Menjadi Anak Tengah

Menjadi Anak Tengah
Aku bukan mereka


__ADS_3

Saat ini aku telah beranjak remaja ketika yang lain sibuk dengan sekolah dan membanggakan prestasi termasuk saudara-saudaraku, aku tidak seperti itu. Setelah lulus sekolah dasar aku sudah tak mau melanjutkan sekolah, akhirnya aku dikirim ke pondok pesantren tempat kakakku menimba ilmu. Tapi tak lama, baru setahun di sana aku berulah dengan memukul santri lain yang ku anggap tak sopan lalu kabur ke rumah.


Duniaku kini bersama motor kesayanganku yang merupakan pemberian kakek kepada ayahku, hampir setiap hari aku pergi main bersama motor itu tanpa arah tujuan, aku memacu motor dengan kecepatan tinggi. Kadang bersama kawan-kawan pecinta motor juga. Jika lelah aku akan bertandang di rumah atau kosan teman, karena aku orang yang supel dan memiliki banyak teman.


"Rahmat, jangan kemana-mana mama mau ke ladang!" teriak mama dari luar kamar hampir setiap pagi.


Sekarang aku sudah jarang melakukan pekerjaan rumah seperti dulu karena kakak pertamaku yaitu Asep telah menikah, dan istrinya tinggal bersama kami, namanya teh Ami, dialah yang sekarang mengerjakan pekerjaan rumah.


"Siap!" jawabku dari dalam kamar karena aku tidur lagi sehabis subuh.


Setelah matahari meninggi dan aku memastikan mama dan ayah tidak ada di rumah barulah aku keluar kamar dan bersiap pergi ke jalanan.


Saat aku sudah rapi dan mengeluarkan motor tiba-tiba teh Ami memanggil.


"Rahmat, mau kemana? kan kata mama kamu gak boleh kemana-mana,"


"Hehe, bosen teh di rumah mulu, mau main bentar aja ya," ucapku sambil cengengesan.


"Gimana kalau nanti mama pulang nanyain kamu?"


"Bilang aja main bentar ya teh ya, dadah..," ucapku sambil berlalu melajukan motorku.


Menyusuri jalan dengan kecepatan tinggi adalah keseharian ku. Mencoba dan berlatih trik-trik sepeda motor seperti jumping adalah kegemaranku. Mungkin karena dulu aku paling jarang main keluar sekarang rasanya jenuh jika sehari saja tak keluar, dan jika pun di rumah paling hanya tidurlah keseharianku.


Setelah satu jam aku bermain motor, sepertinya enak kalau minum kopi. Aku pun masuk ke salah satu warung langgananku.


"Mak, Mak Nini. Kopi Mak biasa cappucino," ucapku sambil menyalakan rokok.


"Eh, Rahmat. Boleh boleh," jawab Mak Nini sambil menyeduh kopi.


"Mak si Rafli mana?"


Rafli adalah cucu Mak Nini yang seumuran denganku.


"Masih sekolah jam segini mah Mat,"


"Oh iya ya lupa, hehe,"


"Kamu sendiri kenapa gak diterusin sekolah?"


"Males mak, presiden masih ada, dokter banyak, kiyai banyak ah ngapain aku sekolah,"


jawabku santai sambil menghisap rokok.


"Eh dasar kamu, ya iya presiden mah masih ada cuma kalau presiden mati siapa yang gantiin, kalau kamu sekolah bisa saja kan kamu, masa harus emak yang udah tua begini! ini kopinya Mat," tutur emak berapi-api sambil menyodorkan secangkir kopi padaku.


"Ah saya gak ada minat jadi presiden Mak, biarin yang pada sekolah aja deh saya udah bosen itu liat buku-buku takut jadi kutu buku, mending jadi kutu loncat aja ketahuan,"

__ADS_1


"Kalau kamu mau jajan sama rokok itu gimana? Minta sama mama kamu?"


"Ya iyalah Mak, tapi sebelum dikasih uang saya harus kerja dulu, bantu-bantu di ladang, bantunya sejam bayarannya aja sesuka hati, haha,"


"Mat!" panggil seseorang di seberang jalan.


Warung Mak Nini ini letaknya dekat sekolah dan jauh sekali dari rumahku, tapi aku sudah biasa disini sehingga akrab dengan Mak Nini, warga dan anak-anak sekolah disini.


"Oy," jawabku, rupanya Rafli cucu Mak Nini yang baru pulang sekolah dengan seragam putih abunya.


"Lama disini?" tanya Rafli.


"Lumayan," jawabku sambil menyodorkan sebungkus rokok, dia pun mengambilnya dan menghisap sebatang rokok.


"Mau ke kosan? ada anak-anak lagi pada ngumpul di sana,"


"Hmm ayok,"


"Tar ganti baju dulu," ucap Rafli sambil masuk ke rumahnya, dan keluar dengan pakaian santai.


"Yu Mat," ajak Rafli.


"Yu," ucapku sambil naik motor dan Rafli naik dibelakang, melajukan motor ke arah kosan yang hanya lima belas menit dari warung ini.


Menyusuri jalan raya lalu masuk ke sebuah gang yang bernama Gang Bebek, di dalam gang ini ada sebuah kosan bertingkat yang terdiri dari banyak kamar, diisi oleh para pelajar juga mahasiswa yang menimba ilmu disekitar sini.


Seperti biasa aku dan Rafli nyelonong masuk kedalam kamar kos tersebut, di dalam ternyata sudah ada lima kawanku yang lain, ada yang sedang tiduran sambil main gawai, ada yang sedang main gitar ada juga yang main karambol.


"Kopi mana kopi! Oy kopi...," seruku meramaikan suasana.


"Gak ngajak Dewi Mat?" tanya Egi saat melihatku masuk.


"Dewi? Dewi mana? Dewi Fortuna, jauh ah di kahyangan," jawabku asal.


"Jangan dilupa-lupa atuh Mat, anak orang udah jatuh hati juga," timpal Gilang.


"Wah masa!" jawabku asal.


"Eh tapi bener Mat, kemaren Dewi nanyain kamu ke aku," ucap Egi yang memang satu kelas dengan Dewi.


"Ah tapi perasaan aku biasa aja gak ngajak pendekatan juga," jawabku sambil menuju dispenser untuk menyeduh kopi.


jrengg... jrengg....


Gilang membunyikan gitarnya.


"Ciee, kasmaran bang! uhuy!" ucap Gilang kemudian.

__ADS_1


"Biasa aja," ucapku sambil melihat gawai yang sejak tadi tak disentuh.


Ting...


Notifikasi pesan WhatsApp masuk.


Lalu kubuka ternyata dari Dewi.


[Bang, aku kangen]


Aku mengernyitkan dahi saat membacanya, seingatku, aku hanya berteman biasa dengannya sama dengan teman-teman wanitaku yang lain.


[Ok, ketemu malam ini gimana?]


Balasan yang aku kirim ke Dewi.


[Wah, makasih bang, Abang pengertian deh, di alun-alun ya bang]


[Ok]


"Balesin siapa Mat? Dewi ya," tanya Gilang.


"Cieee," jawab yang lain serempak.


"Mau ketemuan ya Mat, hahay," ucap Rafli.


"Hmm," ucapku datar dan melanjutkan keasyikanku bermain gawai.


Dan yang lain pun melanjutkan keasyikan masing-masing.


"Ah, sial!" ucap Rafli saat kalah main karambol dan berakhir dengan coretan bedak basah diwajahnya.


"Hahaha," yang lain menertawakan.


Aku lebih nyaman disini, daripada di rumahku sendiri. Jalanan adalah rumah kedua bagiku dimana aku bisa menemukan kehangatan yang telah lama aku rindukan.


'Aku menyayangimu ma, hanya sayang perhatianmu bukan untukku hingga aku lebih nyaman bersama mereka' batinku.


Jika sudah diluar rumah begini bisa berhari-hari aku tak pulang, bukan kehabisan uang yang akan membuatku pulang tapi rindu. Rindu dengan omelan mama yang seakan harimau akan menerkam mangsanya.


Tapi jika mama meneleponku menyuruhku pulang, aku akan segera pulang. Tapi sayang itu jarang sekali walau kadang terjadi.


Lalu siapa Dewi?


Pacar atau sekedar teman?


Nantikan part berikutnya ya.

__ADS_1


__ADS_2