METEOR

METEOR
40. Dia tomboy?


__ADS_3

..."Berubah? Tapi aku gak suka ra, kamu kayak gitu. Walaupun kamu bisa bangkit gak se-lemah dulu,"...


...-Juna...



...🍁🍁🍁...


Seragam yang di gulung hingga siku, rambut sedikit acak-acakan, dan cara berjalan yang bukan sama sekali mencirikan khas seorang cewek. Langkah lebar dan kedua bahu yang di naikkan, semakin menunjukkan bahwa dirinya ini tomboy.


Hingga ada sekelompok remaja yang duduk di warung itu menghampirinya. Laura, sudah pasang ancang-ancang jika mereka berbuat kurang ajar.


Dagu Laura di colek tapi bukan sambalado.


"Hai manis. Mau berangkat ke sekolah ya?" tanya si cowok yang seragamnya di keluarkan. Bau asap rokok membuat Laura ingin muntah saat itu juga.


"Kenapa jalan kaki cantik? Nanti capek loh. Terus gak takut hitam? Nanti gak cantik lagi gimana?" kali ini bahu Laura di rangkul seenak dahi.


Tangan Laura di genggam. Ia di tarik menuju warung itu, meronta dan memberikan tinjuan dan menjegal kakinya. Laura berusaha kabur, namun yang lainnya ikut campur mengepung Laura seolah dirinya ini mangsa yang siap di terkam.


"Jangan kabur dong. Kita gak bakalan apa-apain manis kok. Paling cuman main-manin aja," celetuk salah satunya dengan seringaian menyeramkan. Laura tidak takut.


"Serang dia!" titah si bos yang tadinya di pukul oleh Laura.


Laura berusaha menangkis, menoleh kesana-dan kemari agar ia tidak di tumbangkan dengan mudah. Hingga sepuluh menit lamanya, Laura berhasil melumpuhkan 5 remaja brandalan ala buaya daratan ini dengan tangan kosong bermodalkan gigitan, sepatunya, dan tas berat berisi buku-buku paket besar sebagai tameng.


"****** kan lo! Makannya jangan asal serang gue aja. Ck, bikin tangan gue kotor aja nih," Laura berjalan angkuh melewati 5 remaja yang masih terduduk manis di aspal jalan memegangi perut, kaki dan pelipisnya karena tinjuan Laura setara dengan 2 orang pria berbadan besar layaknya bodyguard.


Sam dan Alvaro yang melihat aksi Laura bak Power Rangers itu bikin syok di tempat.


Suara klakson dan teriakan pengemudi di belakangnya membuat Sam dan Alvaro tersadar karena masih di area lampu merah.


...🍁🍁🍁...


Sam dan Alvaro berlari memasuki kelas dengan nafas tersengal. Juna, Jaka, Radit dan Adit sudah sampai duluan ternyata.


Sam membanting tasnya, ia masih syok dengan aksi superhero Laura tadi.


Satya sampai terlonjak kaget. "Biasa aja kales,"


"Lo berdua kenapa sih?" tanya Jaka jengah, datang banting tas lari di kejar hantu.

__ADS_1


"Itu, Laura tadi basmi lima cowok di warung deket lampu merah itu loh," teriak Alvaro heboh. Sampai penghuni SEBELMA menoleh penasaran.


Satya mengernyit. "Seriusan lo? Ah, gak percaya gue," karena Laura itu gadis lugu, polos, dan pastinya akan berteriak minta tolong jika ada yang macam-macam dengannya.


"Duaratus. Kayaknya dari bet-nya sih SMA GARUDA," Alvaro kembali mengingat 5 cowok berandalan itu. Sepertinya mereka adalah kumpulan sebuah geng.


"Hm, Laura kok berani ya cari gara-gara sama cowok SMA GARUDA? Kan secara cowok disana itu gampang emosian sih dan gak terima akan kekalahan," jelas Jaka yang semakin membuat Juna di landa rasa takut, semoga Laura tidak menjadi target mereka.


"Udahlah, daripada bahas begituan. Mending ke kantin aja yuk," Sam mengusap perutnya, lupa sarapan, tapi tidak lupa akan perasaan. Eaa.


"Kantin? Mau masuk dodol! Gue laporin ke bu Setyaningrum ****** lo!" ancam Jaka si tukang lapor.


"Yaelah Jak. Gak asik lo," Sam menimpuk Jaka menggunakan kertas di lacinya.


Jaka menghindar. "Weits, wlee gak kena,"


"Kalian ribut, gue gampar mau?" ancam Satya si tukang marah.


Tak ada obrolan lagi hingga bu Aisofa memasuki kelas dan pelajaran Geografi pun di mulai.


...🍁🍁🍁...


Suasana kantin hening, tak ada yang berani turun tangan menghentikan aksi Inge yang mengomeli seorang siswi cupu yang tak sengaja menumpahkan kuah bakso di roknya.


"Iya kak. Sekali lagi maaf ya, aku gak sengaja tadi," ucapnya takut-takut. "Tunggu disini ya kak, aku beliin rok baru ke koperasi dulu,"


Cewek cupu itu pergi, perasaan Inge semakin kesal saat ia akan duduk dan..


Krek!


Roknya sobek. Beberapa siswa yang menyadari itu pun menahan tawanya.


"Diem lo!" semprot Inge galak.


Tiara yang asik bermain ponsel pun tak sengaja menabrak Inge hingga cewek itu tersungkur di lantai.


"Hm, kayaknya Raka belum ngerti nih sama rencana gue," Tiara kembali mengetikkan rencana cadangannya kepada Raka. Dirinya memang asik chattingan dengan anak buahnya ini.


"Heh! Lo punya mata gak sih? Kalau jalan tuh liat-liat! Bukan main hp terus!" Inge bangkit dengan wajah kesalnya. Tiara terlonjak kaget mendengar suara bak toa masjid itu.


"Oh, sorry ya. Gak sengaja," ucap Tiara dengan santainya.

__ADS_1


"Lama-lama lo nyeselin banget ya. Sini lo!" Inge berusaha mengajak war dengan Tiara. Selama cewek itu masih disini, ia selalu kalah saing mendapatkan Juna. Tiara selalu menang banyak jika di kelas.


"Kenapa? Gak terima? Ck, gue males berantem sama lo," Tiara beranjak pergi namun dengan sigap Inge menjambak rambutnya. "Enak aja main kabur, hari ini gue sial banget ya. Di tambah lagi lo! Sakit nih," Inge menunjuk sikunya yang memerah, mungkin tergores lantai.


"Duh, kan gue udah bilang. Gak sengaja ya gak sengaja. Ya nasib lo lah, bukan urusan gue," sanggah Tiara angkuh. Karena Inge, popularitasnya kembali turun terutama tim cheerlader-nya yang kurang peminat.


"Dan gara-gara lo ya, cheerlader gue sepi. Dan lebih milih drum band lo yang sama sekali gak berbakat itu," Tiara menunjuk bahu Inge dengan sedikit mendorongnya.


"Permisi kak, ini roknya," cewek cupu itu menyodorkan rok abu-abu baru yang masih terbungkus plastik dan bandrol harga.


Inge meraih rok itu. Membukanya, dan melihat ukurannya. Dengan kesal, Inge melempar rok itu tepat di wajah si cewek cupu.


"Apa-apaan ini! Beliin lagi! Lo salah ukurannya!" Inge tak suka rok yang di bawah lutut. Kurang nyaman saja, ia sudah terbiasa dengan rok di atas lutut.


Laura tak terima melihat si cupu itu di bentak. Ia menghampiri Inge. Bram yang ingin mencegahnya pun hanya diam tak bisa berbuat apa-apa, sekarang Laura berubah keras kepala.


"Lo gak tau berterima kasih banget ya. Udah di beliin, itu pakai uang! Bukan daun! Hargain dong!" bela Laura emosi. Ia menoleh ke cewek cupu itu. "Lo bisa pergi. Biar ini jadi urusan gue," cewek cupu itu mengangguk, akhirnya ada yang membelanya.


Tiara masih tidak percaya jika di hadapannya ini Laura. 'Apa?! Sejak kapan Laura jadi berani gini?!' namun Tiara juga kagum karena Laura berani melawan Inge Widyantara, primadona cewek SMA PERMATA akan kekayaannya dari anak sultan.


"Lo mau nyari gara-gara sama gue?" Inge maju selangkah, karena Laura lebih pendek darinya ia mengangkat dagu menunjukkan siapa yang paling berkuasa disini.


"Bukan. Gue cuman ngingetin, lo harus berterima kasih sama dia. Bukan protes kayak gitu, menindas yang lemah itu gak baik, dan cupu," Laura mengecilkan suara dan menekan kata 'cupu'.


Laura kembali menghampiri Bram. Seisi kantin menatapnya takjub. Inge mati kutu.


'Hm, boleh juga nih nambah anggota ah,' batin Tiara senang. Akan ada keuntungan jika Laura masuk menjadi anggota barunya.


Sam masih mangap. Alvaro tak berkedip sama sekali.


"Lo berdua kayak liat bos terbang aja," celetuk Jaka menyadarkan Sam dan Alvaro.


Merasa terpanggil Juna menepuk bahu Jaka. "Manggil gue?" tanyanya dungin. Ayolah apakah lucu jika dirinya terbang bak SuperMan saja.


"Lah bagus dong bos. Jadi hemat uang saku, bos gak di marahin bunda tercinta lagi," nasehat Jaka si bijak.


"Ya aneh lah. Kayak sepedanya Shiva aja tuh," tambah Sam true.


'Berubah? Tapi aku gak suka ra, kamu kayak gitu. Walaupun kamu bisa bangkit dan gak se-lemah dulu,' batin Juna pilu. Laura kini tertawa dengan Bram hanya karena humor se-receh pecahan uang seratus koin.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


^^^Jadi gimana? Kayaknya gak sampai 50 part, sesuai daftar judul yang aku buat bulan lalu.^^^


^^^Juna: Apa cewek-cewek teriak heboh ngeliat wajah ganteng gue di Instagram? @arjuna.zander^^^


__ADS_2