
...🍁🍁🍁...
Pagi-pagi buta, rumah Juna sudah menjadi pasar saja. Bagaimana tidak? Sam, Alvaro, Jaka dan Satya sudah duduk manis di ruang tamu namun perdebatan unfaedah dari mulut SAMAL.
Sam memoleskan pelicin rambut lagi. Dengan bermodalkan ponsel sebagai kacanya, Sam bersiul melihat dirinya se-tampan ini.
"Ah, akhirnya gue paling ganteng disini," ujarnya percaya diri. Jambul khatulistiwanya pun sudah berdiri kokoh.
Alvaro pura-pura muntah. "Pecah aja tuh hp, kasihan liat muka lo yang pas-pasan," ledek Alvaro membuat Sam mendelik tajam.
Radit dan Adit? Kondisi Adit lumayan membaik, dua kakak beradik itu memilih menemani anak-anak panti daripada keluyuran.
Antariksa yang akan berangkat ke rumah sakit pun mengernyit mendapati sahabat Juna berkumpul di ruang tamu.
Alvaro yang tau kehadiran Antariksa pun tersenyum kikuk, memaklumi kerusuhan Sam tiada habisnya. "Eh, ada om Antariksa. Juna ada?" kalau di hadapan orang tua Juna, embel-embel bos tidak berlaku. Yang ada kena damprat Antariksa, Juna bukan bos besar perusahaan, masih bocah ingusan juga.
"Ada kok. Juna!!! Di cariin temenmu nih! Cepetan turun!' teriak Antariksa mengalahkan emak-emak kompleks saja.
Juna turun dari tangga dengan tergesa, piyama bergambar Doraemon pemberian ibunya masih melekat manis di tubuhnya.
Sam tertawa jahat. "Oh, jadi seneng Doraemon nih," ledeknya tersenyum licik.
Juna melihat piyamanya, benar. "Bodo amat. Kalian ngapain kesini?" wajah Juna tak bersahabat, pasti salah satu dari sahabatnya itu akan ember.
"Ajakin lo jalan-jalan. Biar sehat," jawab Alvaro santai.
Sam memakai kacamata hitamnya. "Nah, kalau gini kan tambah cakep gue,"
"Jalan-jalan?" Juna tak mempermasalahkan jalan kaki sejauh mana pun, asalkan pulang tepat waktu saja.
"Iya, sekalian jogging terus keliling daerah sini deh," tambah Jaka bijak. Lama? Jelas, karena cowok setelah jogging biasanya nongkrong dulu.
"Oke," Juna beralih menatap ayahnya. Binar mata imut memohon agar mendapatkan izin.
Antariksa mengangguk. "Iya boleh. Tapi jangan kemana-mana! Apalagi yang itu," Antariksa malas menyebutkan nama Laura.
Juna mengerti. "Iya yah. Gak bakalan kok. Juna pamit yah," ia salim pada Antariksa. Lalu para sahabatnya salim dan pamit pada ayahnya.
Setelah diluar, Sam lah yang memimpin jalannya. Bahkan Jaka dan Satya di buat kesal dengan jalan Sam yang selalu berhenti setiap menit.
"Lo niat jalan gak sih?!" semprot Satya emosi. Sudah gemas sendiri dengan Sam yang selalu membuatnya kesal. Apakah kalian juga?
Sam berhenti sejenak, dengan terpaksa mereka menuruti Sam.
"Hm, biar keliatan kalau gue cakep. Siapa tau ada cewek yang liat kita-kita terus naksir," Sam membenarkan letak kacamatanya.
Alvaro pura-pura muntah. "Huwek! Gak akan pernah cewek-cewek naksir lo!" tekan Alvaro ngegas. Seperti Sam tidak di perbolehkan mendapatkan hati seorang cewek manapun daripada menjadi korban cinta ke-playboyannya.
Sam kembali melanjutkan langkahnya. Mungkin karena kacamata gelapnya hingga Sam salah langkah hampir saja menabrak tembok jalan jika Jaka tak memperingatinya.
"Eh, Sam! Awas ada tembok! Kalau lo mau nabrak sih, terserah. Malah enak," tega sekali Jaka, Juna, Alvaro dan Satya pun menahan tawanya. Jaka terlalu jahat.
__ADS_1
Sam tersadar, melangkah ke kiri. "Eh, masa sih? Ya maaf, kan kacamatanya gelap,"
"Makanya kacamata tuh di lepas!" semprot Satya galak.
Berjalan tak tau arah, hingga Sam akan menuju ke sebuah restoran. Namun...
"Kita mau ke restoran ya?" tanya Jaka heran.
Langkah Sam berbalik. "Mana restoran? Gak kok," ingin rasanya mereka memiting Sam dan menguyel-uyelnya saking gemasnya.
"Ya ampun, restoran di depan mata masa gak keliatan. Makanya kacamata di lepas!" Juna menggeleng heran. Mimpi apakah ia mendapatkan Sam sebagai sahabat dengan kelemotan serta tingkahnya yang tiada tandingnya ini?
"Hehe, maaf. Gelap nih bos," Sam malah cengegesan.
"Yaudah, kita mau kemana sih? Kok daritadi muter-muter gak jelas," gerutu Jaka sudah kesal hingga ke tulang ekor. Ini jalan yang di lalui barusan, apakah pulang? Jalan-jalan macam apa ini?
"Pulang? Yah, gimana sih," kali ini Satya komplain.
Mereka mau-mau saja menuruti Sam.
Juna memimpin jalan. "Kita ke taman aja ya. Tuh, banyak yang lagi jogging sama bersepeda disana," tunjuk Juna pada taman yang tak jauh dari rumahnya.
"Oh, oke," Satya bernafas lega. Untung saja ada Juna, kalau Sam saja? Sudah di anggap cogan gelandangan.
Baru saja sampai di taman, sepasang kekasih khususnya sang ceweknya pun menatap Sam tanpa kedip.
"Ya ampun, ganteng banget," ia menggigit jari. Kekasihnya pun menutup matanya dengan teganya. "Gak boleh di liatin. Kamu kan udah ada aku,"
Jaka mulai berbisik ke Sam. "Tuh, sampai ceweknya kepincut sama lo,"
"Gimana kalau kita ikut senam itu," Alvaro menunjuk para ibu-ibu yang tengah senam dengan musik dangdutnya.
"Boleh lah, ayo," ajak Sam setuju saja. Mau di letakkan dimana wajah mereka? Senam ibu-ibu?
Juna lebih baik duduk di kursi panjang, di ikuti Jaka dan Satya. Biarlah Alvaro dan Sam ikut serta senam ibu-ibu itu.
Sam dan Alvaro menjadi perhatian ibu-ibu senam itu. Modus pdkt, mencuri pandang sana-sini, dan mencolek keduanya.
"Biarin deh, mereka bahagia. Biasa liat cogan," ucap Satya senang. Akhirnya ia bisa bebas dari Sam meskipun hanya sebentar, rasanya seperti ingin menjadi Iron Man.
"Gue seneng," Juna menatap Sam yang kini di cubiti. Alvaro? Di ajak foto, mungkin wajahnya mirip dengan seorang artis terkenal itu.
"Iyalah, kalau gak ada Sam sama Alvaro kita semua bakalan jadi kulkas berjalan rasa kanebo kering," tekan Jaka kesal.
"Gimana Adit?" Satya mengalihkan topik, nanti Jaka akan terus-terusan menggerutu kesal.
"Gue telepon aja," Juna mencari nomor Radit dan meneleponnya.
Saat tersambung, canda tawa anak kecil serta suara Adit yang terdengar riang pun membuat hati Juna menghangat.
"Halo bos. Kenapa? Apa ada misi penting lagi?" maksud Radit adalah tawuran, tapi akhir-akhir ini tidak ada masalah apapun dalam METEOR semenjak Adnan sudah di tangkap oleh pihak kepolisian.
"Gak ada kok dit. Gimana sama Adit? Udah mendingan?" ia ingin ke panti asuhan, sudah sekian lama dirinya menginginkan seorang adik.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Adit udah sembuh bos. Lagi apa nih?"
"Di taman, ngeliatin Sam sama Alvaro senam,"
"Senam? Yang bener bos, olahraga sering kabur aja bisa senam. Yang ada bisa joget doang," Radit terkekeh membayangkan SAMAL senam.
"Iya, sama ibu-ibu malah,"
Radit terbelalak tak percaya. "Seriusan? Eh, video call aja bos. Biar gue, Adit sama anak panti disini pingin liat," nada bicara Radit berubah antusias, sekakan itu wajib di tonton.
Juna beralih video call. Memperlihatkan Sam dan Alvaro yang tengah di kerumuni ibu-ibu senam. Sam berusaha melarikan diri, Alvaro mencoba membelah kerumunan itu.
"Hahaha, dit. Dek, kalian semua liat kan? Kak Sam sama kak Alvaro lucu kan?" tanya Radit pada adiknya serta anak panti.
Mereka kompak tertawa melihat Sam dan Alvaro kesusahan. Bahagia, dan tak ada kesedihan setelah melihat SAMAL di cubiti gemas oleh ibu-ibu senam itu.
Juna, Jaka dan Satya pun ikut tertawa saat Sam dan Alvaro sudah bebas dan keluar namun pipi keduanya ada bekas lipstik menempel disana.
"Kenapa lo ketawa hah?" tanya Sam berkacak pinggang, wajah sangarnya keluar.
Alvaro bersidekap dada, mencoba cool seakan-akan kejadian tadi tidak menimpa dirinya.
"Pipi kalian ada lipstiknya," akhirnya Satya berbaik hati memberikan jawaban logis daripada Jaka dan Juna yang masih senang dengan nasibnya.
Sam dan Alvaro saling pandang, dan...
"Huaaaa!!! Pipi lo!" teriak Sam memegangi pipi Alvaro.
"Huaaa!! Lo juga Sam! Ada lipstiknya. Tolong jangan tertawakan kami, karena dia bukan nenekku," jerit Alvaro dramatis bak films Spongebob dimana spons kuning itu mendapatkan kecupan sayang dari neneknya.
"Hahaha, derita lo. Salah sendiri ikutan senam," Satya paling bahagia disini. Tega memang.
"Ya kan biar sehat. Daripada kalian, duduk mager gak jelas. Pagi-pagi tuh senam, bukan ngerumpi," tekan Sam tak mau kalah.
Anak-anak panti, Radit dan Adit pun merasa terhibur dengan derita SAMAL hari ini.
Benar kata orang, bahagia itu sederhana. Tapi bagi SAMAL, itu derita namanya.
...🍁🍁🍁...
...[ THE END ]...
...Garing ya? Nulis dengan ide ngalir gitu aja sih 😅...
...Eh, pisah dong sama mas Juna dan abang-abang ganteng ini 😭...
...Tanggapan kalian setelah baca ini?...
...#Seneng...
...#Sedih...
...#Baper...
__ADS_1
...#Kesel...