
*Melupakanmu...
Melupakan dirinya memang mudah
Yang sulit adalah melupakan segala kenangan
Yang telah kita buat bersama
Tidak ada yang tahu
Jika akhirnya kita tidak lagi menyatu
Aku berusaha tidak membencimu
Walau hati ini sangat rapuh
Terimakasih...
Terimakasih telah menemaniku
Terimakasih telah hadir didalam hidupku
Walau hanya sesaat
Seperti pelangi yang tiba-tiba minggat*.
>🦋💫[NP]💫🦋<
Hari-Hari berlalu.
__ADS_1
Kerinduan, kesedihan, kehancuran, patah hati, tangisan masih dirasakan setiap waktunya.
Sosok dirinya dari yang tidak sengaja bertemu sampai akhirnya aku dibuatnya rindu.
Mengapa? mengapa kita bertemu bila akhirnya hanya menyisahkan luka pilu.
Setiap mengigat dirinya, apalgi mengingat kenangan-kenangan indahnya, Pika selalu meneteskan air matanya. Berusaha tetap tersenyum walau hatinya menangis.
"Udah Pik jangan nangis mulu nanti gua ikutan nangis", sahut Ita dengan muka melasnya.
Ya seperti yang aku bilang diawal tadi, Ita seperti mempunyai ikatan batin yang kuat denganku, dia merasakan apa yang kurasakan, kita memang seperti kembar walau berbeda orang tua.
"Huh kesal gua sama si botak bisa-bisanya bikin Pika begini, muka pas-pasan aja sosoan nyakitin Pika, pengen gua jadiin cilok aja biar gua colok", sahut Gigi dengan emosinya.
Saat kita berdua bubar memang iyan sedang botak makanya selalu diledek seperti itu.
Aku yang hanya terdiam dalam tangisan, tapi karena perkataan ameng aku tersenyum walau sedikit.
Aku sangat menyayangi sahabatku, semoga kita akan tetap seperti ini sampai kapanpun. Itulah yang selalu ku doakan. Aku tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka, walau kita terkadang berbeda pendapat dan agak sedikit cekcok tapi kita tetap kompak dalam hal saling memaafkan.
Love you Guys♡!!!
Tidak terasa hari-hari suram berlalu, aku mulai melupakannya sedikit demi sedikit dan sudah terbiasa sendiri tanpa cinta.
Walau kita sudah tidak ada hubungan spesial aku dan Iyan tetap menjaga hubungan baik, tidak ada permusuhan, hanya awalnya saja.
Naik-naikan kelaspun tiba, Aku dan Ita masih 1 kelas tetapi Ameng dan Gigi berbeda kelas, hmm sedih tapi tak apa kita masih bisa bertemu saat jam istirahat.
Aku masih belum mau membuka hatiku lagi karena aku trauma, sebelumnya aku juga pernah mengalami hal seperti ini, malah lebih menyakitkan, ditinggal begitu saja, belum ada 1 jam putus dia(mantanku sebelum Iyan) sudah memposting foto perempuan lain.
__ADS_1
Hufttt nyesek rasanya jika diingat-ingat lagi.
Selalu tersimpan banyak pertanyaan dibenakku "apakah aku jelek? tidak seperti perempuan lain? banyak kekurangannya? apa aku memalukan?"
Tapi aku mencoba menerima keadaan dan mempunyai prinsip "jika memang dia tulus mencintaiku dia tidak akan memperdulikan kekuranganku dan menerimaku dengan sepenuh hatinya, dia pasti ada, dia pasti datang, hanya waktunya saja belum tepat".
Sekarang ini aku hanya mementingkan urusan sekolahku, dan para sahabatku, termasuk Baskoro.
Lebih mendekatkan diri kepada-Nya membuat hatiku merasa lebih tenang dan menjadikanku lebih mensyukuri segala hal yang aku lewati.
Suatu Pagi
Aku dibuat kesal dengan pemandangan yang tidak mengenakkan.
Terlihat anak-anak nakal kelasku membully Baskoro, entah mengapa mereka selalu mencari-cari kesalahan Baskoro seolah-olah mereka lah yang berkuasa dan ditakutkan.
"Iuw bukannya terlihat keren malah menjijikan.", batinku.
Aku langsung segera menghampiri Baskoro dan membelanya, Baskoro yang seperti itu hanya terdiam dan menangis.
Karena kejadian itu Baskoro sudah tidak kuat bersekolah disekolahku, Baskoro memutuskan untuk pindah.
Hmm sedih sekali rasanya harus berpisah dengan sahabat laki-laki ku itu, hanya karena pembullyan.
"Jangan sedih ya Pik, kita tetap sahabat, kan kita bisa chatingan, vidcall, or telponan di WA, tenang aja gua gabakal lupain lu, lu terbaik, makasih yaa udah mau nemenin gua uda belain gua", sahut Baskoro.
Aku yang hanya terdiam tidak sadar bahwa air mataku telah sampai dipipi. Baru kehilangan Iyan sekarang Baskoro? dia juga akan meninggalkanku.
Itu kata-kata terakhir Baskoro saat kita masih bertatapan langsung.
__ADS_1