.
Terdengar mama sedang beradu harga dengan pengepul. Untuk kali ini kudengar harga cabai sedang dua puluh ribu perkilo dari petani yang berarti di pasar akan dijual dengan harga tiga puluh ribu sampai empat puluh ribu perkilo.
Setelah selesai menjual cabai, mama masuk ke rumah saat aku sedang menonton televisi bersama Iqbal dan teh Ami.
"Berapa ma jadinya?" tanyaku saat mama duduk disebelah teh Ami.
__ADS_1
"Alhamdulillah dua puluh dua ribu jadinya perkilo, lumayan dua ribu juga," tutur mama menjelaskan seraya bersyukur atas rezeki kami saat ini.
"Ma, besok aku mau izin hiking ya," ucapku.
"Apa? Hai king itu apa? Gak ngerti mama mah," tanya mama dengan wajah bingung yang justru jadi nampak lucu.
"Hiking mama mendaki gunung," ucap Iqbal menjelaskan.
"Nah, itu!" seruku membenarkan ucapan Iqbal.
"Oh, gunung mana? sama siapa?" tanya mama.
"Cikuray ma, sama temen-temen aja, tapi katanya lagi musim libur gini mah bakal banyakan," tuturku menjelaskan.
"Kuat gitu Rahmat? naik gunung mah capek," tanya teh Ami sembari tertawa kecil, mungkin karena tak percaya padaku.
"Kuat dong teh, ya coba dulu aja, kalau gak kuat tinggal menggelinding ke bawah aja, gampang kan, hehe," jawabku sambil bercanda.
"Iya silahkan aja, asal hati-hati!" ucap mama yang berarti mengizinkan aku pergi.
"Makasih ma, tapi sekalian mau ngambil hasil dari kemarin-kemarin, hehe," ucapku yang intinya meminta upah kerjaku beberapa hari ini.
"Emm, giliran bayaran aja inget," ucap mama.
"Hehe, harus dong!" ucapku.
Lalu mama mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari saku bajunya sepertinya hasil menjual cabai keriting tadi, dan memberikannya padaku.
"Nih, jangan dihamburkan ya!" wejangan mama setiap memberiku upah. Hanya aku yang tak melanjutkan sekolah diantara keempat saudaraku dan lebih memilih bekerja di ladang orang tuaku, awalnya orang tuaku tak mengizinkan tapi semakin kesini akhirnya mereka menerima keputusanku.
"Siap ma, aku mau persiapan dulu buat besok ah," ucapku sambil melenggang pergi ke kamarku dan mempersiapkan keperluan untuk hiking besok.
**Gimana moment hiking pertama Rahmat? pantengin terus ya...
Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya**!
__ADS_1