
..."Aku gak mau kamu kenapa-napa ra. Pasti Adnan sama lainnya seneng liat kamu tampil kayak gitu," -Juna...
...🍁🍁🍁...
Tak ada angin, hujan, kemarau, salju dan semi Tiara dan Rani hinggap di kelasnya dengan keramah-tamahn serta senyum palsunya itu.
Tapi Tiara duduk di sebelahnya tanpa risih sama sekali, biasanya sangat anti dengannya. Dan Rani duduk bertopang dagu menatapnya lekat seakan dirinya ini artis nyasar saja.
"Kenapa?" tanya Laura kepo. Tak biasanya dua ratu cantik memang lagi cantik ini sok baik tiba-tiba.
"Gini, kamu kan sekarang jarang nih masuk PMR. Nah, kita mau nawarin kamu buat masuk ekskul cheerleader gratis tanpa seleksi loh. Dan enaknya lagi, Rani bawain seragam cheerleaders gratis. Daripada kamu gak ikut ekskul apa-apa? Mau orang tua kamu di panggil?" Tiara berusaha membujuk rayu Laura agar cewek ini mau dan tergiur akan tawaran cuma-cumanya.
"Eum, aku-" Laura masih menimang keputusannya. Ada untungnya juga, tapi dirinya belum bisa.
"Gimana kalau aku gak bisa?" nada suaranya seperti kurang percaya diri, tampil maksimal itu membutuhkan latihan yang ekstra keras lagi.
"Eh, gini ya. Kita bakalan ajarin kamu sampai bisa kok. Soalnya besok udah tanding basket nih, anak cheerlader tampil pembukaannya lagi. Kolaborasi sama cheerleader SMA GARUDA loh ra, lumayan kamu bisa nyari temen cewek juga," Rani menambah-nambahi. Berbanding terbalik akan fakta sebenarnya jika cewek SMA GARUDA itu masih menaruh dendam padanya, tatapan sinis selalu di layangkan seusai tampil.
Laura mengangguk pelan. "Iya, aku mau. Latihannya di mulai kapan?" setidaknya ia bisa lebih lama lagi di sekolah daripada di rumah yang gerahnya minta ampun karena kabut omelan dan perintah ini-itu tak ada habisnya.
"Istirahat nanti sama sepulang sekolah. Nah buat yang istirahat, aku bakalan contohin gerakannya terus kamu tiru ya. Biar pas latihan sepulang sekolah nanti bagus," jelas Tiara dengan senyum bersahabat. Andai saja ini benar Tiara, pasti hidupnya se-tenang di surga, se-damai di lautan.
"Oh, ok. Makasih ya," Laura menerima seragam gratis cheerleaders itu dari Rani. "Semangat ya ra. See you," Rani melambaikan tangannya, setelah dua cewek cantik emang lagi cantik itu pergi datanglah Bram dengan kekesalannya sampai membanting tasnya begitu saja hingga berdebum.
Penghuni SAESTU tak ingin bertanya banyak dengan sang ketua galak itu.
__ADS_1
"Kenapa Bram? Kok kamu kayak emosi gitu? Ada masalah ya?" Laura mengusap lengan Bram memberikan ketenangan. Namun nafas Bram memburu seperti banteng yang siap menyeruduk siapa saja.
"Itu tadi, Tiara nabrak aku. Bilangnya sih gak sengaja, tapi senyum-senyum gak jelas. Aneh kan?" kesal Bram menggebrak meja. Laura berusaha sabar, Bram itu bisa emosian dan lemah lembut. Tergantung bagaimana sahabatnya ini di perlakukan.
"Modus kali Bram. Tiara kan seneng tuh sama yang cogan-cogan," sahut Safa yang duduk di belakangnya. Tak sengaja menguping.
"Udah biarin. Kan gak sengaja, lagian dia pasti minta maaf kok," bela Laura memihak Tiara. Ia sudah yakin cewek itu berubah menjadi orang baik.
"Tadi mereka berdua ngapain kesini? Nyamperin kamu kan? Wah, pasti aneh-aneh nih," Bram mengacungkan telunjuknya naik-turun. "Bilang sama aku, apa yang mereka bicarain ke kamu?" Bram memegang kedua bahu Laura, wajah sahabatnya itu menunduk tak berani menatapnya. Takut ada kebohongan tersembunyi disana. Namun Bram mengangkat dagu Laura dan mendekatkan wajahnya.
"Laura, jawab aku. Kamu jangan diem gini," nafas Bram yang hangat pun menerpa wajah Laura, sampai ia memejamkan mata tak ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya seperti adegan drakor dan film romantis pada umumnya.
Bram mencubit hidung Laura gemas. "Gak akan. Karena wanita itu pantasnya di jaga, bukan di rusak," pekik histeris baper, dan joget-joget gak jelas, hingga ada yang ber-puisi untuk Bram karena kata-katanya bak quotes itu seolah hadir mewakili seorang cowok langka layaknya Bram Adi Wijaya, menjaga wanita bukan merusaknya. Sisakan satu buat author dong xixixi.
"Ih Bram. Kamu mah," Laura menutupi wajahnya menyembunyikan semburat merah yang hadir. Baper.
Dan Laura bisa melepas beban masalah hidupnya dengan kehadiran Bram, mengisi hari-hari sekolahnya dengan humor dan gombalan recehnya. Bram adalah sejuta kebahagiaan yang telah Tuhan turunkan untuk dirinya.
...🍁🍁🍁...
Juna mengernyit saat suasana kantin menjadi sepi, hanya beberapa manusia yang duduk mengobrol dengan makanannya.
"Kemana semua ini? Ngungsi apa gimana dah?" tanya Sam mewakili Juna, bos-nya ini banyak diam semenjak Laura berubah menjadi tomboy katanya.
"Mana gue tau," jawab Adit mengedikkan bahu.
"Oh iya, besok kan tanding basket," ucap Jaka setelah duduk di singgahsana biasanya.
__ADS_1
Juna terkejut. "Kok mendadak banget sih?" biasanya selalu ada pengumuman melalui mading sekolah.
"Gak tau. Kemarin pak Fathur bilang gitu di grup sekolahan," ia sudah siap bertanding melawan sekolah SMA GARUDA pada tahun lalu memang di menangkan oleh sekolah itu.
"SMA itu lagi ya Jak?" tebak Alvaro, ia juga anggota tim basket namun hanya cadangan saja. Alvaro kurang berbakat dalam basket, namun jika latihan lebih rutin dan giat, skill-nya akan terasah dan lebih baik lagi.
"Iya," Jaka mengangguk singkat.
SMA GARUDA dimana ada geng Batalion disana. Termasuk Adnan dan keempat temannya itu, mereka juga anggota tim basket andalan GARUDA.
"Iya loh. Sekarang anggota cheerleader gak nerima lagi. Ada Laura," celetuk salah satu siswi yang tak jaduh duduk dengan selisih dua meja dari Juna.
"Masa sih? Katanya gratis, enak bener ya Laura dapet tawaran cuma-cuma dari ketuanya lagi,"
"Berarti sekarang lapangan basket di pakai sama cheerleader buat latihan nih. Pantes aja kantin sepi, nonton yang seger-seger," akhirnya otak Sam setelah loading dan kembali sadar menuju Bumi mudeng (faham) juga.
Juna beranjak dan melangkah menuju lapangan basket, tujuannya adalah menegur Laura agar tidak ikut cheerlader terutama untuk besok, sebagai pembukaan turnamennya.
'Aku gak mau kamu kenapa-napa ra. Pasti Adnan sama lainnya seneng liat kamu tampil kayak gitu,' Juna mempercepat langkahnya. Hingga ia sampai disana, Laura melakukan gerakan ARABESQUE dimana Laura berdiri dengan satu kaki, kaki satunya di arahkan ke belakang sehingga badan dan kaki terlihat seperti huruf L dan tangan membentuk T.
Suara riuh tepuk tangan, siulan, hingga pujian untuk Laura yang tampil sempurna.
Saat Juna akan menghampiri Laura, rupanya itu adalah penampilan terakhir. Anggota cheerlader bubar bersamaan dengan para penontonnya yang meninggalkan kantin se-sepi hati di tinggal doi tanpa di kabari.
'Kenapa terlambat lagi sih?' selalu saja ia gagal, pertama Laura sakit dan ia gagal menjaga Lauranya, yang kedua ini ia gagal tak bisa mengomeli Laura karena besok gadisnya ini akan menjadi perhatian geng Batalion.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
^^^Ngetik lagi dong 😢 maunya update kemarin. Tapi berhubung aku spoiler dulu inget2 alurnya. Gak tau kenapa bisa ke hapus sendiri part yang ini 😠^^^