MERAYU PENCIPTAMU

MERAYU PENCIPTAMU
Episode 7 "Rasa ini"


__ADS_3

Sudah lama sendirian.


Muncul kembali dibenakku aku ingin merasakan jatuh cinta lagi, tapi aku masih takut.


"Bosen juga ya jadi jomblo, dulu pas masih pacaran banyak cowo-cowo ngajak kenalan, ngechat gini gitu, sekarang pada kemana?nihil gini notifnya", batinku.


Ita juga baru saja putus dari Rafdit, sikap Rafdit yang masih kekanak-kanakan tidak cocok dengan Ita yang sudah berpikiran dewasa.


Aku mencoba memperbaiki diri luar dalam.


Aku lebih banyak melakukan Ibadah, lebih dalam mempelajari Islam, lebih menjaga perilaku, bisa dibilang hijrah dan berusaha istiqomah.


Aku juga berusaha diet dan rajin berolahraga, agar aku bisa agak kurusan dikit.


Melihat kisah Dinda Hw dengan Rey Mbayang membuat hati ini terbawa perasaan. Aku ingin seperti Dinda Hw yang ditaaruf oleh Rey Mbayang dengan jalur sepertiga malam.


Hingga pada akhirnya


Ada notif dari seseorang yang pernah dekat denganku dulu, dan tidak ada kabar lagi


Tapi sekarang dia sudah kembali.


Jujur saja saat aku mengenalnya dulu aku menyimpan rasa, namun aku tidak mau sampai dalam menyukainya, rasa itu begitu cepat hilang, ini bukan cinta mungkin hanya sekedar kagum.


Tapi sekarang aku merasakan yang berbeda setiap kali mengobrol dengannya, wajahnya hampir mirip dengan wajah papah. Dia sangat unik berbeda dengan laki-laki lainnya.


Baru kali ini aku ingin sekali dibilang "CANTIK" oleh seorang laki-laki yang biasa-biasa saja.


Padahal banyak laki-laki yang menyukaiku tetapi aku tidak mengubrisnya sama sekali.


Sampai pada akhirnya entah mengapa aku selalu memimpikan dia dalam tidurku. Ya, dia, tidak lain adalah Danwil. Laki-laki menyebalkan yang selalu meledekku, tapi dia selalu membuatku penasaran.

__ADS_1


Ada rasa berbeda kepadanya.


"Deg deg deg. Rasa apa ini? aku menyukainya? apa hanya sekedar baper?"


Tinggg!! (bunyi notif dari HPku)


Danwil


Assalamualaikum, gua boleh nanya?


Pika


Waalaikumsalam, nanya apa?


Danwil


Rumah lu dimana? minta alamat lengkapnya dong


Pika


Danwil


Ada deh hehehe


Nanti lu juga tau, ga yang macem-macem ko tenang aja, mana sini?


Pika


Tapi kalo mau kesini kabarin dulu, awas macem-macem nanti papa marah


Danwil

__ADS_1


Iya engga macem-macem


Akupun mengirim alamat rumahku secara lengkap


Pika


Emang mau ngapain si? mau ngajak papa ngopi sambil udud? wkwkwk


Danwil


Wkwk engga tapi boleh juga tuh


Pika


Terus mau ngapain?


Danwil


Ada deh pokoknya lebih dari semua ekspetasi lu


Kata-katanya itu membuatku berfikir berulang kali apa maksudnya, dan entah mengapa hatiku dengan otakku seperti menyambung dan langsung muncul pikiran "apa dia akan menembakku dan menjadikanku pacarnya secara langsung didepan mama papa?", batinku.


Aku benar-benar berharap seperti itu, senyuman tanpa sengaja melebar dibibirku.


"Eh tapi nanti diomelin malahan sama mama papa kan, duh gimana ya kalo dia beneran kesini? nyesel aku ngasih alamat rumah, aduh bodohnya aku mengapa tidak memikirkan ini dulu, main langsung kasih", dumelku.


Entahlah jujur saja setelah percakapan kita kemarin, aku selalu menyebut namanya didalam doaku, jujur aku menyukainya, tapi aku hanya diam saja seolah-olah aku biasa saja terhadapku.


Dia sudah sering kali mengatakan "kalo suka sama gua tu bilang aja kali gausah somuna gitu, gua tau lu baperkan sama gua?bilang aja gapapa lagian"


Sering sekali dia mengatakan hal itu, aku hanya mejawabnya dengan segala kemunafikanku padahal aku memang menyukainya.

__ADS_1


__ADS_2