
"Maaf, itu semua salah paham", sahut iyan
Aku hanya menangis dan menangis, sebenarnya aku sudah ingin menghentikan tangisanku, tapi aku masih penasaran dengan apa yang akan dia lakukan ketika aku menangis hehehe.
"Hapus air matanya (sambil mengelap air mata dipipiku) ayo foto-foto", sahut Iyan
"hah semudah itu dia mengajakku foto disaat aku sedang menangis? biasanya dia paling anti kamera, ini pasti hanya rayuan dia saja", batinku.
Setelah kejadian itu semuanya kelar dan tidak ada lagi kesalah pahaman, ternyata Ara hanyalah bercanda ya memang bercandanya kelewatan tapi aku memakluminya karena memang sifatnya seperti itu, dan wajar saja pasti kakak kelas perempuan ingin dipandang oleh adik kelasnya, tapi caranya salah.
Hari-hari berlalu tidak terasa kita telah menjalin hubungan selama 3 bulan.
__ADS_1
Saat memasuki 3 bulan seperti ada yang berbeda dari Iyan, dibulan ke 3-5 adalah bulan-bulan terberat bagi hubungan kami, entahlah masalah terus berdatangan dari yang ringan hingga berat.
Hanya karena masalah kecil aku sering kali diputusin Iyan, tapi aku tetap mencoba mempertahankan hubungan ini, lebih dari 6 kali mungkin status kami putus nyambung.
Sampai membuatku bucin setengah mati, mataku selalu lebam aku selalu menangis kadang tak kenal tempat.
Tapi terkadang semua masalah dan kesedihan seketika terlupakan ketika aku bersama sahabat-sahabatku, seperti ada sihir ajaib yang langsung mengubah kesedihanku menjadi canda tawa yang gila HAHAHA.
Suatu ketika kita sedang makan berdua. Iyan selalu sibuk dengan game nya, sedikit terganggu habislah aku. Ya, Iyan memang terkadang egois, dia tidak mau aku sibuk sendiri saat bersamanya, tapi dia sendiri selalu sibuk bahkan ketika kalah memainkan gamenya, lengan atau paha ku selalu menjadi sasaran tabokannya, ya walaupun tidak terlalu kencang tapi menyakitkan. Dia selalu bilang itu tidak sengaja, hanya karena gregetan, tapi itu tidak pantas dan tidak sopan, aku selalu kesal dengan tingkahnya tapi aku berusaha menahan emosi ku dan sabar.
Dichat itu aku hanya mengatakan "Kamu lagi ngapain? Aku kangen" 5 kata berjuta makna. Aku rindu, cemas, khawatir, dsb semuanya bercampur aduk.
__ADS_1
Aku yang berharap dibalas dengan balasan manis kini hancur, kecewa, hati ini seperti tertusuk pisau yang seketika membuat semuanya berantakan.
Balasannya? dia membalas dengan kekasaran dan emosi. "Apaansi lu? Ganggu aja, gua tu lagi ngegame, Kenapa si lu selalu ganggu gua? gua mau ngegame diganggu, mau maen dichatin mulu, jadi kalah anj*ng".
Kata-katanya, membuat air mataku menetes tanpa kusadari. Aku hanya bisa membalas dengan kata " maaf".
Kukira dia akan menyesali perkataannya tadi tapi nyatanya dia malah minta putus dariku.
Dia berkata "Gua pengen bebas kaya dulu, ga diribetin sama lu" dihatiku yang terdalam selalu bertanya "Apakah aku hanya merepotkannya? apa aku tak berguna? apa dia sudah bosan denganku? apa sudah ada yang baru? padahal sebentar lagi kita setengah tahun".
Mungkin setengah tahun bagi orang dewasa yang sudah sering berpacaran hanyalah waktu yang singkat, tapi bagiku yang baru saja pubertas itu sudah sangat lama dengan segala kenangan dan perjuangan yang kita lewati bersama.
__ADS_1
Makan bareng, kemana-mana bareng, pulang sekolah berdua, bahkan semua guru sudah mengetahui hubungan kita.
Mungkin berlebihan tapi setidaknya ini tidak kelewatan batas.